
Wahyu menatap wanita yang beberapa jam lalu telah sah menjadi pendamping hidupnya, wajah manis dengan hidung kecil dan mata bulat, beberapa bulan tinggal bersama baru kali ini ia bisa melihat dengan jelas dan dekat wajah istrinya. Karena wanita itu selalu menunduk tak membiarkan ia berlama lama menatap dirinya.
Perlahan ia memiringkan kepala setelah menengadahkan dagu Halimah, mendekatkan bibirnya dan sepertinya Imah pun siap menerima perlakuan Wahyu. Terbukti ia memejamkan mata, bibirnya yang agak tebal namun berisi dengan garis kecoklatan di bagian luar bibir nampak begitu menawan di mata Wahyu.
Ia melakukan penyatuan ringan selama beberapa saat, namun terasa kurang, hingga ia kembali melakukan penyatuan yang lebih intens dan liar. Hingga menimbulkan gairahnya naik. Namun saat ingat mereka belum melakukan ritual layaknya pengantin baru dan belum melaksanakan kewajiban isya, ia segera melepas penyatuannya. Sebelum kepala bawahnya menjadi liar tak terkendali.
Terlihat pipi Imah memerah saat Wahyu agak menjauhkan wajahnya. Dan menunduk lagi.
"Mandi dulu ya, diteruskan nanti setelah isya dan shalat dua rakaat. Mandi sama sama yuk!" ajak Wahyu pada istrinya setengah menggoda. Wajah merah itu semakin merona, seperti kepiting rebus. Dengan wajah yang masih menunduk namun dengan senyum malu mengembang, Imah menggelengkan kepala.
"Mmas duluan aja, saya mau membereskan make up dulu." Wahyu maklum, istrinya masih malu, ia pun mengangguk.
"Kalau begitu, tolong buatkan aku susu ya! kasih madu sama jahenya di geprek. Pakai gelas besar, biar tambah strong." ucap Wahyu terasa ambigu.
"Aku mau sayang sayangan sama istriku malam ini." imbuh Wahyu lagi Imah pun mengangguk malu tak berani protes. Dan sebelum pergi ke kamar mandi Wahyu melirik istrinya mengelap bibir memakai punggung tangannya.
Selesai mandi, susu madu jahe sudah tersedia di atas meja kamar. Imah sudah siap dengan handuknya ia gunakan sebagai kerudung dan membawa baju ganti langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Sembari menunggu Imah mandi, Wahyu mengenakan baju koko dan sarungnya, duduk di tepi ranjang dengan menyeruput susu jahe plus madu buatan istrinya.
Hmmmm, rasa hangat dan segar menjalar di tenggorokan Wahyu.
Imah telah selesai mandi, terlihat segar, mengenakan piyama kimono motif bunga yang baru di belinya beberapa hari lalu dan belum pernah di pakai. Wahyu tersenyum melihat penampilan istrinya, terlihat sensual. Andai saja tadi sudah membereskan kewajiban, ia pasti langsung merengkuhnya dalam pelukan.
"Ayo shalat dulu!" ajak Wahyu menyiapkan sajadah menghadap kiblat untuk dirinya dan juga untuk Imah. Wanita yang telah halal dan telah meringankan sebagian beban hidupnya, jadi ia bertekad akan sebisa mungkin membantunya, memanjakannya, ia tidak akan membebani sesuatu pekerjaan yang sekiranya ia bisa lakukan sendiri.
"Makasih, mas!"
Selesai mengerjakan isya berjamaah, mereka melakukan lagi shalat dua rakaat. Dan Wahyu berbalik menghadap Halimah di belakangnya.
Meraih ubun ubun wanita itu lalu menggumamkan doa.
Allahumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya. Allahummazuqnii minhum warzuqhum minni. Allahummajma' baynanaa maa jama'ta ila khairin, wa farriq baynanaa idza farraqta ilaa khairin.
Artinya: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami dalam kebaikan dan pisahkanlah kami dalam kebaikan.”
Dan di kecupnya ubun ubun itu. Lalu bangkit menuju ranjang dan rebahan diatasnya.
Imah yang gugup melepas mukena dan melipatnya cukup lama, membuat Wahyu melirik padanya.
"Imah...!" Imah menoleh.
"I_ iya, mas!!" entah mengapa rasa gugup tak bisa Imah sembunyikan. Wahyu menepuk bantal di sampingnya.
"Ayo sini! Sampai kapan kamu berdiri di situ?" Wahyu menahan tawa. Geli melihat istrinya yang malu malu.
"Apa mau di gendong?" buru buru Imah menggeleng dan merangsek mendekati ranjang.
__ADS_1
"Ayo sini!" menepuk lagi bantal di sampingnya.
Wahyu menelan ludah mencium aroma istrinya yang wangi, aroma sabun dan sampo. Hingga ia menyabarkan diri tak langsung menyerang istrinya.
