
Hari ini seolah menjadi badmood day buat Arsya. Dimulai dengan paginya yang gagal menggoda sang istri, kemudian lanjut marah-marah di kantor Jimmy.
Suasana hati yang buruk masih berlanjut di kantor milik Ivan Bridal, seorang designer yang akan menggunakan jasanya sebagai peraga baju pengantin rancangannya. Di kantor Ivan itulah, mood Arsya seakan semakin diobrak-abrik ketika ia bertemu dengan teman lamanya. Riko.
Sejak pandangan mereka saling bertemu, Riko sudah menunjukkan rasa tidak sukanya melihat Arsya. Awalnya Arsya sudah berusaha menghindari teman lamanya itu ketika Jimmy meminta untuk mengabaikan. Kata Jimmy meeting mereka lebih penting dari pada mengurusi masa lalu yang tak ada artinya.
Mulanya berjalan seperti semestinya. Meeting berjalan lancar sampai selesai. Hingga Arsya keluar dari ruang meeting dan Riko masih menunggunya.
"Mantan napi aja sombong!" sindir Riko begitu Arsya keluar.
Kuping Arsya serasa panas mendengar sindiran Riko, tapi Jimmy masih berusaha menenangkan.
"Udah, jalan aja," bisik Jimmy.
Arsya pun terus berjalan.
"Woy, apa nggak ada model lain yang punya attitude bagus. Masak mantan napi gini masih dipake aja. Cari model itu yang berkelakuan baik. Bukan mantan napi kayak dia!" Riko berteriak. "Udah bokapnya korup, anaknya pemerkosa, ditambah lagi suka mukulin orang aja. Pantes aja mamanya mati mengenaskan, soalnya punya suami sama anak sama-sama bejat moralnya," sambung Riko dengan suara keras.
Langkah Arsya terhenti. Tak terima mendengar orang tuanya di jelekkan oleh Riko. Ia berbalik mendatangi Riko. Dicengkeramnya kerah kaus pria itu. Ketika satu pukulan hendak melayang ke wajah Riko, teriakan Jimmy menggema, "Sya ...!"
Tangan Arsya menggantung di udara. "Astagfirullah ...." Ia berusaha menarik napas dalam. Menetralkan emosinya.
Ditatapnya tajam Riko sebelum melepaskan cengkeraman di leher pria itu. Meski amarah dalam dada membuncah, tapi Arsya berusaha meredam. Akal sehatnya mulai memperingatkan jika semua adalah cara licik Riko untuk kembali membuatnya dalam skandal.
"Kalau lo iri sama gue, pakai cara yang sportif. Jangan jadi pecundang!" ucap Arsya sebelum memilih pergi.
Riko jadi kesal sendiri karena tak berhasil membuat Arsya masuk perangkapnya.
"Jaga tu bacot, lo. Kelakuan kayak setan aja berani nyindir orang lain. Nggak ngaca, lo!" Jimmy menambahi sebelum pergi menyusul Arsya.
Semakin membuat Riko marah karena ia menjadi tontonan banyak orang di sana.
Bahkan Riko sempat mendengar selentingan-selentingan yang terang-terangan memuji Arsya.
"Kita makan dulu, ya," ajak Jimmy setelah mereka berdua di dalam mobil. Ia pikir lebih baik menenangkan diri dulu di cafe.
Sebuah cafe langganan menjadi tujuan Jimmy. Sengaja Jimmy memilih bangku yang ada di rooftop untuk mereka bersantai.
Jimmy meletakkan kunci juga ponsel di atas meja sebelum ia duduk dan mengeluarkan rokok dari dalam tasnya. Pria itu menyulut sebatang rokok Sembari menunggu pesanan minuman mereka datang.
Jimmy membiarkan Arsya tenang lebih dulu tanpa mengajaknya ngobrol. Membiarkan Arsya sendiri yang memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Jim, makasih buat semua kerja keras lo."
Jimmy tersentak. "Apaan sih, lo!"
"Gue rasa omongan Riko ada benarnya. Bagaimana bisa masih banyak yang mau pakai gue sementara gue ini mantan napi. Gue jadi mikir kalau semua itu karena kerja keras lo. Gue nggak tau gimana caranya lo dapetin semua kontrak kerja gue dengan latar belakang gue yang bajingan ini, tapi gue mau bilang makasih buat semua."
Jimmy makin tidak habis pikir dengan ucapan Arsya. "Nggak cocok lo sentimentil kayak gini!" Jimmy melempar korek yang langsung bisa ditangkap Arsya.
