
"Maaf, Bu. Saya wali kelasnya Shila. Mohon maaf sebelumnya, secepatnya Ibu saya harap datang ke sekolah. Karena Shila bermasalah dengan salah satu temannya, hingga mereka berkelahi."
"Apa?"
"Iya, betul Bu. Kami harap Ibu atau Bapak segera datang kesini, karena ini wali murid anak yang dipukul Shila tak terima, dan ingin bertemu dengan orang tua Shila."
Wajah Yulia pias, tangannya gemetar memegang ponsel. Dini beranjak mendekati Yulia dan memegang pundaknya.
"Kenapa mbak? Mbak Yulia langsung pucet gitu? "
" Mas, kira kira kenapa ya Shila sampe mukul temannya?" Yulia harap harap cemas dalam perjalanan menuju sekolah, ia ngotot ingin ikut walau Roni sudah melarangnya.
"Mana aku tahu, Yul. Kamu kan yang tadi ditelepon, kenapa gak tanya langsung? "
"Aku panik, mas. Gak sempet mikir sampai kesitu."
"Yasudah, nanti aja tanya sama gurunya." putus Romi kemudian, mereka diam sampai hanya butuh waktu lima belas menit, sampailah di gerbang sekolah tempat Shila mengenyam pendidikan sekolah dasarnya.
Dress gamis Yulia melambai lambai diterpa angin, berjalan bergandengan tangan menuju ruangan guru. Menampilkan perutnya yang besar.
"Jangan cepat cepat mas, aku keteteran nih, ngikutin jalan kamu yang lebar lebar! " omel Yulia menyentak tangan Romi.
"Kamu aja yang jalannya kayak siput." balas Romi namun ia melambatkan langkahnya juga.
"Kayak siput gini, kalau aku pergi juga kamu kelimpungan nyari aku, mas!" Romi tak membalasnya, karena mereka telah sampai didepan pintu ruangan. Mereka mengucap salam dan dipersilakan duduk berhadapan dengan seorang ibu dengan anak laki laki yang terus menunduk. Pipinya lebam, dan sudut bibirnya sedikit pecah. Tapi tatapan ibu itu garang melihat pasangan Yulia dan Romi. Di belakang ibu itu berdiri seorang laki laki yang mengenakan kemeja, sepertinya datang langsung dari kantor tempatnya bekerja.
"Kami walinya Shila, Bu. Istri saya tadi bilang Shila bermasalah disekolah hingga memukul temannya, ada apa sebenarnya?" Romi angkat bicara mengabaikan ibu yang menatapnya tajam. Belum juga wali kelas dan Kepala sekolah menyahut, ibu itu menyerobot lebih dulu dan berdiri dengan kasar.
"Jadi ini orang tuanya anak yang memukul anak saya? Benar benar ya, mau jadi preman perempuan itu anaknya? Apalagi ibunya ini, lagaknya aja kalem kalem, tapi ngajarinnya pasti gak bener nih! Anak saya sampai babak belur begini!" Romi langsung berdiri dengan emosi mendengar hinaan wanita itu pada anak dan juga istrinya.
"Jaga omongan Ibu! Saya sangat kenal anak kandung saya sendiri dan juga istri saya. Shila gak mungkin melakukan sesuatu, apalagi sampai memukul kalau tak ada sebabnya! " bentak Romi tak kalah garang, anak wanita itu semakin mengkeret, dan menunduk. Guru dan kepala sekolah segera berdiri menengahi keduanya.
"Mas, tenang. Kita belum tahu permasalahan Shila sama anak ini! " ucapan Yulia seolah air es yang mengguyur kobaran api, membuat Romi sedikit redam emosinya. Apalagi yang ia hadapi adalah Ibu Ibu. Dia segera duduk lagi. Pria di belakang wanita itu juga waspada, menahan pundak Ibu itu.
"Oh, ternyata sama seperti Bapaknya. Mantan preman ya, kamu?" Romi hendak berdiri lagi, ia benar benar tersulut emosi. Namun tangannya dicegah Yulia disampingnya.
"Tenang, Bu, Pak. Kalau begini, masalahnya gak akan selesai." Pak Kepala sekolah angkat bicara.
"Anak itu harus dihukum, Pak. Liat anak saya sampe lebam gini, kalau gak dihukum, besok besok dia pasti melakukannya lagi, dan lagi. Kalau perlu, saya akan lapor polisi. Biar dipenjara sekalian. " Kepala sekolah dan wali kelas Shila geleng geleng kepala.
