Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 10. Makan Malam


__ADS_3

Sedalam itukah rasa cinta yang aku rasakan padanya? Hingga saat dia telah melukai hatiku sedemikian hebatnya, aku masih saja memikirkan dirinya. Walau bibir ini berkata tidak. Namun hati tak dapat di dustai, jika hati ini sakit sesakit sakitnya saat dia lebih memilih orang lain dan melepaskanku.


*****


Yulia memakan nasi dan ayam gorengnya tanpa semangat. Karena tak biasanya malam malam ia makan berat. Sambil menyuapkan ayam goreng ke mulut ia mengedarkan pandangan pada sekitar mereka.


Deg


Bukankah itu mereka?


Didepan meja mereka terdapat sepasang manusia yang salah satunya telah menyebabkan ia sakit. Sakit hati tepatnya.


Sepasang netra lelaki itu juga tengah menatapnya tajam. Yulia sangat kesulitan menelan makanan yang ia kunyah. Hingga ia meminum jus jeruk dihadapannya sampai tandas.


Mengapa aku bertemu lagi dengannya?


Harusnya tadi ia menolak ikut mereka makan malam. Yulia hanya bisa menunduk.


"Mm Bu, saya mau ke toilet sebentar!" Yulia pamit pada ibunya Romi. Ibu Romi mengangguk. Ia lalu bertanya pada seorang pelayan yang kebetulan lewat disampingnya, dimana ia bisa menumpang ke toilet. Ia pun berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan pelayan itu.


Yulia berjalan menuju toilet, namun sebelum melangkah masuk, tangannya dicekal seseorang dari belakang. Yulia kaget dan menoleh, ternyata Wahyu yang telah mencekal tangannya.


"Mas Wahyu! Ngapain kamu ngikutin aku, mas?" mata Yulia sudah memerah. Tadi ia sudah menangis, dan kini air bening itu mau keluar lagi. Penyebabnya sama, laki laki dihadapannya ini. Wahyu tersenyum sinis.


"Ngapain juga aku ngikutin kamu? Geer banget!" ucapnya menghempas tangan Yulia kasar.


"Kamu cengkram tangan aku, itu jadi bukti kalau kau ngikutin aku, Mas!"


"Harusnya, kalau kau gak merasa ngikutin aku, pura pura gak kenal aja kenapa?" sentak Yulia. Dia sudah tak tahan.


Mana mulut manismu dulu, mas Wahyu. Aku sudah kau lepaskan, setidaknya beri aku sedikit rasa manis setelah kau tinggalkan.


"Terus ngapain kamu kesini, aku mau ke toilet, mas!" ucap Yulia bergetar. Walaupun sudah berpisah, namun perlakuan Wahyu padanya tetap sama.


"Hebat kamu, masih tiga hari menjanda, sudah dapat gebetan kaya. Ada anak lagi!" Wahyu menatap sinis pada Yulia. Tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yulia padanya. Air mata Yulia sudah turun ke pipi, tak terbendung lagi. Demi mendengar hinaan sang mantan.


"Jadi kamu kesini tuh cuman mau ngolok olok aku?"

__ADS_1


"Terus yang itu apa? Perempuan itu! Siapa, hah?"


"Cukup mas, cukup sudah hinaan dan semua perlakuan burukmu selama ini. Aku sudah jadi mantan buat kamu, kamu yang menginginkan kenapa kau masih juga menggangguku? Ada atau tidaknya hubungan aku dengan laki laki tadi, apa urusannya denganmu, tak ada kan? Jadi tolong! sudahi ini semua." Yulia menutup mata dan juga kupingnya. Air mata pun sudah menganak sungai.


Kenapa? kenapa setelah sekian lama kau berubah 180 derajat. Harusnya jika memang dirimu sudah tak cinta jangan pernah lagi mengusikku. Apa aku tak boleh hidup tenang. Karena jika hidup bahagia. itu masih sangat jauh. jauh sekali hidupku dari rasa bahagia.


Yulia terisak. Seseorang yang baru saja keluar dari toilet terheran heran melihatnya menangis. Namun tak berbuat apa apa dan berlalu begitu saja. Mungkin ia merasa ini bukan urusannya.


Nafasnya tersengal karena menahan sesak di dada.. Namun rupanya laki laki di depannya begitu bebal. Lalu tiba tiba Wahyu pergi begitu saja. meninggalkan Yulia yang berurai air mata.


Yulia segera masuk ke dalam toilet. Ia melihat wajahnya didepan cermin. Wajah lelahnya terlihat sangat berantakan. Segera Yulia membasuh mukanya, mengusapnya dengan tisu, membuat wajahnya lebih segar. Namun tentu saja terlihat merah. Terutama mata dan hidungnya.


Sementara di meja tempat mereka makan, Romi baru mengantar Shila menuju toilet, namun urung dilakukan karena didepan toilet ia melihat Yulia berdebat sengit dengan seorang lelaki. Ia sempat mencuri dengar, dan menyimpulkan kalau laki laki itu adalah mantan suami Yulia.


Jadi, dia itu....! Romi.


"Kenapa Yulia lama sekali, Romi?" Romi mengangkat bahunya. Ia tak memberitahu ibunya kalau ia melihat Yulia dengan laki laki itu. Tapi tidak dengan Shila.


"Shila tak jadi ke toilet, Nek! Karena Tante Yulia bertengkar sama orang didepan sana. Ayah memintaku balik lagi, gak jadi ke toiletnya." sungut Shila. Sang nenek menatap tak percaya.


"Apa? Yulia bertengkar, kok begitu. Bukannya kamu lerai, malah kamu tinggal!" Ibu Romi terlihat kesal.


