
****
Setelah mengantar Shila bersekolah, dan menitipkan si kecil Kia pada Ibu dan Mak Minah yang hari ini khusus menemani ibu ngemong baby Kia, Romi dan Yulia menempuh perjalanan ke rumah sakit menengok keadaan Dion.
"Mas, beli buah tangan dulu buat dibawa nengok Dion!"
"Boleh!"
"Kira kira kesukaannya apa ya, biar dia terhibur gitu!"
"Kalau robot robotan gimana?" Romi menggeleng.
"Anak seusia gitu, memang masih suka robot?"
"Terus apa dong?!" Romi mengedikkan bahu, ia sendiri juga tak tahu. Barangkali karena memang belum punya anak laki laki.
"Ah, kenapa harus pusing sih, anak orang juga. Kasih aja buah, jangan dibikin ribet. Beliin aja apel sama jeruk gitu!"
"Atau anggur!"
Akhirnya karena bingung tak tahu harus membeli apa, mereka sepakat membeli buah untuk dijadikan buah tangan.
Sesampainya di rumah sakit, saat mereka berjalan secara tak sengaja Romi melihat Andre didalam sebuah ruangan, dan saat sedikit melongokkan kepala tanpa sepengetahuan Yulia, ia melihat juga pak Santo diruangan itu, sedang duduk memunggungi pintu, menunggui seseorang diranjang, namun tak terlihat oleh Romi tertutup tubuh pak Santo.
Siapa keluarga Andre yang sakit? apa mungkin Bu Santo yang sakit? Romi.
"Ada apa sih, mas? Tengok tengok mulu?" Yulia jadi ikut menoleh kearah tempat yang dilihat Romi.
"Ah, enggak Bund! Tadi kayak seperti kenal orang didalam ruangan itu, tapi ternyata bukan!" ucap Romi beralasan, lalu meraih tangan istrinya dengan berjalan agak cepat.
Mereka telah sampai di ruang perawatan khusus pasien kecelakaan. Dan sayup sayup mendengar Dion menangis menyebut Papanya.
"Assalamu'alaikum, Dion kenapa?" Romi dan Yulia langsung menghambur kearah Dion, mereka berdua berdiri didamping kiri ranjang Dion.
"Dari semalam ngerengek terus nanyain Papahnya mas! Aku bingung. Mas Arsen dihubungi juga gak aktif nomer ponselnya." keluh Dini, terlihat wajahnya lelah, lingkaran hitam terlihat jelas diwajah putihnya walau masih nunggu semalam. Ia pasti tak tidur cukup semalam.
"Yang sabar ya Din, Anakmu pasti segera sembuh." ucap Yulia berusaha membesarkan hati Dini.
"Mbak Yulia, maafkan aku ya! Atas apa yang aku perbuat kemarin di toko kalian. Aku menyesal, sumpah!" ucap Dini sambil menunduk, mengelus bahu sebelah kanan anaknya yang masih terus menyebut nama Papahnya.
__ADS_1
"Om, Aku mau ketemu Papa, Om! Suruh Papa kesini Om! Huuuu... Aku sakit.. Semua badanku rasanya sakit om, Dion mau ketemu Papah!" rengekan Dion berganti kepada Romi.
"Yang sabar Dion, Papa Arsen sangat sayang padamu, dia pasti datang. Cuman mungkin sekarang dia lagi sibuk, atau mungkin malah udah berangkat kesini!" hibur Romi pada keponakannya.
"Sebentar ya, coba om hubungi Papa kamu. Bund! aku keluar dulu ya, aku mau coba hubungi Arsen, Gak apa kan aku tinggal sebentar?"
"Gak apa mas, pergilah!" Romi mencium pelipis istrinya lalu beranjak keluar ruangan. Sedang Yulia bergeser lebih mendekat ke samping kepala Dion.
"Dion, Tante bawa Apel sama jeruk juga anggur. Dion mau makan buah?" tawar Yulia pada Dion yang menggeleng. Yulia meletakkan apa yang dibawanya ke atas meja.
"Dion cuma mau ketemu Papah, Tante!" rengeknya menoleh pada Yulia. Matanya sembab. Sungguh kasihan anak ini, harus mengalami kecelakaan.
"Aku mau makan kalau Papah disini!" rengeknya lagi.
"Dari kemarin aku sudah bujuk dia makan, tapi dia gak mau mbak, aku coba tawari buat dibeliin makanan kesukaan dia, tetap gak mau juga. Pusing mbak aku, mana kurang tidur lagi." keluh Dini. Ia mengurut pelipisnya.
"Yang sabar Din, Dion kan lagi ngerasain sakit. Orang tua aja kalau merasa sakit juga rewel, apalagi ini anak anak." ucapnya tersenyum, dalam pikirannya Dini pastilah perempuan yang tak pernah kekurangan dan tak pernah hidup susah seperti dirinya. Itu sebabnya dia mudah sekali mengeluh.
"Dion, Om kamu lagi ngehubungin Papah. Jadi Dion harus makan, siapa tahu nanti tiba tiba Papah datang. Nanti dia marahin Mama jamu, kalau kamunya gak mau makan!" Yulia berusaha membujuk Dion.
