Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 36. Nostalgia dengan cerita sebelah


__ADS_3

****


Sebelum masuk rumah mereka telah membersihkan diri. Yang bakal mereka kunjungi adalah bayi, jadi mereka harus steril apalagi habis perjalanan jauh dari luar kota.


Yemima, nama adik Romi, tersenyum ramah saat menyalami tamu tamunya.


"Bang, apa ini calon kakak ipar ku?" tanya Mima saat bersalaman dengan Yulia.


"Namanya Yulia, dan ini ponakannya, Rima. Doakan saja dek, semoga semua lancar terkendali!" ucap Romi melirik Yulia yang bersemu merah pipinya.


"Kenalkan mbak! Aku Yemima, panggil aja Mima, mbak Yulia. Silakan duduk mbak. Ayo, anggap aja rumah sendiri."


"Iya, makasih Mima!" balas Yuli.


"Mana adek bayinya, Tante Mima?" seru Shila tak sabar melihat adiknya yang baru lahir.


"Sabar, sayang. Tapi kalian harus janji gak boleh berisik ya? nanti adek bayi rewel!" Shila pun mengangguk antusias.


"Anak pinter, ayo kita ke kamar sana. Adek bayi masih tidur." Mima menjawil pipi keponakannya dengan gemas, lalu menggandeng keduanya menuju kamar. Yulia dan Romi mengikuti dibelakang mereka.


Rima dan Shila memandang bayi mungil itu dengan takjub. Kesemua bagian wajahnya begitu menggemaskan. Shila berjingkrak jingkrak saking senangnya.


"Bunda! Ayah, nanti apa Shila juga punya adek seperti ini 'kan? Lucu sekali Bunda!" menyentuh pipi merah bayi.


"Namanya baby Michael sayang, kak Shila boleh panggil baby Mike. Sekarang Shila sudah jadi kakak ya!"


ucapan Tante Mima membuat Shila larut dalam rasa bahagia.


"Shila, Shila berisik sekali. Nenek jadi gak bisa istirahat!" ucap Bu Alvi menegur cucunya yang gak mau diam.


Siang itu mereka beristirahat sambil ngobrol, lalu makan dan terdengarlah adzan Zuhur.


"Yul, kamu kalau mau shalat tanya aja sama bibi. Dia juga sekeyakinan sama kita kok, pasti punya mukena sama tempat shalat. Aku mau ke mushala dulu, shalat di sana." ucap Romi yang telah berganti sarung dengan atasan kemeja putih serta berpeci putih pula. Sesaat Yulia terpana dengan tampilan Romi, terlihat beda. Dan saat sadar ia segera mengangguk, Romi tersenyum lebar didepannya.


"Kenapa?" tanyanya masih sambil tersenyum.


"Eh, eng_enggak. Ta_ tadi aku pikir siapa. Pak Romi beda banget pake pakaian seperti itu!" daripada disangka yang tidak tidak lebih baik mengakui dengan sedikit rasa malu.

__ADS_1


"Kenapa? lebih ganteng gitu?" tanyanya lagi menggoda Yulia yang bersemu merah.


"Ih, siapa bilang. Ya udah, aku tanya bibi aja pinjam mukenanya. Tapi saya mau ikut pak Romi ke mushala aja, gak enak hati kalau shalat disini." Mima yang mendengar percakapan mereka pun lalu mengambil inisiatif untuk mengambilkan mukena.


"Mbak Yulia, aku ada kok mukena, biasanya sih aku simpan jika ada saudara yang mau pake, tinggal ambilin." ucap Mima sambil menuju kamarnya.


Yulia menatap Romi mengerutkan kening.


Betapa rasa toleransi keluarga ini cukup baik. Mima sampai menyediakan mukena jika ada keluarganya yang muslim menginap, atau sekedar pinjam tempat untuk shalat. Tak lama Mima datang membawa mukena berwarna putih tulang beserta sajadah didalam sebuah tas.


"Makasih Mima, aku pakai dulu ya!" Mima mengangguk tersenyum.


Jarak mushala hanya beberapa puluh meter dari rumah Mima. Mereka berjalan berempat bersama Shila dan Rima, dan saat itu seorang ibu juga sepertinya hendak pergi ke mushala.


"Mbak sama masnya mau ke mushala juga ya?" tanya ibu itu menyalami Yulia.


"Iya, Bu!"


"Waah, kalian pasangan yang serasi. Anaknya juga cantik cantik. Eh, kok kayaknya seumuran ya mereka, tapi wajahnya beda. Apa mereka kembar tak identik?" tanya ibu itu setelan mengamati kedua anak yang bergandengan tangan.


