Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 52


__ADS_3

******


Fajar telah menyingsing, saat itulah Yulia membuka matanya perlahan yang masih terasa berat. Namun kala ia benar benar membuka mata, terkejut saat mendapati diri bukan di kamarnya.


Apalagi di pinggangnya terasa berat seperti ada sesuatu yang berat menindihnya. Terdengar pula nafas halus di belakangnya.


Haaaah!


Yulia terkejut saat membalikkan tubuh menjadi telentang. Ia menahan diri untuk tidak memekik. Dan saat itulah ia baru sadar jika ia telah menikah kemarin. Dan seseorang yang memeluknya dari belakang adalah orang yang berstatus suami barunya.


Ia menatap wajah yang hanya berjarak beberapa senti disampingnya. Wajah pria yang terlihat dewasa, dengan alis yang cukup tebal, dahi lebar, hidung mancung dengan garis bibirnya tegas dan merah. Karena memang tidak merokok. Rahangnya kokoh dengan dan bersih dari bulu. Pasti kemarin habis cukuran, pikir Yulia.


Tangan Yulia seperti ada yang menggerakkan dengan tidak sadar, ia letakkan telapak tangannya pada bawah rahang Romi. Hmmm, agak kasar.


Saat itulah Yulia baru tahu kalau Romi berdagu belah pinang. Terlihat manis, batin Yulia sambil tersenyum. Selama ini ia tak menyadari, karena tak mau berlama lama menatap lawan jenis yang membuatnya selalu membuat jantungnya bertalu kencang itu. Selama ini dagu Romi selalu tertutupi jenggot yang walaupun tidak tebal, namun menutupi kelebihan fisik dari wajahnya.


Ehhm...ehmmm!


" Sudah puas menatap aku? Suamimu ini ganteng banget ya, sampai mandang sambil senyum senyum gitu?" ucapan narsis keluar dari bibir Romi dengan mata masih terbuka sedikit. Yulia merasa malu tak menyangka ternyata Romi pura pura tidur, dan tahu ia sedang memperhatikannya. Ia membenamkan wajah pada bantal untuk mengurangi rasa malu.


"Ehhm, aku tadi cuma terkejut. Tadi waktu baru bangun tidur, aku lupa kalau aku telah menikah. Untung aja loh, tadi hampir saja aku tentang kamu dari kasur, mas!" Yulia meringis, menyadari tingkah konyolnya. Masa bisa lupa kalau sudah menikah. Senyum puppy eyes terbit dari wajahnya.


"Wah wah..., bisa bisa masuk pasal KDRT nih, ada seorang istri menendang suaminya dari kasur sampai terjungkal di malam pertama mereka."


"Ishhh, jangan menunjukkan muka seperti itu, ku cium kau nanti baru tahu rasa!" Romi menggerakkan kepalanya kearah Yulia, Yulia langsung beringsut menjauh.


"Enggak ah, sudah subuh. Mandi wajib dulu terus shalat subuh!" ucap Yulia bangkit dari tidurnya. Ia tak mau berlama lama di dekat Romi, pasti ada saja alasannya.

__ADS_1


"Hei, morning kiss dulu dong!" protes Romi saat Yulia pergi begitu saja.


"Gak ah, takut kebablasan. Mas Romi masih tegangan tinggi, nyetrum entar!" Yulia sudah berlalu ke kamar mandi.


Pagi itu mereka setelah mandi dan menjalankan subuh, menikmati udara pagi di balkon sambil meminum teh panas.


"Mas, setelah ini kita pulang kan? Aku kangen Shila. Sedang apa ya dia sekarang? Apa sudah bangun?" Yulia menyesap tehnya, terasa hangat di tenggorokan. Wanginya harum tak seperti wangi teh yang biasa ia seduh di rumah.


Romi memalingkan wajah menatap sang istri sambil tersenyum penuh arti.


"Pulang! Waktu kita masih satu hari di sini. Mubadzir dong, kalau kita pulang sekarang! Minimal kita pulangnya besok siang!" ucap Romi membuat Yulia membulatkan mata.


"Besok siang? Ih.. lama amat mas! Ngapain juga kita disini, cuman duduk duduk doang, makan, tidur!" Yulia yang terbiasa bekerja merasa bosan, hanya duduk duduk saja.


