Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 106.


__ADS_3

"Huuu, mama... sakit mamaaaa!" Dion menangis merasakan ngilu ditubuhnya, terutama kaki kanannya yang patah.


Satu jam lebih telah berlalu, kini Dion ada diruang perawatan. Dengan kaki kanan di gips dan diperban. Kepala bagian kiri Dion benjol dan mengeluarkan darah, mengalami gegar otak ringan. Sedang tangan kiri, terutama siku dan lutut kaki kiri pun terdapat luka luka.


Rambutnya juga dicukur pada bagian yang luka, hingga kepalanya di perban. Romi ikut masuk ke ruangan tempat Dion dirawat.


"Sabar ya sayang, kamu pasti sembuh!" hanya itu yang bisa Dini katakan pada anaknya.


"Maaa, Dion pengen ketemu Papa, Dion kangen Papa, huuuuu. Papaaa....Dion sakiiit....!" Dion meringis. Menangis tersedu sedu.


" Dion, ini Om. Kamu jangan banyak bergerak dulu, ya! Om janji ngasih tahu papa kamu, biar Papamu datang kesini!" Romi yang duduk disisi kiri Dion angkat bicara, berusaha membujuk keponakannya itu, namun tak berani menyentuhnya.


"Bener, Om! Om bakalan ngasih tau Papa? Aku sakit disini, Om! Tapi sama Mama gak dibolehin ketemu Papa!" Romi menatap Dini yang juga menatapnya sambil menggelengkan kepala. Namun Romi tak peduli, Papanya harus tahu keadaan anak semata wayangnya itu.


"Iya, Om janji. Tapi kamu gak boleh banyak gerak dulu ya! Minum obatnya juga biar cepat sembuh. Papamu pasti sedih kalau kamu sakit begini, jadi cowok itu harus kuat." mengelus dada Dion, bagian yang tidak luka.


Ah, rasanya rindu sama anak istri. Andai aku punya anak cowok juga. Romi.


Setelah dirasa Dion agak tenang dan terlelap karena pengaruh obat, Dini berkata lirih dari seberang pembaringan.


"Mas, kenapa mas Romi ngasih tahu Dion seperti itu, nanti dia bakalan nagih terus, mas!" Romi bersedekap.


"Kamu itu bagaimana sih, Din! Tentu saja ya Papanya harus tahu keadaan anaknya. Kalau kau gak ngasih tahu, dan terjadi apa apa sama Dion, kamu pasti bakalan lebih disalahkan. Lagian, emang kamu punya uang buat biaya pengobatannya?" Dini menunduk. Lalu menggeleng.


"Coba sini mana hape kamu, aku minta nomernya Arsen?" Romi mengulurkan tangannya. Dini meraih tasnya dan mengambil ponsel dari dalam tas itu.


"Kalau nanti mas Arsen marah gimana mas? Kamu belum tahu gimana ganasnya dia kalau marah!" protes Dini.


"Ya, itu urusan kamu!"


Setelah menyimpan nomer Arsen ayahnya Dion, Romi pamit pada Dini untuk pulang, hari sudah selepas Maghrib. Anak istrinya pasti sudah menunggu dirumah.


Sebelum pergi meninggalkan rumah sakit, Romi menelpon mantan suami Dini, dan menceritakan keadaan anaknya. Dan Arsen mengatakan kalau dia akan datang secepatnya, menengok anaknya yang sakit.


Romi beranjak dari duduknya saat seseorang menengok ke dalam ruangan Dion. Lelaki itu...


"Mas yang nabrak keponakan saya tadi, kan?" tegur Romi pada pria berjaket hitam yang sudah lusuh itu. Pria itu menoleh, lalu menunduk.


"Iya, mas! Maaf, tadi saya sedang buru buru. Istri saya mau melahirkan, itu sebabnya saya ngebut, dan gak sengaja nabrak anak itu!" Romi mengangguk. Ia menatap pria itu dari atas kebawah.


"Apa pekerjaan mas ini?" tanya Romi kemudian.


"Saya... saya montir mas, saya kerja di bengkel mobil dekat daerah situ tadi." Romi manggut manggut lagi.


"Terus, istri mas sudah melahirkan?"


" Alhamdulillah sudah! Baru saja, makanya saya datang kesini mau nengok adik itu. Anak saya yang besar juga seusia dia, mas."


