
******
Jangan lupa tinggalin jejaknya. Like, komen daaan Gift seikhlasnya. Jangan jadi pembaca ghaib ya! bikin merinding tahu. Hehehe.....
*****
Keluarga Yulia tentu kaget dengan kedatangan Romi beserta ibu dan Omnya.
Mbak Dila datang dengan membawa nampan berisi beberapa gelas teh hangat dan juga beberapa cake, yang ditaruh dalam piring. Cake yang ia suguhkan adalah buah tangan yang dibawanya tadi dari rumah.
"Silakan diminum dulu tehnya dan di makan kuenya, Pak, Bu Alvi! Nak Romi! Maaf dan sebelumnya perkenalkan itu adalah kakaknya Yulia, namanya Angga. Dan ini Dila, istrinya. Dan gadis kecil tadi adalah cucu saya, Bu Alvi!" Bu Kanti mengenalkan anaknya. Angga mengangguk hormat. Dila, lalu duduk bersama suaminya, Sedang Yulia duduk bersama ibunya berhadapan dengan keluarga Romi yang terhalang oleh meja.
"Oiya Bu Kanti, saya juga mau memperkenalkan diri, Nama saya Gunawan, adiknya mbak Alvi ini. Biasanya sih Romi manggil saya Om Gun." Bu Kanti mengangguk.
Ketiga tamu itu lalu mengambil teh yang disuguhkan dan menyesapnya sedikit.
Ehmmmmm.
Deheman panjang Om Gun membuat Romi melirik padanya. Sepertinya ia ketahuan menatap Yulia lama. Ia pun tersenyum kecil.
"Begini Bu Kanti, pertama kalinya saya datang kesini bersama ponakan dan kakak saya ingin menyambung tali silaturahmi."
"Kedua kalinya saya mewakili ponakan saya ini, yang udah duda anak satu tapi masih malu malu tapi mau untuk meminang Nak Yulia, untuk menjadi bagian keluarga kami juga. Untuk menjadi istri Romi, sekaligus ibu sambung untuk Shila, anak satu satunya Romi."
"Kami minta maaf karena kata Romi, ia sama sekali tak memberi tahu keluarga disini terlebih dulu, apalagi Yulia. Ini pasti mengagetkannya dan semua keluarga, sekali lagi kami minta maaf. Namun maksud kami baik. Apalagi, ponakan saya ini takut kena tikung katanya. hehehe." Yulia hanya menunduk, memainkan hari jarinya. Hening sejenak, namun diluar terdengar gelak tawa dari kedua bocah, Shila dan Rima. Mereka terdengar sudah akrab.
Om Gun menatap satu persatu ekspresi keluarga Yulia. Mulai dari Angga, Dila, Bu Kanti dan yang terakhir Yuli. Raut wajah semuanya terlihat terkejut.
"Bagaimana Neng Yuli, apakah langsung diterima, atau Neng punya pilihan lain. Atau minta waktu buat mikir mikir dulu misalnya." Om Gun orang yang bijaksana, membuat Yulia dan Bu Kanti saling pandang. Lalu beralih kepada kedua kakaknya, dan mereka mengangguk. Dengan bahasa mata dan bahasa kalbu, Bu Kanti yang menjadi jubir keluarga mereka pun angkat bicara.
__ADS_1
"Ah, Pak Gun, Bu Alvi dan... Nak Romi. Yulia menyerahkan perihal lamaran ini pada saya, ibunya. Karena sepertinya Yulia tak mau terulang lagi kegagalan untuk kedua kalinya dalam berumah tangga."
"Saya tak meragukan Nak Romi akan keseriusannya, bahkan sampai seriusnya dia menghajar Nak Andre yang berusaha mendekati Yulia." melirik kesal pada Romi.
"Namun, karena lamaran ini mendadak, Yulia sepertinya butuh waktu untuk berpikir." melirik anak perempuannya yang mengangguk samar.
"Tolong beri Yulia waktu untuk berpikir ya, Nak Romi! Kita punya Tuhan, biarkan Yulia berdoa, memohon pada Alloh dan melibatkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupannya ke depan. Ya, tiga hari saya kira cukup, untuk Yulia berpikir." ungkap Bu Kanti panjang lebar.
"Iya 'kan, Yul?" Dan Yulia pun mengangguk. Ia akan mengikuti saran ibunya untuk shalat istikharah terlebih dulu. Memohon petunjuk pada yang Maha Kuasa.
Bu Alvi, dan Om Gun mengangguk mengerti. Mereka berdua menatap Romi yang menunduk dengan raut muka agak kecewa.
"Sudahlah Rom, Beri ruang buat Yulia berpikir. Semoga saja keberuntungan ada di pihak kamu. Iya, 'kan Bu Kanti?" Romi menegakkan wajahnya. Mendengar pernyataan Omnya, menatap Yulia sendu, lalu mengangguk.
