Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 56


__ADS_3

*****


"Pagi sayang!" sapa Romi pagi itu. Ia mengerjapkan matanya yang masih belum mau terbuka lebar.


"Jam berapa, mas?" masih dengan mata setengah terbuka Yulia bertanya.


"Hampir subuh, ini aku baru shalat malam!" Romi terlihat masih memakai sarung, dan kopyah hitam di kepala.


"Gimana, apa masih sakit kepala? masih mual?" Romi memberondong dengan pertanyaan, Yulia tersenyum. Apalagi saat mengingat Romi begitu khawatir terhadap apa yang terjadi kemarin sore.


"Sudah, badan aku sudah fit! seratus persen oke!" Romi tersenyum lega. Tadi malam ia tidur dengan gelisah. Sebentar sebentar ia bangun untuk mengecek Yulia. Tapi Yulia tidur sangat lelap. Mungkin pengaruh dari obatnya menyebabkan kantuk yang berat.


"Oh iya, aku belum isya' terus qada' Maghrib sama ashar juga!" Yulia tergesa bangun dari tidurnya. Hingga hampir terjungkal karena kakinya terbelit selimut. Romi tertawa tanpa suara melihat tingkah istrinya.


"Pelan dong, sayang!" Romi mau bangkit dari tidurannya, namun keburu Yulia kabur setelah terbebas dari selimut yang membelit, menuju kamar mandi.


Romi merasa lega, serasa beban yang ada di dadanya hilang, karena Yulia telah membaik. Tadi ia sempat menyalahkan diri sendiri, merasa gak becus jadi suami.


Mereka kini dalam perjalanan pulang.


Yulia masih saja tertidur dalam mobil. Dengan mulut agak mangap, membuat Romi iseng memotretnya dengan kamera hape. Romi tertawa tawa, melihat posisi lucu istrinya. Foto ini bakal ia simpan dan akan ia perlihatkan pada Yulia jika nanti bisa dijadikan bahan ledekan baginya.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yulia dan Romi setibanya mereka dalam rumah. Rumah terlihat sepi. Pada kemana mereka? Romi menyeret koper Yulia masuk ke dalam kamarnya.


Yulia merasa nervous, ia sudah berkali kali masuk ke rumah ini sebelumnya, dan biasa saja. Namun saat ini, saat dirinya telah resmi menyandang status istri dari pemilik rumah ini, ia malah merasa gugup.


"Eh, malah bengong di depan kamar, ayo masuk! Ini kamar kita, kamu dulu udah pernah masuk sini 'kan?" Romi menarik Yulia masuk, lalu menutup pintu dan tak lupa menguncinya.


"Mas, aku pengen ketemu Shila, aku kangen dia!" beritahu Yulia, ia hendak berbalik ingin keluar. Mereka baru datang, namun tanpa sepengetahuan orang rumah malah masuk ke kamar. Ia merasa tak enak hati. Namun Romi tak mengindahkannya. Ia menuntun Yulia duduk di tepi ranjangnya dan meminta Yulia istirahat.

__ADS_1


"Mas, aku gak apa apa! udah fit kok akunya. Aku pengen ketemu Shila seka...hmmmmpz!" tiba tiba Romi melakukan penyatuan yang tak bisa Yulia mengelak lagi. Romi melakukannya dengan buas, seakan sudah berbulan bulan tak melakukannya. Yulia hanya bisa pasrah saat suaminya menelusuri bagian dirinya yang menjadi favorit tangan Romi berlabuh.


Hingga sebuah teriakan kencang dan ketukan pintu membuyarkan aktivitas mereka.


"Aayaah! Bundaaaa! sudah pulang? Shila mau lihat bunda sama Ayah!" Romi langsung terkulai lemas diatas Yulia, membuat Yulia tertawa. Walau bibirnya masih terasa kebas, oleh ulah Romi.


"Berat ih mas, badan segede gaban gini, turunlah!" Yulia mendorong dada suaminya. Ia segera bangkit setelah Romi menggulingkan dirinya ke samping, dan memperbaiki penampilannya, terlebih bibirnya pasti belepotan dengan lipstik.


"Mas, usap dulu bibirnya, nanti kelihatan sama Shila sama yang lain juga malu 'kan!" protes Yulia.


"Ah biarlah, gak apa-apa begini juga! palingan mereka juga maklum!" Romi tersenyum lebar yang di sambut melebar bola mata Yulia.


Yulia menggerutu tak jelas sambil mengambil tisu basah yang ada di tasnya, lalu mendekati Romi.


"Suka banget ya kalau kita jadi bahan ledekan, mungkin mas Romi cuman senyam senyum gak jelas, tapi aku kan malu!" sungutnya, mengelap bibir Romi.


