
*****
"Shila sayang, udah dong nyium perutnya bunda, Ayah kan juga pengen kebagian, jangan di habisin ih!" Romi menarik anaknya menjauh dari istrinya.
Sejak tahu Yulia hamil adiknya, Shila menjadi lebih posesif dan lebih perhatian. Bahkan ia merajuk jika Yulia melarang Shila membuatkan susu untuknya.
"Ayah apaan ya! aku kan pengen main sama adek bayi, Ayah! Kan ini dedeknya Shila, bukan dedeknya Ayah!" Rajuk Shila menarik ayahnya menjauh dari Yulia. Namun apalah daya tenaga anak kecil, bahkan ayahnya bergeser pun tidak.
Shila yang kesal pun tiba tiba menggigit tangan ayahnya, yang membuat Romi menjauh.
"Awww! aduh sayang, ayah kok di gigit sih! Jahat sekali anak Ayah. Apa salah Ayah, coba?" kata Romi seakan tak berdosa. Ia memang sengaja menggoda anaknya. Yulia hanya tersenyum melihat kelakuan keluarga kecilnya, namun sejurus kemudian senyumnya hilang. Ia menutup hidungnya. Romi yang melihatnya pun mendesah.
"Mulai deh!" sambil beringsut menjauh.
"Ya, mau gimana lagi, mas! Anakmu gak suka aroma tubuh Ayahnya!"
"Kalau ibunya?"
"Ya tergantung! Kalau wangi ya suka, kalau bau keringat ya gak mau!"
Shila tertawa mengejek Ayahnya.
Di Indra penciuman Yulia, walau Romi memakai satu botol parfum sekali habis, tetap saja di hidungnya bau terasi yang tercium. Dan itu cuma aroma suaminya yang berubah.
****
Sementara kembali ke Wahyu.
Pagi itu sehabis mandi, badan terasa lebih segar, Wahyu sudah mengenakan pakaian kerjanya. Saat bercermin akan menyisir rambutnya, Wahyu berdecak.
"Kelihatan banget memarnya. Nanti kalau ada yang nanya kenapa, aku harus jawab apa ya?" ia bermonolog sambil mengaca.
"Kenapa pula tadi malam aku sampai di tempat hiburan!" Wahyu menghentikan gerak tangannya yang membawa sisir. Ia teringat kembali ucapan dokter yang menyatakan bahwa Rayyan 99,99 persen bukan darah dagingnya.
Apa yang harus ku lakukan?
Wahyu keluar kamar, di saat itu Imah sedang menghidangkan sarapan di atas meja makan. Aromanya wangi, sepertinya nasi goreng. Sarapan yang paling mudah di buat dan cepat.
Lama lama aku merasa kasihan juga dengan Imah. Dia selama 24 jam menjaga Rayyan, belum lagi mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
__ADS_1
Tiap pagi dia juga membuatkan sarapan untuk semua, saat di rumah ibu. Ku harap pekerjaannya menjadi lebih ringan sekarang, tapi kelihatannya tidak. Ia masih saja repot dengan banyak hal.
Dilihat lihat, Imah sekarang beda. Dia sekarang jauh lebih bersih dan lebih terawat kulitnya.
Pertama kali aku melihatnya, ia terlihat kusam dan hitam. Mungkin karena kulitnya terlalu sering beradu dengan sinar ultra violet. Walaupun tidak putih bersih seperti kulit Yulia. Namun bisa dikatakan kulitnya kuning sawo matang.
Eh, kok jadi ngeliatin fisik dia sih.
"Masak apa, Imah? harum banget. Perutku jadi lapar!" ujar Wahyu mendekati meja makan. Mengusir pikiran ngawurnya.
Imah terlihat salah tingkah dan malu.
"Eh, ini pak Wahyu. Pagi ini cuman ada sarapan nasi goreng. Maaf!" Wahyu tersenyum. Ngilu di bibirnya sudah berkurang, ia merasa sangat lapar sekarang, karena dari kemarin sepulang dari rumah sakit ia belum makan.
"Gak apa apa. Sekarang aku bukan orang yang pilih pilih makanan kok! Cuman kalau bisa menunya tiap hari ganti ganti. Jangan itu itu saja!" Imah mengangguk paham.
"Baik, pak!"
"Duduk dan makanlah bersamaku di sini, Imah! Gak enak rasanya makan sendirian." pinta Wahyu setelah ia mengambil nasi di piringnya. Dan sebuah telur ceplok dan irisan mentimun.
