Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 123


__ADS_3

###


"Mas, bangun mas. Habis subuh jangan tidur lagi. Gak baik buat kesehatan." Yulia mengguncang bahu Romi yang ketiduran di sofa depan televisi. Sehabis shalat subuh di masjid, Romi selonjoran sembari menonton televisi tapi nyatanya malah ditonton televisi. Ia tergeragap kaget karenanya.


"Apa sayang, ngantuk nih! Bentaaar aja!" pintanya membuka mata sedikit, lalu merem lagi.


"Dasar, kalau malem aja maunya melek terus, giliran udah pagi ngeluh ngantuk." gerutu Yulia duduk didekat kaki Romi yang menggeliatkan tubuh, lalu berbalik memunggungi, benar benar tak mau diganggu.


"Mas!"


"Hmmm, sebentar sayang, please! Tadi malem kan kurang tidur!" ucap Romi lagi dengan suara serak. Wajahnya ia tenggelamkan dibantal sofa.


" Sama aja, aku juga kurang tidur, gara gara kamu." Yulia agak berbisik suaranya, takut terdengar orang lain. Sang ibu sedang didepan rumah, berjalan jalan diatas kerikil yang katanya bisa meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh. Namun rupanya Romi dengan jelas mendengarnya dan menoleh.


"Gak sama lah, kamu kan terima enaknya dibawah. Beda sama aku diatas gerak terus. Maju mundur cantik, goyang kiri goyang kanan. Eh, kamunya malah kayak Kang parkir, terus mas, terus...awww sakit, sayang!" belum sempat Romi menuntaskan ucapannya Yulia sudah melayangkan cubitan kepiting di pahanya yang tertutup sarung. Namun sejurus kemudian tersenyum tanpa suara melihat sang istri melotot. Sambil mengelus bagian tubuh yang kena cubitan tadi.


"Mana ada, kapan aku bilang kek gitu?" ucapnya tak terima.


"Ampun deh, nyerah aku sayang!" ucap Romi terbahak, menghindar dari tangan istrinya yang mau mencubit lagi dan melihat wajah istrinya yang merona seperti kepiting rebus dengan bibir memberengut.


"Rasain, siapa suruh ngomong mesum."


"Lah, kamu kan mulai? Dan itu kenyataannya. Masa gak ingat?"


"Nggak. Mengada Ngada aja."


"Udah, katanya mau tidur, malah ngoceh." sekali lagi memukul paha suaminya, akan memukul lagi tapi tangannya ditangkap dan digenggam dengan tangan besar Romi. Didekatkannya tangan itu oleh Romi lalu dikecupnya penuh penghayatan.


" Udah udah, setengah jam lagi aku bangunin mas harus mau. Kemarin kan kamu janjiin anak anak lari pagi, ntar kesiangan lagi. Shila bisa mogok seharian nanti." ujar Yulia mengingatkan mengalihkan pembicaraan tak mau baper dengan perlakuan suami.


"Iya, aku inget kok. Sekarang mau merem lagi ya, sebentar. Jangan ganggu dulu." Romi melepas tangan istrinya, lalu Yuliapun mengalah dan pergi dari sana menuju dapur. Usia kehamilannya yang sudah menginjak 6 bulan membuatnya sudah tak leluasa lagi beraktivitas.


"Mak Minah, coba aku bisa bantu Mak Minah ngapain?" tanya Yulia pada asisten rumah tangganya yang sedang berjibaku membuatkan sarapan untuk mereka sekeluarga.


"Eh, mbak Yulia duduk aja, gak usah ngapa ngapain. Udah tugasnya Mak. Nanti bukan cuma saya yang kena marah mas Romi, tapi mbak Yulia juga." tolak Mak Minah, sebagai asisten rumahtangga ia tak enak hati jika Yulia membantunya, apalagi dengan perut besar seperti sekarang.


"Tapi aku tuh pengen melakukan sesuatu gitu Mak. Boring ah, cuman duduk duduk doang." gerutu Yulia manyun memperhatikan apa yang dilakukan Mak Minah.


"Apa mbak? Boring? Makanan apaan tuh?" tanya Mak Minah dengan polos, sembari mengiris sawi. Pagi ini menunya adalah capcay, tempe goreng dan ayam goreng, serta kerupuk yang tak pernah absen di meja makan. Yulia selalu menyisipkan menu sayur untuk keluarga kecilnya. Anak anak dikenalkan dengan sayur sejak dini, karena sayur adalah sumber nutrisi yang menyehatkan.

__ADS_1


"Hahaha, Mak Minah. Kamu kok lucu sih. Mana ada makanan yang namanya boring. Masa bener bener gak tahu boring itu apa?"