"Beberapa hari lalu Shila bilang sama saya kalau dia sering diganggu teman sekelasnya yang namanya Viyo! Apa anak Ibu ini yang bernama Viyo?" tanya Yulia ikut sedikit emosi, menatap anak itu bergantian menatap ibunya, lalu gurunya. Romi menoleh masih dengan mata masih memerah. Mengernyit heran.
"Shila pernah bilang ke kamu? Kenapa kamu gak cerita sama aku, Yul?"
"Iya maaf. Kelupaan, habisnya waktu itu barengan datangnya Dini sama suaminya!" Yulia merasa bersalah dan segera meminta maaf. Sepasang suami istri itu saling menatap. Ada yang aneh pada Yulia, wajahnya terlihat pias.
"Yul, kamu sakit? Kok pucat?"
"Nggak, aku nggak papa, Mas! " sanggah Yulia, walau sebenarnya ia tak baik baik saja. Perutnya tiba tiba mulas sekali.
"Maaf, Pak, Bu. Ini memang yang namanya Viyo, Shila memang yang memukulnya. Dan untuk alasannya, kami juga belum tahu, karena Shila bungkam sampai saat ini. Begitu juga Viyo. Saat ini dia di ruang sebelah, karena Shila tak mau duduk disini, menunggu Bunda, katanya. Dia juga perlu dibujuk buat...Nah, itu dia anaknya!" Shila dengan menggendong tasnya diantar seorang guru masuk ke ruangan. Melihat Ayah dan Bundanya, Shila segera berlari dan menghambur ke pelukan Yulia dan sesenggukan. Langsung mengadu.
"Bunda... Shila kesel, kesel, banget sama dia! " ia menunjuk dengan jari anak yang bernama Viyo. Masih tetap memeluk Yulia dengan erat.
"Tenang sayang. Shila harus cerita apa yang terjadi ya, kalau Shila gak salah gak boleh takut. Ingat itu! " pesan Yulia membuat Shila mengangguk. Shila mengurai pelukannya dan menatap Ayahnya yang menatapnya tajam.
__ADS_1
"Nah, sekarang sudah ada orang tuanya. Shila bisa bercerita apa yang sesungguhnya terjadi, jangan takut dan jangan berbohong! " ucap Kepala sekolah yang diangguki Shila.
"Dia suka gangguin Shila, nyolek nyolek, terus narik narik jilbab Shila. Tadi yang buat Shila marah, karena dia... ( menatap Viyo tajam) dia nyingkapin rok aku! "
"Apa?" Romi mendelik.
"Astagfirullahaladzim...! " Yulia.
"Ya Allah!" seru guru dan Kepsek.
" Kamu gak boong kan, Shila?"
"Ti tidak, Ayah! " Romi menatap Ibu dan anak di depannya.
"Kalau benar yang dikatakan Shila, aku setuju dan tidak menyalahkan sama apa yang dilakukan anakku. Kalau perlu, jangan cuma ditonjok, tangan itu harusnya dipelintir, sama matanya diculek. Biar kapok! " Romi bertambah emosi, melihat anak itu yang mulai sesenggukan dan terlihat sangat ketakutan.
"Sabar Pak, sabar. Ini bisa diselesaikan baik baik! "
"Sa...saya cu..cuma bercanda, Om. Gak sungguh sungguh! Habisnya Shila anaknya galak, ja..jadi a..aku goda. " bela Viyo dengan terbata, makin menunduk. Ibunya yang tadinya garang sekarang wajahnya puas, melempem bagai kerupuk tersiram kuah panas. Rupanya ia juga belum tahu cerita sebenarnya.
"Kamu pasti boong 'kan Viyo? Bilang sama Ibu dan semua yang ada disini, kamu bohong! " tanya si ibu mengguncang bahu anaknya.
"Katakan ada Ibu, itu semua gak bener. Yang anak itu tuduhkan gak bener?" tanya si ibu lagi dengan penuh emosi.
"Itu benar, banyak saksinya. Teman teman lain juga pada tahu! " sahut Shila sambil menyeka air mata dan langsung mendapat pelototan tajam dari Ibu Viyo yang kembali garang anaknya disudutkan.
"Kamu pasti ngada ngada, kan? Ayo ngaku? Mana ada anak saya seperti itu! "
"Saya berani sumpah! " jawab Shila tak gentar.