Sebelum acara berakhir, Bu Alvi dan Om Gun terburu-buru berpamitan untuk pergi karena ada acara yang lain. Meninggalkan Romi dan Shila yang belum mau pulang, karena asyik bermain dengan teman barunya, Rima.
Romi dan Yulia duduk berhadapan diruang tamu rumah itu berdua dengan canggung.
" Kamu mana hapenya, coba deh kamu lihat!" Eh ini kok malah bahas Hape.
" Ada di kamar, dari tadi pagi sibuk di dapur karena kak Angga mau datang, eh ada kejutan tamu lain pula!" omelnya lagi.
"Coba kamu ambil, terus lihat pesan yang masuk dari aku deh! Buruan!" perintah sang Bos. Yulia bersungut, lalu masuk ke dalam kamarnya. Benar saja, ada tiga messages dan missed calls sebanyak 10 kali.
Yulia nyengir kuda, hape memang ia mode silent agar tak terganggu dengan suaranya. Ia ada grup bersama mbak Fani, Lasmi, Yeni dan Risma, karyawan di mart milik Romi. Risma yang masih single memang suka rusuh, gangguin mereka yang mungkin sedang bersama suami dan anaknya.
"Eh iya, maaf!" Yulia duduk lagi ditempatnya semula sambil membuka pesan pesan yang di kirim Romi.
Lama mereka terdiam, bingung untuk mencari bahan pembicaraan. hingga Yulia bersuara.
__ADS_1
"Pak Romi, emang pak Romi udah yakin gitu mau nikah sama saya?" Romi menatap tajam Yulia, benar benar tak tahu jalan pikirannya.
"Ya Tuhan, Yulia. Apa setelah aku datang kemari bersama Om dan ibuku masih juga kau anggap main main?"
Yulia malah terlihat tersenyum kecut, ia merasa keliru bertanya. Waktu kemarin jalan jalan bertiga ia tak merasa nervous seperti ini.
"Apa alasan yang buat pak Romi ini milih saya? Kenapa gak milih wanita lain? Pak Romi kan ganteng juga kaya, diluar sana pasti ada gadis yang mau dinikahi sama pak Romi." ucapan Yulia membuat Romi tersenyum senang. Secara tak sadar Yuli mengakui kalau dia ganteng. Weeeih.
Sesaat kemudian Yulia merona merah mukanya dan menunduk. Menyadari perkataannya tadi.
"Maaf!" ucapnya tersipu malu.
"Gak apa apa Yul, seneng malah. Ternyata kamu ngakuin juga kalau aku ganteng ya!" menaikkan kerah bajunya sambil tersenyum lebar. "baiklah, aku bakal kasih jawaban kenapa aku milih kamu, bukan yang lain." Romi menghela nafas sebelum meneruskan bicaranya.
"Yang pertama, kenapa aku milih kamu, itu karena kamu bisa dekat dengan Shila, Jarang sekali Shila dekat dengan orang baru. Tapi denganmu lain, ia langsung bisa dekat, sudah seperti kenal bertahun tahun."
"Yang kedua, aku memilih kamu, karena aku telah jatuh hati padamu. Walaupun kamu bukan yang pertama buat aku, Begitupun aku bukan yang pertama di hati kamu. Kita sama sama punya masa lalu, satu hati yang pernah mengisi hari hari kita dahulu. Aku berharap kalau kelak kita berjodoh dan menikah, Kamu adalah yang terakhir. Saling mencintai dan menyayangi sampai kita jadi kakek dan Nenek, sampai maut memisahkan kita.." Romi menjawab dengan mantap. Kecanggungan mereka sepertinya sedikit menguap.
"Lalu gimana kalau bapak kepingin punya anak lagi?"
"Yahh, tak bisa dipungkiri, setiap manusia yang berumah tangga pastinya menginginkan keturunan dari darah dagingnya, menjadi bukti kuat bahwa kita saling cinta dengan pasangan kita. Tapi, kita juga tidak bisa menghindar dari ketentuan takdir. Seperti yang pernah kubilang, Aku sudah punya Shila. Jika nantinya diberi Rizki berupa anak, ya syukur Alhamdulillah. Tapi memang jika tidak ditakdirkan mempunyai keturunan denganmu, seenggaknya sudah ada Shila. Kita rawat dia sebaik baiknya, biar nanti dia jadi anak yang shalihah...."
"Jadi gimana....?"
\=\=\=\=\=
Gimana apanya Bang, eh pak Romi, udah dikasih tahu minta waktunya malah gimana gimana....
Bersambung ya....
__ADS_1
Aishiteru.....