Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 42.


__ADS_3

******


Hari kedua di rumah sakit, Shila rewel lagi. Ia menangis ingin pulang, rindu dengan bonekanya. Romi pun keluar dan datang membawakan beberapa boneka baru untuknya. Dengan senang Shila menyambutnya, Dan juga Romi membawakan buku mewarna beserta krayon, dan saat Shila bosan bermain dengan boneka, ia pun mewarnai gambar gambar hewan dan yang lainnya.


Saat Shila lengah karena sedang menggambar, Yulia menyuapkan makan siang Shila.


"Aaaaa, buka tutup bensinnya....diisi... diisi bensinnya....


Biar nanti mobilnya melesat cepat...!" ucap Yulia agar Shila membuka mulut. Dengan tanpa sadar bubur pun habis tak tersisa di makan sambil bermain.


*****


Shila telah di perbolehkan pulang setelah 3 hari dirawat di rumah sakit. Selama tiga hari itu pula Yulia pergi pagi dan pulang sore menemani Shila bergantian dengan Romi yang harus menghandle pekerjaannya. Dan siang ini saatnya Shila pulang, Romi menungguinya sampai dokter visit mengatakan ok, boleh pulang.


"Yeee, Shila boleh pulaaang. Shila kangen rumah, Shila kangen main sama boneka boneka Shila!" ucapnya begitu girang sambil bertepuk tangan. Yulia ikut tersenyum, melihat kebahagiaan yang terpancar dari gadis kecil itu.


Sang dokter dan suster yang menemaninya pun tersenyum dan memohon diri untuk memeriksa pasien yang lain.


"Ihh! seneng nya yang boleh pulang!" Yulia menciumi pipi Shila yang ada di pangkuannya.


"Ini nanti kalau udah pulang, makan yang banyak ya dirumah, biar bakpaonya ini mengembang lagi." menguyel uyel pipi Shila yang tertawa geli.


"Ini juga, rambutnya juga bau asem, habis ini keramas yang bersih!" rambut Shila terlihat lepek, karena tiga hari tak keramas. Yulia lalu menyisir rambut itu pelan dan menguncirnya dua bagian.


"Ayo, kita ke kamar mandi! Gosok gigi sama cuci muka, terus bajunya ganti juga ya!" ajaknya dengan menggendong Shila ke kamar mandi. Selang infus telah di cabut, tinggal menunggu yang mengurus administrasi. Selesai ritual di kamar mandi, ternyata Romi telah selesai mengurus administrasinya selama di rumah sakit ini.


"Udah seger anak ayah, bentar lagi kita pulang ya!" ucap Romi melihat anaknya telah berganti baju. Shila segera menghambur ke pangkuan sang ayah yang duduk sambil tersenyum lega.


"Di kasih baby cologne dulu biar tambah seger!" ucap Yulia mendekati keduanya. Lalu mengusap benda cair itu pada leher dan bahu Shila.


"Ayah juga mau dong, di pakein baby cologne, biar ikut seger. Siapa tahu ada yang mau nyium ayah!" goda Romi, menarik tangan Yulia lalu mengusap cologne di tangan Yulia ke lehernya. Reflek Yulia menarik tangannya dan cemberut.


"Ihh, pak Romi, jangan pegang pegang kenapa? Belum sah juga. Deket pak Romi itu jadi cepet nambah dosa dosa aku!" ucapnya manyun membuat Romi tertawa senang mengerjai Yulia.


"Ya udah, cepet cepet aja di resmiin ya, biar kalau nyentuh gak dosa, malah dapat pahala. Ya nggak!" ucapnya masih dengan tawa lebar.


****


Kini mereka tengah berjalan di koridor rumah sakit menuju parkiran dengan bergandengan tangan. Dengan posisi Shila berada di tengah tengah mereka. Orang orang yang melihat ketiganya akan mengira jika mereka adalah sebuah keluarga yang harmonis. Bahkan beberapa orang terlihat tersenyum walau tak saling kenal.


"Ayah, Shila lapar! makanan disini nggak enak! Shila mau pizza, boleh 'kan, Yah?" tanya Shila mengguncang lengan sang ayah. Sedang tangan yang satunya membawa tas perlengkapan Shila selama di rumah sakit.


"Shila, Shila baru sembuh. Jangan makan yang aneh aneh ya, katanya Shila gak mau sakit lagi? gak mau ditusuk jarum lagi! Ingat gak?" Shila langsung cemberut, langkahnya diperlambat.


"Makan ayam crispy saja ya, pizza-nya besok lagi. Kalau Shila udah benar benar sehat, ya sayang?" Romi masih berusaha merayu anaknya.