Arsya tersenyum menanggapi. Tak lama minuman pesanan mereka datang. Arsya baru akan menyesap cappucino yang dipesan Jimmy untuknya. Mendadak satu notifikasi di ponselnya masuk. Ia urungkan untuk minum dan segera menyambar ponsel di meja. Membuka sebuah pesan yang terkirim untuknya.
[ Hai Alisha, ini aku Riski. Pasti kamu belum save nomor aku, kan?]
Arsya baru selesai membaca satu pesan, sudah ada lagi pesan lain yang masuk.
[Kamu lagi apa? sudah makan apa belum?]
Arsya mulai geleng-geleng kepala membaca pesan yang sebenarnya tertuju untuk istrinya.
"Kenapa, lo?" jimmy yang tak paham langsung bertanya.
Arsya hanya menggedikkan bahu. Sampai sebuah pesan kembali masuk.
Gemas membaca pesan yang menurutnya semakin kurang ajar. Arsya pun menekan ikon panggil pada nomor yang mengiriminya pesan.
Ternyata orang di sana sangat sigap mengangkat panggilannya.
"Berhenti kirim pesan ke istri gue, kalau lo masih mau hidup!" teriak Arsya di ponsel.
Di seberang sana Riski tentu kaget mendengar suara si penelepon. Raut bahagia ketika tadi melihat nomor yang ia catat sebagai nomor Alisha menghubunginya, seketika berubah takut begitu mendengar suara si penelepon. Riski merasa sudah ditipu Alisha karena telah memberikan nomor suaminya, bukan nomor Alisha sendiri.
Berbeda dengan Riski yang kaget dan takut, Jimmy justru tertawa mendengar ucapan Arsya di ponsel. Ia paham sekarang, apa yang membuat temannya itu tadi geleng-gelang kepala. Rupanya ada yang mau berusaha menganggu istri temannya itu.
Usai menutup panggilan dengan kasar Arsya berdiri menyambar kunci dan meninggalkan cafe.
"Woy ... lo mau ke mana?"
"Pulang!"
"Minuman lo masih utuh."
"Buat lo aja!"
__ADS_1
Tadinya tak acuh dengan kepergian Arsya. Namun, begitu ingat jika tadi ia datang satu mobil dengan Arsya, bergegas Jimmy berlari. Menyusul Arsya keluar.
"Sya, tungguin gue!"
Terlambat, Arsya sangat cepat mengemudikan mobilnya sendiri. Saat ini ia hanya ingin segera sampai rumah. Berharap mood yang sudah hancur kembali membaik.
Benar saja, sambutan Alisha dengan senyum manis tersungging di bibir wanita itu memuat hati Arsya berbunga. Mood yang tadinya ambyar seketika bersinar.
Alisha benar-benar seperti mood booster untuknya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, demi mendongkrak kembali suasana hati, disambarnya bibir sang istri.
"Mas, ini di luar, malu dilihat Bi sumi!" pekik Alisha setelah mendorong tubuh suaminya.
Perkataan Alisha seperti kode untuk Arsya. Bergerak cepat ia segara meraih tubuh Alisha dan membawa dalam gendongan. Di bawanya naik ke kamar.
"Mas ...!" pekik Alisha yang tak siap.
Ia minta diturunkan tapi Arsya tak menggubris. Dibaringkannya Alisha di atas ranjang dan mulai mencumbuinya.
"Mas, hentikan!"
Arsya tak peduli. Ia hanya ingin menuntaskan yang tadi pagi sempat terhenti. Terus dengan aksinya, ia abaikan penolakan Alisha. Barulah ketika ia hendak melepas kancing gamis yang Alisha kenakan, wanita itu memegangnya erat.
"Jangan, Mas ...!"
"Ini sudah di kamar, tidak akan ada yang lihat." Arsya ingin kembali menyerang bibir Alisha sebelum lanjut membuka kancing gamisnya. Namun tubuhnya ditahan oleh Alisha.
"Aku tahu, tapi aku sedang halangan."
Arsya menatap tak percaya. Mungkin itu hanya alasan Alisha.
"Baru tadi siang, Mas, keluarnya," ujar Alisha meyakinkan.
Seketika tubuh Arsya melemas. "Apa tidak bisa besok saja datangnya."
Alisha menggeleng. "Sayangnya tidak bisa di nego."
Arsya menjambak rambutnya frustasi. Tubuhnya jatuh tak berdaya di sisi Alisha.
Ia berteriak kesal. "Argh ...!"
Lengkap sudah segala hal yang membuat suasana hatinya kacau. Hari ini memang pantas disebut dengan badmood day.
__ADS_1