
Wahyu duduk di balkon kamarnya. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Namun ia sama sekali belum merasakan kantuk.
Ia menggenggam erat kertas di tangannya. Surat hasil pemeriksaan.
"Maaf, anda dinyatakan menderita azoospermia." ucap dokter saat Wahyu melakukan cek sper ma atas saran dokter spesialis urologi. Dan kini ia berada di ruangan dokter andrologi dari rekomendasi dokter tersebut.
"Apa itu dok?"
"Azoospermia adalah istilah medis untuk menyebutkan kondisi tidak ditemukannya ****** pada air ma ni saat seorang pria ejakulasi. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab kemandulan, khususnya bagi pasangan yang baru menikah dan berencana untuk memiliki anak.
Azoospermia merupakan masalah kesuburan pada pria yang cukup banyak terjadi. Dari sekitar sepuluh persen kasus kemandulan atau infertilitas pada pria, setidaknya satu persen dari kasus tersebut disebabkan oleh kondisi azoospermia." sang dokter menjelaskan secara gamblang.
Apa, jadi aku...
"Dok, dengan kondisi seperti saya, apa ada jalan untuk saya bisa punya anak kandung?"
"Apa anda datang bersama istri?" sang dokter membalikkan kata kata Wahyu. Wahyu menggeleng.
"Saya takut reaksi istri saya, jika tahu saya seperti ini, dok!"
"Untuk kasus seperti anda, ada baiknya anda datang bersama istri. Bisa saling sharing, bisa saling menguatkan."
"Dari analisa yang saya lakukan, air ma ni anda sama sekali tak terdapat sper ma. Padahal, pada umumnya seorang pria memiliki sekitar 15 juta sel sper ma per mililiter air ma ni."
"Berdasar kondisi anda tersebut, peluang hamil istri anda secara normal hampir pasti tak ada. Sedangkan untuk melaksanakan IVF atau program bayi tabung juga terbilang sulit karena hampir tak ditemukannya sel sper ma dalam air ma ni anda."
"Ada beberapa cara bisa anda tempuh jika anda menginginkan memiliki keturunan. Diantaranya adalah Terapi hormonal atau operasi."
Jika anda mengalami azoospermia di karenakan buruk dan sedikitnya kualitas ******, anda bisa melakukan terapi hormonal, untuk memperbaiki kualitas dan juga produksi sel sper ma pada tes tis.
Akan tetapi jika azoospermia disebabkan karena terjadi sumbatan hingga tes tis tak bisa menyalurkan sel sper ma dengan air ma ni, maka harus dilakukan pembedahan.
Kelainan anatomi seperti varikokel atau tidak adanya vas deferens yakni saluran yang menyalurkan sper ma saat ejakulasi, juga bisa menjadi penyebab azoospermia. Cukup banyak sebab seorang pria mengalami azoospermia."
"Untuk kasus yang ini juga di sarankan melakukan operasi."
Wahyu melipat surat itu menjadi bagian kecil, lalu menatap gelapnya malam bertabur bintang.
Ia mengingat bagaimana dengan semena menanya ia memperlakukan Yulia dan terjadi karena pengaruh besar sang ibu, yang ia percaya adalah wanita paling baik, dan begitu mencintai anaknya.
Astaghfirullahal adzim." Sambil menghela nafas berat, lalu mengusap mukanya. Rasa dingin terasa menusuk karena ia hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek.
"Mas Wahyu!" sebuah suara mengejutkannya.
"Aku cari cari ternyata mas disini!" suara istrinya terdengar serak karena baru bangun tidur. Ia lalu menduduki kursi di samping suaminya.
"Mengapa bangun? Tidurlah, sudah larut malam. Disini dingin. " mengusap lengan istrinya lalu merapikan rambutnya yang berantakan.
"Harusnya aku yang tanya, mengapa mas disini? Udah malam, harusnya mas tidur. Besok kan harus kerja!"
"Aku nggak bisa tidur. Entah kenapa! Itu sebabnya aku leyeh leyeh disini." Wahyu tersenyum sat sang istri menatapnya penuh selidik.
"Mengapa?" ia pun menggeleng.
"Nggak, cuma aku rasa mas Wahyu aneh sekali hari ini."