"Ya, sudahlah...!" akhirnya kata itu meluncur dari bibir mungil Shila, dan mereka segera meluncur menuju gerai makanan cepat saji.


"Pak Romi gak ngasih tahu Bu Alvi ya, kalau Shila sakit?" tanya Yulia saat mereka sedang makan. Romi hanya diam seakan akan ia tak mendengar. Masih terus mengambil sebagian daging ayam, lalu menyelupkannya pada saus dan memakannya.


Yulia menatap Romi dengan kesal, ia yakin sebenarnya Romi mendengarnya bicara.

__ADS_1


"Pak Romi, anda dengar gak sih saya bicara?" Romi menatap Yulia dengan masih mengunyah makanannya.


"Hmmm, kamu bicara sama saya ya? Maaf, ya. Karena saya gak merasa punya anak kamu jadi saya gak tahu kamu bicara sama saya. Kirain yang kamu panggil pak Romi orang yang ada di belakang kamu tuh!" jawab Romi membuat Yulia menoleh ke belakangnya. Yulia mendelik pada Romi yang senyum gaje.


"Ishhh!" Menyebalkan.


"Aku kan udah bilang, panggil aku dengan semestinya. Kenapa masih manggil Pak? Aku kan bukan bapakmu!!" jawab Romi santai. Menelan makanannya sambil tersenyum menang. Akhirnya Yulia hanya diam, tak menanggapi omongan Romi. Ia juga tak bertanya lagi sesudahnya.


"Aku memang gak ngasih tahu ibu. Biar ibu gak kepikiran. Toh ada kamu," jawabnya enteng, dan Yulia sudah tidak mood untuk menanggapi.


Hari sudah menjelang sore, saat mereka telah tiba di rumah.


"Bunda, bunda nanti malam tidur disini ya? Nenek gak ada, disini jadi tambah sepi!!" rengek Shila saat mereka telah turun. Romi meletakkan baju baju nya dan Shila dari rumah sakit di lantai, lalu meminta seseorang membawanya ke belakang. Menyerahkannya pada Bu Minah, asisten rumah tangga mereka. Wanita yang seumuran dengan Bu Alvi itu mengangguk hormat pada Yulia saat melintas di depannya.


"Shila sayang, Tante harus pulang. Tante punya nenek Kanti yang harus Tante temani kalau malam. Tante janji deh besok kita ketemu lagi, ya!"


"Tapi Shila harus janji, makan yang banyak, terus istirahat yang cukup. Teruuus, nih rambut bau acem, yuk mandi! Berendam pake air hangat!" ajak Yulia yang di angguki Shila.


"Bu, apa ada air hangat buat mandiin Shila?" tanya Yulia ramah.


"Oh, iya Bu! Biar saya angetin air dulu ya?" sahut Bu Minah, lalu mengambil panci agak besar dan mau mengisinya dengan air.


"Buat apa air panas, Yul?" tiba tiba Romi datang dan berdiri di belakang mereka.


"Eh, pak! Ini Shila mau mandi, mau angetin air dulu!" jawab Bu Minah. Romi memandang anaknya dan juga Yulia.


"Gak perlu Bu, Shila mandinya di kamar mandi ayah aja, ada kran air panasnya!" Shila pun mengangguk dan menarik tangan Yulia, memintanya menemani ke kamar sang ayah, yang terhubung melalui pintu ke kamar Shila.


"Nggak ah, tante gak bawa baju ganti. Habis ini Tante mau pulang, ayo sayang cepat. Udah sore nih!" Yulia sudah gak sabar karena Shila terus menariknya masuk ke dalam bathtub.


"Aaaaa, Shila! Ya Ampun, kamu bandel banget sih....Tante bilang Tante gak bawa baju ganti. Kok malah di cipratin air sih!" omel Yulia pada Shila yang terus tertawa tawa.


Akhirnya Yulia malah berendam berdua dengan Shila, kecipak air dan tawa keduanya terdengar dari luar kamar mandi.


"Ayah, Bunda mau pinjam kaos ayah, baju bunda basah!" teriak Shila pada ayahnya yang berada di luar kamar. Shila sendiri telah rapi namun Yulia masih ngumpet di dalam kamar mandi. Romi lalu menuju lemari pakaiannya, mengambil kaos yang sekiranya pantas dipakai Yulia, lalu menyerahkannya pada Shila.


Shila masuk lagi ke dalam kamar mandi menyerahkan kaos pada Yulia. Tak berapa lama mereka pun keluar, Romi menatap Yulia dan terpana melihatnya yang tanpa memakai kerudung dan rambutnya pun basah.


