Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 39. Shila Sakit.


__ADS_3

*****


Yulia di bonceng oleh Fani menuju rumah sakit tempat Shila dirawat. Swalayan ditutupkan sementara setengah hari, dan akan buka lagi tengah hari nanti.


"Shila sakit apa sih, mbak! kemarin perasaan dia seharian pergi baik baik aja tuh!" Yulia bertanya dengan agak keras, saingan dengan suara deru motor yang melaju.


"Gak tahu juga aku, itu tadi waktu kamu datang, bang Romi baru telpon. Eh, jadi kalian seharian kemarin jalan bareng? Kemana?" tanya mbak Fani yang sepertinya Romi tak memberitahunya.


"Iya, mbak. Adiknya pak Romi lahiran, sekalian ngantar Bu Alvi kesana." jelas Yulia.


"Ooh jadi Mima lahiran ya? Kirain jalan kemana gitu." mbak Fani bicara agak keras juga.


"Ya, itupun kalau bukan Shila yang ngajak saya juga gak mau mbak! Toko lagi ramai kan'? biasa tanggal muda hehehe...."


"Iya, biasanya sih kalau tanggal muda begitu." ucap Fani datar masih sambil terus menyetir.


Yulia mengangguk.


"Oiya, gimana kemarin, lamarannya lancar? Aku bahkan belum sempat nanya sama bang Romi! Akhirnya, dia mau juga nikah." Yulia hanya tersenyum


"Kapan Yul, udah di tentuin belum tanggalnya?" tanya mbak Fani dan suaranya tenggelam dengan suara mobil atau motor yang lewat.


"Belum mbak Fani, masih abu abu!"


"Loh kok abu abu, emang kamu masih ragu ya, Yul?" tak ada jawaban dari Yulia.


Kini mereka telah sampai di rumah sakit, Romi telah memberi arahan pada Fani, dimana tempat Shila dirawat. Saat mereka hampir sampai ditempat yang dituju, tempat perawatan khusus anak anak, terdengar beberapa anak yang menangis. Dan salah satu suara itu di kenali oleh Yulia.


Ya Alloh, kasihan Shila sama pak Romi, pak Romi pasti repot dan kebingungan karena Shila rewel terus.


"Assalamu'alaikum!" ucap Yulia setelah dirinya membuka pintu.


Shila yang sedang dalam gendongan Romi langsung berteriak,


"Bundaaaa!" sambil merentangkan kedua tangannya


Yulia segera mendekat dan menangkap anak itu dengan hati hati karena ada selang infus di tangan kirinya. Tubuh Shila terasa sangat panas, wajahnya memerah karena menangis dan masih terisak dengan keras. Romi terlihat menghela nafas lega. Untung yang Shila tempati adalah ruangan 1 bed, mungkin pasien VIP, pikir Yulia.


"Sedari kapan Shila kesini, pak Romi? kemarin sepertinya sehat sehat saja!" Yulia duduk di sofa dengan memangku Shila. Disampingnya ada mbak Fani yang mengelus kepala keponakannya.

__ADS_1


" Sampai rumah tadi malam Shila sudah merasa tak enak badan, lalu ia muntah muntah berkali kali dan panas. Karena aku bingung, ia kehilangan banyak cairan aku lalu membawanya kesini!" Romi berkali kali menghela nafas berat.


Biasanya jika Shila sangat rewel Bu Alvi yang selalu menenangkannya. Dan sekarang, ia tak bisa mengandalkan sang ibu yang akhir akhir ini kesehatannya sering terganggu karena tensinya sering diatas normal. Sang ibu juga sudah sering mengeluh pusing, jika anaknya minta ini dan itu. Sejak kepergian sang suami, Bu Alvi tak pernah mengeluh. Walaupun Romi tahu ibunya begitu kehilangan. Seperti ia yang kehilangan Dina.


Shila telah tidur dipangkuan Yulia, sesekali Yulia mengelap dahi Shila menggunakan tisu. Sakit semalam saja, membuat tubuh kecil itu terlihat lemah, pipi bakpaonya juga terlihat sedikit susut.


Yulia mengatupkan bibir Shila yang tidur mangap.


"Kamu tidurin gih Shila di brankarnya. Itu si bapaknya malah gak tahu diri tidur di sana!" mbak Fani mau bangkit dari duduknya untuk membangunkan Romi yang ketiduran diatas tempat tidur Shila.


"Eh, mbak! biarin aja, sepertinya pak Romi kurang tidur semalaman. Kasihan pak Romi, ia pasti sangat lelah, kemarin dia juga tidak istirahat siang sepertinya." ucap Yulia agak berbisik, takut mengganggu dua orang yang sedang tidur nyenyak.


"Tapi sampai kapan kamu bawa Shila tidur di gendongan kamu, gak capek apa? Mending di tidurin sana, kayaknya bed cukup buat berdua, biar Bapaknya geser dikit." mbak Fani berdiri dan berjalan kearah Romi tanpa bisa di cegah Yulia.


"Bang, itu anak kamu mau di tidurin tuh, geser lah bang!" Romi membuka matanya dan bergeser ke pinggir. Dan setelahnya memejamkan mata lagi, rupanya ia benar benar mengantuk.


Dengan pelan Yulia meletakkan Shila di samping Romi.


"Mereka tidur, sebaiknya kita keluar Yul! nyari udara seger!" ucap mbak Fani menyenggol lengan Yulia, Yulia mengangguk mengiyakan.


Kini mereka telah duduk di bangku taman, tak banyak orang yang berlalu lalang disitu, hanya beberapa suster dan mungkin orang tua dari anak yang di rawat. Di tempat ini benar benar terjaga privasi dari pasien yang ada.