Dan baru lepas saat suara cempreng Shila terdengar lagi, membuat kenikmatan itu langsung ambyar tak tersisa. Yulia mendelik dan bangun sambil mengatur nafasnya yang tersengal.


"Iya sayang, sebentar ya!" Yulia segera menuju pintu setelah mengaca dan terlihat bibirnya normal walaupun rasanya sangat tebal dan kebas.


"Eh, Shila sayang! Maaf ya lama, Bunda dari kamar mandi, Ayah lagi tidur ituh, yuk masuk!" Yulia menuntun Shila masuk.


"Shila kangen sama Bunda. Gendooong!" rengek Shila merentangkan tangannya.


"Ishh, anak Bunda kok manja banget ya! Kan Shila udah gede, berat lagi!" ucapnya mengangkat, menciumi gadis kecil itu sambil membawanya pada sang ayah yang pura pura memejamkan mata, telentang di atas ranjang. Tawa riang Shila begitu dekat dengan ayahnya.


Shila menggelitiki pinggang hingga Romi yang pura pura tidur pun tak bisa menahan diri dan menggeliat karena geli dan tertawa.


"Aduuh... aduuh.. ampun sayang! Jangan gelitikin Ayah. Ayah minta ampun!" Romi tertawa lebar, tawa mereka berdua memenuhi ruangan kamar itu.

__ADS_1


"Habisnya Ayah jahat sih, bawa kabur Bunda dua hari lamanya, kan harusnya Shila tidur sama Bunda, Bunda udah janji kan waktu itu, mau tidurnya sama Shila?" rengek Shila bersungut ria.


"Maaf ya sayang! Kan Bunda istrinya Ayah. Jadi yang pertama kali tidur dengan Bunda kan Ayah, bukannya Shila! Shila nanti ya, ngalah dulu sama Ayah!" Shila makin manyun mendengar penjelasan sang Ayah. Yang jelas ia tak mau berbagi Bundanya dengan Ayah.


"Nggak boleh, Ini Bundanya Shila, Shila maunya tidur sama Bunda!" Shila berdiri, lalu berkacak pinggang. Menunjukkan kalau ingin berkuasa pada diri Bunda Yulia.


"Shila sayang! Gak boleh ya, begitu sama Ayah Shila!" tegur Yulia. Harusnya anak ini diberitahu sejak dini untuk tidak melawan orang tua. Shila langsung duduk di pangkuan Yulia, masih menatap ayahnya tajam.


Akhirnya Yulia berbicara panjang lebar pada Shila yang intinya Shila tak boleh jahat dan berkata kasar pada orang tuanya. Bukan cuma pada kedua orang tua, namun pada siapa saja yang lebih tua harus menghormati. Tak boleh berkata yang menyakiti hatinya. Shila diam dan menyimak baik baik apa yang dikatakan Yulia. Sambil mengelus elus rambut harum Shila.


"Hmmm, anak Bunda udah wangi, badannya wangi, rambutnya wangi. Mandinya tadi ama siapa sih?" setelah menasehati Shila, Yulia memuji muji anak itu agar dia tidak down.


"Tadi mandinya barengan adek Baby, Bunda. Adek Baby Yesa lucu banget, Bunda. Shila seneng kalau punya adek baby. Kata Nenek sama kata Tante, nanti Bunda Yulia juga ngasih Shila adek, iya kan, Bund?" pertanyaan Shila membuat Yulia langsung bungkam, senyum tang menghias wajahnya juga hilang.


Romi yang sedari tadi mendengar interaksi kedua orang itu bangkit dari tidurannya. Shila dalam pangkuan Yulia menengadah, menatap wajah sendu ibu sambungnya.


"Shila sayang, Shila bantu doa ya, Bunda sama Ayah pasti bisa ngasih dedek buat Shila. Tapi Shila harus sabar, dan banyakin doa. Paham Shila!" Gadis kecil berambut bergelombang itu mengangguk paham.


"Janji...!" sang ayah mengulurkan jari kelingkingnya.


"Janji Ayah! Shila bakalan doain Bunda, Ayah, Nenek Kanti, Nenek Alvi, Dedek Yesa, dan semuanya, Ayah!" menyambut kelingking sang Ayah.


"Sippp! Anak ayah memang pinter dan calon anak shalehah seperti Bunda." pujinya kemudian.


"Kalian ini ya, baru pulang langsung nyelonong aja ngamar! Gak nganggap kita di rumah, nih!" seloroh seseorang yang tiba tiba muncul dari balik pintu.


\=\=\=\=\=\=\=\=


TBC...

__ADS_1


__ADS_2