
"Bun. Kopi kopi! Buatin ayah kopi ya Bun!" Romi berdiri diambang pintu dapur menggendong anaknya. Yulia yang sedang memasak buat sarapan menoleh.
"Ayah mau kopi?" dengan sigap Yulia segera mengambil cangkir, mengisinya dengan bubuk kopi dan gula. Lalu memanaskan sedikit air di panci kecil. Romi suka air yang mendidih langsung diatas kompor, bukan air dari termos atau dispenser.
"Anak ayah acem gini masih cantik. Gimana kalau wangi ya?" menciumi wajah dan leher si kecil Kia dan bicara dengannya. Hingga bayi itu tertawa karena kegelian. Masih diambang pintu.
"Ayah mau mandiin Kia?" tanya Yulia sambil mengaduk kopi dengan sendok kecil.
"Oke, Bun! Siapa takut. Dulu Shila sampe gede gitu siapa coba yang mandiin?"
Iya, ya. Shila kan udah gak ada ibunya sedari lahir.
"Hmm, palingan juga Ibu!" tebak Yulia mencibir suaminya.
"Hehehe, kok Bunda tau sih. Tapi kan sekali kali ayah juga mandiin." balasnya gak terima.
"Sekali kali kan berarti dua kali!" celetuk Yulia.
"Bunda ih, gak lucu tauk!" namun membuat Romi tertawa juga.
"Siapin airnya ya, Bun!"
Yulia mengangguk, lalu menuju kamar mandi dan mengisi bak dengan air suam suam kuku. Mengambilkan handuk, baju ganti, minyak telon, pempers dan juga bedak. Selesai dengan itu ia keluar kamar mandi, Romi sudah menanggalkan baju Kia dan membungkusnya dengan handuk.
"Keramas, nggak Bun? tanya Romi sebelum masuk ke kamar mandi.
"Iya, tiap hari baby harus keramas, Yah!"
"Oh, oke Bun!" Romi memandikan anaknya sambil bersenandung, terdengar juga suara Kia tertawa senang dan bunyi kecipak air.
Yulia tersenyum mendengarkannya, Uuh, sungguh bahagianya! batin Yulia.
"Senyum senyum sendiri Yul? Anakmu mana?" sapa sang ibu saat mendapati anaknya memasak sambil tersenyum.
"Tuh, ibu dengar! Mas Romi lagi mandiin Kia. Sambil nyanyi nyanyi lagi. Lucu kan, hehehe!" Bu Kanti ikut tersenyum.
"Beruntung kamu punya suami dia. Udah baik, sayang anak lagi!"
Yulia terkekeh. "Iya, Bu! Alhamdulillah. Mas Romi memang baik dan sayang keluarga." jawab Yulia.
"Ayah juga beruntung punya istri Bunda! Udah baik, cantik, pinter masak, pinter apa lagi ya, Ki!" tiba tiba Romi sudah diambang pintu mau keluar. Baby Kia yang sudah segar, sehingga ia tertawa senang.
"Hadeh, Ayah lupa masih pake sarung lagi. Jadi basah deh sarung Ayah!" ucap Romi bernada keluhan.
"Ya nanti langsung masukin ke mesin aja. Sarung udah seminggu dipake juga aku liat." Yulia menanggapi keluhan Romi yang hanya nyengir.
"Coba cicipin masakan Yulia dong, Bu! Kurang apanya coba!" mengambil kuah sayur pada sendok kecil dan mengulurkannya pada sang ibu.
"Biar Romi yang nyicipin. Ibu tak masalah rasanya seperti apa masakan kamu!" Yulia lalu mengarahkan sendok pada suaminya.
"Awas, Kia ketetesan kuah!" Kia yang masih dibopong Romi menatap arau tangan ibunya sambil menjulur julurkan lidah. Seolah ingin ikut mencicipi.
"Wahaha, anak bunda pengen ya? Laper ya. Udah kelametan gitu mulutnya!" ia malah menertawakan reaksi anaknya.
"Hmmm, masakan bunda Ter the best. Iya, kan Bu? Udah pas kok!" Romi meminta persetujuan ibu mertuanya. Sang ibu tersenyum menanggapi.
