
Alisha gugup menatap Arsya berdiri di hadapannya.
"Mas ...."
Pria itu mendekat ke samping tempat tidur Alisha. Kemudian menekan tombol on untuk menyalakan lampu tidur yang ada tepat di samping kepala ranjang. Seketika cahaya berpendar meski remang-remang. Di situlah Alisha sadar betapa bodohnya ia selama ini. Saking takutnya dengan pria itu, sampai-sampai ia melupakan tentang lampu tidur yang ada di depan matanya.
Alisha memang takut dengan gelap, tapi ia tak pernah memberitahu Arsya. Sementara pria itu sudah terbiasa tidur dalam gelap jadi ia tak peduli karena tidak ada protes dari tamu di kamarnya.
"Gue memang tidak suka tidur dengan lampu menyala, tapi kalau lo nggak bisa tidur dalam keadaan gelap lo bisa nyalakan lampu ini."
"I-iya, Mas, terima kasih."
Ah ... Alisha, rasanya ingin sekali merutuki kebodohannya sendiri jika mengingat malam tadi. Kalau saja Alisha bercerita dari awal soal ia yang tak bisa tidur dalam gelap, ia tak akan menanggung sakit kepala setiap pagi karena kurang tidur. Belum lagi lingkaran hitam yang setiap pagi menghiasi matanya.
Terkadang, kita terlalu over thinking duluan. Merasa takut dengan sesuatu yang belum kita hadapi. Padahal kenyataan tak selalu serumit seperti apa yang ada dalam bayangan kita.
Ini adalah sebuah pelajaran baru bagi Alisha. Bahwa komunikasi itu sangat penting dalam kehidupan antara dua orang, terlebih dalam satu hubungan.
Mengatakan apa yang ingin atau tidak ingin dalam sebuah hubungan adalah suatu kewajaran dan bukan hal yang harus ditakutkan. Seandainya Alisha bicara dari awal, ia akan bangun dalam keadaan fresh seperti saat ini karena cukup tidur.
Selesai wudhu, Alisha berdiri tepat di samping sofa. Ingin membangunkan Arsya untuk salat subuh tapi ia ragu. Selama tinggal bersama belum pernah sekali pun Alisha melihat suaminya ini salat. Sebagai istri, ia merasa bertanggung jawab untuk mengingatkan akan kewajiban sebagai seorang hamba pada Arsya.
Setelah beberapa kali menarik tangan yang akan menyentuh Arsya akhirnya Alisha beranikan diri untuk mengguncang tubuh suaminya.
"Mas ... Mas Arsya."
"Hemm."
"Sudah subuh, Mas. Bangun, salat dulu."
Arsya membuka matanya yang terasa berat. "Gue nggak minta lo bangunin gue. Kalau lo mau salat, ya udah salat aja sendiri. Nggak usah ngajak-ngajak gue!" Arsya memiringkan tubuhnya menghadap punggung sofa. Membelakangi Alisha yang masih berdiri di sana.
"Mas Arsya." Alisha kembali mengguncang tubuh pria itu.
"Lo nggak denger kata gue!" sentak Arsya sembari menghempaskan tangan Alisha yang masih berada di bahunya. Mendelik tajam lalu mengabaikan Alisha begitu saja.
__ADS_1
Alisha hanya bisa mengucap istighfar dalam hati. Ia putuskan untuk salat sendiri tanpa Arsya. Setelahnya ia membersihkan apartemen juga memasak air untuk membuat teh juga kopi. Ia tidak tahu apa yang Arsya sukai, tapi selama tinggal di rumah mertuanya ia perhatikan setiap pagi ada kopi yang dibuat oleh asisten rumah tangga untuk Arsya.
Sudah jam tujuh dan Alisha sudah mengerjakan semua tugas rumahnya. Namun, suaminya belum juga bangun. Bahkan ketika Alisha selesai mandi pria itu masih saja terbaring di sofa.
"Mas ...." Alisha kembali membangunkan Arsya.
"Hemm."
"Aku mau ijin buat kerja," ujar Alisha hati-hati. Takut membuat pria itu kembali naik pitam.
"Hemm."
Meski Arsya tak membuka mata, gumamannya Alisha anggap sebagi persetujuan. "Aku berangkat dulu, ya, Mas."
Arsya terdiam. Ketika Alisha baru membuka pintu kamar, pria itu mendadak memanggilnya.
