Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 54.


__ADS_3

******


"Kamu bawa siapa Wahyu? Siapa mereka?" tanya ibu Wahyu kemudian.


" Dia yang akan jaga Rayyan selagi ibu mau pergi, Bu!" jawab Wahyu membuat ibunya melotot tak senang.


"Apa....!" Bu Adnan mendelik dan memekik saat Wahyu memberitahu kalau perempuan itu bakal mengasuh baby Rayyan. Cucunya.


"Kamu bawa perempuan kampungan lagi ke rumah? Bawa anak lagi. Gimana dia ngasuh anak kamu. Gak beres kamu, Wahyu!" suara Bu Adnan sukses membuat Rayyan kaget dan menangis histeris.


"Rayyan, sayang!" Wahyu tak memperdulikan omelan ibunya. Ia segera meletakkan tas kerjanya diatas sofa, membuka kemeja hingga lalu membasuh tangan dan wajahnya dengan cepat, lalu mendekati anaknya yang sedang di tenangkan Bu Adnan. Namun bukannya diam, bayi itu terus menangis.


Wahyu mengangkat bayi itu dari kereta bayi, dan menimang nimangnya. Bu Adnan lalu mendelik ke arah perempuan yang dibawa Wahyu dan anaknya yang langsung mundur ketakutan bersembunyi di balik rok ibunya. Bagaimana gak ketakutan, ibunya saja gemetar melihat bola mata Bu Adnan.


Oiya, belum kenalan kan sama perempuan itu, dia bernama Halimah dan biasa di panggil Imah. Dan anaknya bernama Afifah, biasa di panggil Ifah.


"Imah, ini bayi yang bakal kamu jaga, namanya Baby Rayyan. Dia anak aku satu satunya. Kamu bisa 'kan, pegang dia sekarang?"


Imah mengangguk, lalu menerima uluran tangan Wahyu yang membawa baby Rayyan.


"Bu, ayo masuk dulu!" Wahyu menggandeng ibunya. Dan menyuruh Imah dan Ifah mengikutinya. Baby Rayyan dalam dekapan Imah sudah tenang dan memejamkan mata dengan mulut terbuka.


Wahyu mengambil dua gelas air putih, satu untuk dia minum dan satunya lagi untuk ibunya.


Wahyu meminta Imah masuk ke kamar Baby Rayyan, dan Ifah mengikutinya. Dan setelah kedua orang itu pergi, Wahyu duduk di samping ibunya.


"Wahyu! Kamu gila ya.... bawa perempuan macam itu ke rumah kita ngasuh cucu ibu? Ibu gak rela ya?" ibu Adnan masih ngegas. Walaupun cuma pekerja, harusnya pilih pilih juga, gak sembarang orang. Kan di kasih gaji, harusnya pilih yang bersih dan gak bawa anak. Pikir Bu Adnan.


"Bu. minum dulu, dan jangan marah marah! Darah tinggi ibu bisa kumat. Wahyu sudah dewasa Bu! Biarkan Wahyu menentukan jalan Wahyu sendiri. Ibu jangan terlalu ikut campur deh!" ucap Wahyu tenang. Namun penuh penekanan. Mulai saat ini ia berjanji tak akan terlalu mengikuti kehendak ibunya yang cenderung semena mena. Karena tersebab menuruti ibunya pula, ia sampai tega meninggalkan Yulia, dan menikahi wanita lain. Bahkan sebelumnya ia telah melakukan KDRT pada Yulia.


"Ibu, kamu suruh ibu gak ikut campur? Kamu gak nyadar apa, dari anak kamu itu baru lahir di tinggal mati ibunya, siapa yang ngasuh dia Wahyu! Mikir dong kamu! Enaknya aja kamu bilang jangan terlalu ikut campur!" sewot Bu Adnan. Makin lama Wahyu semakin susah di kendalikan.

__ADS_1


"Kalau begini, bisa bisa ibu sering darah tinggi Wahyu..!"


"Heran ibu, kamu tuh makin lama makin gak sayang ya sama ibu! Kamu...!"


"Bu...cukup!" pangkas Wahyu.


"Ingat Bu, ibu 'kan yang mau Wahyu nyariin pengasuh buat Rayyan, terus Wahyu salahnya dimana? Wahyu cuman pengen bantu perempuan itu nyari kerjaan. Dan Imah mau. Apa salahnya, kita jangan memandang seseorang dari penampilan luarnya saja, Bu!"


"Tapi gak perempuan seperti dia juga kalee!" Bu Adnan sewot. Wahyu menenangkan ibunya dengan mengelus punggung sang ibu.


"Bu, Wahyu itu sudah capek di kantor banyak masalah. Kalau pulang ke rumah Wahyu maunya cuman pengen tenang. Biarkan Wahyu menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk bagi Wahyu. Aku gak mau terus terusan hidup dalam bayang bayang ibu. Wahyu udah dewasa, Bu!"


"Dulu, Wahyu berpisah dengan wanita yang Wahyu cinta karena pengaruh ibu yang terlalu besar pada Wahyu. Hingga Wahyu menuruti apapun kemauan ibu, yang mana menghancurkan rumah tangga Wahyu sendiri. Wahyu menyesal Bu! Wahyu masih cinta sama Yulia, tapi Wahyu sadar diri, Wahyu terlalu banyak salah padanya dan Wahyu...Wahyu tak berhak lagi mengharapkan dia yang telah menikah lagi."