"Cukup! Anak Ibu sudah ngaku, kenapa nyerang anak saya. Masih kecil sudah berani melecehkan. Pantas saja, ibunya kayak gitu. Sekarang siapa yang kayak preman? Gimana gedenya nanti anaknya. Sekarang gimana menurut Ibu, masih mau marah, saya dan istri saya yang harusnya marah... "
"Bunda...! " Shila berteriak. Kepsek dan guru gegas mendekati Yulia, namun tak berani memegang karena semuanya laki laki. Seorang guru wanita yang sepertinya baru selesai mengajar mendekat.
"Yulia...! " Romi berubah panik melihat Yulia yang menahan sakit.
"Perut aku sakit... mas! Ayo kita pulang saja...! " Yulia membungkuk, lalu memegangi pinggangnya. Satu tangan lagi memegang perut. Ia menggigit bibir menahan rasa sakit.
Aduh gimana ini, urusan lagi gawat gawatnya...
"Sepertinya istrinya kontraksi, Pak. Bawa aja langsung ke rumahsakit, biar disini kami yang menangani! " ujar guru wanita yang lebih paham keadaan wanita hamil tua. Mendengar kata kontraksi, Romi bertambah panik.
"Benarkah?"
"Ayo, Yul. Aku bawa kamu ke rumah sakit! " Yulia hanya mengangguk pasrah. Romi segera membopong Yulia, diikuti oleh Shila yang menggenggam ujung baju Yulia yang menjuntai. Turut berlari mengimbangi langkah Ayahnya yang lebar meninggalkan gedung sekolah menuju tempat parkir. Lupa berpamitan pada kepala sekolah dan guru lain.
"Makasih ya, Bu. Tolong bilang ke pak kepsek urus Ibu dan anaknya tadi. Pokoknya saya gak mau tahu, kalau perlu pindahkan anak itu ke ruang kelas lain. Saya tak mau lagi berurusan dengan mereka, atau mereka akan kena getahnya. " Ibu guru itu mengangguk mengerti.
"Cepat, mas. Aku udah gak tahan! " rintih Yulia.
"Iya, iya...!"
"Hati hati pak, jangan panik nyetirnya! " Romi tak menjawab, wajahnya tegang. Sesekali menatap dari kaca tengah sang istri di jok tengah bersama Shila yang juga terlihat panik.
Jarak antara rumah sakit dan sekolah hanya memakan waktu 15 menit, namun berasa sangat lama bagi semua penumpang kendaraan itu.
__ADS_1
"Aduh, kenapa mulesnya terus terusan ya! Apa benar aku mau ngelahirin, mas! Awwwhduh. Astaghfirullah." Yulia terus saja meringis menahan sakit. Dahinya basah oleh keringat. Shila di sampingnya berurai air mata, takut dengan keadaan bundanya.
Melihat reaksi Shila, Yulia berusaha tersenyum dan tenang.
"Kenapa sayang? Gak usah nangis bunda gak papa kok. Kayaknya, sebentar lagi adek mau lahir, Kakak bisa liat adek bayi!" ucap Yulia setenang mungkin. Tak mau Shila ikutan bertambah panik. Membelai kepala berbalut jilbab putih itu.
Tak membutuhkan waktu lama, saat diperiksa dokter ternyata Yulia sudah pembukaan enam. Tak lama lagi bayi akan lahir ke dunia. Romi lebih dulu menyempatkan diri menelpon Arsen, agar menjemput Shila untuk pulang.
Kurang lebih dua jam di rumah sakit, bayi perempuan dengan panjang 51 cm dan berat 3 kilogram menangis. Kencangnya suara tangisan sang bayi memenuhi ruangan, menandakan bayi sehat tak kurang suatu apa. Romi menggaruk kepalanya yang tak gatal setelah mengazani dan meng iqamahi bayinya.
"Alhamdulillah, kita dikasih kepercayaan lagi anak cewek Bun. Cantik ya, kayak kamu! " Romi mendekatkan bayi pada istrinya. Yang disambut suka cita dari Yulia yang baru dibersihkan. Yulia tersenyum dan mengecup pipi putrinya. Bayi bereaksi dengan menggerakkan gerakkan bibir.
"Lihat tuh mas, bibirnya kayak kamu. Kalau tidur suka kecap kecap kayak lagi ngerasain makanan. "
"Ah masa, sih! "
"Iya, persis seperti ini kamu kalau tidur mulutnya! " keduanya tertawa, membuat bayi menyebik kemudian menangis kencang.
