
"Jangan menangis Alisha, jangan menangis," ujar Alisha dalam hati sembari terus menyusut air mata yang tak mau berhenti mengalir.
Sejak Arsya pamit untuk pergi, wanita itu mengurung diri di kamar. Di atas sajadah ia tergugu dalam tangis pilu kekecewaan.
"Kuat ... kamu harus kuat," ujarnya lagi. Berusaha menyemangati diri.
Meskipun begitu, tetap saja ia tak bisa menolak kecewa yang ia rasa karena sikap Arsya. Ia sedang dalam proses berdamai dengan dirinya dan takdirnya untuk bisa menerima pernikahan yang dulu tak terelakkan.
Sedang kini ia dihadapkan pada kenyataan sikap egois Arsya. 'Jangan berharap lebih dari pernikahan ini', sebuah kalimat yang terus terngiang di telinga Alisha.
Harusnya ia menurut, agar tak timbul rasa kecewa karena sudah berharap. Pernikahan ini akan tetap sama seperti awal ijab kabul terucap. Tak akan ada rasa cinta yang tumbuh di dalamnya. Arsya akan tetap menjadi pribadi yang sama. Tak pernah menginginkannya.
Sikap manis yang akhir-akhir ini ia tunjukkan hanya sebuah kesenangan baginya. Bukan rasa apa lagi cinta.
"Neng ... Neng Alisha." Panggilan dari Mak Ijah—asisten rumah tangga yang bertugas menjaga vila— terus menggema diiringi suara ketukan pintu.
Buru-buru Alisha menghapus air matanya. Memupus kesedihannya agar tak terlihat. Ia bangkit, melepas mukena dan menggantinya dengan hijab, lalu membuka pintu untuk pembantu tersebut.
"Iya, Mak," jawab Alisha lirih begitu pintu terbuka.
"Dipanggil Ibu, Neng."
"Mama?"
__ADS_1
Mak Ijah mengangguk.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam dua, Neng."
Alisha segera menutup pintu dan langsung ke kamar Sarah. Sudah biasa di jam-jam seperti ini Sarah terbangun, entah karena mimpi buruk atau sekadar meminta minum. Malam-malam sebelumnya Alisha selalu tidur di kamar Sarah untuk mempermudah Sarah jika memerlukan bantuannya. Baru malam ini karena kedatangan Arsya ia memilih untuk sendiri sejenak di kamar yang lain, kamar yang dulunya selalu digunakan oleh Arsya jika menginap di vila ini.
Sebelum membuka kamar ibu mertuanya, Alisha berhenti sebentar di depan pintu. Ia menarik napas panjang, menepuk-nepuk pipinya. Berharap kesedihannya tersamarkan. Tentu saja ia tidak ingin apa yang ia rasakan saat ini diketahui oleh Sarah.
"Mama butuh sesuatu?" tanya Alisha begitu ia memasuki kamar ibu mertuanya. Dilihatnya Sarah sudah duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Kamu tidur di mana?"
"Alisha salat di kamar sebelah, Ma." Alisha mendekat. "Mama mau minum?"
Diambilnya gelas di atas nakas lalu Alisha berikan pada Sarah. Menunggu sampai Sarah selesai minum dan mengembalikan kembali gelas yang isinya tinggal setengah kepada Alisha.
"Arsya ke mana?"
"Mas Arsya kembali ke Jakarta, Ma. Banyak urusan yang harus Mas Arsya selesaikan."
"Kenapa buru-buru, dia baru datang kenapa langsung kembali."
__ADS_1
Alisha bingung harus menjawab apa, akhirnya kebohonganlah yang keluar dari mulutnya. "Mas Arsya ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, Ma. Mama butuh apa, bilang saja pada Alisha."
Sarah menggeleng. Terlihat jelas raut sedih di wajah wanita itu.
"Ya sudah, Mama tidur lagi, ya. Alisha temani."
Dibantu Alisha, Sarah kembali merebahkan diri. Setelah membenarkan selimut Sarah, Alisha pergi ke sofa. Seperti biasa ia akan tidur di sana menanti subuh.
******
Kembali ke Jakarta, Arsya tidak menuju apartemennya melainkan ke apartemen Jimmy. Ia memilih untuk tinggal sementara di sana demi menghindari para wartawan.
Tentu skandalnya adalah magnet bagi para pencari berita untuk datang. Terlebih ini kedua kalinya ia terlibat urusan dengan polisi karena wanita. Pastilah sebuah berita yang menarik untuk dijual.
Getar ponsel membangunkan Arsya dari tidurnya. Ia sangat lelah setelah perjalanan dari vila semalam, tapi ia paksakan juga mengambil ponsel meski mata masih memejam.
Dibukanya panggilan yang tak sempat ia jawab. Ada pesan singkat juga untuknya. Seketika matanya terbuka lebar membaca isi dari pesan tersebut.
[Datanglah jika kamu ingin merubah semuanya.]
Bagai kuda dicambuk, Arsya segera bangun dan berlari mencari bajunya. Buru-buru ia kenakan.
"Mau ke mana, lo?" tanya Jimmy yang baru saja masuk kamar dan melihat Arsya berpakaian dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Gue harus pergi," jawab Arsya sembari menarik resleting celananya.
"Iya, ke mana?"