"Sudah mbak, seminggu ke depan di rumah ada kokinya, jadi kalau Yulia gak sarapan di rumah, ia bakal marah marah, merajuk dan ngancam gak mau masak lagi kalau aku gak mau sarapan hehehe...!" mbak Fani ikut tertawa.


"Kakak ipar ku baik banget mbak, segitu dia perhatian sama aku sama ibuku. Ia selalu mengerjakan pekerjaan yang gak sempat aku lakukan kalau di rumah, tapi abangku sendiri yang malah marah, protes karena kurang perhatian dari istrinya kalau ia di rumah kami!" Yulia nyerocos membuat mbak Fani tersenyum.


"Oiya, kamu tadi aku tanya belum kamu jawab, tentang lamarannya Abangku itu! Gimana...?" Yulia tersenyum kikuk. Ia mengusap tengkuknya.


"Tapi aku belum ngasih tahu pak Romi mbak, masa aku ngasih tahu mbak Fani duluan?" mbak Fani menyebik. Dan membalik posisi tubuhnya yang tadi menghadap Yulia.


"Ya udah deh, kalau gak mau ngasih tahu jawabannya. Ya memang betul sih apa kata kamu, bang Romi yang berhak lebih dulu tahu jawabannya, nanti suatu hari aku juga bakalan tahu hehehe.."


"Ya udah, kamu tinggal sini kan, kalau Shila bangun dia pasti nanyain kamu. Aku mau pulang dulu, ngurus anak anak! mereka masih pada di toko. Takutnya mereka bingung tanpa aku. Aku pulang dulu, ya!" Yulia mengangguk dan mbak Fani pun pergi dari tempat itu.


Setelah mbak Fani tak terlihat, Yulia kembali ke dalam kamar yang Shila tempati. Mereka masih terlihat tidur pulas. Sambil menunggu akhirnya Yulia duduk di sofa sambil bermain dengan hapenya.


Tak berapa lama, seseorang membuka pintu, mbak Fani datang lagi dengan menenteng kresek putih. "Ini Yul, makan siang buat kamu sama bang Romi, tadi pagi ia pasti belum sempat sarapan. Ini juga ada cemilan sama minumnya sekalian." Yulia menerima uluran kresek dari mbak Fani. Tiga kotak makanan dan beberapa Snack dan air mineral.


"Makasih ya Fan!" rupanya si Abang sudah bangun, mendengar kata makanan.

__ADS_1


"Tahu aja aku laper." ucapnya sambil bangkit dari tidurannya, menatap anaknya yang tidur pulas disampingnya. Ini pasti pengaruh obat yang di berikan membuatnya tidur sepulas itu.


Romi lalu beranjak duduk di samping Yulia di sofa, membuat Fani menepuk lengannya keras.


"Abang ih, jorok. Mbok ya ke kamar mandi dulu, cuci muka sana! Ilfeel aku jadinya, apalagi itu calon istri yang ada di sampingnya. Wangi dikit kek, bau asem gitu." omel mbak Fani, Yulia hanya tersenyum lebar tanpa suara.


" Ishhh, kamu Fan! Abang udah laper banget tadi gak sempat sarapan. Tapi kamu tuh selalu benar, adikku tersayang!" Romi bangkit dari duduknya menuju kamar mandi. Malu juga di dekat Yulia bau masam.


Romi keluar dari kamar mandi sepuluh menit kemudian, tapi Fani sudah tak ada di kamar.


"Fani mana, Yul?" tanya Romi yang kelihatan lebih segar. Rupanya ia mandi, karena wangi sabun tercium dari dirinya saat ini. Hanya saja ia memakai baju yang sama. Romi lalu duduk lagi di samping Yulia.


Yulia mengangsur sekotak makanan yang ada dihadapannya. "Makasih, Yul!" Romi menerimanya dan langsung membuka lalu memakannya. Ternyata ia benar benar kelaparan.


"Mbak Fani udah pulang, tadi cuma nganter makanan saja." Romi tak menyahut. Mulutnya penuh makanan.


"Kamu gak makan sekalian, Yul?" ucap Romi saat makanan di tangannya sebagian sudah pindah ke dalam perutnya.


"Saya sudah kenyang lihat pak Romi makan!" gurau Yulia tertawa. Romi meneguk minumnya.


"Maaf ya, aku belum makan dari pagi. Kemarin terakhir makan kue di tempat Tante Nisa." ucapnya agak malu. Yulia paham.


"Saya hanya bergurau, pak! Terusin aja makannya!" Yulia lalu mengambil satu kotak dan memakan makanan nya pelan.


Mereka telah menyelesaikan makannya, namun belum terlihat Shila bangun dari tidurnya yang sudah dua jam lebih. Setelah Yulia membereskan bekas makan mereka, dan membuang di tong sampah diluar kamar, ia mendekati Shila yang masih damai dalam tidurnya.


"Apakah ini saatnya aku menjawab lamaran pak Romi?" gumamnya. Ia lalu mencium kening Shila yang hanya menggeliat sebentar, lalu kembali lagi duduk di samping Romi yang menatapnya sendu.


"Pak Romi, hari ini aku janji untuk menjawab lamaran pak Romi bukan?" Romi menegakkan badannya.


\=\=\=\=\=\=


Hai hai,,, maaf up-nya aku gak menentu. Tergantung mood nulis dan sesempatnya. Punya waktu luang banyak tapi kadang mood berantakan....


Bersambung yaaa....


Hilihhh, tuman authornya....


Suka bikin penasaran....

__ADS_1


ya nggak ya nggak..... di iyain aja lah...


__ADS_2