Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 126


__ADS_3

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Aku minta maaf jika baru berterus terang sekarang! " Wahyu meremas tangan istrinya, lalu meletakkan didadanya.


"Setelah ini, aku mohon jangan pernah berpikir aku belum move on dari mantan. Aku hanya cinta kamu seorang, dan mengharap kita akan lalui waktu bersama sampai tua, sampai maut memisahkan." lanjutnya masih tak melepas tangan Imah, meremas nya pelan, hingga Imah bisa merasakan detak jantung Wahyu. Cukup lama mereka dalam posisi itu. Setelah beberapa saat, Wahyu bangun dan berlalu menuju meja kecil yang ada lacinya, membuka laci itu dan mengambil sesuatu dari sana.


Imah memperhatikan dengan raut heran apa yang dilakukan Wahyu, bahkan setelah duduk disampingnya, Wahyu masih menimangnya terlihat ragu ingin memberikan. Ia melipat amplop itu, semua gerakan tangannya tak lepas dari tatapan sang istri. Hingga hati Imah yang telah dipenuhi rasa penasaran, bertanya lebih dulu.


"Itu surat. Surat apa ini, mas?"


"Sebelum kamu tahu apa isi dari surat ini aku mau kau berjanji sesuatu!" makin terlihat aneh tingkah Wahyu di mata Imah.


"Setelah tahu keadaanku, maukah kamu berjanji akan tetap disini bersamaku sampai tua nanti?" Imah berdiri, berhadapan dengan Wahyu, ia dengarkan kepala, hingga tatapan mereka bertemu. Menyentuh dada bidang itu dengan telapak tangan dengan jari yang lentik itu.


"Memangnya, kamu pikir aku ini bisa kemana mas? kemanapun aku pergi, kearah mana aku melangkah, tetap saja aku mentok ke kamu. Aku gak punya apa apa, gak punya siapa siapa, selain kamu dan anak anak."


"Dulu, jikalau kamu gak nolong aku, bahkan mungkin aku dan Iffah jadi gelandangan di jalan saat ini. Apalagi yang harus kamu ragukan dariku?" sanggah Imah mematahkan pemikiran Wahyu. Tatapan mata terkunci disana, mencari kebenaran kata kata lewat sorot mata sang istri.


Tapi, kamu cantik, Li. Jika kamu ingin punya anak, kamu bisa aja menggaet laki laki lain, dan berpaling dariku. Berpaling pada laki laki yang bisa ngasih kamu keturunan seperti yang kamu impikan, yang gak bisa aku penuhi. Ucap Wahyu hanya berani dalam hati.


Namun ia juga tak mungkin biarkan rahasia ini terlalu lama ia pendam sendiri. Tak mau berlarut larut dengan rasa bersalah, karena merahasiakan hal ini yang menjadi beban hidupnya. Karena akan lebih sakit lagi hati sang istri nantinya jika dibiarkan terlalu lama, apalagi sang istri sudah menaruh curiga tadi. Jangan sampai kecurigaan sang istri menjadikan hubungan mereka menjadi renggang, karena mengira ia belum bisa move on, tapi ia juga terlalu takut akan reaksi sang istri.


"Ini, adalah surat hasil diagnosa dari dokter 2 tahun lalu. Tentang keadaanku yang sebenarnya. Bacalah sendiri." Wahyu terdiam tak sanggup meneruskan ucapannya. Ia membuang muka, tak mau bersitatap dengan istrinya.


"Surat dokter... tentang... keadaan mas... Wahyu? Memangnya mas Wahyu kenapa?"


"Bukalah!"


Perlahan dibukalah amplop surat itu oleh Imah. Wahyu mengamati perubahan mimik muka istrinya, lalu meninggalkan sang istri menuju balkon dan berdiri disisi pagar menghadap ke jalan raya.


Cukup lama ia terdiam dalam posisi itu. hingga sang istri mensejajarinya.


"Azoos per mia, apa artinya mas? Aku asing dengan istilah kedokteran seperti ini."


"Kamu bisa search di internet, kan? Coba carilah sendiri artinya!" jawabnya tanpa menoleh. Wahyu merasakan sang istri berjalan menjauhinya, mungkin ia mau mengambil hape dan menuruti kata Wahyu untuk searching sendiri di internet.