__ADS_1
"Nanti habis ini Kia makan. Sabar ya, Nak!"
Ia lalu meninggalkan dapur untuk mengenakan baju pada Kia.
"Nahh, Bunda! Kia udah wangi, udah seger. Bunda udah selesai belum masaknya?" memperhatikan sang istri yang menata makanan di meja.
"Udah selesai sih, tinggal bersih bersih dapur sama mandi. Gerah!" Yulia segera masuk ke kamar mandi dengan handuk dikalungkan di leher.
"Uuh, ternyata bunda masih mau mandi. Kia turun dulu ya! Ayah mo minum kopi"
Hmmm. Nikmatnya.
Lega. Begitu yang dirasakan Romi saat menyeruput kopinya. Matanya langsung melek, kafein dalam kopi memberi efek hilang rasa kantuk dan lebih semangat menghadapi hari.
Romi tertawa geli melihat reaksi Kia yang menatapnya melongo.
"Anak Ayah pengen kopi?" bola mata Kia mengikuti arah Ayahnya membawa cangkir kopi.
"Ayah!" Shila keluar dari kamarnya sudah mengenakan seragam sekolah.
"Nah, ini anak Ayah satunya juga cantik sekali. Udah siap ke sekolah. Gak ada PR yang belum dikerjakan kan?"
"Beres, Yah! Tadi malam sudah dikerjain semua." Shila yang gemas menciumi pipi Kia. Tangan mungil itu mendorong wajah kakanya.
Tak lama Yulia juga sudah bergabung, dan mereka bersiap untuk segera sarapan. Baby Kia juga telah diberi sarapan susu satu botol.
"Bund, setelah mengantar Shila, aku mau ke rumah orang yang nyenggol Dion kemarin itu. Kamu mau ikut?" ucap Romi setelah mereka selesai makan dan minum segelas air. Terakhir ia mengelap mulutnya sambil mendesis kepedesan. Tadi ia terlalu antusias makan sayur dan mengambil sambal terlalu banyak. Hingga bibirnya memerah karenanya.
"Memang mau ngapain kesana, mas?" dahi Yulia mengernyit.
" Ya, aku udah janji pengen nengok aja. Karena istrinya baru melahirkan bla bla bla... Romi menceritakan keadaan orang yang menyenggol Dion yang katanya orang gak mampu. Siapa tahu ia bisa sedikit membantu. Begitu katanya.
"Kalau kau mau ikut, biar Kia di rumah sama ibu." sahut ibu Kanti.
"Aku hanya ingin merealisasikan apa yang telah kita dapat dari mendengar kajian kemarin. Bahwa kita tak boleh menyia nyiakan anak yatim maupun orang miskin yang membutuhkan uluran tangan kita."
"Alhamdulillah, pendapatan dari swalayan meningkat, dan aku ingin berbagi sedikit."
Alhamdulillah. Dalam hati bu Kanti mengucap syukur, menantunya adalah orang yang peduli terhadap sesama.
Di tempat lain yang jauh.
Andre baru bangun tidur, membasuh muka, lalu menikmati minum kopi bersama Ryan, dirumah Yesi.
Ya, Andre menginap di rumah Yesi yang memiliki tiga kamar tidur. Satu kamar untuknya, satu kamar untuk Andre dan satu kamar untuk Ryan bersama istri dan anak balitanya.
Flashback
Kalau kau mau ambil cincin itu, ambillah! Sepertinya pemiliknya sudah tak menginginkannya."
Yesi menutup kembali kotak beludru itu.
"Benda ini memang cantik, aku suka. Tapi ini bukan milikku, aku tak akan mengambilnya." meletakkan kotak itu dipangkuan Andre lagi.
" Ndre! Kamu gak kangen sama aku?" tatap Yesi penuh harap, bahwa Andre akan mengatakan kalau ia merasakan hal yang sama. Namun Andre hanya melirik lalu menatap lagi lurus ke depan. Bagaimana raut wajahnya, sudah tak begitu kentara, karena hari memang sudah gelap.