"Mas, saya mohon, saya akan bertanggung jawab membayar biaya pengobatan adik itu. Tapi saya minta waktu, dan kalau boleh nyicil ya, mas!"


"Gaji saya gak banyak, tabungan juga terkuras buat istri melahirkan. Anak saya yang besar juga butuh biaya sekolah, mas! Saya mohon, mas berbaik hati buat saya." Pria itu memelas dan menangkupkan tangan didepan dada.

__ADS_1


Romi menghela napas.


"Kalau untuk biaya pengobatan ponakan saya, saya tak berhak turut campur, nanti saya bisa bicara dengan adik saya. Saya akan coba bantu masnya"


"Oiya, saya boleh tahu KTP punya mas?" Pria itu mengangguk. Lalu mengambil dompetnya yang terlihat lusuh. Lalu mengambil Kartu identitasnya.


"Ini mas, KTP saya!" Romi mengambilnya dan meneliti identitas didalam kartu itu.


"Boleh saya foto ya, mas Kartunya. Cuma ingin menyimpan alamatnya. Kapan kapan saya ingin mampir ke rumahnya mas!"


"Monggo mas, dengan senang hati!"


*****


Romi berjalan di koridor rumah sakit dengan masih fokus dengan hapenya.


Tiba tiba...


Bruk...


Romi bertabrakan beradu bahu dengan seseorang. Hingga ponselnya jatuh, dan ia mengaduh. Orang yang menabrak pun terdengar mengaduh pula. Dan saat melihat siapa yang ditabrak, mereka sama sama terkejut.


"Romi!?"


"Andre!?" panggil mereka bersamaan.


"Lama tak kelihatan, kemana saja Lo!" menepuk bahu yang tadi bertabrakan dengan bahunya hingga Andre meringis.


"Sia lan Lo, sakit tauk!" umpat Andre karena bahunya ditepuk dengan keras. Romi tertawa. Lalu mengambil ponselnya yang terjatuh.


"Men, Lo tahu nggak, dalam ajaran kepercayaan kami, bahwa lahir, jodoh, rezeki dan maut itu Tuhan telah mengatur dari sebelum kita terlahir ke dunia. Jadi, sekeras apapun kamu berusaha mendekatinya, kalau emang gak jodoh, ya gak bakalan Lo bisa milikin dia."


"Sorry ya, gue harap Lo bisa dapat cewek yang lebih baik, dan gue harap kita temenan kayak dulu. Gak ada rasa permusuhan diantara Lo gue!" Andre mengibaskan tangannya. Lalu berkacak pinggang.


"Itu mah maunya Lo gitu, karena lo menang banyak bisa ngawinin dia, coba Lo kalah dia milih gue, Lo pasti musuhin gue seumur umur. Ngaku Lo!" sewot Andre. Kini mereka memilih duduk di kursi panjang di tempat itu.


"Mungkin juga gitu. Tapi Lo tahu kenapa dia milih gue? Padahal dia kenal Lo lama, dan baru kenal gue beberapa bulan, itupun gak deket dekat amat."


"Tak lain dan tak bukan karena Shila. Dia sayang banget sama Shila, itu sebabnya dia milih gue."


"Dia pernah berpikir dia bakal gak punya anak, gue juga mati matian ngeyakinin dia kalau dia gak bisa punya anak gue gak bakalan ninggalin dia."


"Yah, namanya trauma pasti ada. Sebab perceraiannya juga masalah dia yang gak kunjung hamil. Eh kok malah ngelantur."


"Gue pulang dulu, anak istri gue nunggu dirumah penuh rindu. Gue nunggu undangan resepsi kawinan Lo!" sekali lagi Romi menepuk bahu Andre sebelum melangkah pergi.


Lo yakin banget istri Lo lagi nungguin penuh rindu. Hahaha! Gue bakalan tepuk tangan kalau Yulia mencak mencak waktu Lo datang. Gue kirim ke Yulia ah, foto yang tadi!" Andre tersenyum puas. melihat punggung Romi yang kian menjauh, dia lalu memencet tombol 'send' pada ponselnya. Beberapa buah foto terkirim ke ponsel Yulia.


