Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 97


__ADS_3

Yesi melihat ke ubin lantai dalam kamar Andre. Dan membelalakkan mata saat melihat sebuah benda bergerak gerak.


Aaaaaaa!


Pekik Yesi dan langsung membuka pintu keluar kamar, menubruk Andre yang duduk masih setengah sadar. Andre sampai terjengkang kebelakang dibawah tubuh Yesi.


" Apaan, sih Yesi!" Andre berusaha bangun, namun dekapan Yesi membuatnya tak berkutik. Ia lalu diam saja, menunggu Yesi tenang. Karena tubuh mereka yang menempel erat ia tahu Yesi sedang ketakutan, detak jantungnya berpacu cepat, dengan nafas ngos-ngosan seperti habis lari maraton.


Andre diam dan mengusap punggung Yesi yang mulai agak tenang. Bahkan ia menghirup aroma wangi rambut Yesi yang telah bercampur keringat. Mungkin karena kesadaran Yesi yang sudah pulih, ia bangkit dengan cepat dan...


Plakkk!


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Andre.


"Heii! Apa apaan ini? Kok kamu malah nampar aku, Yesi! Sakit tauk!" keluhnya lalu duduk dan memegangi pipinya.


"Rasain, mangkanya jangan curi kesempatan ya!" tuduh Yesi membuat Andre meradang.


"Nyuri kesempatan gimana? Yang nubruk gue siapa, yang kena tuduh siapa?" Andre mendelik tak terima.


"Ehh, iya! Maaf Ndre. Aku.. aku panik aja tadi! Maaf sekali lagi." ucapnya saat sadar ia yang salah.


"Tadi aku kaget, takut ada yang gerak gerak di lantai. Coba deh liat itu!"


"Itu tuh! Hhhhiiii...masih disitu gerak gerak!" Yesi merasa geli, mengangkat kakinya keatas sofa dan memeluk erat Andre.


Lagi.


Hah, dapat hadiah pelukan dan tamparan sekaligus. Ngeri ngeri sedap rasanya. Andre.


Lalu fokus melihat apa yang ditunjuk Yesi dengan raut ketakutan sekaligus geli.


"Apa tuh, cuman benda kecil gitu, coba aku liat, lepasin dulu nih pelukannya atau aku bakalan khilaf?" ucapan Andre menyadarkan Yesi. Ia melepas pelukannya, dan menyilangkan kedua tangan di dada. Menyembunyikan dua bukit yang menonjol karena hanya memakai tank top itu.


Fyuuuh!


Andree mendengus, Dua buah benda empuk yang menempel saat Yesi memeluknya membuat Andre menahan nafas, lalu ia beranjak melihat dari dekat sesuatu yang bergerak itu.


"Ini kan ulat bulu!" komentar Andre membuat Yesi terlonjak


"A_apa?" reflek berdiri diatas sofa dengan wajah pucat. Ia sangat jijik dengan yang namanya ulat.


"Keep calm Yesi! Ini cuma makhluk kecil, sebesar jari kelingking kamu, masa sih takut!" Andre yang memang tidak jijik dengan ulat mengambilnya dari lantai, dan mengulurkannya kearah Yesi.


"Gila lu, Ndro!"


Yesi menangis dibuatnya, ia melihat diatas meja, ada rantang bekas makan tadi. Sambil menjerit jerit ketakutan, ia mengambil benda itu dan akan melempar pada Andre.


"Jahat kamu, ya. Aaaaa!" Yesi benar benar menangis.


"Ayaaah! Mama.... tolong Yesi Maaaa! Huuuaaaa!" air matanya turun dan melempar satu rantang pada Andre. Untung Andre cepat berkelit.


Glontang!


Suara rantang jatuh begitu keras dibarengi tangis Yesi.


Menyadari Yesi yang benar benar menangis, membuat Andre diam dari tawanya.


"Eh, kok beneran nangisnya Yesi! Maaf ya!" Andre segera menuju pintu.

__ADS_1


"Biar ku buang ini!" ucapnya setelah membuka pintu lalu melempar ulat itu, setelah itu ia menutupnya kembali, dan mendekati Yesi.


Membuat Yesi histeris dan mengambil rantang satunya siap melempar pada Andre.


"Tenang! Tenang Yesi, aku sudah membuangnya!" Andre menunjuk kedua tangannya yang kosong.


"Gila elu, Ndre! Sin ting! Sia lan!" Yesi terus saja mengumpat sambil menangis.


"Maaf, Yesi! Aku benar benar lupa kalau kamu jijik dengan ulat. Maaf! Aku benar benar minta maaf!" sesal Andre. Ia lalu duduk di sofa yang sama dengan Yesi yang masih menyisa isak tangis.


"Jahat kamu, Ndre!" Yesi berulang mengumpat Andre, namun Andre cuman diam. Ia tahu jika salah.


Andre tetap diam ditempatnya duduk. Sedangkan Yesi masih saja sesenggukan.


"Dibelakang kamar itu memang ada pohon alpukat yang lagi berulat. Yah.. walau jaraknya sebenarnya cukup jauh sih, tapi nyampe sini juga ulatnya!"


"Hiii, kok gak dibasmi saja. Itu kan hama. Ih jadi geli kaldu makan alpukat!" rupanya Yesi juga antusias membahas ulat itu.


"Warga disini malah merawatnya, nanti kalau sudah jadi pupa atau kepompong, mereka akan mengambilnya untuk di konsumsi."