__ADS_1
"Begini ya caranya kalau suka. Lama gak ketemu bukannya kangen kangenan, malah ngambek!" rajuk Yesi melingkarkan tangan ke lengan Andre. Selangkah lebih maju.
Andre melirik lengannya yang dipegang Yesi.
"Hh, bagaimana aku bisa kangenan sama orang yang gak kangen aku. Bertepuk sebelah tangan dong!" ucapnya dingin.
"Cieee, Bener kata bang Ryan, ada yang berkobar tapi bukan api."
"Jeles nih ceritanya, masa kamu cemburu sama Abangku!" goda Yesi terkekeh.
"Abang? Abang dari mana coba, Abang ketemu gede, kan!" kesal Andre, dirinya merasa kepanasan, Namun Yesi menanggapi dengan becanda.
Ehehe, bener bener cemburu buta nih si Andre.
"Ya udah, kalau gak percaya, yuk ikut ke rumah, aku kenalin sama bang Ryan sama istrinya." Andre menoleh, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Kini asa nya untuk mendapatkan cinta Yesi membubung tinggi lagi.
Andre tersenyum lebar. "Ayuuk!" Mereka pun berjalan menyusuri pantai, menuju dimana kendaraan mereka diparkirkan. Disepanjang jalan Yesi menggandeng lengan Andre, senyumnya merekah.
"Tunggu!" seru Andre tiba tiba berenti.
"Kenapa?" Andre celingukan. Ketika ada dua remaja tanggung lewat, ia memanggilnya.
"Ada apa mas?" tanya seorang diantara mereka.
"Dek, tolong fotoin kita ya?" pemuda itu mengangguk. Dan mencari angel yang pas agar terlihat indah.
Dengan latar panorama lembayung sore, Andre berjongkok dengan satu lutut menyentuh pasir, di depan Yesi yang menunduk ia bertanya dengan bibir bergetar. Dengan kedua tangan menggenggam tangan Yesi.
"Yesi, maukah kau jadi pacarku, menjadi wanita spesial di hatiku? Aku janji, akan bahagiakan mu!" Yesi menyeka sudut matanya.
"Nggak Ndre, aku gak mau!" Andre terjingkat kaget, bibirnya mengkerut demi mendengar jawaban Yesi. Hingga ia menatap wajah diatasnya. Sepersekian detik mereka saling tatap dalam keremangan. Satu pemuda merekamnya. Dan satunya lagi memotret dengan kamera hape Yesi.
"Aku gak mau jadi pacarmu, Ndre! tapi aku maunya jadi kekasih halalmu. Aku... maunya jadi istri kamu!" Andre tertawa lebar.
"Yessss!" misi berhasil. Ia lalu mengeluarkan kotak yang tadi, menyematkan di jari manis Yesi lalu menciumnya.
"Makasih ya sayang!" ucapnya setelah kembali berdiri. Dan mereka pun berpelukan mesra, erat. Seakan tak mau terpisahkan. Lalu mengecup puncak kepala Yesi.
Kedua pemuda menyudahi rekamannya dan bertepuk tangan.
"Selamat ya kak, selamat mas! Semoga kalian jadi pasangan langgeng sampai diatas pelaminan.
Keduanya menyerahkan hape pada pemiliknya. Andre merogoh sakunya, mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah.
"Ini buat beli kopi ya dek. Makasih banyak atas bantuannya." Kedua pemuda itu awalnya menolak, tapi karena Andre memaksa mereka pun menerima dan mengucap terimakasih.
Dan disinilah kini Andre berada. Duduk berhadapan dengan Ryan dan istrinya, Syareefa. Wanita berhijab yang berhasil membuat Ryan jatuh cinta lalu melepaskan keyakinan dengan mantap, lalu pindah pada keyakinan baru tanpa halangan yang berarti. Karena kedua orang tuanya memberi dia kebebasan dengan catatan harus bersungguh sungguh dan melaksanakan ajarannya dengan baik.
Dia juga tak masalah saat kedua orang tua tinggal di sana dan masih dengan keyakinan lamanya.
\=\=\=\=\=\=
...Bersambung......
Agak panjangan dikit ya....
__ADS_1