"Hei!"
Alisha berhenti. "Ya, Mas."
Alisha melihat Arsya bangun dan berjalan menuju lemari. Ia mengambil sesuatu dari dalam sana kemudian menghampiri Alisha. "Ini uang buat kamu. Terserah mau kamu pakai buat apa."
"Anggap aja nafkah buat lo."
"Nafkah?"
"Serah deh mau lo anggap apa, yang pasti lo terima uang ini dan gunakan untuk hal yang bermanfaat." Arsya menaruh uang yang ia pegang ke tangan Alisha lalu kembali berbaring di sofa.
Meskipun sedikit bingung Alisha tetap memasukkan uang yang ia terima ke dalam tas. Lalu pergi setelah memesan ojek online.
"Hai ... Al, udah masuk kerja, lo?" sapa Femmy, begitu Alisha sampai ke tempat kerja.
Alisha hanya tersenyum tipis disertai anggukan kepala.
"Dianter siapa, suami lo?" Femmy celingukan mencari keberadaan suami temannya.
__ADS_1
"Enggak." Alisha menggeleng. "Aku naik ojek."
"What?" Femmy kaget. "Memangnya ke mana suami lo?"
"Dia sibuk."
"Tapi, sesibuk apa pun suami pasti nyempetin buat anter istrinya, 'kan ... secara kalian pengantin baru," ujar Femmy dengan nada mengejek dalam kalimatnya.
Semua teman Alisha tahu benar kenapa Alisha bisa menikah dengan seorang Arsyanendra. Berita yang sempat booming membuat Alisha tak bisa menutupi pernikahan yang tak pernah diinginkan ini.
"Atau, Arsya memang nggak mau ya nganterin lo. Dia kan terpaksa nikahin lo."
"Alisha, kamu udah dateng?" kali ini Mbak Ratih yang menyapa. "Ayo masuk," ajaknya menyelamatkan Alisha dari cibiran temannya.
"Aku duluan, ya," pamit Alisha lalu mengikuti langkah Mbak Ratih.
Di ruangan bosnya itu Alisha merasa lebih aman. Sebab Mbak Ratih adalah orang yang tahu kisah sebenarnya kenapa kejadian malam itu terjadi.
"Bagaimana pernikahan kamu, apa Arsya memperlakukanmu dengan baik?" tanya Mbak Ratih.
"Iya, Mbak. Mas Arsya baik kok."
Ratih tahu ada sesuatu yang Alisha sembunyikan tapi ia tak mau ikut campur terlalu dalam. "Maaf ya, Al, aku nggak nyangka bakal kayak gini."
"Semua udah terjadi, Mbak. Mungkin memang ini takdir aku."
Ratih mengusap punggung Alisha, sebagi tanda menguatkan juga permintaan maaf atas rasa bersalahnya. "Ya udah kamu mulai kerja aja," ujar Mbak Ratih.
Alisha bekerja dengan perasaan yang tak sama seperti dulu. Entah hanya perasaanya saja atau kah memang demikian adanya. Teman-temannya memandangnya sinis. Seolah tak menyukai kehadiran Alisha sekarang ini.
Alisha tak bekerja seperti biasanya hingga butik tutup. Ia meminta ijin pada Mbak Ratih untuk pulang lebih awal karena ingin berbelanja.
Di sebuah pusat perbelanjaan, ia berjalan seorang diri mendorong troli. Memilih bahan-bahan makanan untuk mengisi lemari pendingin di apartemen milik suaminya. Bibirnya melengkung ke atas ketika ia berada di depan kasir, menatap uang yang tadi pagi Arsya berikan. Nafkah pertamanya.
Selesai berbelanja, Alisha menyempatkan diri untuk istirahat sejenak di food court. Ia memesan boba ice juga pisang keju untuk menemani istirahatnya.
__ADS_1
Sambil menikmati makanan yang tersaji di mejanya, Alisha mengedarkan pandangan. Melihat-lihat suasana pusat perbelanjaan yang sedang ramai-ramainya. Saat matanya turun ke bawah, ia melihat ada kerumunan orang.
Seperti sedang ada artis atau semacamnya. Ketika kerumunan tersibak, dan wajah pria yang sedang menjadi objek kerumunan itu mendongak, Alisha baru tahu jika itu adalah Arsyanendra, suaminya. Tapi, siapa wanita yang menggandeng suaminya itu?