Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 94


__ADS_3

*****


"Haii! tepukan lembut di bahu dan sapaan Andre mengejutkan Yesi yang sedang berselancar dengan benda pipihnya.


"Kamu lagi?" Yesi memutar bola matanya. Semalam mereka pulang dating jam sepuluh malam, sekarang orangnya sudah ada lagi didepan mata. Yesi melihat jam tangannya.


Jam sembilan pagi.


"Ngapain lagi elu kesini, masih belum puas juga maksa aku jalan sampai jam sepuluh malam?" Tadi malam mereka nonton di bioskop, makan malam dan juga cangkrukan diatas kap mobil sambil berbincang di tepi pantai.


"Elleh, bilangnya dipaksa, tapi menikmati juga, diajak jalan jalan," cibir Andre.


"Entah kenapa, sejam saja gak melihat kamu, rasanya sebulan. Pengen terus deket kamu sambil menatap wajah di depanku ini!" Andre yang duduk dihadapan Yesi tanpa diminta menopang dagu, mendekatkan wajahnya.


"Ish, gombalan elu gak mempan tauk!" mendorong wajah Andre biar mundur. Bukannya marah, Andre malah terkekeh.


"Elu tahu gue disini? Main nyelonong masuk aja!" Ruang yang ditempati mereka berdua saat ini adalah privat room. Jadi, tak sembarang orang bisa masuk seenaknya. Apalagi jika sudah dibooking.


"Mamamu yang kasih tau, dan suruh aku langsung masuk kesini! Baik banget kan Mamamu! Tau aja aku kangen sama anaknya!" untuk kedua kalinya Yesi memutar bola matanya.


"Aku tadi malam gak jadi pulang, males! Aku menginap di hotel. Aku mampir ini tadi mau pulang sekarang. Sekalian... ngajak kamu!" Yesi tersenyum sinis.


"Pede amat, kalau gue mau elu ajak pulang?"


"Ya iyalah, kali ini aku akan maju terus pantang mundur, kamu tolak seribu kali pun aku akan datang terus, sampai kamu mau terima!" Andre menaikkan alisnya.


"Eh, nak Andre sampai sini lagi?" kali ini Ayah Yesi tiba tiba nongol dari balik pintu.


"Iya, Om! Om, Andre mo minta izin nih! Boleh nggak kalau saya ngajak Yesi ke tempat saya? Palingan se jam perjalanan, Om. Nanti sore Andre anter pulang Yesinya!"


"Boleh, boleh! Kenapa enggak? Yesi jarang nyantai. Ini kesempatan kamu rehat Yesi, mumpung ada yang ngajak. Refreshing sana!" perintah Pak Wibisana pada anaknya.


"Setahu Ayah, tempat nak Andre tinggal itu ada taman hutan Pinus, ya? Ada juga tempat wisata air terjunnya. Ayah aja pengen kesana belum keturutan!"


"Kalau gitu, Ayah aja yang ikut Andre. Yesi gak minat, Yah!"


"Eeeh, kamu ini gimana sih, Yesi. Jangan buang kesempatan untuk menikmati hidup. Ayah setuju setuju aja kalau kalian makin dekat. Sama sama single kan? Sapa tahu jodoh, Yes! Ayah sarankan kamu gak judes judes gitu sama nak Andre. Ngejauhin jodoh kamu sendiri, loh!" Yesi mendengus.


"Ya udah sana! Siap siap keburu siang juga!" titah sang Ayah. Yesi pun akhirnya berdiri diikuti Andre.


"Aku ogah ya, kalau nggak karena Ayah atau Mama! jadi jangan ge er kamu." masih saja menyanggah, dan berbicara judes dengan Andre.


"Suka suka hati akulah!" sanggah Andre. Sang Ayah yang mendengar gerutuan Yesi hanya menggelengkan kepala.


"Anak itu memang keras kepala! Lihat, sembilan tahun dia ngarepin lelaki yang gak punya perasaan sama dia, dan endingnya, kecewa." Andre hanya tersenyum menanggapi gerutu Ayah Yesi. Menatap Yesi yang naik ke lantai dua untuk mengambil tasnya.

__ADS_1


"Dia itu gak ngaca dari pengalamannya dulu, duh! Punya anak satu aja, bikin pusing. Om sama Tante itu, sudah pingin banget nimang cucu! Eh.. dianya malah santai santai aja."


"Gak kepingin seperti teman temannya yang udah pada punya anak." keluh Ayah Yesi.


"Cinta memang gak bisa dipaksakan, Om!"


"Mungkin Yesi memang belum nemu pasangan yang sreg!"


****


"Ma, Andre ngajak pergi ke tempat dia buka klinik, boleh ya Ma!" Yesi bertemu mamanya saat mau masuk ke kamarnya. Sang Mama membawa kudapan berupa puding jagung manis yang berwarna kuning dan menarik hati Yesi untuk mencicipi sedikit.


"Nanti aku dibagi ya, Ma! Kasih di kulkas, entar palingan sore aku udah balik!" seru Yesi setelah melahap dua suap puding.


*****


"Kitik kitik kitik!


