Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 53


__ADS_3

*****


Mereka benar benar memanfaatkan momen berdua mereka. Kita tinggalkan dulu keduanya yang sedang panas panasnya bermain asmara sebagai pengantin baru.


Sementara di tempat lain.


"Wahyu, harusnya kamu itu nyari pengasuh aja kenapa? Masa tiap hari ibu nungguin anak kamu terus. Ibu kan jadi gak bisa kemana mana, gak bisa arisan, gak bisa kumpul teman teman. Lagian uang kamu tentu banyak, bisa nyewa Babysitter kan?" omel sang ibu sambil menggendong cucunya. Rupanya walaupun menginginkan cucu, ia tak sepenuhnya mau jika seluruh waktunya diambil dan habis untuk mengasuh bayi itu.


"Iya Bu, akan Wahyu usahakan secepatnya!" Wahyu yang sudah rapi segera mendekati sang ibu dan anak. Diciumnya kedua orang itu penuh rasa sayang. Ia berniat dengan kuat akan berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi, untuk menata hidupnya yang baru.


Yang di maksud sang ibu banyak uang adalah karena ia baru menjual rumahnya. Wahyu tak memberi tahu ibunya, jika sebagian uang hasil penjualan, ia berikan pada Yulia. Menebus semua hak hak dan nafkah untuk Yulia yang tidak dipenuhinya dengan baik selama ini.


Ia hanya berdiskusi dengan ayahnya tanpa sepengetahuan sang ibu. Ibunya pasti menentang dengan keras apa yang di lakukannya terhadap Yulia. Uang yang ia berikan pada Yulia beberapa waktu lalu tidak lah sedikit. 500 juta rupiah bukan uang yang sedikit baginya. Namun saat Yulia mau menerima uang itu, hatinya malah merasa lega. Seperti sebagian beban hidupnya berkurang.


Siang itu Wahyu merasa pusing. Posisinya sebagai manager pabrik rokok, memberikan ia peluang untuk memutuskan, menurunkan kwalitas cengkih dan tembakau yang di pakai untuk bahan dasar rokok. Hingga ternyata mempengaruhi hasil akhir rasa dari rokok itu sendiri bagi penikmatnya.


Penjualan rokok menurun drastis. Manager penjualan juga tak mau dipersalahkan, karena memang bukan sepenuhnya salah dari divisinya.


Dan tentu saja kesalahan di limpahkan padanya karena ia yang berwenang akan hal itu. Dan ia berjanji untuk memperbaiki kualitas dari bahan baku rokok tersebut. Jika dalam waktu sebulan penjualan rokok tidak meningkat, maka posisinya lah yang akan di pertaruhkan. Kemungkinan ia akan diturunkan jabatan, di potong gajinya selama beberapa bulan, atau yang paling parah, di pecat.


Siang itu ia mau makan siang bersama seorang temannya. Sang teman yang bernama Hadi menatap Wahyu yang terlihat tidak bersemangat untuk makan.


"Wahyu, masalah tadi mengganggumu?" tanya Hadi. Mereka bicara sambil makan.


(Jangan ditiru ya pemirsah! Biasakan diri makan jangan sambil bicara. Dan jangan lupa untuk berdoa. Pesan dari othor yang serasa jadi ustadzah).


"Tentu saja. Di! Tapi selain itu aku juga banyak masalah yang lain!" Wahyu menghela napas.


"Kemarin mantan istri pertamaku menikah lagi! Terus terang aku masih mencintainya. Aku berpikir bagaimana caranya mendekati dia lagi setelah luka yang ku torehkan di hatinya. Tapi ya sudahlah, jodoh kami sudah berakhir. Sudah tak ada jalan lagi. Sekarang yang bisa aku lakukan adalah berusaha melupakannya, aku berdoa supaya suaminya sekarang memperlakukannya jauh lebih baik ketimbang aku waktu jadi suami yang brengsek baginya.


Tak ada kesempatan aku untuk memperbaiki diri untuknya."


"Bukan itu saja, ibuku mengeluh tak bisa terus terusan jagain anakku. Dan aku di suruhnya untuk mencari pengasuh untuk bayiku."


"Ya wajarlah sikap ibumu Wahyu, ibumu pasti mengeluh waktu istirahatnya berkurang, namanya orang tua kan kadang tenaganya sudah gak sekuat saat muda. Orang tua akan gampang terkena darah tinggi juga!" Nasehat Hadi, Mereka makan siang sambil mengobrol.


"Ya kalau seperti itu alasannya sih aku maklum, Di. Tapi yang ia keluhkan adalah ia tak bisa lagi keluar untuk arisan, bertemu teman teman tak bergunanya." keluh Wahyu bertambah pusing.


"Kalau untuk mantan kamu yang udah menikah lagi, aku no comment deh. Ibarat burung yang lepas dari sangkar, ia akan terbang jauh, dan gak akan kembali lagi. Ia akan memilih mencari sangkar baru yang lebih nyaman untuk ia tinggali."


"Karena kamu, bukanlah sangkar yang nyaman untuk ia bermukim."


