
Persiapan wedding festival sudah dimulai dari pagi. Malam ini adalah puncaknya. Alisha sangat sibuk membantu Mbak Ratih menyiapkan model yang akan memamerkan gaun pengantin rancangannya. Event ini di ikuti oleh banyak designer. Sebuah kesempatan yang tak ingin Mbak Ratih lewatkan agar design rancangannya makin dikenal masyarakat luas.
"Al, bantu aku handle ini ya. Aku terima telepon dulu," ujar Mbak Ratih yang sedang memasang kancing seorang model agar diambil alih oleh Alisha.
"Iya, Mbak." Dengan sigap Alisha melaksanakan perintah Mbak Ratih. "Maaf, ya, Mbak," ujar Alisha pada seorang model yang sudah mengenakan gaun rancangan dari Mbak Ratih.
Di tempat ini, semua orang sedang sibuk tak terkecuali Alisha. Setelah membantu salah seorang model mengancingkan gaun pengantinnya, kini Alisha berpindah pada model lain yang membutuhkan bantuannya.
"Lihat apa sih, lo?" tanya David ketika Riko berhenti dan fokus pada sesuatu yang tak ia tahu.
Bukannya menjawab, Riko malah menyunggingkan senyum miring. David yang merasa aneh mencoba mencari tahu ke mana arah pandang temannya itu. Ada seorang wanita yang tak asing baginya. Alisha. Istri dari teman seprofesinya.
"Woy, jangan bilang lo lagi merhatiin istrinya Arsya!" David menepuk bahu Riko.
Pria itu menoleh, lantas tersenyum aneh.
"Menurut lo, gimana cewek itu?"
David menatap curiga pada temannya ini. "Maksud, lo?"
"Menurut gue, dia menarik," ujar Riko menjawab pertanyaannya sendiri. Lalu pergi begitu saja meninggalkan David yang masih belum memahami apa yang ada dalam pikiran temannya itu.
"Menarik?" David menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. Memikirkan ucapan Riko. "Hei, tunggu!" David pun melangkah cepat untuk menyusul Riko.
Acara fashion show untuk busana pengantin di mulai pukul delapan. Semua model yang akan memperagakan gaun rancangan para designer sudah siap berjejer untuk berlenggak-lenggok di atas catwalk.
Di belakang panggung sembari mengatur modelnya, Mbak Ratih dan Alisha terlihat gugup meski ini bukan peragaan busana pertama yang mereka ikuti.
"Aku gugup banget, Al, menanti respon tamu yang hadir," ujar Mbak Ratih.
"Kita sudah berusaha untuk yang terbaik, Mbak. Insyaallah hasilnya pun akan baik. Serahkan semua pada Yang Kuasa."
Mbak Ratih meraih tangan Alisha. Menggenggam tangan asistennya itu karena merasa hanya Alisha lah sat ini yang mampu membuatnya tenang.
__ADS_1
Satu per satu nama designer dipanggil setelah para modelnya menampilkan hasil karya mereka. Kini giliran Mbak Ratih yang dipanggil setelah semua modelnya selesai memperagakan gaun pengantin hasil rancangannya. Sorak sorai tamu hadirin menyambut Mbak Ratih yang langsung diberikan buket bunga oleh salah satu modelnya.
Sebuah kebanggan tersendiri bagi Mbak Ratih bisa ikut dalam event wedding festival ini. Senyum selalu tersungging di bibir wanita berusia hampir empat puluh tahun itu. Menampilkan keramahan dan kebahagiaan di malam ini.
"Lega banget, Al, rasanya," ujar Mbak Ratih begitu kembali ke belakang panggung. Ia memeluk Alisha erat menumpahkan rasa leganya sudah berhasil mengikuti acara ini. Soal hasilnya, ia tak terlalu pusing. Seperti yang Alisha bilang, serahkan saja pada Yang Kuasa.
"Pokoknya kita harus rayakan ini Al. Aku traktir semua karyawan juga model kita. Aku sudah pesan restoran untuk kita makan-makan," ujar Mbak Ratih bahagia.
Para model yang berdiri tak jauh dari mereka ikut mendengar dan bersorak gembira menyambut ajakan makan-makan dari Mbak Ratih.