"Mmm, Imah!"
"I_iya, mas!" kini tubuh mereka menempel satu sama lain, lebih tepatnya Wahyu yang merangsek kearah istrinya.
"Aku punya nama panggilan baru buat kamu, boleh?"
"Kenapa, mas? Nama aku kampungan ya? Mas malu kalau nama aku seperti itu. Kedengarannya gak keren gitu? kuno?" kali ini Imah bicara panjang lebar untuk pertama kalinya.
"Bukan!! bukan seperti itu." Wahyu mengibaskan tangannya.
" Kamu jangan tersinggung. Nama kamu bagus kok. Halimah. Artinya kan lemah lembut, berakal dan sabar."
"Ya, nama kamu menggambarkan sifat kamu yang lemah lembut, terlihat bagaimana cara kamu bisa mengasuh Rayyan dengan baik. Padahal ibu kandung aku pun tak bisa memperlakukan Rayyan sebaik kamu padanya."
"Cuma, aku mau kasih kamu nama kesayangan, yang gak sama dengan orang lain nyebut kamu. Jadi, cuma aku yang boleh panggil kamu dengan panggilan itu!"
"Memangnya mas Wahyu mau manggil aku apa?"
"Gimana kalau aku panggil kamu Lili? Diambil dari kosakata tengah nama kamu."
"Terlalu bagus, mas!"
Hehehe, nyontek dari mesin pencarian." Halimah tersipu merasa tersanjung seperti yang sudah sudah, Wahyu mampu melelehkan hatinya.
"Terserah mas saja, yang penting mas suka!" itu jawaban Imah yang di sukai Wahyu.
"Kamu tuh, Lili! Ini salah satu yang aku suka dari kamu, mengiyakan apa yang aku suka." Wahyu tersenyum mengekspresikan rasa senangnya.
"Sekarang saatnya kita cinta cintaan, ya!"
"Tadi katanya sayang sayangan, sekarang jadi cinta cintaan. Terus nanti ganti apa lagi?" protes Imah. Eh Lili.
"Di pikir nanti aja!" Wahyu sudah gak tahan untuk tidak menyentuh istrinya yang sedari tadi sudah ingin dilahapnya mentah mentah.
Ia memiringkan tubuh Imah menghadap dirinya, dan bibirnya meraih lalu melakukan penyatuan lagi dengan penuh gai rah. Kini tubuh mereka tak lagi miring saling berhadapan, namun berubah menindihnya.
Puas bermain dengan bibir dan seluruh wajah yang tak luput di absen oleh bibirnya, sekarang wajahnya turun ke leher sang istri. Menciptakan banyak tanda love bite merah di area itu, sambil membuka tali piyama yang dikenakan Imah.
Wahyu kemudian bangkit, lalu melepas semua penutup badannya tanpa kecuali dan membuangnya asal, membuat Imah menutupi mata dengan kedua tangannya merasa malu sendiri.
Lalu di susul membuang semua penutup badan istrinya hingga keduanya sama sama seperti bayi baru lahir.
Deru nafas Wahyu semakin cepat, melihat dua bukit dan lembah yang indah namun tak hijau di bawahnya, ingin menyusurinya tanpa ingin ada yang tertinggal dari sentuhan dirinya.
__ADS_1
Huuh! sungguh ciptaan indah dari Sang Pencipta dan baginya yang terindah saat ini adalah diri yang ada di bawahnya yang terdapat gua tempat kerisnya yang hampir karatan diasah dan bersarang.
Upsss, keris Wahyu gak punya kaki. Tapi seenaknya saja keluar masuk gua tempatnya bersarang.
Upppps! Skip aja ya!......kebablasan.
*****
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Maaf baru update....
Bener bener stuck.....
Ada saatnya gairah menulis dan ngehalu turun kayak jalanan di daerah tempat tonggalku, naik turun berkelok meliuk liuk.....
Terima kasih yang sudah pada nyumbang vote dan gift, like dan komen....
Tanpa kalian apalah aku....
Hanya sebutir debu....
Othor remahan rempeyek ini tahu kalau banyak sekali ribuan story lainnya yang sangat sangat bagus di apk ini, dari segi cerita, alur, penulisan....dan lain lain
Namun masih ada segelintir yang setia berikan vote nya buat story ini....
Othor jadi terhura....
Bener bener ngucapin terima kasih yang tak terkira....
Hanya doa yang bisa othor panjatkan agar reader semua di beri kesehatan dan rezeki yang melimpah ruah....
Dan maaf kalau alur ceritanya gak sesuai harapan.....
Hahaha...
Othor sendiri pun bingung....
Terkadang yang ada di otak apa... yang ditulis apa....
Gak sinkron antara otak dan jari....
Seperti ungkapan lain di bibir lain di hati.....
Dah segitu aja sedikit kata dari othor....
Love love....
__ADS_1
Maaf kalau jadi curhat....