"Apa! mantan suami? Jadi dia,,,?" ibu Romi terkejut. " Tapi tetep saja, harusnya kamu lerai mereka. Ibu takut dia di apa apain sama mantannya." merasa kesal lagi.


"Bu, dia itu orang lain buat kita. Ngapain kita terlalu perhatian sama dia. Ya kalau dia terima, kalau tidak?" Romi masih terus mendebat ibunya. Ibu Romi kemudian berdiri, namun ia urungkan karena Yulia terlihat menuju tempat mereka.


"Yulia, kamu gak apa apa? Muka kamu berantakan gitu?" tanya ibu Romi setelah Yulia duduk. "Maaf!" Yulia melirik kearah Wahyu. mereka telah berdiri, sepertinya mereka sudah mau meninggalkan tempatnya.


"Sa-saya,,,!"


"Kata shila tadi kamu bertengkar sama orang, ya? Orang itu menyakitimu? Kamu punya musuh?" tanya Ibu Romi berapi api. Ia tak tahu jika yang dibicarakan orangnya ada didekat mereka. Romi pun melirik ke belakang. Ia tahu orang itu ada di belakangnya.


"Ma-maaf, Bu!" ucap Yulia terbata. Ia tak tahu harus berkata apa. Sedang Wahyu bersama wanita tadi telah berlalu dari tempat itu.


"Ibu yang minta maaf, terlalu mencampuri urusanmu." Yulia benar benar sudah tak selera makan. Keadaan menjadi sangat canggung.


Mereka telah sampai didepan gang rumah Yulia. Ia mengucap terima kasih, untuk makan malamnya. Sesudah itu ia pun berjalan masuk ke gang sempit itu. Saat didepan rumahnya, Yulia ragu untuk mengetuk pintu.

__ADS_1


"Ya Alloh, tadi kenapa aku lupa beritahu ibu, ya! Beliau pasti sangat cemas." kata Yulia bermonolog.


Ia merogoh tas selempangnya dan meraih hape. Ia terkejut karena ada 5 panggilan tak terjawab dari nomer itu. Dengan ragu ia menekan tombol panggil pada nomer ibunya tadi.


Tut Tut Tut.


Tak ada jawaban.


Ia kembali menekan tombol panggil. Dan diangkat.


"Assalamu'alaikum! Bu. maaf aku pulang telat Bu! Sekarang aku sudah didepan rumah, tolong bukain pintunya." pinta Yulia langsung nyerocos duluan.


"Iya, sebentar ya, Yul!" jawab sang ibu ditelpon, namun terdengar lemah. Yulia berpikir ibunya pasti sudah ketiduran dan bangun karena mendengar dering telpon. Ia menjadi merasa bersalah. Tak berapa lama, kunci pintu di putar. Ibu membuka pintu, namun Yulia dibuat terkejut, karena ibunya begitu pucat dan terlihat lemah.


"Ibuuuu!" segera Yulia mrnghampiri ibunya. Lalu memapahnya untuk duduk di kursi ruang tamu. Ia menyentuh dahi dan leher ibunya. Tidak panas dan terasa berkeringat dingin.


"Ibu, apa yang ibu rasakan sekarang? Kita berobat dulu, ya? Tempat praktek dokter Amira pasti masih buka." Yulia panik bukan main. Dokter Amira adalah langganan dirinya dan ibu jika ada keluhan sakit. Tempat praktiknya juga tak begitu jauh. Namun ibunya menggeleng.


"Ibu cuman lemes aja, Yul. Tolong buatin ibu teh panas ya? Mungkin kalau ibu minum yang panas, bisa lebih enakan badan ibu!" Yulia mengangguk. Ia lalu memapah ibunya untuk masuk kamar. Setelah membaringkan ibunya di atas kasur, ia pun berlalu ke dapur membuat teh.


"Bu, ibu belum makan ya? Kok nasi sama lauknya masih utuh diatas meja. Jangan gitu dong, Bu! Ibu musti makan yang banyak biar sehat." ucap Yulia membawakan nampan berisi teh panas dan nasi di piring dengan lauk ayam goreng pemberian bos Jutek, eh bos Romi.


Lebih tepatnya pemberian Ibunya Bos.


"Perut ibu rasanya penuh, Yul. Gak selera makan. Ibu minum aja ini tehnya." Ibu berusaha meraih cangkir teh, lalu menyeruputnya sedikit.


"Ibu pokoknya harus makan. Bagaimana ibu sehat kalau perutnya gak diisi. Ibu itu lemes karena belum makan, ibu!" omel Yulia sambil menyendok nasi dan lauk, ia suapkan ke mulut ibunya.


"Aaaaa!" seperti menyuapi anak kecil. Namun baru tiga suap ibunya mendorong pelan piring yang dipegang Yulia menjauh.


"Sudah, Yul. Ibu sudah kenyang." Yulia menghembuskan nafas berat. Meletakkan piring diatas meja, lalu meraih teh dan disodorkan pada ibunya.


"Ya udah. kalau begitu tehnya di minum sampai habis. Terus tidur."


\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai hai hai, aku datang. Maaf ya kalau up-nya lama. Ternyata nulis lebih dari satu judul novel secara bersamaan itu gak gampang. Salut buat othor yang bisa nulis 2 sampai 3 bahkan 4 judul novel barengan.

__ADS_1


Jadi oleh karena othor memang gak bisa nulis dobel dobel, maafin othor ya. kalau ngalah salah satu. Musti diprioritaskan satu dulu, Kalau udah selesai baru nulis yang lain. Sekali lagi othor minta maaf sebesar besarnya.


Love you All


__ADS_2