"Silakan tidur di luar kamar berteman nyamuk, Rom. Rasain ya pembalasan gue" Andre bermonolog sambil terkikik. Lalu menggelengkan kepalanya tanda puas dengan idenya mengerjai Romi. Dan berjalan menuju ruangan ibunya lagi.


"Assalamu'alaikum!" ucap Romi saat tiba dirumah, ia merasa heran biasanya sang istri menyambutnya di teras dengan senyum mengembang. Tapi kali ini lain.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, kok gak dijawab Bund!" salamnya lagi, sambil mendekat pada sang istri yang pura pura sibuk.


Merasa aneh lagi saat ia ingin mencium pipi, Yulia mengelak dengan cepat. Tak ada senyum diwajahnya.


"Issh, ada apa sih Bund kok kayaknya lagi marah?" mendekati sang istri tapi Yulia menjauhkan duduknya. Masih dengan merengut.


Menahan kesal karena sikap sang istri, Romi bangkit dan masuk ke kamarnya, sebelum menunaikan ibadah Maghrib, dia terlebih dulu mandi, tercium bau wangi sabun membuatnya lebih rileks.


Ia melihat jam didinding, takkan lama lagi waktu isya telah datang. Sambil menunggu waktu ia membuka Kitab suci lalu membacanya perlahan. Sekarang ia lebih fasih membaca tulisan Arab, karena telah rajin mempelajarinya.


Waktu isya telah tiba. Ia kemudian keluar melihat sang istri masih betah duduk ditempatnya semula, tanpa menghiraukan kehadirannya. Romi menghela nafas kasar lalu mendekati sang istri.


"Bund, jamaah yuk!" ajak Romi pada sang istri yang sudah pasti mengiyakannya.


"Biar baby Kia sama ibu sebentar! Shila ayo, ikut jamaah juga!" imbuhnya lagi.


Walau enggan Yulia beranjak juga bersama Shila.


Selesai shalat, Yulia masih betah diam. Dia tak mau menatap Romi.


"Sayang, cium tangan Ayah," pinta Romi pada Shila, lalu pada Yulia.


"Shila, tolong liatin adik gih, nanti nenek ketiduran lagi!" perintah Romi pada Shila yang langsung diiyakannya.


"Ajak adek main dulu, ya!" sambungnya lagi setengah berteriak.


Romi menahan tangan sang istri, yang akan mengikuti Shila dan menariknya ke tempat tidur. Yulia ingin memberontak, namun cekalan tangan Romi lebih kuat.


"Ish lepas!!"


Bukannya lepas, sekali tarik Yulia terjerembab diatas ranjang, dan Romi mengunci tubuh sang istri dibawahnya.


"Kenapa marah, hmmm!" Yulia memalingkan muka. Sama sekali tak ada senyum diwajahnya.


"Katakan dulu kenapa marah, aku salah apa? Apa karena aku nungguin Dion bersama Dini, lalu kamu cemburu?" Yulia tetap betah dalam diam. Romi serba salah dibuatnya.


"Baiklah kamu tetap bungkam. Tapi aku tak bisa menahan diri untuk yang satu ini!" Dengan gerak cepat, Romi membuka atasannya. Dan mulai memberi sentuhan pada sang istri yang masih betah diam. Yulia tak menolak tapi tak juga merespon atau mengimbangi Romi. Hingga saat Romi benar benar gemas akan aksi tutup mulut itu, ia menggigit bahu Yulia yang terbuka. Ia telah membuka atasan Yulia dengan paksa tadi.


Aaaaa! isssshhh!


Yulia memukul lengan Romi. Bibirnya mengerucut karena perlakuan Romi padanya.


"Habisnya menggemaskan, sih! Dari tadi diem terus, cemberut terus. Ngomong dong apa yang bikin kamu marah, apa masalahnya biar masmu ini tahu apa kesalahannya."


"Sekarang ngomong dong! Apa salah aku hmmm!" Yulia mendorong dada Romi. Romi mengalah dan turun dari tubuh istrinya. Yulia dengan cepat memakai atasannya kembali, lalu berjalan cepat keluar kamar. Namun tak lama ia kembali lagi, membawa ponselnya.


"Nih!"


Romi menerima ponsel Yulia dan membuka apa yang membuat istrinya marah.


"Astaghfirullahal adzim, siapa iseng kirim foto seperti ini?" geramnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


...Bersambung......


__ADS_2