"Ohh, pantesan beda. Terus kayaknya saya belum pernah lihat kalian berdua, penghuni baru komplek ini, atau tamu?" ibu itu masih saja ingin tahu tentang Romi dan Yulia.


"Kami tamu Bu! Dia kakanya Yemima, yang rumahnya cuma beda dua rumah dari rumah ibu tadi!" menunjukkan jari pada Romi, yang telah memasuki mushala. Ibu itu terlihat mengerutkan kening heran.


"Yemima, yang baru melahirkan itu? Masya Alloh, ibu gak nyangka kalau keluarganya muslim!" rasa terkejut sangat terlihat di wajahnya.


"Cuma dia, keluarganya yang beda Bu! Lainnya setahu saya masih sama dengan Mima!" ibu itu mengangguk mengerti dan setelah itupun diam. Karena jamaah segera di mulai.


Jam dua siang mereka berpamitan pulang pada Mima dan Christian, suaminya Mima serta Bu Alvi yang akan tinggal selama dua minggu disitu.


Selama perjalanan pulang, tak terdengar suara anak anak seperti tadi pagi. Rupanya keduanya tertidur dengan saling menyenderkan kepala dan bahu.


"Yul, nanti kita gak usah pakai acara tunangan segala. Langsung nikah aja ya, masa harus nunggu lagi sih! udah terlalu lama tahu aku nunggu kamu. Takut khilaf aja, udah terlalu lama nganggur!" gurau Romi langsung pada intinya.


Yulia menoleh heran.


"Apaan sih pak Romi. Memang bapak yakin saya bakal terima lamarannya bapak?"

__ADS_1


Saya belum ada firasat atau mimpi apapun dari semalam, kenapa ya? Walaupun gak bisa dipungkiri, saya merasa nyaman dan bahagia dekat dengan bapak! Yulia.


"Harus yakin dong! Kalau gak yakin mana mungkin aku langsung ngelamar kamu kemarin. Bukan main main hanya bilang i love you, terus jalan kesana jalan kesini, kayak orang pacaran terus kebablasan. Memang kamu mau seperti itu?" ucap Romi yang hanya melirik sebentar, ia harus fokus nyetir.


"Ya, nggak sih pak!"


Kalau gak butuh duitnya, saya masih pengin dan betah sendiri. Andai aku bisa lari, lebih baik aku lari, pergi ke luar kota dan bekerja buat ngumpulin duit. Aku masih ada sedikit rasa tak percaya diri jika cepat menikah. Tapi itu gak mungkin, aku gak mungkin meninggalkan ibu yang sakit sakitan. Aku juga terlanjur sayang sama Shila. Eh!


"Yul, kok ngelamun aja?" Yulia geragapan. Matanya mengerjap.


"Eh, apa pak?"


"Kita mampir dulu disini!" Yulia melihat mereka telah parkir di depan toko kue.


"Tapi anak anak anak masih tidur, Pak?" Yulia menengok ke belakang. Kedua anak masih tidur pulas.


"Apa perlu di bangunkan?" tanya Yulia lagi.


"Eh, gak usah. Kita duduk di tempat yang kita bisa ngawasin mereka kalau mereka keluar." Yulia mengangguk, lalu turun dari mobil bersama Romi berdampingan.


"Assalamu'alaikum, Tante Nisa! Wuuuah, tokonya makin rame aja!" sapa Romi pada ibu sang pemilik toko.


"Waalaikum salam. Siapa ya ini, Tante kok lupa!" ucap Tante itu sambil tertawa dan memukul pelan lengan Romi dengan nampan yang ia pegang. Romi pun juga tertawa, dan mereka bersalaman bergantian dengan Yulia.


"Kenalin Tante, ini teman aku. Namanya Yulia. ia lalu berbisik di telinga Tante Nisa namun masih bisa di dengar Yulia.


"Calon teman tidur aku, Tante! Tulang rusuk aku!" Yulia yang mendengarnya merona pipinya, menunduk sambil tersenyum malu.


"Oiya kah? Alhamdulillah kalau begitu, akhirnya kamu Rom, laku juga hehehe...!" wanita setengah baya menatap Yulia lembut dan tersenyum ramah.


"Laku dong, Tan! Hanya aku aja yang belum sreg. Kalau sama yang ini sih, Lahir batin cocok galicok, saya! Mantap deh pokoknya." mereka masih saja guyon berdua.


"Kamu itu gayanya, Rom...Romi..! Ayo, duduk dulu kalian!"


"Eh, kamu gak bawa anak kamu? Tega ya, padahal Tante lama gak ketemu sama cucu Tante!" ibu itu bersungut sungut. Kini mereka duduk bertiga di bagian depan toko, hingga Romi bisa mengawasi dengan leluasa jika anaknya keluar dari mobil.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2