
******
"Bos,, eh Bang! Kemarin aku janji sama Shila, buatin sayur seperti yang kemarin. Aku udah buatkan, tolong bawa ya!" menyodorkan rantang stainless untuk dibawa pulang dengan senyum menghias wajahnya. Rasa rasanya sudah ada yang mau luluh hatinya.
"Baiklah, terimakasih." ucap Romi sumringah.
Ada benernya sih kata ibu.....Kalau punya istri ada yang masakin.
Bunga sih biasanya ditanam di taman atau di halaman. Tapi ini kok ada bunga bunga yang tumbuh di hati, ya!.......
*****
Di Minggu pagi itu, Romi mengantar ibunya pergi untuk beribadah. Setelah ibunya masuk ruang peribadatan ia pun segera pergi ke swalayan dimana ia adalah owner nya, dan mewanti wanti sang ibu untuk segera menelponnya saat ibadah selesai.
Saat ia melintas menuju tangga ke lantai dua, ia melihat Yulia bersama Yeni sedang menyusun susu formula berbagai merk di rak display. Yulia melirik sedikit lalu acuh dengan kehadiran Romi, meneruskan pekerjaannya.
"Pagi, Boss! sapa Yeni sambil mengangguk.
"Pagi juga. Mmm, Yeni, Yulia, kalian sudah sarapan?" basa nasinya pada kedua karyawatinya.
"Sudah bos, kita sudah sarapan!" jawab Yeni, yang membuat kecewa Romi. Inginnya dia mendengar suara Yulia, namun ia sama sekali tak bersuara. Malah mengabaikannya.
"Ya sudah, kalian teruskan kerjanya." Sambil melirik pada Yulia, Romi menaiki satu persatu undakan tangga.
"Awas ya, kamu. Mengabaikanku. Kamu belum tahu siapa Romi, Takkan kenal yang namanya penolakan." bergumam lirih yang hanya dirinya sendiri yang mendengar.
Melihatnya sudah menjadi mood booster dirinya. Apalagi jika ia mau senyum, serasa mendapat energi berlipat ganda layaknya mengkonsumsi multivitamin lengkap. Benar kata orang rupanya, jatuh cinta itu membuat orang kehilangan sedikit kewarasan. Senyum senyum sendiri, uring uringan sendiri, bahkan berbuat sesuatu diluar nalar yang diri sendiri kadang tak bisa mengendalikannya.
Saat Romi sudah tak terlihat lagi, Yeni cekikikan.
"Waah, harusnya ada perayaan ini! Selama empat tahun kerja, baru kali ini bos Romi nyapa karyawan dulu. Pake tanya udah sarapan apa belum. Ahaha,, masuk rekor MURI tuh. Gara gara yulia nih!" Masih dengan tertawa cekikikan. Yulia hanya melirik lalu melengos.
****
Bu Alvi sedang berusaha menelpon Romi, saat sebuah tepukan pelan di bahu yang membuatnya kaget.
__ADS_1
"Oh, Bu Santo! ada apa Bu?" Bu Alvi menurunkan ponsel dari telinganya. Tak jadi menghubungi Romi.
"Bu Alvi, aku dengar si Romi dekat sama Yulia ya, Bu! Itu yang anaknya Bu Kanti." Bu Alvi langsung mengangguk tanpa keraguan.
"Iya, Bu Santo. Saya sih berharap ia mau jadi ibu sambungnya Shila. Memangnya kenapa Bu?" Bu Alvi mengerutkan kening. Tiba tiba Bu Santo membahas anaknya.
"Baguslah kalau begitu. Saya berharap si Romi cepat cepat saja nikahin si Yuli. Saya gak mau anak saya deket sama dia. Jangan sampai Andre berubah haluan kayak anaknya Bu Alvi gara gara dia. Saya tak rela, sumpah seumur hidup saya gak rela. Kalau anak saya terseret seperti Romi ikut ikutan karena Dina dulu. Amit amit deh!" sebuah sindiran frontal ia dengar dari Bu Santo. Walaupun hati Bu Alvi geram, namun ia menahannya.
"Bu Santo, saya mendidik Romi dengan segala kasih sayang saya. Saya juga menyekolahkannya tinggi agar berguna untuk masyarakat terutama untuk keluarga kecilnya. Jangan karena berpindah keyakinan anda menghina saya dan anak saya ya!"
"Masalah keyakinan adalah masalah hati, dan satu yang perlu Bu Santo garisbawahi, Romi tidak pindah karena Dina, tapi karena ia mantap dengan hatinya. Dengan pilihannya. Catat itu Bu, dan saya mendukung penuh keputusannya.
