Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 41.


__ADS_3

*****


Yuli dan Shila berpelukan, menumpahkan perasaan bahagia. Sebentar lagi mereka benar benar menjadi bunda dan anak. Walau begitu Yulia merasa pesimis bisa mengandung dan melahirkan buah hatinya nanti jika menikah dengan Romi, namun ia bersyukur Romi mau menerima kekurangannya andai ia benar benar tak bisa punya anak dengannya nanti. Ia juga bersyukur Shila bisa mengobati kerinduannya akan hadirnya seorang anak yang diidam idamkan oleh hampir semua wanita yang menikah.


Sementara itu di lokasi yang sama namun di tempat yang berbeda, seorang laki laki tengah menangisi keadaan istrinya yang kritis setelah melahirkan secara sesar. Sang istri mengalami pre-eklampsia dan mengalami perdarahan hebat setelahnya. Pada awalnya sang istri yang ingin melahirkan normal itu, pada trimester ketiga tensinya terus naik, ia juga mengalami tekanan batin, semenjak ia tahu sang suami sebelumnya telah menikah dan berpisah dengan istrinya secara tidak baik baik.


Ya, Wahyu yang beristri Wida, jadi sering ribut dengan ibunya. karena di anggap sebagai biang kerok dari permasalahan yang ada.


Sang ibu bagaikan ahli marketing, berhasil memperdaya dan merayu Wida untuk mau menikah dengan anaknya, Wahyu, yang tanpa Wida ketahui telah menikah. Dulu sebelum pernikahan yang lama terbongkar, hubungan mereka harmonis. Namun rasa kecewa tidak bisa Wida sembunyikan, karena sang istri merasa di bohongi dengan semua janji manis ibu mertuanya, apalagi terhadap suaminya. Ia benar benar kecewa. Mereka berdua telah membohonginya mentah mentah waktu itu.


"Kenapa ibu sama mas Wahyu tega bohongi saya? Apa salah saya Bu! Kenapa ibu bilang mas Wahyu belum pernah menikah?" ucap Wida kala itu setelah semuanya terbongkar.


"Apa maksudmu Wida? ibu tak mengerti!" jawab ibu Wahyu, pura pura tak mengerti namun dalam otaknya berpikir bagaimana caranya ia dan Wahyu bisa terselamatkan dari kemarahan Wida.


"Ibu bohong tentang mas Wahyu yang belum pernah menikah. Mengapa Bu! Ibu tahu? Saya kecewa, benar benar kecewa sama ibu! juga sama mas Wahyu. Kita sama sama wanita, harusnya ibu lebih peka tentang perasaan sesama wanita, Bu!"


"Wida, kamu jangan kurang ajar, ya! Saya melakukan ini, karena Yulia itu bukan perempuan baik baik. Ibu tahu ia sering jalan dengan laki laki lain selagi menjadi istri Wahyu. Makanya ibu diam saja, tapi lama lama, mana mungkin ibu tega, anak ibu diduain kayak gitu. Dan lagi pula, ibu gak suka dari awal Wahyu ngenalin sama ibu."


" Dulu, ibu terpaksa menerima dia menjadi menantu ibu, karena Wahyu ngancam saya dia bakal pergi dari rumah ini, kalau ibu gak ngerestuin dia. Apa boleh buat, ibu terpaksa Wida. Tapi, lama lama ibu juga gak tahan, mereka tak juga memberikan aku cucu yang aku nantikan."


"Dan saat cek ke dokter, ia ternyata mandul. Ya, ibu gak mau dong, anak ibu satu satunya ini, gak punya keturunan. Makanya ibu ngenalin Wahyu ke kamu diam diam, dan menikahkan kalian juga diam diam. Dan ternyata benarkan, Wahyu bisa punya anak dengan kamu, sedang sama dia tiga tahun lebih, ia tak juga hamil karena ya itu, dia menang mandul!" cerita ibu Wahyu dengan banyak kebohongan. Yang jelas, ia tidak mau di salahkan atas kandasnya rumah tangga Yuli dan Wahyu dulu. Padahal jelas jelas dia adalah dalang di balik semuanya.


"Tapi Bu, tetap aja aku tanpa sengaja udah nyakitin sesama perempuan. Kok Ibu tega ya! Coba ibu pikir, gimana kalau ibu ada di posisi mantan istrinya mas Wahyu, apa ibu gak sakit. Aku yakin ibu gak akan pernah mau disakitin seperti itu. Begitu juga dia bu, yang Wida lihat saat itu, wanita itu baik dan lemah lembut. Sama sekali tak menggambarkan kalau dia adalah perempuan seperti apa yang ibu bilang!" bantah Wida, istri Wahyu. Wanita yang sedang mengandung dan memakai gaun lengan pendek selutut dan rambut di urai panjang itu berurai air mata. Membuat sang ibu mertua meradang dan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Widaaa, kamu ketemu dia cuma sekali, mana bisa kamu menilai dia seperti itu! Kamu tak tahu dia itu wanita licik yang menutupi kedoknya dengan kerudung. Sadar kamu!"