"Cup cup sayang... Uluh uluhhh, anak Bunda kok marah dibilangin persis Ayah! "
***
"Makasih ya, udah ngelahirin anak anakku. Jadi makin sayang sama Ibunya anak anak ini!" ucapnya lalu mengecup kepala sangat istri penuh sayang. Lalu menggenggam tangan penuh kehangatan dan mengecupnya. Bayi telah tertidur pulas di boksnya.
"Anak kita, Mas. Aku juga sangat mengharapkan kehadiran mereka. Menikah sama kamu, membuat doa yang kulangitkan terkabul. Kalian hadiah terindah dalam hidup aku."
"Oiya, mas udah menyiapkan namanya. Hanin Syahra Kamila. Hanin artinya yang penuh kasih sayang. Syahra artinya pesona atau kharisma. Kamila artinya sempurna. Bagus gak?"
"Anak perempuan yang penuh kasih, mempesona dan sempurna akhlaknya, Aamiin! "
"Bagus, mas! Aku suka. Hanin, nama yang indah! " ucapnya menatap bayi yang baru dilahirkannya beberapa jam lalu. Yang kini tidur dengan mata dan bibir mungilnya mengatup sempurna. Senyum kecil tersungging dari bibirnya.
Kebahagiaan mereka bertambah sempurna. Dini dan Arsen yang hari itu akan balik ke tempat tinggalnya meng-cancel penerbangan. Ikut merasakan kebahagiaan mantan kakak iparnya. Arsen bahkan rela menghandle pekerjaan via online. Dan Dion meminta izin dari sekolah dalam beberapa hari kedepan. Dini memutuskan memberi kesempatan Arsen untuk keseriusannya membina lebih baik lagi hubungan mereka demi Dion, dan demi anak yang masih berbentuk segumpal daging dalam rahimnya.
Tujuh hari kemudian diadakanlah syukuran dengan kemasan acara aqiqah untuk Hanin dengan mengundang seorang ustadz menyampaikan ceramahnya. Ceramah yang penuh makna namun dikemas santai dan sedikit melucu, membuat pendengarnya tak merasa bosan atau mengantuk. Tak ada dari para hadirin yang tidak memperlihatkan senyumnya bahkan tertawa mendengar ceramah sang ustadz muda itu.
Selesai acara, hari telah menjelang sore. Para keluarga berebut berfoto bersama baby Hanin dengan latar dekorasi balon beraneka warna yang ditata apik dan didominasi warna putih dan pink. Hingga Romi memutuskan mereka berfoto bergantian bersama keluarga masing masing.
Yang pertama adalah tentu saja baby bersama kakak kakaknya, Neneknya baik nenek Alvi dan Nenek Kanti. Dilanjutkan keluarga Om Gunawan beserta anak dan cucunya, lalu Mima adik Romi, suami dan anaknya. Keluarga dari Yulia pun tak mau kalah, Ada Angga beserta istri dan anaknya, begitu pula Dini bersama Arsen dan Dion. Dan yang terakhir mereka berfoto bersama beramai ramai, dari yang tua maupun yang muda. Anak anak berbaris didepan berjongkok, para orang tua mengapit Yulia yang menggendong bayi duduk dikursi, dan anak anaknya dibelakang mereka berjejer rapi. Mereka melakukan foto dengan gaya bebas. Ada yang tertawa lebar, ada yang dengan mengacungkan jempol, atau dua jari. Dan yang paling menjengkelkan adalah ulah Ricky anaknya Mima dengan sengaja menusuk salah satu balon hingga meletus. Semuanya terkejut dan menoleh kearah Ricky dan berseru.
"Rickyyyyy!"
Tamat....
Hai Hai Hai... maaf ya, cerita ini harus aku ending sampai disini. Maaf jika ada banyak kekurangan, author hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. Terima kasih untuk yang selama ini telah memberikan dukungannya, komen positif, vote maupun sumbangan poinnya.
Jika ada sumur diladang
Boleh kita menumpamg mandi
Jika ada umur yang panjang
InsyaAllah kita bisa bersua lagi.
Tentu saja di story berikutnya.
__ADS_1
Oiya, mungkin akan ada beberapa bonus partnya ya. Dari part part yang masih menggantung.
Terimakasih dan Wassalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh.