Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 76 Bidadari Yang Terabaikan


__ADS_3

"Heh ... ngapain lo senyum-senyum sendiri. Udah mulai nggak waras, lo?"


Membawa secangkir kopi hitam di tangan Babe Rojak duduk di sebelah Riski yang sedang rebahan di bangku kayu panjang. Kepalanya bersandar pada pagar bangku tanpa alas bantal. Sejak bangun tidur Riski sudah stand by di bangku malas andalannya sembari terus memegang ponsel. Sesekali atau lebih tepatnya setiap lima menit sekali Riski melihat layar ponselnya. Memastikan apakah ada panggilan atau pesan singkat dari Alisha.


Sudah lama, sejak masih duduk di bangku SMA Riski menaruh hati pada Alisha. Ia bahkan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kala itu tapi di tolak halus oleh Alisha.


Kini ketika takdir memberinya kesempatan untuk kembali bertemu, Riski tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia masih menyimpan harap yang besar untuk bisa dekat dengan wanita yang ia puja sedari remaja.


"Woy ... gila bener lo, ya!" Babe Rojak melempar tutup gelas tepat di kepala Riski karena jengkel. Anak semata wayangnya itu tak menggubris sama sekali ucapannya atau kehadirannya.


"Aduh ...." Spontan Riski memegangi kepala. Ia menoleh ke arah datangnya benda yang jatuh di kepalanya. "Apa-apaan, sih, Be!" teriak Riski sambil terus mengelus kepala yang lumayan sakit.


"Apa-apaan, Noh, cuci motor Babe. Jangan cuma senyum-senyum sendiri nggak jelas gitu. Bisa-bisa gila beneran, lo." Babe Rojak menunjuk motor bebek warna merah di halaman.


"Halah, timbang nyuci motor doang, entar aja!" Riski tak bergerak dari tempatnya. Anak itu justru memutar tubuh membelakangi babenya.


"Oh ... Dasar anak kurang ajar. Disuruh orang tua malah menyepelekan." Kali ini bukan lagi tutup gelas yang melayang tapi Babe Rojak langsung melepas satu sandal dan melemparkannya dengan keras hingga mengenai punggung Riski.


"Babe apa-apan, sih!" protes Riski tak terima. "Kan Iki bilang entar, itu artinya nanti dulu!" Seolah tak mau kalah Riski berbicara dengan nada yang ikutan nyolot.


"Lagian lo ngapain, lo juga nggak punya kerjaan selain senyum-senyum sendiri kek orang gila. Disuruh orang tua malah banyak alasan!"


"Be, Babe pengen punya mantu, kan?"


Babe Rojak terlihat bingung. "Ya pengen," jawabnya ketus.


"Nah, Iki lagi usaha Be. Kalau Iki berhasil, Babe bakal punya mantu yang selama ini Babe idam-idamkan. Cantik dan sholeha." Riski berkata dengan yakinnya.


"Siapa cewek itu, lo bilang, biar Babe datang ke rumahnya buat ngelamar." Meski sering kesal dengan kelakuan Riski tapi kalau sudah mendengar soal menantu Babe Rojak pasti langsung luluh. Sebab sudah lama ia menginginkan anak bujang satu-satunya itu segera menikah sesuai pesan almarhum istrinya tiga tahun lalu.


"Sabar dong, Be, jangan buru-buru. Istri idaman itu memang susah ditangkap ... eh, susah di dapat maksud ane." Riski cengengesan.


"Apanya yang susah, kalau udah cocok, ya udah. Langsung aja ke KUA."


"Masalahnya Be, Iki udah cocok tapi apa iya suaminya cocok." Riski berucap sembari memikirkan tentang seperti apa sosok suami Alisha.


"Maksud lo bagimane, suaminya?" Babe Rojak heran dengan ucapan Riski baru saja.

__ADS_1


"Ya, jelas banget kan maksud ane. Ane tuh jelas suka dan jelas mau kalau harus segera nikah tapi sayangnya suaminya ngijinin nggak. Itu yang jadi ganjalan Ane."


"Jadi cewek idaman lo itu bini orang?" Babe Rojak berseru dengan mata melotot tajam.


Riski tak mungkin mengelak karena kenyataannya Alisha sudah jadi istri orang sekarang. Pemuda itu hanya bisa cengar-cengir.


"Dasar bocah gila!" Tak pelak, satu sandal yang masih Babe Rojak kenakan melayang juga ke kepala Riski.


Namun kali ini pemuda itu berhasil mengelak. Ia lebih dulu kabur sebelum sandal kesayangan Babenya jatuh tepat di kepala.


"Woy, Bocah, kemari lo!" teriak Babe Rojak mengacungkan tangan.


Mengabaikan teriakan Babe, Riski lari terbirit-birit.


******


Di atas sofa, Arsya tak pernah bosan memandang wajah ayu sang istri. Sejak tadi ia terbangun dan mendapati Alisha di sampingnya, ada bahagia yang tak bisa ia ungkapkan.


Dan perasaan itu tak berhenti sampai di sana. Bahkan setelah mereka mandi dan melakukan salat subuh berjamaah. Rasa itu justru makin kuat terasa.


Kini ketika Arsya duduk di sofa menunggu sarapan datang, yang ia lakukan hanya terus memandang wajah Alisha. Ia sangat merasa bodoh. Ke mana saja ia selama ini sampai-sampai tak bisa melihat jika ia hidup bersama bidadari.


"Mas ...."


"Hmm ...."


"Aku tidak bisa," jawab Arsya singkat. Tentu saja mata itu masih terpaku dia antara bola mata indah Alisha.


"Kenapa?"


"Aku ingin menebus semua yang aku lewatkan. Kenapa dulu aku tidak bisa melihat bidadari yang tinggal di kamarku."


Dengan berani Alisha menepuk pipi Arsya hingga berpaling. "Gombal!"


"Serius, aku sangat menyesal karena dulu mengabaikan bidadari sepertimu."


"Sudah ... ah, Mas Arsya mulai ngelantur." Alisha yang sejak tadi duduk mengeringkan rambutnya dengan handuk di sisi Arsya, beranjak bangkit. Tidak tahan dengan godaan receh Arsya.

__ADS_1


Namun belum sempat ia melangkah. Tangan Arsya lebih dulu menarik pergelangan tangan Alisha hingga wanita itu terduduk di pangkuan Arsya.


"Mas ...!" pekik Alisha yang tak siap.


Alisha ingin kembali bangkit, tapi tangan Arsya yang langsung melingkar di pinggang menahannya.


"Lepasin, Mas."


"Sebentar saja. Biarkan seperti ini sebentar saja." Suara Arsya yang berat nan lirih membuat Alisha tak mampu menolak. Ia pun bergeming. Menuruti apa yang Arsya inginkan.


Untuk beberapa menit ia biarkan saja wajah Arsya yang menempel di ceruk lehernya. Lama-lama ia tidak tahan juga saat pria itu mulai mengecup lembut di sana. Bukan sekali tapi menjadi semakin sering dan semakin membuat Alisha merinding.


"Mas ...."


"Hmm ...."


"Jangan kayak gini." Alisha mulai meronta.


"Aku suka."


"Iya, tapi jangan kayak gini."


"Aku sukanya kayak gini." Arsya tetap tak mau beralih meski ia tahu jika Alisha mulai merasa tidak nyaman.


"Mas ...," rengek Alisha.


Suara lirih Alisha bukan membuat Arsya berhenti tapi justru semakin terpancing dan tidak rela jika semua berakhir tanpa hasil. Arsya semakin gencar membuat Alisha gelisah.


"Mas!" teriak Alisha. Ia harus segera mengakhiri semua kalau tidak ingin berakhir di ranjang. "Aku lapar," ungkap Alisha jujur.


Semalam mereka melewatkan makan malam. Dahaga atas puasa yang sudah lama tertahan meminta untuk dipuaskan segera hingga rasa lapar pun tak jadi soal. Setelah pagi baru terasa jika perut belum diisi walau sebutir nasi. Sebab itulah pagi-pagi sekali Arsya sudah memesan sarapan.


Mengingat kondisi itu, Arsya pun menjauhkan wajahnya dari leher Alisha. Meski kecewa tapi ia tak mau menyiksa Alisha sedemikian rupa tanpa memberi makan.


Alisha menoleh untuk bisa melihat wajah Arsya. Nampak jelas kekecewaan di wajah suaminya. "Kita makan dulu," ujar Alisha agar tak semakin membuat Arsya kecewa karena langkahnya harus terhenti di tengah jalan.


Alisha mengusap pipi Arsya lembut. Seakan meyakinkan jika semua bisa dilanjut lagi nanti.

__ADS_1


"Ok," jawab Arsya walau kecewa. Ia pun melepas tangan yang sejak tadi melingkar di pinggang ramping sang istri. Dengan tidak rela membiarkan Alisha bangkit dari pangkuannya. Tetapi sebelum Alisha benar-benar berdiri, Arsya tak melewatkan kesempatan untuk mengecup bibir Alisha walau sekilas.


"Mas ...!" pekik Alisha lagi. Ia langsung memukul dada Arsya. Yang ditanggapi pria itu dengan senyum kemenangan.


__ADS_2