Langit malam cerah dengan bertaburkan bintang yang kerlap kerlip seolah mengedipkan mata, menambah indah syahdu suasana malam, Bulan berbentuk sabit hadir pula menjadi pelengkap indahnya malam. Namun berbanding terbalik dengan suasana hati Wahyu yang nampak sendu raut wajahnya, menanti reaksi sangat istri yang sedang fokus dengan benda pipih ditangannya.


"Mas!"


"Apa benar, yang tertulis disini?"

__ADS_1


Wahyu berbalik, menghadap sang istri.


" Menurut kamu?"


"Tapi Rayyan?"


"Saat aku menikahi Wida, tanpa sepengetahuanku ternyata dia telah hamil dengan lelaki lain. Ia mengakuinya sendiri dalam surat yang ia tulis dan aku temukan saat dia sudah meninggal. Oiya, surat yang aku maksud itu, adalah surat yang kamu temukan waktu kita pindah ke rumah ini." Wahyu mencengkeram besi pagar balkon. Imah berusaha mengingat ingat saat ia menemukan surat itu. Waktu itu mereka sedang berkemas, hendak pindah rumah.


"Tapi, kenapa mas yang bertanggung jawab atas kehamilannya?" Imah menatap ke depan, penuh selidik, sembari berjalan mendekati Wahyu. Terlihat laki laki yang dua tahun lebih menjadi suaminya itu juga menatap lurus ke depan, dengan tatapan yang samar, seperti sedang menerawang sesuatu nun jauh disana. Mungkin di masa lalu.


" Malam itu entah bagaimana kejadiannya, saat aku terbangun dipagi hari, aku ternyata tidur seranjang dengannya. Tanpa busana, walau sedetikpun aku tak ingat apa yang aku lakuin bersamanya semalaman. Aku benar benar tak ingat, bahkan sampai saat ini, apa aku sempat melakukan sesuatu dengannya atau tidak. Aku benar benar percaya atas rekayasa yang dilakukan ibuku, hingga aku benar benar bercerai dengan Yulia."


"Hingga beberapa bulan kemudian, ia memperlihatkan sebuah tespek dengan dua garis merah dan hasil pemeriksaan oleh dokter kandungan. Padahal waktu itu, aku dan Yulia masih sah suami istri. Dan menurut pengakuan Wida dalam surat itu, itu semua adalah rekayasa ibu tirinya dan juga ibuku yang menginginkan perpisahanku dengan Yulia." Wahyu masih terus bercerita bagaimana ia dan Yulia sampai berpisah, tentu karena peran besar bu Adnan, yang memang tak menyukai Yulia sejak sebelum menikah.


Kasihan sekali mas Wahyu. Kenapa ibu seperti itu? Ah, rupanya ibu memang seperti dulu semenjak dulu. Kenapa? Apa seorang ibu menganggap menantu adalah saingan, menganggap menantu perempuannya itu akan mengambil anak satu satunya yang begitu dicintainya? Apakah ini bentuk dari seorang ibu yang takut kehilangan karena anak lebih mementingkan anak istrinya? Atau sekedar mencari cari perhatian anaknya, agar ia tetap diperhatikan dan tetap ingin menjadi nomor satu dihati anaknya. Imah


"Lucu sekali ya? Bahkan dulu aku berteriak marah saat Yulia mengajakku pergi ke dokter untuk cek kesuburan, atau ada hal lain yang menghambat kami untuk punya anak. Aku bahkan menuding Yulia yang mandul. Dan yang paling aku sesali, setiap kesempatan kami tak sengaja bertemu, dan berkali kali itu aku menghina dia saat aku sudah bersama Wida, mengejek dia dengan kata kata yang tak pantas. " Wahyu menjeda kalimat panjangnya.


"Dan dia, hanya diam saja. tak pernah membalas perlakuan burukku."


"Itu sebabnya tadi, saat aku lihat Yulia tengah hamil lagi, aku merasa kerdil, mengingat perkataan dan perbuatanku dulu saat masih berstatus suami istri dengannya. Aku terlalu malu untuk bertemu dengannya, dosaku padanya menumpuk setinggi gunung. Sebagai istri ia sangat tersakiti, aku...aku... suami yang tak berguna... Li! " Wahyu berbalik, membelakangi Imah. Terlihat punggung lelaki itu naik turun, berusaha mengatur nafasnya yang tiba tiba sesak. Terlihat ia begitu menyesali masa lalunya.


"Mas!" sebuah dekapan hangat membuai Wahyu di punggungnya, kedua tangan Imah berada di dada, dengan kedua telapak tangan membuka, merasakan detak jantung Wahyu disana.


