
*****
"Ya Alloh, lancarkan dan mudahkan segala urusan kami di dunia ini! Lancarkan usaha dan pekerjaan suamiku! Jauhkanlah kedzaliman dan segala sesuatu yang akan merusak keluarga kami. Rabbana atina fiddunya hasanah, Wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar. Aamiin Ya Rabbal Alamin."
Artinya: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka.
Yulia mengakhiri shalat asharnya dengan doa untuk keluarganya. Terutama memohon untuk kelancaran urusan suaminya dan keutuhan keluarganya.
*****
"Tega sekali kamu mas sama aku, aku tuh butuh kerjaan. Memang aku butuh uang, tapi aku lebih butuh kerjaan. Jadi Kasir bukan hal yang sulit bagi aku!" masih saja Dini merengek rengek membuat Romi jengah.
"Ya, aku tahu kamu bisa. Tapi rasa percayaku padamu yang itu yang tidak aku bisa. Aku lebih percaya Fani, dia juga adikku."
" Dah! Terima saja ini. Dan kamu bisa memakai uang ini untuk modal usaha, jika kamu mau usaha, sih!" menggeser kertas ke hadapan Dini lagi, berharap segera mau menandatangani.
"Kamu katakan aku tega sama kamu tadi, kamu yang lebih tega Dini. Shila adalah cucunya Bu Sulis, ibumu, yang artinya juga keponakanmu. Tapi bahkan Shila tak mendapat sepeserpun warisan dari ibumu. Semua telah kamu habiskan sendiri."
"Gak masalah bagiku, aku insha Alloh masih bisa membesarkan dan membiayai Shila tanpa harta itu. Dan sekarang, tolong permudah urusanku, agar nantinya Alloh memudahkan urusanmu. Tanda tanganlah, dan kamu tak perlu bekerja disini mulai hari ini dan seterusnya."
"Setelah ini kumohon berubahlah. Jika kau ingin bekerja pada orang lain, bekerjalah dengan sungguh sungguh. Juga kalau kau ingin usaha, usahalah dengan tekun. Dulu kakakmu sering mengadu dan mengeluh padaku tentang perilaku burukmu yang belum berubah walaupun sudah menikah. Dia bersedih hati karena itu, hanya kamu saudara satu satunya yang ia punya. Dina sangat menyayangimu."
Dini merengut, ia tak suka mengingat tentang kakaknya yang telah meninggal itu. Dulu, semasa hidup ia selalu kesal dan marah karena dibanding bandingkan oleh orang tuanya karena perbedaan sifat yang sangat bertolak belakang itu. Dina adalah wanita lembut yang baik hati, dalam hal akademik, Dina juga lebih unggul. Dina anak yang cerdas, rajin belajar, rajin ibadah dan cakap dalam segala hal.
Sedang dirinya, Ayahnya dulu bahkan terang terangan mengatakan kalau dia anak yang menyusahkan, suka dugem sejak masih kuliah. Hingga ia terjerumus se x bebas. Hingga hamil dengan seorang kakak angkatannya waktu kuliah, lalu menikah dan dibawa oleh suaminya yang meneruskan usaha orangtuanya yang telah meninggal di luar pulau.
Banyak bacot nih mas Romi. Huuuh, ceramah Mulu dari tadi. Aku gak bisa mengambil keuntungan apapun dari sini. Uang 120 juta lumayanlah, dari pada enggak sama sekali. Tapi...
"Mas, apa gak bisa lebih lagi, uang segini, dapat apa? cuman cukup buat buka toko kelontong kecil." masih berusaha meminta lebih. Siapa tahu berhasil.
"Kamu pikir memang gampang ya, nyari uang segitu. Aku bukan orang yang kaya raya yang uangnya bermilyar milyar, Dini! Kalau untuk itu, kenapa gak minta sama suami kayamu itu." geram Romi atas sikap ngelunjak Dini.
"Gue sleding otak elu lama lama biar waras. Mikir tuh pake otak, jangan pake dengkul!" sambungnya dengan kata kata jauh lebih kasar. Romi membuang nafas kasar, berusaha menetralkan emosinya turun.
__ADS_1
"Ubah pola pikirmu, Dini. Hidup gak selamanya mudah hanya bermodalkan kecantikan wajah. Bisa jadi kecantikan kamu itu suatu hari jadi bencana jika kamu gunakan untuk hal buruk. Gak selamanya kamu bisa gaet laki laki berduit untuk kau kuras hartanya demi kesenangan dunia semata. Kamu memang cantik, kamu bak pinang dibelah dua dengan Dina. Tapi sifat kalian sangat jauh, please lah! Jangan mempersulit ku! Cepat tanda tangan! Atau aku gak berikan sepeserpun!" tekan Romi.