"Sudah untung ibu ngasih restu dan menikahkan kalian baik baik. Tanpa restu ibu, kamu gak bakalan menikah sama anakku yang ganteng itu. Sadar diri dong kamu! Memang siapa kamu?" Wida berdiri dari duduknya, percuma ngomong dengan ibu mertuanya, ia gak akan mengerti perasaannya.


"Ah sudahlah, capek ngomong sama ibu!" Wida meninggalkan rumah mertuanya dan pulang ke rumah Wahyu, yang dulu ditinggalinya bersama Yulia.


"Dari mana kamu, sayang!" sapa Wahyu yang melihat Wida tergesa pulang sambil cemberut. Ia lalu menghempaskan pantatnya di sofa.


"Sayang, jangan kasar gitu duduknya. Kasihan anak kita dalam kandunganmu!" Wahyu duduk di samping istrinya, lalu mengelusnya pelan. Ia tahu istrinya sedang kesal dan marah padanya dan juga sang ibu.


"Hmm, mas! aku capek deh dengan ke pura puraan ibu kamu. Kamu juga, mau maunya jadi boneka ibu kamu yang egois itu. Sampai sampai kau mencampakkan wanita yang telah menjadi istri kamu. Apa suatu hari nanti aku juga bernasib sama dengan dia, kalau ibumu gak suka sama aku?" mata Wida menyala marah, namun air matanya juga turun dengan deras.


"Wida, jaga bicaramu Wida! dia ibu aku yang harus kamu hormati seperti ibu kamu sendiri." sekarang Wahyu pun ikutan marah. Wida berdiri dari duduknya.


"Aku sama sekali tak pernah menyangka, akan menjadi perusak rumah tangga orang." imbuhnya lagi.


Dan setelah saat itu, hubungan menantu dan ibu mertua itu tak sebaik dulu. Wida sangat merasa bersalah, ia takut. Takut dengan perasaanya. Takut, andai suatu. hari nanti nasibnya pun akan sama seperti Yulia.


Akhir akhir ini dia juga, banyak mendengar cerita dari tetangga Wahyu, seperti apa perlakuan Wahyu dan ibunya pada Yulia.


Dia sendiri adalah korban perceraian, karena sebuah perselingkuhan. Ayahnya telah berselingkuh dengan tetangganya sendiri, hingga ibunya sakit sakitan dan akhirnya meninggal dengan menyedihkan.


Wida yang semula belum ingin menikah karena sedikit trauma dengan perjalanan rumah tangga orang tuanya, berhasil di bujuk oleh ibunya Wahyu. Hingga akhirnya pun mereka menikah.

__ADS_1


****


"Wida, aku mohon maafkanlah aku. Aku janji padamu, aku akan menjadi suami yang lebih baik lagi untukmu. Aku akan turuti kemauan kamu untuk minta maaf sama Yulia, Aku tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya, Wida. Bertahanlah untuk anak kita dan aku....!" Wahyu menempelkan tangan istrinya yang dingin pada pipinya yang basah.


"Mas Wahyu... berjanjilahhh... kalau kamu akan mi _nta maaf padanya..., to_ tolong sampaikan maafku juga. Mas! Tolong!!" ucap Wida terbata. Tangannya mulai lemah, nafasnya tersengal. Wahyu tak kuasa menahan isak tangisnya, dan tubuh itupun benar benar menyerah.


"Widaaaaa! ya Allohhh!" tangis Wahyu menyayat hati. Sang istri meninggalkannya lebih dulu, meninggalkan seorang bayi yang masih merah, yang masih dalam inkubator karena belum cukup usia. Meninggalkan luka dan kekecewaan yang ia telan sendiri.


Tubuhnya lunglai dan jatuh di lantai. Seorang dokter dan beberapa perawat segera memeriksa keadaan pasien yang hanya tinggal jasad tanpa ruh.


Apakah mungkin ini yang di namakan Karma?


\=\=\=\=\=\=\=\=


Di beberapa bab saya tidak memberi judul. Malas mikirin judul nih ceritanya. Maaf, baru up....


Wahyu sedang berduka...


Jangan di sukurin loh ya...


Ambil aja hikmah dari semuanya...


Cuaca yang tak menentu akhir akhir ini membuat imunitas menurun. Tetap semangat....

__ADS_1


Dan semangat terus.....


__ADS_2