Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 80


__ADS_3

*****


"Mbak Yesi harus move on. Cinta itu memang gak selalu harus memiliki. Bahkan menjalin pernikahan dengan modal saling cinta saja, kadang masih bisa kandas. Hehehe.. berdasar pengalaman mbak." Yulia masih bisa tersenyum menghadapi Yesi, dan iapun ikut tersenyum.


"Semoga mbak Yesi mendapat pria yang tepat untuk mbak Yesi, dan saling mencintai hingga tua nanti." Yesi menatap Yulia, terenyuh. Ada kemiripan sifat Dina di diri Yulia. Karena kebaikan Dina dulu, mereka tetap menjalin hubungan baik, walau saat itu Dina tahu, Yesi bisa menjadi duri dari pernikahannya waktu itu.


Yesi tercekat, tak tahu harus bicara apalagi. Walau hatinya sakit, ia sudah bertekad tak akan mengganggu Romi lagi. Yesi pun diam dan menunduk.


Ternyata memang tak serumit yang aku bayangkan. Yesi orang baik, kata Yulia dalam hati.


****


"Ngapain kamu kesini?" tiba tiba sebuah suara memecah kecanggungan diantara mereka. Keduanya sama sama menoleh kearah asal suara.


Romi pulang menenteng kresek ditangannya. Meletakkannya di dekat pintu ke ruang belakang lalu duduk di samping istrinya. Menatapnya sebentar lalu berganti menatap Yesi.


"Aku tanya ngapain kamu kesini, belum cukup kemarin ngomong abal abal yang bikin dia nangis, tadi aku dengar dari luar kamu bicara, sekarang kok pada diam?" Romi bicara dalam keheningan kedua orang wanita itu. Merasa heran.


"Ini masalah perempuan, mas. Udah selesai. Gak usah di perpanjang sepertinya, iya kan mbak?" kilah Yulia membuat Yesi tersenyum. Benar apa yang ia pikirkan, sifat Yulia mirip Dina. Mudah memaafkan. Hampir tujuh tahun mengagumi sosok Romi tanpa timbal balik, bukanlah waktu yang sebentar. Bahkan sekarang ia merasa rasa terhadap Romi mulai memudar, ia yakin bisa melepas dengan ikhlas cinta pertamanya. Perasaannya . Dan sepertinya semua ini harus berakhir.


Jika Tuhan tidak berkehendak dan memang tidak berjodoh, sekuat apapun kita berusaha, selama apapun kita menanti, gak akan menghasilkan apapun.


Zonk! Nol Besar!


Yesi mengangguk. Ia melirik jam tangannya.


"Iya, Rom! Kita cuman ngomongin soal perempuan. Masalah juga sudah clear kan? Sesuai janjiku kemarin, aku menjelaskan kalau diantara kita memang gak ada apa apa." Yesi lalu meraih tasnya yang tergeletak diatas meja.


"Dua jam lagi aku harus sampai bandara. Jadwal penerbanganku tiga jam lagi karena aku mau kembali ke Bali hari ini. Sekali lagi, maafkan aku Yulia. Kita bisa berteman kan? Aku melihat sosok Dina dalam dirimu." Yulia tersenyum dan mengangguk.


"Tentu saja mbak Yesi. Makasih ya, atas pengertiannya. Jangan lupa, mbak harus bahagia dengan keputusan mbak. Laki laki gak cuma mas Romi, banyak laki laki lain yang masih single dan ganteng. Semoga mbak Yesi segera mendapatkan seseorang itu, yang jauh lebih baik dari mas Romi." Romi menatap istrinya dengan wajah yang ekspresinya sulit diartikan. Yesi berdiri lalu menjabat tangan Yulia.

__ADS_1


"Terima kasih Yulia, kamu memang wanita yang baik. Apa boleh aku memelukmu sebelum aku pergi?" seru Yesi saat mereka masih berjabat tangan. Dengan senang hati Yulia mengangguk, ia bergeser mendekat lalu membuka tangannya, hendak menerima pelukan Yesi. Namun tiba tiba Romi menahannya.


"Eitss, jangan peluk peluk sembarangan. Dia istriku, hanya aku yang boleh peluk dia!" melotot mata Romi, menahan dada Yulia yang mencondong ke depan.


Huuh, si bucin yang posesif. Dasar, dia aja bisa berpelukan dengannya dan aku tak boleh! begitu arti tatapan Yulia pada suaminya.