Dengan berat hati Dini meraih kertas dan pulpen, setelah hampir satu menit ia hanya menatap kertas itu, akhirnya ia menandatanganinya.
"Alhamdulillah! Gumam Romi dengan senyum tipis.
Romi meraih hapenya, hendak mentransfer uang itu ke nomer rekening Dini, disaat itu telepon masuk dari Yulia.
"Waalaikum salam."
" Ya nanti aku ceritakan di rumah. Alhamdulillah, gak ada halangan. udah ya! Bye!"
"Nih, aku udah transfer, bukti transfer juga aku simpan. Kamu jangan macam macam lagi, terutama pada keluargaku dan usahaku. Aku gak main main dengan ucapanku mempidanakan kamu jika kamu menyentuh apa yang kumiliki semua ini!"
"Sekarang kamu boleh pergi! Pintu keluar di sebelah sana!"
Dengan menghentak hentakkan kakinya, Dini berjalan kearah pintu. Lalu keluar setelah menghempaskan pintu dengan kasar.
Dibawah, semua berkutat dengan pekerjaan mereka masing masing. Tak ada yang menghiraukan Dini yang keluar dengan mimik kesal. Ia berjalan lurus keluar swalayan setelah mengambil tasnya.
Setelah Dini diluar, ketiga orang, Yeni, Lasmi dan Risma mendekati Fani. Mereka berempat saling pandang dan tersenyum.
Bye bye mantan adik ipar....
Mereka berempat pun tertawa bersama, dan adu tos, hingga beberapa customer menoleh dan menggelengkan kepala sambil tersenyum. Walau mereka tidak tahu duduk persoalannya.
"Nanti kita harus merayakannya, aku traktir kalian bertiga nanti setelah pulang. Gimana?" ucap Fani gembira.
"Ok! Cucok Bo....!" jawab serempak ketiga orang yang akan di traktirnya.
"Nanti kalian ku traktir di warung baksonya Pak Bakar, ya! Yang diujung perempatan itu, yang selalu rame pelanggan!"
"Ok, boss. Gak masalah. Aku nanti pesen bakso jumbo!" Yeni yang doyan bakso langsung isi list pesanan.
__ADS_1
"Aku Mieso aja. Mi ayam pake bakso jumbo!" Risma gak mau kalah sambil nyengir.
"Huuuu, dasar ya! Kalian mentang mentang gratis maunya yang jumbo. Bikin perut kalian jumbo sekalian, biar tau rasa!" sahut Fani ikut tertawa.
"Aku mah! tiap hari makan dua porsi bakso jumbo tetep aja kurus! Hahaha!" sambung Fani masih dengan tawanya.
"Saya sudah mbak belanjanya!" seorang customer datang dengan sekeranjang belanjaan. Mereka langsung membubarkan diri.
"Iya, Bu! Maaf ya, kita lagi seneng soalnya!" dengan cekatan Fani menotal belanjaan, sedang Yeni dengan sigap memasukkan barang barang pada tas kresek merah.
"Totalnya dua ratus empat puluh empat rupiah, Bu!" Ibu ibu itu menyerahkan dua lembar uang berwarna merah dan satu berwarna biru.
"Kembalian enam ribu, ya Bu! Makasih!" ucap Fani menyerahkan kembalian dan nota belanjaan.
\=\=\=\=\=
Sore itu mendung menggulung dan rintik rintik hujan telah turun ke bumi saat Wahyu memarkirkan mobilnya dihalaman rumah.
"Rayyan... Ifaah! Anak anak Ayah dimana, nih?" Biasanya kedua anak itu akan menyambutnya diteras saat pulang kerja. Tapi ini sepi sepi aja. Ia menenteng dua buah goodie bag ditangan kirinya.
"Kebiasaan mas, ucap salam dulu kenapa?" omel Imah alias Lili muncul dari balik pintu.
"Hehe! Maaf lupa, Assalamu'alaikum!" Imah meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangan itu sambil tersenyum yang sangat meneduhkan dalam pandangan mata Wahyu
"Waalaikum salam!" Bawa apaan tuh, mas!"
Wahyu mengacungkan kedua goodie bag itu.
"Untuk anak anak! Aku dapat bonus dari kantor. Maaf ya, buat kamu belum. Nanti kita cari kesukaan kamu, biar kamu pilih sendiri."
Imah pura pura cemberut.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1