Kini makanan mereka telah tandas, 10 menit lagi sudah jam istirahat usai. Hadi dan Wahyu segara berdiri dan membayar makanan masing masing.


Disaat itu, ekor mata Wahyu sekilas menangkap seorang perempuan yang di terik paksa keluar dari pintu samping rumah makan. Dan perempuan itu diikuti seorang anak yang memegang roknya sambil menangis.


" Hadi, aku ada perlu sebentar! Kamu duluan aja ya!" beritahu Wahyu pada temannya.


"Ok! jangan lama lama. Kamu sedang ada masalah di kantor, jangan sampai telat." pria itu memperingatkan Wahyu.


Wahyu mengikuti kata hatinya untuk mencaritahu kenapa perempuan itu di tarik paksa keluar.


Wahyu yakin perempuan itu akan lewat didepannya, Karena hanya ada satu pintu keluar rumah makan. Dan tepat. Tak berapa lama, perempuan dan seorang anak itu lewat dan Wahyu segera menghampirinya.


"Mbak...!" kedua perempuan yang bergandengan itu menoleh pada Wahyu. Terlihat wajahnya merah karena menangis, namun berusaha disembunyikan. Begitu juga anak perempuan yang digandengnya juga sesenggukan. Pakaian mereka juga lusuh.


"Maaf, tadi aku lihat mbak ditarik paksa keluar oleh pelayan rumah makan ini, apa benar?" perempuan itu makin menunduk. Wahyu jadi merasa bersalah.


Apa aku salah ngomong?


"Eh, maksud saya begini, kenapa? Apa terjadi sesuatu sama mbaknya?" Wahyu jadi bingung sendiri mau ngomong apa.

__ADS_1


"Saya...saya lagi nyari kerja pak. Tapi gak ada yang mau nerima saya karena saya bawa anak kecil dan lusuh! Terus tadi anak saya minta makan disini! saya tak punya uang, saya minta anak saya makan disini dan sebagai imbalannya saya mau disuruh cuci piring atau apalah! Uang penting halal Pak. Tapi tak sengaja tadi anak saya mecahin gelas waktu bantu saya nyuci piringnya, terus kami diusir!" cerita yang begitu miris. perempuan itu mengusap sudut mata yang terlihat basah. Peluh yang menetes juga membuat rambutnya terlihat lembab.


Perempuan muda itu terlihat cukup manis, anaknya juga penurut. Apa tadi dia bilang, anaknya mau makan tapi gak punya uang. Ia yakin perempuan ini belum makan.


"Oh, begitu ya ceritanya! Kalau begitu kalian tunggu di sini, sebentar saja!" Wahyu berlari masuk ke dalam rumah makan, tak sampai lima menit ia kembali lagi membawa dua bungkus makanan.


"Mbak, ini tolong di terima. Mbak pasti belum makan 'kan?" ucap Wahyu tersenyum tipis, mengangsur bungkusan di tangannya pada perempuan di hadapannya. Perempuan itu terlihat kaget. Tak menyangka pria yang menghampirinya memperhatikan dirinya dan juga anaknya, bahkan di beri bungkusan makanan.


Anak perempuan yang bersamanya terlihat berbinar, dan langsung menerima bungkusan itu.


"Terima kasih paman, paman baik sekali. Ibuku dari kemarin belum makan hanya minum air keran. Cuma Ifah yang makan tadi. Itupun sambil di bentak bentak sama paman yang di dalam warung tadi!" Adu anak yang masih begitu polos itu. Wahyu kaget dan mengernyitkan dahi, menatap perempuan yang langsung menunduk takut takut. Tanpa menjawab Wahyu yakin anak kecil itu tidak bohong.


"Benarkah yang dikatakan anak ini kalau mbak belum makan dari kemarin?" Wahyu garuk garuk kepala, ingin menolong tapi ia tak tahu harus berbuat apa!"


"Oiya mbak!" sebuah ide muncul di kepalanya.


"Mbak butuh pekerjaan kan?"


perempuan itu mengangguk.


"Apa mbak bisa menjaga bayi?" perempuan itu mendongak, lalu menggeleng.


"Saya hanya pernah menjaga dan merawat anak saya ini, pak! Kalau untuk menjaga bayi orang lain saya belum pernah!"


"Gak apa apa, tapi paling tidak kamu mengasuh anakmu sendiri saat bayi."


"Begini, saya butuh pengasuh bayi umur dua bulan, ibunya sudah meninggal dan di rumah ada neneknya. Tapi, neneknya bilang ia ingin ada yang menjaganya kalau dia sedang pergi, atau sedang arisan misalkan. Aku menawarimu menjaga bayi itu jika kamu mau!"


Wahyu merogoh sakunya, dan mengeluarkan dompet. Ditariknya sebuah kartu nama dan di serahkan pada perempuan yang lebih banyak menunduk.


"Kalau kau berminat, kamu jam lima sore, tunggulah aku di halte sebelah sana! Tahu 'kan?" wanita itu mengangguk.


"Tapi pak!" wanita itu ragu untuk bicara.


"Hmm apa? Bicaralah!..."


