
*****
"Ifah, amplop itu punya pak Wahyu, ya! jangan sampai kamu buka. Kasihkan itu sama pak Wahyu sekarang juga!" titah Imah pada anaknya. Ifah segera berlari keluar, dan saat di dapati Wahyu masih tidur, ia meletakkannya di atas meja.
"Paman masih tidur, Bu! amplopnya aku simpan diatas meja!" ucap Ifah setelah masuk lagi, dan duduk di tempatnya semula.
"Pinter anak ibu!" Imah mengacung jempol pada anaknya
Malam hari.
"Mah, Imah..!" teriak Wahyu.
"Eh, ya pak! ada apa?"
"Oh, kamu udah tidur ya, maaf kalau ganggu. Cuman mau tanya, ini tadi amplop di atas meja punya siapa?" menunjukkan amplop yang tadi ditemukan anaknya.
"Oh, itu pak! Maaf, waktu tadi ngerapiin baju pak Wahyu, ini terjatuh. Kayaknya itu punya pak Wahyu!" tunjuknya. Wahyu pun manggut manggut dan segera berlalu dari depan kamar Imah.
Di dalam kamarnya, ia yang penasaran akan isi amplop itu pun membukanya. Mengerutkan kening karena tak merasa pernah meletakkan amplop apapun di sana.
Dia menyimpan surat surat berharga pada sebuah kotak tersendiri.
Sebuah surat?
Teruntuk suamiku
Mas Wahyu.
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Mas Wahyu, saat kau membaca surat ini, entah aku masih ada atau tidak.
Mas, langsung saja aku mau minta maaf pada mas Wahyu. Ku harap mas Wahyu tidak marah, oh tentu saja mas Wahyu akan marah jika tahu kenyataan ini.
Aku tak sanggup untuk mengatakannya secara langsung, mas! ku mohon maafkan karena aku menutupi semua ini darimu.
Mas Wahyu, anak yang aku kandung bukanlah darah daging mas Wahyu. Bayi itu adalah hasil perbuatan seseorang yang telah menodai ku. Yang saat ini orang itu entah ada di mana.
__ADS_1
Aku tak sanggup menceritakannya secara detil mas, karena waktu itu aku dalam keadaan di kuasai nafsu setan. Aku di cekoki minuman keras sampai mabuk oleh mantan pacarku yang setelah kejadian itu dia menghilang entah ke mana.
Aku tak sadar telah melakukannya, sama seperti saat pertama kali kita tiba tiba tidur sekamar malam itu. Namun saat tahu aku hamil, aku bingung, namun aku juga tak berani menggugurkannya yang man itu hanya menambah dosa.
Dan entah mengapa, saat tiba tiba kejadian malam itu, menjadi angin segar bagiku. Ada laki laki yang bertanggung jawab akan kehamilanku. Hingga saat kita di minta menikah aku tak menolaknya. Dan untuk masalah mbak Yulia, aku benar benar tak tahu, karena ibumu bilang kamu belum pernah menikah.
Namun aku di hantui rasa bersalah. Kau harus bertanggungjawab dengan apa yang sesungguhnya bukan tanggung jawabmu. Namun lidahku benar benar kelu, tak mampu mengatakannya padamu.
Entah bagaimana caranya mereka memanipulasinya hingga kita berdua bisa menikah. Mas Wahyu, aku mohon dengan sangat jagalah anakku, walau ia tak terikat hubungan darah denganmu, tolong jagalah ia jika aku tak ada. Entah mengapa, aku merasa umurku tak lama lagi.
Aku berdoa, semoga nanti kau di beri Rizki yang melimpah ruah dan mendapatkan pengganti mbak Yulia yang sepadan. Agar kamu bisa merawat anak ini dengan baik.
Aku berdoa semoga anakku nanti menjadi anak yang berguna untukmu kelak. Sayangi dia seperti anakmu sendiri ya, mas!
Aku tahu ini terkesan sangat jahat, mungkin setelah membaca surat ini kamu akan mengamuk dan memaki aku. Silakan! Silakan maki aku sampai puas mas! Namun sekali lagi aku mohon dengan sangat jagalah anakku baik baik. Dan di sini aku sertakan sebuah kartu yang berisi semua uang tabunganku.