"Ah maaf! sa_saya makan di dapur aja, pak! saya biasa kok makan di dapur!" Imah jadi salah tingkah sendiri. Tak biasanya Wahyu memintanya duduk makan bareng.
"Kalau begitu, panggil Ifah ke sini! Biar nemenin aku sarapan!" Imah lalu memanggil anaknya yang sedang menanti Rayyan, ia bawa Rayyan dekat meja makan dan menyuruh anaknya duduk di hadapan Wahyu.
"Iya, paman!" Ifah gadis yang cukup cerdas dan cekatan. Imah sering menitipkan Rayyan untuk di jaga Ifah saat ia mengerjakan pekerjaan rumahnya.
"Biar saya saja yang mengambilkan buat Ifah, pak!" tergopoh Imah mengambilkan nasi buat Ifah. Menghentikan gerak tangan Wahyu yang akan mengambil nasi.
Satu centong nasi goreng beserta telur ceplok ada di hadapan Ifah, siap untuk dijadikan sarapan.
"Ayo Ifah, bonekanya biar ibu simpan dulu, nanti habis makan, bisa di ambil lagi ya, sayang!" Imah menengadahkan tangan meminta boneka di genggaman Ifah.
"Kamu juga makan sekalian, Imah. Gak usah sungkan. Ayo ambilillah nasi dan makanlah di sini bertiga!"
Merasa tak enak hati menolak, Imah pun ikut sarapan bersama Wahyu dan Ifah.
"Biar saya di sofa situ, pak! sambil jaga Rayyan!" Imah duduk agak menjauh, tak semeja dengan Wahyu, karena merasa sungkan.
Selesai makan, Imah membereskan peralatan makannya. Sedang Wahyu mendekati Rayyan, perasaanya tak tergambarkan saat ini.
__ADS_1
Di ambilnya Rayyan dari stroller, bayi berusia enam bulan itu tertawa tawa menepuk pipi Wahyu.
*Siapa ayah kandungmu Rayyan? Batin Wahyu. Ia menatap bayi itu seksama. Rayyan mirip dengan Wida dari hidung dan matanya.
"Selamat ya, selamat untuk seumur hidupmu yang akan cuma jadi Babysitter anak orang." kata katanya dulu yang mengejek Yulia terngiang di telinganya.
Ternyata apa yang aku perolokkan dulu pada Yulia, kini aku yang mengalaminya. Sungguh ironis. Mungkin ini adalah cara Tuhan menegur aku,
Baiklah! Mungkin Tuhan menghukum ku dengan cara seperti ini, aku akan terima.Aku akan membesarkanmu dengan tanganku. Kamu hanya milikku, dan aku adalah ayahmu. Aku akan tutup mulut tentang siapa kamu sebenarnya. Terlebih pada ibu, dia gak boleh tahu. Bisa bisa ibu membenci Rayyan.
Tidak, itu tidak boleh terjadi.
Wahyu menciumi pipi Rayyan, dan tak merasa jijik walau bayi itu menyemburkan air liurnya. Ia mengelap bibir Rayyan dengan tisu sembari tersenyum. Getir, pahit, bercampur dari satu.
*****
"Ngapain lu bro! berem gitu, habis berantem sama siapa?" pagi itu Hadi, teman Wahyu heboh sendiri. Pasalnya melihat teman akrabnya terlihat biru di sudut bibirnya. Ia bahkan sampai meneliti dengan seksama dari dekat wajah Wahyu. Merasa risih Wahyu menoyor kepala Hadi.
Aduuuhh!
"Bukan urusan sista!"
"Sia lan! ngatain gue sista!"
Gantian Hadi meninju bahu Wahyu.
"Lah itu, mangkanya jangan kepoan kamu. Yang suka kepoan kan sista." ejek Wahyu pada temennya.
"Bener bener sue elu, ya! Di perhatiin teman malah bilang gue kepo lagi!"
" Emang kalau gue lihat elu bonyok gitu, gue di suruh diem aja? Entar elu juga bilang, eh ini punya temen sakit gak diperhatiin. Salah lagi kan gue.
Serba salah jadinya!"
Wahyu tersenyum masam. Ia bertekad tak akan menceritakan tentang Rayyan pada siapa pun. Rayyan akan tetap menjadi anaknya.
"Njir..sana kerja kerja kerja!" Wahyu segera beranjak pergi dari situ, menuju tempat duduknya lalu fokus dengan layar di depannya.
Ia merasa lega, saat melirik Hadi beranjak pergi dari ruangannya. Ia cuma tak mau jadi akan bertanya macam macam. Kali ini ia selamat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
TBC