"Hehe, Mak Minah kan dari kampung, sekolah juga cuman tamat SMP mbak. Gak pernah pergi kemana mana selain kerja di rumah ini terus pulang, ngurus suami sama anak. Paginya kesini lagi. Gak sempat sering sering ngobrol, apalagi sampai gibah sama tetangga juga. Digibahin mah, sering." ujar Mak Minah yang ditelinga Yulia seperti sebuah curhatan.


"Ehehe, maaf ya Mak! Mak juga sih, kalau hari Minggu jarang mau libur juga. Kan waktunya tersita buat kerja. Jadi jarang istirahat."


"Ya gak papa, mbak. Mau gimana lagi, Mak masih ada tanggungan anak sekolah. Suami juga udah gak bisa kerja. Mak sih maunya anak anak Mak jangan sampai ada yang cuman jadi pembantu kayak emak. Mak berharap, dengan menyekolahkan mereka sampai perguruan tinggi, biar hidup mereka kelak lebih baik dari Mak dan suami Mak."


Suami Mak Minah terkena stroke, dan hanya bisa duduk di kursi roda, Sebagai gantinya, ia yang banting tulang menjadi tulang punggung keluarga membiayai ketiga anak anaknya. Yang sulung laki laki, tamat SMA. Sebenarnya Mak Minah memintanya untuk kuliah, agar ia bisa kerja kantoran yang bagi Mak Minah adalah pekerjaan wah dan enak. Tapi anak sulungnya itu tidak mau merepotkan dan menjadi beban ibunya lagi. Apalagi ayahnya juga tak bisa apa-apa. Ia memilih bekerja serabutan, untuk memenuhi kebutuhannya, dan sebagian lagi ia berikan pada sang ibu untuk membiayai pengobatan Ayah atau biaya sekolah kedua adiknya.


Yulia menjadi tak enak hati sendiri, ia tahu persis bagaimana kehidupan Mak Minah dan keluarganya. Walaupun Romi sedari dulu juga tiap bulan selalu memberikan tunjangan berupa sembako dan kebutuhan pokok lainnya diluar gaji tetap Mak Minah. Tentu masih saja pas pasan untuk Mak Minah dan keluarganya.


"Maaf ya, Mak. Yulia gak ada maksud menyinggung perasaan Mak Minah."


"Santai aja kali, mbak. Mak gak kesinggung kok!" mulai mengiris iris bawang merah dan bawang putih.


"Jadi gini, boring itu dari bahasa Inggris, kata dasarnya adalah bore. Tulisannya b- o - r dan e yang artinya adalah bosan. Jadi boring itu artinya bosan, jenuh, jemu, dsb, Mak!" Yulia menjelaskan.


"Tapi bisa juga boring berarti salah satu komponen mesin sepeda motor yang berbentuk silinder atau kayak tabung gitu, loh. Menurut Mbah gugel fungsi dari boring motor adalah sebagai wadah piston untuk melakukan aktivitas pembakaran...."


"Wis wis wis, mbak Yulia ki ngomong opo to Yo! Gak mudeng aku. Tambah mumet. Wis mikir opo sing dimasak saiki wae. Ora mikir boring boringan." Yulia terbahak-bahak menanggapi omongan Mak Minah, hingga perutnya bergerak gerak dan bahunya berguncang.


Mak Minah sudah meletakkan wajan anti lengket berukuran sedang di atas kompor, menyalakannya, lalu menuangkan sedikit minyak goreng untuk menumis bumbu terlebih dahulu.


"Ah nggak kok mas. Cuma ngobrol biasa aja." kilah Yulia, Mak Minah cuma tersenyum melihat kemesraan pasangan itu, tanpa menoleh.


Romi mengecup ubun ubun sang istri sembari tangan satunya ia gunakan mengelus perut yang membuncit itu.


"Hei..!" tiba tiba Romi berseru.


"Kamu tendang Ayah ya? Awas ya nanti, kalau main sepakbola sama ayah pasti ayah bakalan gak menang lawan kamu." Romi jongkok didepan sang istrinya sembari mengelus perutnya.


" Kelihatannya kamu anak Ayah yang bakalan menyaingi dan mewarisi kegantengannya Ayah, nih!" jiwa narsis Romi menggeliat sambil terus mengelus perut sang istri, begitu yakin anak didalam perut adalah anak laki laki seperti keinginannya saat ini, bahkan menyingkap atasan piyamanya untuk melihat bagaimana pergerakan dan polah sang bayi didalam perut.


"Waah, itu sampai perut kamu kayak gitu, kayaknya ditendang kiri-kanan. Gak ngilukah, sayang?" Romi meringis membayangkan, di dalam perut wanita ada makhluk lain yang namanya bayi, lalu bayi itu bergerak gerak aktif seperti yang ia lihat saat ini.