Kamu boleh memakainya untuk keperluan pribadimu, tapi jangan lupakan anakku. Berilah ia sandang pangan yang layak. Karena aku yakin, ibu tiriku sudah tak memperdulikannya. Sedang ayah, mas Wahyu tahu sendiri atau sudah sakit sakitan.
Dan terakhir kalinya aku mengucap kan beribu terima kasih, atas segala perhatian dan kebaikan yang pernah kamu berikan padaku, kamu tak tahu bagaimana aku dirundung rasa bersalah selama ini.
Kamu pernah bertanya bukan, pagi pagi aku sering sekali mataku merah, dan aku bilang, aku alergi hawa dingin AC yang membuat mataku merah. Sebenarnya itu bohong, mas. Aku tidak alergi AC, namun lebih karena seringnya saat tengah malam aku menangis. Merasa bersalah padamu, namun aku juga takut kehilanganmu.
Sekiranya cukup ini yang aku katakan.
Sekali lagi aku mohon maaf, dan tolong jaga anakku!
والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته
TTD
^^^Wida Ayuningsih,^^^
Wahyu meremas surat itu, dadanya terasa sesak, air matanya mengalir deras. Sedikit pun tak pernah menyangka akan kebenaran yang ditunjukkan Wida padanya sungguh membuat hatinya berkeping keping.
Ia sepenuhnya sadar jika dosanya setinggi gunung dan seluas samudra, namun tak pernah menyangka ia mendapat karma dengan hal ini.
Wahyu menghela nafas menahan rasa sesal di dada, menyisir dengan jari dan menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Aaaaaaaaa!
Ia memukul tembok di dekatnya berkali kali meluapkan segala rasa di dadanya. Hingga buku buku jarinya terluka, tangisnya pecah tak dapat di sembunyikan.
Aaaaaaaaa
Teriaknya tanpa suara.
"Widaaa, ternyata Tuhan menghukum ku melalui kamu dan anakmu. Bagaimana mungkin aku begitu mencintai anak yang sama sekali tak ada hubungan apapun denganku. Bahkan aku rela melakukan apapun untuknya."
"Aku pikir Rayyan adalah hidupku, permata hatiku yang mampu menjadi semangat hidupku, ternyata.....!" Wahyu mendekati box tempat baby Rayyan tidur nyenyak.
Tangannya yang ngilu akibat memukul tembok, ia ulurkan ke leher bayi tak bersalah itu. Ia menekan tangannya pada leher Rayyan.
"Kenapa aku harus mengasuhmu, kamu bukan apa apaku!" bisiknya dengan gigi gemerutuk geram. Bayi itu bergerak gerak karena sulit bernafas dan menangis.
Uwaaaaaaa!
Wahyu seperti mendapatkan kesadarannya kembali. Ia lepaskan tangannya dari leher Rayyan.
Dan bayi itu menangis dengan kencang.
Namun Wahyu tak berusaha menolongnya, ia hanya diam membisu memandangi bayi itu dengan mata merah. Sakit, marah, kecewa berbaur menjadi satu dalam hatinya.
Hingga sebuah ketukan menyadarkannya.
"Pak, boleh saya masuk? Baby Rayyan kenapa, Pak?" Wahyu menyeka air matanya, dan memunguti amplop dan isinya yang berserakan di lantai keramik. Lalu membuka pintu dengan memalingkan wajahnya.
"Kenapa baby Rayyan menangis seperti ini pak? apa mungkin lapar?" tanya Imah menghambur ke arah boks bayi dan pertanyaannya tak berjawab sama sekali.
"Sssssh ssssh... diam ya sayang, apa Rayyan lapar, mau susu ya?" Imah berbicara dengan bayinya. Namun merasakan keanehan saat Wahyu tak mau berbalik dan terus menghadap tembok di depannya berdiri.
"Kamu kasih dia susu dan bawa dia ke kamarmu, Imah. Aku ingin tidur sendiri malam ini tanpa di ganggu tangisannya." kata Wahyu dingin tanpa menoleh. Imah semakin bertanya tanya. Namun hanya diam tak berani mengatakan apapun.
"Baik, pak!"
Tangan kiri Imah menggendong Rayyan, sedang tangan kanannya membawa susu formula dan ia segera keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Ada apa dengan pak Wahyu. Kenapa setelah pindah keadaanya tidak lebih baik? Imah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=