
******
Romi Yoseph Setyawan
**Yuliana Sukanti
Gadis ****sederhana**** nan Sabar
**Arshila Devi Setyawan
******
Cocok nggak, cocok nggak.
Nggak cocok, ya dicocok cocokin.
Visual mereka versi Author**.
*******
"Ibuu! sadarlah Buuu!" ucap Yulia lirih, bahunya bergetar. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Mulai dari bertemu dengan Wahyu, lalu perkelahian Romi dan dokter Andreas sama pingsannya ibu.
Ya Alloh, Ampuni dosa dosaku yang telah ku perbuat. Dan janganlah aku Engkau beri ujian di luar batas kemampuanku sebagai manusia yang lemah dan miskin ini! Rintih Yulia. Ia merasa lelah, lelah jiwa dan raganya.
Sementara Romi telah sampai di rumahnya.
"Lama sekali ngantar Yulia, Rom? pergi kemana dulu?" tanya Bu Alvi senyam senyum. Ia berpikir mereka jalan berdua tanpa gangguan dari Shila. Padahal mereka sudah seharian pergi tadi.
"Ada masalah, Bu!" senyum Bu Alvi langsung menghilang. Namun sejurus kemudian tersenyum lagi,
"Jangan katakan kamu berusaha nyium Yulia, terus digerebek warga. Lalu kalian mau dinikahkan!" menatap tajam pada putranya. Romi yang sedang mengelap wajahnya dengan handuk karena cuci muka, melempar asal handuknya di kursi, lalu kedua tangannya menyentuh bahu ibunya dan agak ditekan.
"Kalau itu sih bukan masalah Bu! Senang malah." Romi tersenyum lalu mencium pipi ibunya. Ia lalu duduk dikursi dan Bu Alvi mengikutinya.
"Coba katakan sama ibu! apa masalahnya?"
Romi menceritakan dari dia yang mengantar sampai depan gang, sampai dia diusir karena dianggap biang keributan didepan rumah Yulia.
"Jadi, Bu Kanti kumat sakitnya gara gara perkelahian kalian? Keterlaluan kamu Romi!!!"
"Belum cukup buat keributan di tokomu sendiri, dan tadi malah ribut didepan ibunya Yulia. Kalau aku jadi Bu Kanti. Ibu gak akan pernah membolehkan kamu dekat dengan Yulia!" delik Bu Alvi. Romi mendesah.
Ini anaknya siapa yang dibela siapa.
"Iya, iya. Romi salah. Sekarang yang aku kuatirkan ibunya Yulia, tapi aku harus gimana caranya cari tahu keadaannya?" Bu Alvi menepuk lengan anaknya keras sampai Romi mengaduh.
" Aduuh Ibu, ini namanya kekerasan. Sama anak sendiri gitu banget. Gak kasian sama sekali dengan Romi." mengusap lengannya yang sakit.
__ADS_1
"Laki cemen. Cepat telpon sana, siapa tahu Yulia mau angkat telpon dari kamu, atau kirim pesan saja." ide Bu Alvi. Romi segera mengambil hapenya dan melakukan panggilan.
Tut Tut Tut
Tak ada jawaban.
Coba pesan saja! ia lalu membuka aplikasi pesan dan mengetikkan sesuatu.
📱 Yul. Maaf tadi aku buat keributan. Gimana keadaan ibumu sekarang?
Centang dua. Romi menunggu lima menit, centang pesan tak kunjung biru. Ia lalu melakukan panggilan lagi. Dan tak terjawab. Apa dia marah sama aku? Risau Romi.
"Gimana Rom?" Romi hanya menggeleng.
Ia lalu ada ide.
📱Ndre, apa elo tahu gimana keadaan Bu Kanti sekarang?
Langsung centang biru.
Mengetik.....
📱Hei bedebah Sia lan, ngapain elo tanya tanya gue? Gue, udah putus hubungan dengan elo!
📱Elo yang sia lan. Harusnya Yulia tuh jadi punya gue. Elo tahu kalau gue cinta mati sama dia. Kasih kesempatan gue buat punya pasangan yang gue cinta.
📱Lah, emangnya dia cinta sama elo? Kagak kan? Lagian elo gak kasian sama anak gue, dia butuh sosok ibu macam Yulia. Yang dia mau cuman Yulia. Gue doain deh, elu dapat pengganti yang lebih cocok, yang seiman dan cinta ama elo!"
Centang biru, tapi tak kunjung berjawab.
📱Mana gue tahu!!! Cari tahu aja ndiri. Dasar! ROMbongan penghianat!!!
Romi tak lagi meladeni Andre. Percuma juga tanya gak bakal dijawab.
"Belum ada kabar, Rom?" Bu Alvi yang mengambil air putih dari dapur kembali lagi duduk didepan Romi.
"Belum Bu! Besok pagi mungkin aku kesana, buat mastiin keadaan mereka baik baik saja. Aku capek Bu, mau istirahat!" ucap Romi sebelum pergi.
"Iya sana istirahat gih!"