"Cantik!!!" Yulia terkejut dengan reaksi Romi yang menatapnya, namun saat sadar ia tak mengenakan kerudung, ia pun buru buru masuk lagi ke dalam kamar mandi.


Romi tertawa dengan kelakuan Yulia, ia pun buru buru mengajak Shila keluar dari kamarnya.


"Kita keluar dulu Yul!" ucap Romi sebelum keluar kamar.


"Bunda kenapa, Yah!" Shila bertanya dengan nada heran.


"Bundamu malu sama Ayah, karena gak pake kerudung!" jawab Romi meraih anaknya lalu menggendongnya keluar.


"Tapi sama Shila bunda gak malu gak pakai kerudung, Yah!" Romi tersenyum, anaknya cukup kritis sehingga banyak bertanya.


"Karena Bunda sama Shila sama sama perempuan. Nanti, Shila kalau sudah besar, pakai kerudung seperti bunda, mau?" Shila tanpa ragu mengangguk.

__ADS_1


Tak lama Yulia keluar sudah rapi mengenakan jilbab lengkap memakai kaos kedodoran, namun tetap cantik di mata Romi.


"Sayang, Shila di rumah ya sama Bu Minah? Ayah mau ngantar bunda pulang dulu! Shila harus banyak istirahat kan?" Romi membeli rambut Shila yang masih lembab dan telah harum. Dengan patuh Shila mengangguk, dan menemui Bu Minah di dapur.


"Bu, kita pergi dulu sebentar. Titip Shila ya? Gak akan lama kok!" Bu Minah mengangguk. Sebelum pergi Shila menyalami Yulia dan Romi dan mencium punggung tangannya.


"Anak salehah! Tante pergi dulu ya, Assalamu'alaikum!"


" Waalaikum salam! Dadaaaah, bundaaaa!"


*****


Yulia dan Romi telah berhenti di depan gang. Yulia sudah akan membuka pintu saat Romi memanggilnya.


"Yul, aku ada sesuatu untukmu!" Yulia urung membuka pintu. Terlihat Romi mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Kotak beludru merah. dan landing membukanya di depan Yulia.


"Tapi, pak! Apa pantas saya mendapatkan ini?" Yulia terpana melihat isinya. Sebuah cincin dan kalung emas putih tampak berkilau tertimpa cahaya lampu dari luar mobil.


"Kamu sangat pantas mendapatkannya. Bagi aku kamu lebih berharga dari apapun, dan ini tak ada apa apanya jika dibandingkan dirumu. Ini hanyalah sebuah tanda ikatan, kalau kamu telah menerima lamaran aku."


"Dan lusa, aku akan usahakan membawa kembali ibu sama Om aku untuk rencana lebih lanjut. Secepatnya." Senyum Yulia mengembang. Entahlah, ia merasa sangat bahagia sekarang. Dan berdoa semoga kebahagiaannya akan kekal, bersama Romi. Tak terasa dalam kebahagiaannya air mata haru Yulia jatuh.


"Makasih ya mas, Aku berharap ini semua bukanlah mimpi, dan jika ini mimpi, aku berharap tak akan bangun lagi." ucap Yulia tulus. Cincin telah tersemat dijari manisnya, lalu Romi mencium jari yang memakai cincin itu.


"Ayo, sekarang aku pakaikan kalungnya!"Romi bergerak mendekat pada Yulia, mengenakan kalung diluar kerudung Yulia, lalu...


CUP!


Sebuah kecupan mendarat di kening Yulia. Membuat Yulia bersemu merah.


"Mas, ih! gak boleh.. gak boleh.. gak boleh!" mendorong dada Romi. Romi hanya tertawa menanggapi Yulia.


"Kita gak boleh berduaan seperti ini, takut khilaf. Tahu sendiri kalau laki laki dan perempuan berduaan, dan yang ketiganya adalah setan. Iya, setan itu tadi yang mendorong mas Romi cium kening." Yulia langsung keluar dari mobil.


"Hahaha, aku cuma mau ngasih hadiah, karena kamu mau manggil aku 'mas' hahaha...!" Yulia tak sadar akan hal itu.


"Ya tadi 'kan marah, kalau aku panggil pak! Udah ah, makasih ya, atas semuanya."


"Assalamu'alaikum!" Yulia langsung berlari menjauhi mobil Romi yang terus memandangnya dari balik kaca sambil tersenyum menang.


\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=


Covernya ganti lagiiii....


Itu cover yang gantiin dari pihak NT .......


Moga suka deh....


Bersambungggg.....

__ADS_1


__ADS_2