Alisha hanya mengangguk setuju. Sebab ini memang kebiasaan Mbak Ratih seusai mengikuti sebuah event. Sering kali bosnya itu berbagi kebahagiaan dengan mentraktir semua karyawannya.
"Kamu telepon anak butik suruh langsung ke restoran ya, Al. Nanti kita kumpul di sana."
"Iya, Mbak." Tak menunggu waktu lama, Alisha langsung menghubungi temannya yang sebenarnya ikut meramaikan acara ini dan meminta mereka untuk datang ke restoran yang sudah Mbak Ratih instruksikan. Sedangkan Alisha, ia harus membereskan dulu semua perlengkapan yang kemarin ia bawa untuk acara ini.
"Kalau sudah beres kamu langsung nyusul ya, Al," pesan Mbak Ratih yang berangkat lebih dulu bersama para model.
"Ok, Mbak."
Tinggal Alisha dan salah satu pegawai butik bernama Linda yang masih ada di ruangan itu untuk beres-beres.
"Buruan, Al, entar makanannya keburu abis lagi kalau kita telat," ujar Linda memeringatkan.
Alisha hanya tersenyum. "Mana mungkin habis, kan, udah dibooking sama Mbak Ratih, kalau habis entar dimasakin lagi sama chef-nya."
"Ih, kamu kayak nggak tahu aja gimana makannya anak-anak butik. Mereka kalau lihat makanan enak langsung diserbu aja tanpa lihat-lihat temen. Kayak orang nggak pernah makan setahun aja gitu."
Alisha tertawa dengan ucapan Linda yang berlebihan. "Iya, ini juga aku cepet-cepet kok." Seperti kata temennya, Alisha bergegas mengemasi semua barang-barang. Hingga perhatiannya beralih ketika Linda mengeluarkan bunyi yang sangat familiar disertai dengan bau tidak sedap.
"Kamu kentut ya, Lin?"
Linda nyengir. "Sorry, Al. Ini perut bener-bener nggak bisa diajak kerja sama. Aku suruh tahan ternyata nggak bisa."
__ADS_1
"Ish ... jorok banget sih, kamu."
"Ya gimana lagi namanya juga keinginan alam." Linda terkekeh.
"Ya udah sana ke toilet, ngapain masih di sini!" usir Alisha.
"Beneran, Al?"
"Ya bener lah, dari pada keluar di sini makin repot kan entar."
Linda kembali terkekeh. "Aku tinggal dulu ya, Al. Sebentar aja kok. Janji deh nggak akan lama. Nanti aku bantuin kamu lagi."
"Ish ... malah banyak omong. Udah sana buruan!"
Linda segera berlari ke toilet. Sesungguhnya ia sudah tidak tahan sedari tadi tapi mengingat harus buru-buru ke restoran ia tahan juga panggilan alam itu.
Kini tinggal Alisha seorang diri di ruangan tersebut. Ia terus melanjutkan tugasnya sendiri bahkan harus melanjutkan tugas Linda yang terpotong karena mules.
"Kok cepet banget, apa mulesnya bisa dipending?" seloroh Alisha ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia segera menoleh dengan senyum menertawakan Linda.
Namun, senyumnya langsung pudar saat melihat seseorang yang tengah berdiri menatapnya.
"Maaf, ada perlu apa ya?" tanya Alisha.
Pria itu justru mengukir senyum aneh di bibirnya.
Melihat gelagat tak baik itu, Alisha menilik dari balik tubuh pria itu dan melihat jika pintu ruangan sudah tertutup. Di sinilah Alisha mulai diserang kepanikan. Rasa takut dan juga gemetar tubuhnya muncul secara bersamaan.
Otaknya menolak semua bayangan negatif tentang apa yang akan terjadi. Tapi tetap saja pikiran buruk itu datang menghantui.
Langkah Alisha semakin mundur ketika pria itu melangkah maju.
"Mau apa kamu?" tanya Alisha dengan bibir bergetar.
__ADS_1
Bukannya menjawab, pria itu justru semakin menampilkan raut menakutkan bagi Alisha. Ia terus berjalan maju. Memangkas jarak di antara dirinya dan Alisha.