Setelah ganti baju santai, Romi menyelonjorkan tubuh penatnya di kasur. Berusaha memejamkan mata, namun kejadian demi kejadian tadi terbayang di pelupuk mata.
Ya Alloh, jika Yulia memang jodohku, dekatkanlah. Dan jika bukan jodohku, jodohkanlah.
Aku terlanjur jatuh hati padanya.... (Dasar Romi, doa pun maksa.)
Dan ia langsung tertidur.
Sementara di rumah Yulia, Bu Kanti sudah mulai sadar setelah menghirup aroma minyak kayu putih. Yulia mengucap syukur.
"Alhamdulillah, ibu sadar. Apa yang ibu rasakan sekarang? Apa ada yang sakit?" tanya Yulia bertubi-tubi.
"Biar ibumu minum dulu, Yul! Biar tenang." ucap mbak Musri, tetangga samping rumah Yulia.
__ADS_1
"Iya, mbak. Makasih! Ayo Bu, bangun terus minum." Yulia berusaha membangunkan ibunya lalu menempelkan gelas air putih pada sang ibu.
Setelah meminumnya setengah gelas, ibu menggeleng.
"Sudah Yul. Ibu sudah enakan. Makasih ya, kalian bertiga. Maaf, kalau keluarga kami penuh drama hari ini." Ketiga wanita tersenyum pada Bu Kanti dan Yulia.
"Ya udah gak apa apa Bu Kanti. Kalau ada perlu bantuan, panggil kami. Karena Bu Kanti udah sehat, kami permisi pulang. Udah malam."
"Iya mbak Musri, mbak Munaroh, Bu Nur, Terima kasih atas bantuannya. Hanya Alloh yang akan membalas kebaikan kalian."
Mereka pun mengangguk dan keluar. Para lelaki yang duduk diteras rumah Yulia juga pulang.
"Bu, mana yang sakit?" Yulia masih terlihat panik. Wajah letihnya begitu kentara, membuat Bu Kanti tersenyum.
"Sudah, Yul. Ibu gak apa apa, sebaiknya kamu istirahat. Kamu kelihatan sangat letih. Tapi jangan lupa isya dulu, ya?" ucap Bu Kanti tidak membuat serta merta lega. Karena ia yakin ibunya hanya ingin menenangkan dirinya agar tak terlalu khawatir.
Esok harinya tepat jam delapan pagi Romi datang ke toko setelah mengantar Shila ke sekolah. Ia langsung menuju meja kasir, dan di sana mbak Fani baru saja menyalakan komputernya. Sedang karyawan yang lain sedang bersih bersih.
"Fan, Yulia dah datang belum?" tanya Romi dengan tak sabar. Ia mengetuk ngetukkan jarinya diatas meja kasir. Mbak Fani tersenyum, melihat sepupunya itu perhatian pada Yulia.
"Hari ini aku menyuruhnya istirahat, kemarin dia mengeluh capek. Ya udah, aku kasih dia cuti." Romi mengangguk namun terlihat jelas raut wajahnya kecewa.
"Ya udah, terus hari ini apa dia udah kirim pesan ke kamu?" cecar Romi. Mbak Fani mengerutkan alisnya. Tadi saat Romi membuka hape, pesannya sudah terbaca. Namun tak dijawab. Ia yakin Yulia merasa kecewa padanya. Dan sekarang ia berusaha mencari informasi melalui mbak Fani.
"Coba aku cek dulu, Bang!" Setelah Fani membuka hape ia lalu menggeleng. Artinya Yulia tak mengirimkan pesan pada Fani.
"Sini, pinjem hape kamu!" Romi merebut hape Fani yang langsung mendelik. Romi hanya tertawa melihat reaksi Fani. Ia kemudian menuliskan pesan pada Yulia.
📱Yul, kamu hari ini jadi libur?
Menunggu hampir satu menit, centang biru. Lalu terlihat yang disana sedang mengetik pesan.
📱Iya, mbak. Maaf ya! Ibuku juga lagi gak enak badan. Jadi mungkin besok juga belum masuk kerja. Ini lagi mau berangkat kontrol ke rumah sakit mbak! Tolong doakan ibu aku gak apa apa, biar aku cepat bisa kerja lagi. Udah ya mbak! Assalamu'alaikum!
📱 Waalaikum salam wa Rahmatullah.
Segera Romi meletakkan hape Fani dan beranjak.
"Makasih Fani, hapenya. Aku pergi dulu."
"Hei kemana, Bang?"
"Usaha! Menakhlukkan hati calon mertua." tawa lebar Romi sambil membuka pintu mobil.
"Aduh!!!" Saking semangatnya, kepala Romi sampai membentur kusen pintu mobil, karena tubuhnya yang tinggi, dan terlambat membungkuk.
Fani menggelengkan kepala.
"Dasar, nih orang kayaknya calon bucin nih!!" gumamnya.
\=\=\=\=\=\=\=
Aku datang lagi.....
__ADS_1
Ritualnya jangan lupa ya.....
Love You All....