"Ada apa mas, cerita ke aku!"
"Sudah aku bilang aku gak apa apa, cuma gak bisa tidur terus cari angin disini."
__ADS_1
Jawaban Wahyu sama sekali tak membuat Imah puas.
"Mas, aku ini garwa. Sigaraning nyawa nya mas Wahyu. Kalau mas lagi susah, aku seharusnya tahu. Kalau mas lagi senang, selayaknya aku juga ikut merasa senang."
"Jangan kau tutupi masalahmu sendiri. Kalau seperti ini, aku merasa aku tak ada artinya buat mas Wahyu."
"Siapalah aku ini, yang hanya seorang pembantu miskin dan janda pula. Tak seharusnya aku disini." Imah beranjak pergi sambil mengusap sudut matanya. Namun, belum lagi ia melangkah, tangannya dicekal Wahyu.
"Stop Lili, Kau jangan berpikir seperti itu. Duduklah lagi, garwa ku!" Wahyu tersenyum. Karena Lili menurut kata katanya.
"Baiklah, aku ternyata tak bisa menyembunyikan apapun darimu. Wahyu tertawa.
"Ih mas Wahyu, tengah malam gini jangan tertawa. Nanti dikira hantu lagi!"
"Iya benar aku dalam keadaan ada masalah. Suatu hari nanti aku akan ceritakan padamu. Tapi maaf untuk saat ini, aku belum siap. Aku janji suatu saat nanti aku akan cerita. tidak sekarang ya!" bujuk Wahyu pada istrinya.
"Tapi mas!"
"Sssst, jangan berisik. Nanti anak anak bangun. Yuk kita tidur yuk!" ajak Wahyu menghindari tekanan Imah.
"Mas, kamu itu kebiasaan deh!" sungutnya belum bisa menerima.
"Sudah, lain kali aja ceritanya, Sekarang aku ngantuk, mau dikelonin kamu." manjanya.
Beberapa hari kemudian.
"Makan yang banyak dong Bund, jangan ogah ogahan. kasihan baby Kia kalau kamu makannya males gitu. Kan baby jadi rewel, sebab ASI-nya kurang nutrisi."
"Ayo makan, mas suapin ya?" Yulia menggeleng.
"Enggak mas, ini bibir aku kalau buat makan sakit!"
"Heeh! diapa apain sakit, buat mangap sakit, buat ngunyah sakit, apalagi kalau sampe kena pedes duhh, bisa nangis rasanya!" pungkas Yulia dengan gerak bibir yang terbatas. Serasa kaku dan sakit.
"Coba aku liat, mana yang sakit!"
Yulia menyentuh bibirnya, lalu menjewer bibir itu, hingga terlihat bagian yang terkena sariawan.
"Kok bisa sariawan segini gedenya. Udah dikasih obat belum?"
"Udah dikasih obat oles dari apotek. Tapi belum reda sakitnya." keluhnya setengah merengek.
Manja.
Tiba tiba Romi terlintas sebuah ide untuk mengerjai istrinya.
"Hmm, sepertinya aku punya obatnya. Aku ada teman dulu tuh ngasih aku cara gitu sama istrinya katanya manjur. Coba liat lagi yang kena sariawan!" pinta Romi mendekatkan wajah sang istri.
"Semoga cocok!" Romi menahan tawanya.
Yulia membuka bibirnya seperti tadi, terlihat jelas bagian yang terkena sariawan, memerah.
Bismillah, ilmu ta awud. Lalu Romi menyapu dengan lidahnya bagian bibir Yulia yang terkena sariawan. Berkali kali.
Sontak Yulia mendorong wajah Romi yang senyam senyum geje.
"Apaan sih, mas! Katanya ngobatin, kok gitu. Mesum ih, gimana tadi kalau tiba tiba ibu atau Mak Minah masuk dan liat?" cebik Yulia merasa sebal dikerjai suaminya. Romi tertawa lebar.
"Temenmu itu orangnya pasti mesum, ngasih tau cara ngobatinnya gak jelas banget." Yulia masih betah mengomel.
__ADS_1
"Hei, mau kemana?" tanya Romi saat istrinya dengan mulut manyun meninggalkan dirinya sendiri di meja makan.