Sedang Yesi mengulum senyum lalu ia pun pamit, pergi meninggalkan kedua orang itu.


****


"Kenapa? maafku belum seratus persen buat mas Romi!" Yulia merengut saat Romi menatapnya dengan senyuman menggoda. dan hendak berlalu dari hadapan Romi.


"Ayolah, sayang! Aku kemari buat ngajak kamu jalan jalan, dan beli perlengkapan bayi kita. Please, kita gencatan senjata ya! Marahnya udahan. Tadi sama Yesi kamu bilang kita udah baikan, bukan!" menangkap tangan istrinya agar tak pergi.


"Nguping ya ternyata kamu, mas? Ya udahlah apa boleh buat, demi membeli perlengkapan sang jabang bayi, kita gencatan senjata. Nanti habis belanja perang dunia ke empat!"


ucapnya dengan ketus.


Yesss! sorak Romi.


"Emang ada ya, yang gantengnya ngelebihi aku di mata kamu, Yul!" ucap Romi saat mereka ada di mobil. Shila duduk anteng di belakang bermain bonekanya. Rupanya ia penasaran dengan kata kata istrinya yang dilontarkan pada Yesi.


"Banyak, mau tahu siapa saja mereka?" Romi mendengus tak terima istrinya bilang ada laki laki yang lebih ganteng darinya. Ia melirik istrinya yang menahan senyum.


"Nggak! Lagian seorang istri harusnya seperti apapun, suaminya tentu saja yang paling ganteng kan?" sanggah Romi yang fokusnya tetap di jalan yang lumayan padat kendaraan.


"Tuh kan, narsisnya kebangetan. Ya udah, di iyain aja deh, suamiku memang yang paling ganteng kok, sungguh! Tapi kalau dilihat dari sedotan tapinya, hahahah!" Yulia tertawa terbahak, bahunya berguncang karena tawanya. Berhasil mengerjai sang suami. Membuat Romi cemberut.


Heeih, dibilang ganteng tapi dilihat dari sedotan. Apaan tuh!" keluhnya dalam hati.


****

__ADS_1


Mereka telah tiba di pusat perbelanjaan yang dituju, Shila begitu antusias saat mereka melewati sebuah arena yang di dominasi oleh anak anak. Ia menarik narik gaun Yulia dengan jari mungilnya.


"Bunda, Ayah! Nanti Shila mau main seperti itu!" menunjuk di sebuah arena permainan. Beberapa anak melompat lompat dan tubuhnya seperti memantul.


"Itu namanya pemainan trampolin, sayang. Nanti habis belanja kita ke situnya, ya! Sekarang kita belanja buat dedek bayi dulu. Coba, Shila apa juga mau beli baju baru?" Shila mengangguk angguk setuju, namun tatapannya seperti tak rela. Ia masih memandang ke arah arena permainan anak-anak.


Sementara itu, di lain tempat.


Wahyu buru buru pergi menuju rumah sakit sendirian, karena pak Adnan mengabarkan bahwa ibunya kini telah siuman setelah beberapa hari koma.


Puji syukur ia panjatkan pada Sang Pencipta tiada henti dan tersenyum senang, walau bagaimanapun jahatnya dia, dia adalah ibunya. Yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkannya hingga jadi seperti saat ini.


Tiba di depan pintu ruangan tempat ibunya dirawat, Wahyu mengetuk pintu. Setelah ada jawaban dari sang Ayah barulah membuka pintu, terlihat juga ibunya telah membuka mata.


"Ibu...! Alhamdulillah, ibu sadar juga! Bagaimana Bu, apanya yang sakit? Apa ibu sudah bisa makan? Wahyu carikan makanan ya Bu, bubur atau apa?" saking bahagianya Wahyu memberondong ibunya dengan pertanyaan yang ia lontarkan.


Ibunya hanya menggeleng lemah dan sedikit tersenyum.


"Kata dokter separuh tubuh ibumu mati rasa, dan juga lumpuh yang disebabkan retaknya tulang ekor akibat jatuh terduduk dan kepala bagian belakangnya terbentur entah dinding atau kusen pintu. Kita semua tak tahu posisi waktu ibumu terjatuh." bisik sang ayah yang membuat Wahyu lemas seketika.


\=\=\=\=\=



Ini bang Romi yang kata bininya ganteng jika diliat dari sedotan plastik....


Masa sih...


Setuju gak....


__ADS_1


Terus kalau ini adalah bang Romi bersama ibunya Shila. Dina.


Versi Author ya.....


__ADS_2