"Sedikit sih, mas. Nanti semakin gede, semakin ukuran janin lebih besar, akan semakin aktif juga. Dulu waktu hamil Kia juga gitu, kan?" Romi diam saja, masih mengelus bagian perut Yulia yang menonjol dikarenakan bayinya.


"Ayah, ayo katanya mau ngajak jalan jalan!" Kia dan Shila keluar kamar dalam keadaan sudah rapi memakai celana training, dan kaos lengan pendek, sedang sang adik memakai celana leging mengalihkan perhatian keduanya. Mereka telah memakai sepatu dan sudah siap untuk joging di hari Minggu ini. Romi segera berdiri.

__ADS_1


"Oiya, ayah hampir lupa. Yuk, ayah ganti baju dulu. Kamu gak ikut, sayang?" bertanya pada sang istri.


"Nggak, aku jalan jalan di sekitar rumah aja. Sana cepat ganti baju mas, anak anak udah lama nunggu loh, nanti kesiangan juga." Romi melesat ke dalam kamar, setelah sebelumnya mengecup perut dan mengatakan seolah bayinya sudah bisa diajak bicara, bahwa tak boleh menyusahkan sang ibu. Tak butuh waktu lama, ia keluar lagi dengan memakai celana training dan kaos seperti Shila.


"Let's go! Mari kita joging!" kedua anak dengan semangat mengikuti Romi.


"Hati hati mas."


"Kakak, jaga adeknya ya!"


"Iya, bunda!" jawab Shila dan Romi kompak.


"Iya, Unda..les go....!" Kia menirukan ucapan kakak dan Ayahnya.


Mereka berlari lari kecil disepanjang jalan menuju lapangan. Di Minggu pagi seperti ini banyak orang berlalu lalang jalan kaki, berlari kecil atau bersepeda.


"Kia capek gak? Kalau capek Ayah gendong deh!"


Gadis cilik nan imut itu menggeleng saat ayahnya mengangsurkan tangan untuk menggendongnya.


"Yaudah, nanti kalau capek bilang Ayah ya?" ia mengangguk dengan tangan digandeng sang Ayah.


"Duuuh, mas Romi. Buntutnya udah hampir tiga tapi kok masih keren aja, nih!" Romi menoleh saat seorang perempuan yang juga sedang joging menyapa sekaligus memujinya. Bibir Romi menyunggingkan senyum


"Tua tua keladi, makin tua makin menjadi, hihihi...makin menjadi...pesonanya...maksudnya...!" wanita itu menjajari langkah Romi.


"Itu sih aku yakin karena servisnya mbak Yulia memuaskan, yanggak?" wanita satunya lagi nyelutuk. Pakaian mereka yang seksi dengan mengenakan kaos olahraga lengan pendek dan leging menampilkan lekuk tubuhnya tak membuat Romi lama lama menoleh pada mereka.


"Apaan sih, kalian? Walaupun tebakannya bener ya gak usah diperjelas kali! Jadi malu kan, saya." ujar Romi menanggapi gurauan mereka.


"Ahaha, tebakanku benar, kan. Laki laki yang puas diatas tempat tidur, mukanya kelihatan sumringah dan awet muda, mudah senyum. Mas Romi beda banget sama waktu dulu belum nikah sama mbak Yulia. Perubahannya 180 derajat. Ya nggak Sus?" kedua wanita itu membandingkan Romi yang dulu dengan Romi yang sekarang. Wanita dipanggil Sus mengiyakan dengan mengangguk dan terus mengimbangi langkah Romi yang pelan karena Kia belum mau digendong.


"Terserah kalian aja, deh! Yang jelas, aku ya gini aja dari dulu, gak merasa berubah. Mungkin dulu karena single parent, mikirin semuanya sendirian, mulai dari mikirin anak, toko, rumah, jadi ya gitu deh. Keliatan bermuka serius terus." ucap Romi tanpa menoleh dan terus berjalan.


"Ayah, gak usah tanggapin mereka!" Shila memasang muka garang. menerobos tempat diantara Ayahnya dan wanita bernama Susi dan temannya. Kedua wanita itu memang sengaja mengajak becanda Romi, untuk menggoda Shila yang biasanya langsung marah saat ayahnya digoda orang lain.


"Aku bilangin Bunda, biar ayah tau rasa kalau Bunda marah!" ancam Shila sambil merengut tak suka.


"Weeleeh, ada satpam kecil nih. Jadi takut nih, godain Ayahnya. Ayo kita lari Sus....!" kedua wanita itu terbahak bahak sambil berlari mendahului Romi, Kia dan Shila.

__ADS_1


"Ayah, kenapa ditanggepi sih, Tante Tante kayak gitu?"


"Shila gak suka!" bergeser lagi ke sebelah kiri Romi saat kedua wanita telah jauh berlari didepan.


__ADS_2