"Kata mereka sih, rasanya gurih dan enak loh, kepompong yang diolah jadi lauk. Bukan cuma itu, kamu tahu laron, kan?" Yesi mengangguk.


Serangga seperti rayap yang bisa terbang.


" Disini laron itu dikonsumsi, dengan cara di goreng atau di peyek!" ucapan Andre barusan membuat Yesi begidik mau muntah.


Hoooek!


Andre tertawa.


"Ya sudah, kamu segera tidur gih, udah malam!" bujuk Andre setelah itu.


"Gue tidur disini aja, elu yang tidur didalam!" tawarnya kemudian.


"Ya nggak bisa gitu lah, Yes! Kamu tidur didalam, biar aku disini!"


"Entar kamu kedinginan lagi."


"Ya udah, gimana kalau pintunya kamu buka aja, aku disini kamu di sana!"


"Ya udah deh. Apa boleh buat!" Yesi dengan ragu memasuki kamar dengan pintu di buka lebar.


Sebelum merebahkan diri, ia masih jelalatan takut masih ada ulat lagi. Setelah dirasa aman, maka ia segera merebahkan tubuhnya yang terasa penat, menghadap luar kamar. Sehingga ia bisa melihat Andre yang tidur diluar.


"Ndre..! "


"Hmmm!" dilihatnya Andre telah memejamkan mata.


"Udah.. tidur sana."


"Atau mau aku susul kesitu?" Andre menatap Yesi dengan senyum menyeringai.


Alhasil, Yesi langsung menyelimuti seluruh tubuh dan kepalanya.


****


Yesi terjaga dan membuka mata saat ia merasa sesuatu yang geli di bibirnya. Ia membuka mata dengan enggan dan melihat seorang laki laki tengah tertawa jahil. Ia langsung mengatupkan bibirnya yang mangap.


Ha ha ha ha!

__ADS_1


Suara tawa itu berhasil mengumpulkan kesadarannya.


"Andree!" rupanya Andre menyapu mulutnya yang mangap dengan ujung rambut Yesi yang tergerai tak beraturan.


"Haha, cewek cantik tapi tidurnya mangap. Lucu banget sih!" Andre masih saja tertawa jahil.


"Udah bangunnya keduluan sama mentari pagi,"


"Apa?"


Reflek Yesi bangun dan memang, matahari sudah agak tinggi.


Yesi menatap jam dinding, jam delapan pagi lewat sepuluh menit.


"Harusnya udah sampai dirumah kamu, eh ditunggu sedari tadi gak bangun bangun." cerocos Andre lagi.


"Udah, mandi sana! Habis itu sarapan terus berangkat!" Andre sengaja tak membuka pintu dan jendela kliniknya, karena khawatir ada pasien yang datang. Bisa bisa ia gagal lagi mengantar Yesi pulang.


Mereka telah menyelesaikan sarapannya, sudah bersiap hendak menuju mobil yang terparkir di halaman setelah mengunci pintu dari luar.


"Rahajeng semeng, dokter Andre!" sebuah suara mengejutkan mereka. Dan Yesi hanya sanggup saling pandang dengan Andre.


****


"Sejak kapan adek ini demam, Bu?" tanya Andre pada seorang ibu yang buru buru menyetopnya untuk pergi tadi. Wanita itu memohon supaya terlebih dulu mengobati anak ya yang demam.


"Dari kemarin siang demamnya gak turun turun dokter, Sebenarnya saya sudah mau membawa Ni Luh ke klinik kemarin sore, tapi suami saya sedang tak ada di rumah, sedang hujannya deras sekali kemarin!" Ucap ibu itu memberi alasan.


"Ya udah, ini saya kasih obat penurun panas, diminumkan tiga kali sehari ya, Bu!"


"Habis ini saya pergi, mungkin pulang nanti sore atau besok. Kalau adek masih belum mau turun demamnya, ibu kasih tahu saya, ya!"


"Matur suksma, dokter. Terima kasih banyak." wanita itu membungkukkan badan saat Andre mengajak Yesi untuk pergi.


"Halo, dokter Andre!" Made muncul saat Andre hendak masuk ke dalam mobil. Sedang Yesi telah masuk lebih dulu.


"Eh, Putu! Kok tahu aku disini?"


"Ya tahulah dok, saya hapal banget sama mobilnya dokter Andre, bahkan nomer plat dan juga suara deru mesinnya saya hafal!" Andre tertawa.


"Sedetil itukah kau mengenali mobilku, Putu!"


"Iya, dok! Mengenali anda luar dalam saya juga bisa!" kata kata Putu membuat Yesi tersenyum sinis dan memutar bola matanya.


Dan Andre sepertinya tak mau menanggapi ocehan gadis bernama Putu itu.


"Aku mau pergi dulu, Put!"


"Oiya, dok! Hati hati dijalan ya! Nanti siang udah pulang belum kira kira dokter? Aku mau kasih makan siang buat dokter!" ucap gadis itu tanpa malu malu, mengabaikan Yesi hanya sesekali meliriknya.


"Mmm, sepertinya belum, Put! Udah gak usah repot repot. Aku bisa kok masak sendiri. Udah ya aku pergi dulu!" Demi melihat Yesi yang masam raut mukanya, Andre segera menyudahi pembicaraan itu dan segera masuk kedalam mobil.


"Dokter, aku belum selesai bicara!" gadis itu mengetuk kaca mobil Andre, namun Andre hanya mengangkat tangannya sembari melambaikannya..


Dadaaaah!


\=\=\=\=\=


.

__ADS_1


__ADS_2