"Banyak yang bisa kita lakukan, sayang! kita nanti agak siangan ke pantai itu! Aku pengen ngajak kamu naik sky boat, berdua sama kamu. Berani 'kan?" Yulia menggoyangkan tangan tanda tak mau.


"Ya elah, gak usah takut. Kamu cuman kayak naik di bonceng sepeda, duduk di belakang, terus pegang pinggang aku! Terus kita berkeliling di pantai!" Hiii, Yulia sudah merasa bergidik ngeri. Berada di tengah tengah air laut yang luas.


Yulia diam dan masih menyeruput tehnya. Matahari baru saja muncul dari ufuk timur. Udara masih sedikit terasa dingin karena angin berhembus lumayan kencang.


Teh di dalam gelas Yulia sudah habis. Namun ia manyun karena tak ada yang bisa dia kerjakan. Yulia adalah wanita pekerja keras. Ia akan lakukan pekerjaan apapun, selagi ia bisa. Keadaan orang tua memaksanya untuk tidak menjadi wanita yang belagu minta ini dan itu pada orang tuanya. Bahkan setelah bersuamikan Wahyu, ia masih bisa menyisakan sedikit uang belanja yang di berikan Wahyu.


Hmmm, enaknya ngapain ya pagi pagi begini? Yulia.


Ia berdiri, meletakkan kedua tangan pada pagar balkon. Menatap debur ombak yang terus berkejaran tiada henti.


"Pagi begini kayaknya enak kalau tidur lagi, sayang!" bisik Romi di telinga, seperti ada telepati. Tahu apa yang dipikirkan Yulia. Tahu jika istrinya saat ini merasa bosan. Yulia reflek menjauhkan kupingnya dan mengusap usap karena geli.

__ADS_1


"Mas Romiiii, suka banget isengin aku ya!" Romi cekikikan sambil tangannya melilit di pinggang Yulia. Menghirup aroma rambutnya yang masih sedikit basah.


"Aku tahu bagaimana caranya agar kamu gak bosan. Kita tidur lagi yuk!" kalimat ambigu Romi membuat Yulia berpikir untuk meloloskan diri. Ia tahu apa yang di maksud oleh suaminya. Namun masih juga berpikir untuk lolos, tubuhnya terangkat ke udara. Yulia memekik karena terkejut. Romi menggendong Yulia sudah seperti menggendong karung beras seberat sepuluh kilo saja. Tidak merasa ngoyo.


Romi masuk sambil membawa Yulia dalam gendongannya, lalu menghempaskan tubuh wanita yang telah menjadi istrinya sehari yang lalu itu ke atas ranjang hotel. Dan segera Romi menyusul naik di atasnya. Yulia tersenyum menatap wajah diatasnya itu.


" Mas, nanti habis ini kita telpon ibu ya! juga Shila. Aku kangen mereka!" melingkarkan manja tangannya pada leher Romi.


"Habis ini? habis ini apa maksudnya?" Yulia merubah ekspresinya. Kini dia manyun, dan menurunkan lagi tangannya.


"Hei, aku kan gak paham maksudnya habis ini itu habis ini apa? Kok malah marah!" senyum Romi mengembang mengerjai sang istri. Memperlihatkan sederet senyum pepsodennya.


Semenyenangkan itu menggodanya.


Lalu menaikkan lagi tangan Yulia ke lehernya.


"Iya iya, maaf! Setelah tiga ronde kita menelpon mereka!" Romi meralat kata katanya, melihat sang istri sudah akan merajuk.


"Apa? enggak ah! masa tiga ronde, dua ronde saja badan aku lemas serasa tak bertulang. Mas Romi mau bunuh aku?" delik Yulia.


"Ish mana ada aku mau bunuh kamu! Yang ada aku maunya kamu jadi pendampingku di sisa usiaku. Sampai kamu jadi nenek dan aku jadi kakek. Bisa melihat anak dan cucu kita nanti tumbuh dan hidup bahagia." kicau Romi, yang diamini Yulia.


"Nah, sekarang mulai ronde pertama ya!" Romi langsung menghujani dengan ciuman. Dan ah.... author gak bisa lanjutin apa yang mereka lakukan di pagi hari itu. Yang jelas mereka sedang olah raga pagi sampai peluh kenikmatan menetes dari tubuh mereka yang sedang di mabuk cinta.


\=\=\=\=\=\=


To be continued

__ADS_1


__ADS_2