"Bagi aku, kamu adalah laki laki paling hebat yang pernah aku temui. Kamu bahkan telah rela bekerja keras untuk kami, aku, Iffah dan Rayyan. Walau mas tahu Rayyan bukan anak kandung mas, mas sangat sabar bahkan menutupi semua dari siapapun. Begitu juga Iffah, yang sama sekali tak ada hubungan darah denganmu, tapi yang aku lihat adalah mas begitu menyayangi mereka berdua. Saya salut dan kagum sama mas."


"Maaf, maafkan aku yang telah meragukan dan sempat salah paham tadi."


"Aku pendosa, Li! Aku memang pantas mendapatkan semua ini. Seperti yang kamu bilang, aku hanyalah laki laki yang berusaha memperbaiki diri."


"Insha Allah, keikhlasan mas menghadapi cobaan ini, akan menjadi penggugur dosa. Allah Maha Penerima Taubat, bagi siapapun yang sungguh sungguh menyesali perbuatan dosanya."


"Aamiin. Semoga ya, Li!" terasa kepala yang bersandar di punggung Wahyu bergerak mengangguk.


Saat suasana dalam keadaan haru dan syahdu, sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar.


"Buk! Pak! Adek pipis di celana...!" Imah melepas pelukan, hingga wahyu berbalik dan saling bertatapan dengan sang istri.


"Rayyan, ngompol?"

__ADS_1


"Biasalah, mas. Anak anak. Aku ke kamar sebelah dulu!" wahyu mengangguk dan mengiringi kepergian istrinya dengan tatapannya.


"Adek ngompol, Buk. Kasur aku jadi bau pesing!" adu Iffah pada sang ibu yang membelai kepalanya sembari menuju kamar mereka.


"Gak apa apa, besok bisa dicuci terus dijemur kasurnya." menjadi hidung yang panjangnya hampir sama dengan bibirnya yang mengerucut.


Di kamar terlihat Rayyan sesenggukan tanpa suara.


"Kamu habis marahi adek ya, Fah!?"


"Habisnya, kasurnya bau, aku kan jijik, Buk!"


"Gak boleh gitu, sayang. Dulu kamu seumuran adek juga suka pipis di celana. Tadi adek memang tak sempat pipis karena dari tadi pergi kan belum bangun." ujar sang ibu mengingatkan, tapi dasar bocah mana mungkin ia ingat saat berusia 2 tahun. Imah lalu mengajak Rayyan ke kamar mandi, membawakan baju bersih untuk Rayyan untuk mengganti pakaiannya yang basah setelah dibersihkan. Saat didepan pintu, ia berpapasan dengan Wahyu yang keluar kamar.


"Eh, sayangnya Bapak, baru bangun karena ngompol, ya!!"


"Mau dibersihin sama bapak?"


anak yang masih sesenggukan itu menggeleng.


"Dak mahu, cama Ibuk!" tolak Rayyan.


"Baiklah. Sana cepat, bebersih. Bau pecingnya kemana mana nih!" Wahyu tertawa menutup hidungnya, menggoda Rayyan yang cemberut dikatai bau.


"Papak kakal... (Bapak nakal)" Wahyu semakin kencang tawanya, menyaksikan istri serta Rayyan yang berlalu.


"Mas ini apaan sih. Udah malem, jangan suka godain anak. Nanti kalau dia rewel, kita yang repot. Ups salah, aku juga yang repot."


"Ya emang bau pesing, mau gimana lagi!"


"Mas, ihh!" menepis tangan Wahyu yang menarik kaos yang dikenakan Rayyan dari belakang. Ia tersenyum, saat melihat Rayyan telahasuk kamarmandi bersama Imah dan menutup pintunya.


"Ya Alloh, terimakasih telah menghadirkan Rayyan dan Lili dalam kehidupanku. Hamba berjanji akan menjaga mereka sampai tua nanti. Mereka penyemangat hidup bagi diriku." gumam Wahyu berdoa dalam hati.


Wahyu menengok ke dalam kamar.


"Belum selesai Fah, belajarnya. Sulit banget ya?"


"Udah kok, Pak. Nih tinggal nyiapin buku buat jadwal besok."

__ADS_1


"Anak pinter. Setelah ini, gosok gigi terus tidur."


"Iya, Pak." Setelah berucap demikian, Wahyu menuju dapur, mengambil air minum lalu masuk lagi ke kamarnya.


__ADS_2