"Tante suapin anggur, ya!" Dion yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar itu mengangguk.
Lalu Yulia pun mengambil buah anggur dalam keresek yang dibawanya. Dan menyuapi Dion suap demi suap.
Ia lalu berjalan cepat di koridor rumah sakit, menuju tempat dimana tadi ia sempat melihat Andre didalam ruangan. Sesampainya di sana, saat mengintip ke dalam, ia tak melihat Andre lagi.
Ia lalu membuka pintu setelah mengetuknya terlebih dulu.
"Pagi, pak Santo! Bu Santo lagi sakit ya?" ia melihat Bu Santo dengan posisi setengah duduk, dengan memakai penyangga leher.
" Nak Romi, iya ini ibu lagi sakit. Masuklah!" Romi lalu masuk dan berdiri disisi ranjang. Bu Santo tersenyum pada Romi.
"Ibu beberapa hari yang lalu jatuh dari tangga. Dan beginilah keadaannya."
Romi ber oh ria dan mengangguk angguk.
"Semoga cepet sembuh Bu!" Bu Santo pun mengangguk samar. Dia memang terkadang kesulitan bicara pasca terjatuh. Lehernya terasa sakit buat bicara.
"Terus, apa Andre nya belum pulang, Om. Apa dia gak dikasih tahu kalau ibunya lagi sakit?" Romi pura pura bertanya, padahal ia tahu Andre ada tadi.
__ADS_1
"Dia pulang kok, udah hampir dua Minggu dia disini, gantian sama Om nungguin ibunya. Dia tadi juga baru saja Om suruh pulang, nanti site baru ia kesini lagi jagain ibunya. Biar dia istirahat dulu dirumah."
"Wah, padahal aku ingin sekali ketemu dia, kan udah lama kita gak ketemu, om!"
"Dia belum lama kok keluarnya, mungkin dia masih belum jauh perginya, nak Romi!"
"Iya udah, Om. Kalau gitu, biar Romi cari dia ya, Om. Siapa tahu masih bisa ketemu!" Romi segera beranjak pergi setelah berpamitan pada pak Santo dan Bu Santo. Ia berjalan setengah berlari menuju parkiran. Dan untungnya ia sedang melihat Andre sedang duduk disebuah kursi besi lorong rumah sakit sambil bermain dengan hapenya.
Ia memelankan langkahnya. Banyak orang berlalu lalang ditempat itu membuat Andre tak menyadari kalau Romi ada didekatnya. Romi lalu melakukan panggilan pada nomer yang telah mengirim foto foto kemarin.
Tut Tut Tut...
Terdengar suara dari ponsel Andre. Romi tersenyum namun geram. Ternyata panggilannya tersambung pada ponsel Andre.
Jadi Lo yang ngirim foto foto pada Yulia. Awas ya Lo!
Romi berjalan lalu menepuk bahu Andre yang terkaget. Masih dengan telpon terhubung satu sama lain.
Romi menarik Andre dengan mengalungkan lengannya ke leher Andre, hingga Andre terbungkuk dan menurut saja dia bawa ke sebuah lorong yang sepi, sesampainya di sana Romi menghempas tubuh Andre ke tembok.
"Apaan sih Rom! Main tarik orang aja. Emang gue maling!" kesal Andre pura pura tak tahu apa yang telah dilakukannya kemarin.
"Iya Lo maling. Lo nyuri nyuri foto gue dari belakang kan?"
"Apa maksud Lo ngirimin foto foto gue sama Dini ke Yulia? Hmmm! Mo ngaco rumah tangga gue Lo? Bang sat!" dengan satu tangan menekan leher Andre ke dinding.
Andre tertawa, membuat Romi naik pitam. Ditinjunya perut Andre sampai dokter berkacamata itu meringis dan mengaduh.
"Awww! sakit Rom! Ampun!"
"Sabar bro, sabar! Gue gak ada maksud ngacau rumah tangga lo sama Yulia. Gue cuman iseng bro! Kita masih teman kan?" Andre meringis sambil tangan kanannya menahan tangan Romi yang mau meninjunya lagi.
"Iseng Lo bilang? Lo itu sekolah gak sih, gak bisa bedain mana yang bisa dibuat becanda mana yang enggak. Apa memang otak Lo di dengkul heeh!" Romi melotot, ingin rasanya ia meninju pria didepannya sampai babak belur. Biar dia tahu kalau hal semacam itu gak bisa dibuat becandaan atau iseng. Fatal akibatnya jika antara suami istri sampai saling tidak percaya karena hal iseng yang ia lakukan seperti apa yang dilakukannya pada Romi.
"Lo marah, jadi gimana, apa karena tadi malam ada yang ngambek terus suaminya suruh tidur diluar bertemankan nyamuk?" Andre malah semakin menertawakan Romi, membayangkan kehaluannya benar benar terjadi.
"Tidur diluar kamar berteman nyamuk. Sorry lah ya! Gue malah dapat jatah dobel sampe kosong. Habis gak tersisa. Emang Lo, pusaka Lo karatan, sebab gak pernah kepake!" ejek Romi pada pria didepannya.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Nah loh, senjata makan tuan.
...Bersambung.......