"Tapi saya bawa anak saya, apa bapak gak keberatan? "


Wahyu terlihat berpikir keras.


"Yah, selagi kau berminat dan kamu bisa bekerja dengan baik, tak masalah. Aku lihat anaknya mbak anteng dan gak banyak tingkah." Wahyu ingin sekali bertanya dimana suaminya, atau ayah dari anak itu. Apakah suaminya tak memberinya uang hingga ia harus kelaparan dari kemarin belum makan. Lah terus, suaminya makan apa?


"Kamu bisa pulang sekarang dan jangan lupa nanti jam 5 datanglah ke halte dan tunggu aku!"


"Terima kasih banyak pak! Saya janji saya akan bekerja semampu saya." perempuan itu mengangguk hormat pada Wahyu.


Dan sore harinya, Wahyu benar benar berhenti di halte. Ada beberapa orang ada disitu menunggu angkutan. Namun perempuan tadi tak ada, wahyu celingukan kesana kemari. Namun tak jua menjumpai orang yang dicarinya.


"Shit, kenapa aku tadi gak tanya siapa namanya? Jadi butuh kerjaan gak sih...?" gerutunya kemudian. Karena yang di nanti tak ada, ia pun masuk lagi ke dalam mobilnya. Melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan.


Pukul 17.10


Ya sudahlah, sepertinya dia tak benar benar butuh pekerjaan.


Wahyu menstarter mobil dan hendak berbalik. Pada saat itu terlihat perempuan siang tadi berjalan dengan tergesa. Wahyu keluar lagi dari mobilnya.


"Maaf, pak! Saya terlambat, tadi Ifah tidur, dan sulit di bangunkan!" sebuah alasan yang masuk akal. Pada punggung gadis kecil itu tersampir tas yang sudah agak usang.


Wahyu menghela napas, berusaha untuk tidak emosi. Berusaha sabar.


"Ya sudah, ayo masuk! Keburu kesorean sampai di rumah."

__ADS_1


Tiga puluh menit dalam perjalanan akhirnya mereka telah sampai.


Saat gadis kecil bernama Ifah ragu untuk keluar, Wahyu berusaha meyakinkan. Dan gadis manis itu menurut.


"Saat sampai di teras, Ibu Wahyu keluar dengan mendorong stroller bayi, merasa heran Wahyu bersama seorang perempuan dan anak kecil.


"Kamu bawa siapa Wahyu? Siapa mereka?" tanya ibu Wahyu kemudian.


" Dia yang akan jaga Rayyan selagi ibu mau pergi, Bu!" jawab Wahyu membuat ibunya melotot tak senang.


"Apa....!"


\=\=\=\=\=\={{}}\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hi hi... Hari ini double up ya....


Besok entah....


Semoga bisa up lagi....


Real life melambai lambai.....


Eh, Thor! Kok Wahyu yang di ceritain?


Kesel ah, gak seru!!


Gini ya teman teman, othor hanya ingin menyampaikan bahwa,:


Manusia adalah makhluk Tuhan yang tak sempurna, Manusia tempatnya salah dan lupa.


Al Insaanu mahalul khatha' wan nisyan.


Sering sekali kita mendengar ungkapan seperti itu. Itu termasuk pepatah, bukan hadits atau bahkan ayat Al-Qur'an. Bukan ya!


Manusia, makhluk ciptaan Allah yang dibekali akal dan pikiran, yang membedakannya dengan makhluk lain, seperti malaikat atau syetan. Bila malaikat diciptakan oleh Allah untuk taat kepada Nya, maka syetan diciptakan hanya memperturutkan hawa nafsu dan menjadi penghuni kekal neraka.


Tak ada manusia yang tak pernah berbuat salah 'kan. Namun walaupun begitu, jika manusia itu mau bertobat, dan memperbaiki kesalahannya, bukan tak mungkin ia akan menjadi manusia yang lebih mulia. Walaupun badai masalah masalah dari kehidupan akan terus ada.


Begitulah kiranya gambaran yang othor berikan. Jadi, semua perbuatan jahat gak harus di balas kejahatan pula. Hanya Tuhan yang pantas membalasnya dengan seadil adilnya balasan.


Lah, ini kan novel Thor, bukan real life.


Kalau di novel tuh, orang jahat balasannya mati mengenaskan, kena azab serangan stroke, kebakaran rumah hingga miskin semiskin miskinnya, cacat dan lain sebagainya....


Lah kalau itu mah sinetron ikan terbang...


Kumenangiiiissss....😭😭😭😭


Othor tahu, para reader disini emak emak yang cerdas binti pinter. Terbukti dari banyak pembaca komennya bagus bagus dan terlihat lebih memahami isi cerita receh saya. Bahkan ada beberapa dengan halus mengkritik tulisan saya. Its ok.


Saya malah senang kok jika ada yang mengkritik, itu berarti reader benar benar membaca dan menghayati jadi jika ada tulisan yang keliru, bisa langsung bilang di kolom komentar buat othornya.


Wallahu a'lam bisshawab.


Dah, gitu aja....cuap cuap dari saya.


Othor Receh


TTD


Binti Ulfa

__ADS_1


__ADS_2