"Wahyu hanya berpikir ingin menyenangkan hati ibu! wanita yang telah melahirkan Wahyu. Hingga Wahyu menikah lagi dengan wanita pilihan ibu dan ibu lihat sekarang, Wahyu sudah menduda dua kali. Bahkan Wida juga tak suka dengan cara yang ibu lakukan.


"Hidup Wahyu sekarang sudah hancur Bu! Hancur! Saat ini yang Wahyu pikirin hanya bagaimana agar Rayyan bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Hanya dia yang saat ini jadi penyemangat hidup Wahyu... Tolong Bu!" mata Wahyu sudah berkaca kaca. Ia tahu ini salah. Laki kok cemen. Cengeng. Kekesalan pada sang ibu sudah sampai di ubun-ubun. Tapi ia tak bisa. berbuat apapun, dan pelampiasannya adalah menangis.


"Bu...Wahyu tak menyalahkan ibu sepenuhnya atas perpisahan aku dengan Yulia. Wahyu turut andil juga atas perpisahan ini. Jangan salah paham ya, Bu! Aku sayang sama ibu! Dan tolong kalau ibu menyayangi Wahyu, biarkan Wahyu yang menentukan dengan siapa Baby Rayyan diasuh. Tolong hargai Wahyu sebagai laki laki, agar nantinya jika Wahyu masih diperkenankan berkeluarga, Wahyu yang akan menentukan arah dan tujuan kehidupan keluarga Wahyu!" Ucap Wahyu panjang lebar tanpa di sela oleh Bu Adnan.


"Sekarang ibu pikir deh, andai posisi ibu ditukar dengan posisi Yulia waktu itu, ibu jadi menantu dan ibunya ayah turut campur dalam rumah tangga ibu, apa yang ibu rasakan? Apa ibu akan terima? Wahyu yakin tidak!"


"Huuh, mboh lah. Ibu pusing. Ibu mau keluar aja jalan jalan! Ibu minta uang dong! pusing dirumah seharian sama anak kamu!" Wahyu menggelengkan kepalanya. Lalu mengambil dompet dari saku, dan menyerahkan lima lembar uang berwarna merah.


"Ini buat seminggu, Bu! Wahyu belum gajian. Udah gak ada uang lagi! Wahyu juga belum ada uang buat keperluan Baby Rayyan, susu, popok dan yang lainnya Bu!"


"Halaah, kamu itu ya, pelit banget sama ibu. Giliran sama orang lain sja, royal! Huuuh!" Bu Adnan berdiri sambil memegang uang yang diberikan Wahyu.


"Memang ibu lihat saya royal sama siapa sih Bu! Wahyu kan tadi udah bilang, Wahyu ada masalah di pabrik. Gaji Wahyu kemungkinan di potong karena memang Wahyu salah. Jangan nambah beban Wahyu dong Bu! Ibu kan dapat uang dari ayah juga!


70 persen gaji ayah ibu yang pegang! Ayah cuman pegang uang buat kebutuhannya. Buat bensin, buat makan, rokok."

__ADS_1


"Hishh, sok tahu nih anak!" ibu langsung ngeloyor pergi ke kamarnya. Wahyu hanya geleng kepala melihat tingkah sang ibu.


Ayah sangat sabar menghadapi ibu! Semoga suatu hari nanti ibu mau berubah! Harapan Wahyu pada ibunya.


Ia pun bangkit untuk menengok anaknya dan pengasuh barunya di dalam kamar.


"Imah, gimana baby Rayyan, sudah tidur?" terlihat Imah duduk di kursi dekat boks bayi, sedang Ifah duduk bersila di lantai beralaskan karpet, memainkan sesuatu yang dibawa dari rumah. Imah langsung bangkit begitu Wahyu membuka pintu kamar.


" Su_sudah, pak!" Wahyu mendekati boks bayinya.


"Ya udah kalau gitu, ayo aku tunjukkan kamar kalian!" Mereka pun berjalan di belakang Wahyu, menuju kamar di bagian belakang. Kamar yang agak lebih kecil, tapi terlihat nyaman.


"Maaf, kalau tempat tidurnya kecil, besok saya akan carikan kasur lantai, biar lebih nyaman di tiduri berdua!" Imah langsung menggeleng.


"Nggak, pak! Nggak usah. Ini sudah sangat baik kok buat saya. Jauh lebih baik dari tempat tinggal saya selama ini!"


"Ya iyalah, tentu saja disini lebih bagus. Aku yakin rumah kamu tuh pasti dari kardus, paling banter dari triplek, iya kan!" Bu Adnan memang benar benar jagoan menghina orang. Imah langsung menunduk. Sedang Wahyu berdecak kesal.


Kalau gini ceritanya, aku nyesel jual rumah. Ibu selalu bikin aku pusing dengan tingkahnya. Mending di rumah sendiri ternyata.


"Alhamdulillah ya Bu, Ibu punya suami super sabar seperti Ayah. Gak kebayang deh, kalau ibu punya suami temperamental dan gak sabaran. Semoga Ayah dipanjangkan umurnya, dan terus diberi kesabaran menghadapi Ibu!" sarkas Wahyu, gak tahan dengan kelakuan ibunya. Ia benar benar berusaha menyabarkan diri.


\=\=\=\=\=\=\=


TBC


Alhamdulillah, ternyata bisa up.


Terima kasih saya ucapkan buat para reader yang telah memberikan apresiasinya untuk othor remahan ini. Hanya Tuhan yang akan membalasnya. Dan othor ini hanya bisa berucap Matur thank you yang sebanyak banyaknya.


Eh, othor disini cuman punya kebun ketela. Jadi, Love nya othor ke reader semua sekebon ketela. wkwkwk....

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2