Kak Shila menggelitiki telapak kaki adiknya,setelah pulang sekolah tadi, ia langsung menuju kamarnya, mengganti baju dan mencuci tangan kaki dan wajahnya terlebih dulu sebelum mendekati sang adik diruang televisi bersama nenek Kanti.


"Eeh, kakak sudah makan belum?" tegur Bu Kanti.


"Sudah, Nek! kan tadi Shila bawa bekal, dirumah juga udah sarapan. Jadi Shila udah makan dua kali, Nek!" jelas Shila masih terus memperhatikan adiknya.


"Eh, iya ya! Terus udah cuci tangan belum? Kan kalau mau nyentuh adek harus bersih dulu!" nenek Kanti menggoda Shila.


"Ah, iya ya, Shila udah wangi tangannya. Ya udah, sana main sama adek!" Nenek Kanti akhirnya diam sambil menonton televisi, sambil sesekali melirik mengawasi kedua bocah itu.


Baby Kia nampak senang bersama kakaknya. Terbukti dengan tawanya yang kencang dan kaki serta tangannya terus aktif bergerak.


Dan tiba tiba ada aroma yang menusuk di Indra penciuman Shila dan juga Bu Kanti.


"Uuhhm, Nenek kentut ya?" tuduh Shila sambil menutup hidungnya.


"Enggak, nenek kira malah kamu yang kentut?"


"Enggak kok!" karena mendapat jawaban dari Shila bahwa dirinya tak mengeluarkan gas amonia, Bu Kanti mendekati baby Kia dan mengangkat kedua kakinya. Lalu Bu Kanti tertawa.


"Ternyata adikmu yang eek, Shila. Coba panggilkan Bunda sana, biar dibersihin!" Shila mengangguk patuh, dan memanggil Bunda Yulia yang sedang melipat baju baby.


"Bunda, adik eek!" serunya didepan pintu kamar yang sedikit terbuka.


"Oh iya, ya ampun! Bunda lupa, tadi Pampers punya adik habis. Duuh, mana masih jam segini! Ayahmu baru nanti sore pulangnya!" meletakkan baju bayi diatas sofa. Lalu keluar mendekati baby Kia.


"Pampersnya habis, Bu! Biar dipakein popok kain aja, ya!"

__ADS_1


"Terserah kamu, Yul! Dulu waktu kamu sama Angga kecil, kamu juga cuman ibu pakein popok kain biasa. Tau sendiri lah, daripada buat beli Pampers dulu lebih baik buat beli beras dan kebutuhan yang lebih mendesak lainnya."


"Kamu pakai pampers hanya waktu mau pergi jauh!" ucap ibu mengenang masa kecil Yulia. Yulia tersenyum dan mengelus pundak sang ibu. Ia tahu kehidupan mereka di masa lalu tidaklah mudah.


Yulia sudah membersihkan bekas BAB baby Kia, lalu memakaikan popoknya.


"Bu, habis ini Yulia mau ke toko dulu, ambil Pampers. Nunggu mas Romi nanti sore kelamaan." Yulia memasang perlak diatas kasur baby Kia, dan melapisinya dengan kain.


"Iya, biar ibu sama Shila yang jaga Zaskia!"


Maka meluncurlah Yulia dengan Honda Forza nya menuju swalayan. Hanya butuh waktu sepuluh menit, ia sampai di sana.


"Hai Fani, assalamu'alaikum!" sapa Yulia melihat Fani yang sibuk dengan laptopnya. Didepannya ada dua orang antre membayar di kasir.


"Waalaikum salam. Mbak Yul, tumben kemari! Dah lama loh, sejak lahiran kayaknya baru kali ini deh!"


Yulia tertawa tanpa suara menanggapi.


"Mas Romi ada diatas?" Fani dan Lasmi saling pandang.


"Sepertinya ada tadi, gak liat dia keluar!"


"Ya udah, aku naik dulu!" dengan ragu Fani mengangguk.


Sesampainya didepan pintu yang terbuka setengah, ia mendengar percakapan suaminya dengan seorang wanita.


"Sungguh mas Romi, aku butuh kerjaan banget. Terima aku jadi karyawan kamu ya? Mantan suamiku gak ngasih nafkah sepadan, sangat kurang buat keperluan sehari hari aku dan Dion."


"Kamu gak kasian apa sama keponakannya mbak Dina? Keponakan mbak Dina kan keponakan kami juga!"


"Assalamu'alaikum!" Yulia nyelonong masuk ke dalam ruangan. Romi kaget melihat istrinya berjalan kearahnya dengan tatapan tajam. Sedang disampingnya kini ada Dini, adiknya Dina, almarhumah istrinya yang mempunyai sifat 180 derajat berbeda dari Dina. Walau wajah mereka mirip.


******


Haiii, semangat hari senin yah, teman teman dunia onlen.


Jangan lupa bahagia, Oiya...


Jangan lupa juga ritualnya...


Kasih bunga mawar yang indah buat othor dong.


Hhuuuhuu, gak maksa tapi ya, seikhlasnya.


Kalau ikhlasnya dua cangkir kopi juga tak apa, biar othor betah melek. Lambung othor kuat kok buat minum kopinya hehehe ..

__ADS_1


Ngareppp....


__ADS_2