"Oh, saya gak menyangka, sungguh dangkal cara berpikir Anda Bu Alvi. Anda sudah...."
"Bu, sudah malu dilihat jemaah lain. Ayo pulang!" suara tegas Pak Santo sambil menarik istrinya menjauh. Bu Santo seperti masih mau bicara, tapi pak Santo tak memberinya kesempatan.
"Sudah, sudah. Yang bandel itu anak kita, malu lah Bu! introspeksi diri aja lah kita." ucap pak Santo lagi. Mereka telah sampai ditempat parkir, segera ia mendorong pelan istrinya yang masih tak terima menatap ke arah Bu Alvi. Begitu juga Bu Alvi, masih menatap ke arah Pak Santo dan Bu Santo.
"Enak aja bilang anak kita bandel. Itu karena si Yulia yang goda anak kita!" sentak Bu Santo pada suaminya. Pak Santi tak memperdulikannya dan mengitari mobil lalu masuk dan duduk didepan kemudi. Ia menutup pintu mobil dengan kasar, melampiaskan kekesalannya pada sang istri yang tidak melihat situasi.
Sementara itu, Romi yang masih sibuk didepan komputernya merasa frustasi. Ia membuat perbandingan pendapatan keuntungan bulan lalu dengan bulan ini, peningkatan omset naik cukup signifikan. Namun yang membuatnya frustasi adalah didalam layar komputer serasa wajah Yulia yang menjadi wallpapernya. Senyum dan gaya bicaranya menari nari di antara angka angka di layar.
"Aaaaaaa!" ia memekik tertahan. Sambil meremas rambutnya.
"Dulu rasanya sama Dina gak sedahsyat ini. Apa karena Dina lebih mudah kudapatkan dulu. Ia suka tersenyum malu malu. Tapi Yulia, yang ia lihat Yulia itu kadang terkesan pendiam, kadang murung. Tapi ternyata saat didekati judes dan galak juga. Romi teringat mereka kemarin yang terus berdebat. Ia juga terkesan menjaga jarak. Ia seperti.... mawar berduri. Indah, namun menusuk.
Ia lalu mengambil hape bermaksud melihat foto sang pujaan hati. Tersenyum sendiri saat melihat foto hasil curiannya saat Yulia bermain dengan Shila.
"Aku harus dapatkan kamu, Yulia. Harus." gumamnya lirih. Sesaat kemudian ia dikagetkan dengan teriakan nyaring dari ringtone ponselnya. Ibu is calling.
"Halo, Bu! Gimana udah mau pulang?" sesaat ia terdiam mendengar suara sang ibu di ponsel.
"Iya, iya. Aku kesana sekarang!" Dengan langkah tergesa ia keluar dari ruangannya sambil menyimpan ponsel dalam saku baju.
Brugg!
__ADS_1
"Aduh!!!"
Ia menabrak seseorang didepan ruangannya. Keduanya sama sama mengaduh dan meringis karena bahu mereka beradu.
"Andre, ngapain kamu ke sini?" tanya Romi penuh rasa curiga. Ia bingung, ia harus menjemput ibunya tapi ternyata ia mendapat tamu tak diundang.
"Aku ingin bicara berdua sama kamu, Rom!" Andre yang hanya memakai kaos lengan pendek dan celana kain itu bicara sambil menatap Romi. Kacamata yang bertengger di hidungnya membuat kesan mata Andre membelalak.
Ting!
Ah, sepertinya Romi punya ide.
"Eh, sebentar ya, kamu masuk dulu. Aku mau turun sebentar!" Andre mengangguk. Lalu masuk keruangan Romi. Dan Romi secepat kilat turun dari lantai dua.
"Yulia,, Yulia!" teriak Romi yang membuat karyawannya dan beberapa orang yang sedang belanja menoleh padanya. Tak lama Yulia muncul dengan terengah.
"I_iya b_bos!!"
"Yulia, aku minta tolong dong! Jemput ibu di depan church di jalan Mangga. Dan ini kuncinya. Tolong ya!" Yulia mengangguk dan menerima angsuran kunci motor dari Romi.
"Baik!" hanya itu jawaban Yulia dan berlalu dari hadapan Romi.
Romi segera naik lagi saat Yulia terlihat keluar toko, dan menaiki motornya.
"Tumben banget, ada apa Ndre!" Romi merasa waspada dengan kehadiran Andre yang tiba tiba setelah sekian lama. Semenjak ia menikah dengan Dina, Andre dan Romi jarang sekali berkomunikasi. Mungkin karena perbedaan yang mereka miliki.
\=\=\=\=\=\=\=
Kuharap masih pada setia membaca cerita receh ini ya.....
Love you dariku....
Othor receh...
Binti Ulfa....
__ADS_1