"Mau ke depan, gabung sama ibu, sama baby Kia. Kalau deket deket berdua sama Mas Romi bikin kesel, aku dikerjain mulu." ucapnya kesal.
"Ya elah, gitu udah ngambek. Ya wajarlah suami ngerjain istrinya. Yang gak wajar itu kalau suami ngerjain cewek yang bukan istrinya. Emang Bunda mau aku kayak gitu?" pungkas Romi menjawab istrinya membuat Yulia menoleh dengan muka ditekuk.
" Enak aja! Awas ya kalau berani. Kalau mas Romi sampe ketahuan gitu sama cewek lain."
Yulia tak jadi keluar dan kembali duduk di samping Romi. Kembali Romi mengulum senyum.
"Jadi, itu pengobatannya diterusin nggak? Kayaknya udah mendingan tuh!"
"Tadi katanya buat mangap aja sakit, sekarang kayak udah biasa tuh!" Romi memperhatikan gerak bibir istrinya.
Eh, kok bisa sih. Emang sakitnya udah berkurang.
" Enak aja mas Romi. Masih sakit nih!"
"Jangan ngada ngada. Mana ada mulut sariawan sembuh cuma karena di gituin!" protesnya.
"Ya karena gitu nya penuh perasaan." Yulia menyebik. Ingin Romi terkekeh senang.
"Ayo, sini aku obatin lagi. Walaupun gak manjur, yang penting menggauli istri dengan baik kan juga pahala. Ini salah satu contohnya." Romi mempraktekkan lagi apa yang dilakukannya tadi. Namun kali ini Yulia diam saja, tak menolak apa yang dilakukan Romi padanya.
*****
"Mbak Dona, apa Yesi ada?"
Dona, karyawan Yesi yang sedang duduk di kasir melayani pembayaran orang yang telah makan di tempat itu, mendongak.
"Eh, mas Andre. Mbak Yesi ada diatas! Mas!" Andre mengangguk, mengucap terima kasih sembari menyembunyikan apa yang dibawanya di belakang punggung.
Dia baru datang setelah tiga minggu mengunjungi ibunya yang sakit. Sampai di klinik, ia membersihkan diri, dan segera melesat menuju tempat Yesi. Rasa kangen dengan sifat ketus Yesi telah membuncah, hingga ia mengabaikan rasa lelahnya.
Ia lalu naik ke lantai dua rumah itu. Namun sebelum ia sempat mengetuk pintu, terdengar suara gelak tawa di dalam rumah. Salah satunya ia yakin itu suara Yesi, bersama suara seorang pria.
Siapa pria yang bersama Yesi? Apa Om Wibisana?
Tak mungkin. Hari ini hari Rabu, biasanya Tante dan Om Wibisana akan datang di hari Sabtu sore.
Suara perbincangan dan gelak tawa masih terdengar nyaring. *Apa Yesi sedang berdua bersama pria?
Andre termangu di depan pintu*, ragu antara mengetuk pintu atau pergi. Ia tak mau mengganggu Yesi dengan laki laki yang bersamanya. Seikat bunga ditangannya terlepas begitu saja. Saat ia memutuskan untuk pergi saja, ia dikejutkan oleh pintu yang terbuka dari dalam.
Yesi yang membuka pintu terkejut dengan mata membeliak. Sedang laki laki yang bersamanya berdiri di belakang Yesi sambil menatapnya.
"Ndre, kamu sudah pulang!" Andre hanya tersenyum tipis.
Hilang permataku, hilang harapanku.
Lelaki muda nan ganteng di belakang Yesi menatap Andre tak berkedip. Hingga Andre menyimpulkan sendiri tanpa bertanya, siapa laki laki yang bersama Yesi itu.
"Maaf, kalau aku mengganggu kalian. Saya akan pergi, tadi cuma mau mampir sebentar aku. Karena aku baru datang."
"Permisi!" tanpa menoleh lagi Andre berlalu turun ke lantai satu, dan segera pergi dengan langkah kaki lebarnya menuju tempat ia memarkirkan mobil.
\=\=\=\=\=\=
...Bersambung.......
__ADS_1