Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 57


__ADS_3

*****


"Kalian ini ya, baru pulang langsung nyelonong aja ngamar! Gak nganggap kita di rumah, nih!" seloroh seseorang yang tiba tiba muncul dari balik pintu.


Romi hanya nyengir kuda, sedang Yulia memerah mukanya, malu. Dan mengajak Shila menuju pintu untuk menyalami Bu Alvi, wanita yang telah menjadi mertuanya yang tiba tiba berdiri di pintu kamar.


"Maaf, Bu! Tadi Yulia udah mau keluar tapi Shila keburu datang. terus ngajak main Yulia!" katanya setelah menyalami dan mencium tangan Bu Alvi.


"Iya, gak apa apa! Ibu cuma becanda kok!" Yulia masih ingin bicara dengan mertuanya, tapi tangannya di tarik oleh Shila ke kamar si kecil Yesa, anaknya Mima.


Sedangkan Bu Alvi menatap anaknya tajam dan penuh selidik.


"Kalau belum puas ngurung istri kamu di kamar, kenapa pulang?" sarkas Bu Alvi pada anak lelakinya.


"Yulia dari kemarin pengen pulang Bu! kangen sama Shila katanya! Bu Minah masak apa Bu?" Romi menjawab sambil merangkul bahu ibunya.


"Hmmm, rupanya istrimu lebih cinta anakmu di banding kamu sendiri, suaminya, Kasian kamu Rom!" cibir ibu Alvi.


"Ah, ibu! Ada ada aja. Mana mungkin lah, Tentu dia lebih cinta anak ibu yang ganteng ini. Yakin deh!" lagi lagi Bu Alvi mencibir anaknya yang kelewat pede dan narsis.


*****


"Sayang, aku mau nagih janji kamu!" ucap Romi saat mereka usai makan malam, dan saat ini mereka telah masuk ke kamar masing masing. Bu Alvi berhasil membujuk Shila untuk tidur dengannya, dengan alasan Bu Alvi bakalan ikut Tante Mima cukup lama di kota lain. Sedang Mima ngelonin baby nya yang telah tidur. Chris suami Mima sedang pulang ke kota mereka untuk mengurusi pekerjaannya, dan baru bisa jemput mereka esok hari.


"Janji! janji apa? Aku kok lupa ya mas!" Romi yang telah duduk di tepi ranjang berdecak kesal. Yulia yang sedang mengusapkan krim malam pada wajahnya tersenyum melihat dari pantulan kaca, terlihat jelas suaminya sedang kesal.


"Ah, kamu! Lupa sama janji sendiri!" gerutu Romi.


"Ya, yang namanya lupa, gimana sih mas? Lupa itu gak ingat, mas. Bicara yang jelas deh, biar aku ingat lagi!" Yulia menahan senyum mengatakannya.


Romi hanya mendengus. lalu merebahkan diri diatas kasur dengan kaki tetap bersila. Sedang kedua tangannya ada di bawah kepalanya, ia jadikan bantal.


Yulia telah selesai mengusap krim malamnya, lalu mendekat ke sisi lain ranjang mereka.


"Coba, kasih tahu aku! Aku lupa apanya? Biar nanti besok besok lagi aku mengingatnya!" Romi sama sekali tak menoleh. Ia merasa kecewa. Ia tak tahu apa yang dikenakan istrinya karena di balik piyama Yulia mengenakan sesuatu, dan kini ia telah membukanya. Lalu masuk ke dalam selimut.

__ADS_1


"Mas Romiiii, noleh dong, bilang terus terang aku lupa apanya? Kasih tahu yang jelas!" Yulia masih menahan tawanya.


" Kamu lupa, lusa kamu pernah janji mau pakai yang di kasih Mima sebagai kado?" tatapannya lurus ke atas, menatap langit langit kamar.


"Kado? aku lupa kalau Mima ngasih aku kado!" Romi sudah tak bisa menahan kesalnya, merasa di permainkan Yulia. Ia lalu menoleh dan ...


Dorrrrr!


Kekesalannya menguap, saat tahu apa yang dikenakan istrinya. Ia langsung tersenyum lebar.


"Isshh, kenapa gak bilang dari tadi sih, piyama kamu mana?" walau hanya terlihat dari bahu Yulia yang terbuka, ia tahu yang sedang dipakai istrinya saat ini adalah hadiah dari Mima. Terlihat dari warnanya Romi masih hapal.


"Gimana mau ngomong, wong mas Romi ngomongnya gak jelas, maunya gimana?" Yulia tersenyum simpul. Dan Romi langsung menyibak lebar selimut yang menutupi istrinya.


"Ish, kamu mau goda aku ya?" kini ganti Romi yang menggoda Yulia.


"Kalau iya, kenapa? Keberatan?"


"Nggak! Seneng malah. Besok besok lagi seperti ini ya?" merapatkan tubuhnya pada sang istri hingga tak ada celah diantara keduanya.


"Memang mas Romi mau aku masuk angin tiap malam di suruh pake ginian?"


*****


Keesokan harinya mereka pergi ke swalayan. Sudah beberapa hari sejak dari belum menikah mereka tak lagi ke sana. Semua Romi pasrahkan pada Fani. Teman teman Yulia terlihat acuh dan cuma melirik saat Romi berjalan beriringan dengan Yulia.. Namun menjadi sangat riuh begitu Romi telah naik dan Yulia tak mengikutinya sambil membawa tas kresek.


"Aseeek, sepertinya kita dapat oleh oleh dari honeymoon nya pengantin baru nih!" celutuk Yeni sambil tersenyum lebar. Mereka bertiga celingukan melihat keatas, dan tak terlihat Romi di sana. Mereka langsung menyerbu Yulia. Berdiri di kiri dan kanan Yulia.


"Hai Bu Bos! Gimana kabarnya? udah MP kan, cieee!" Lasmi


"Bakalan langsung hamidun dong!" Risma. Mendengar celotehan mereka bertiga Yulia hanya tersenyum.


"Mau oleh oleh nggak, kalian?" tanya Yulia mengedarkan pandangannya pada ketiga orang itu.


"Tentu dong! Aseeek!" masing masing dari mereka mendapat 1 pak yang berisi snack dan baju khas pantai.

__ADS_1


*****


"Imaaah!" teriak Bu Adnan siang itu, tergopoh gopoh sambil menggendong baby Rayyan. Imah mendekati Bu Adnan yang santai kayak di pantai sambil menonton tivi dan ngemil kacang oven. Dan sangat mengesalkan karena Bu Adnan dengan sengaja membuang kulit kacang berantakan di atas meja.


"Bikinin aku makan siang yang enak, awas ya kalau gak enak!" ketus Bu Adnan. Selama Wahyu dan pak Adnan di rumah, Bu Adnan gak peduli dengan Imah. Terkesan cuek.


Tapi saat kedua lelaki itu pergi bekerja, ia dengan seenaknya menyuruh Imah mengerjakan ini dan itu.


"Tapi Bu, Baby Rayyan tak bisa di turunkan. Ia rewel sedari tadi, Bu!"


"Alaah! jangan banyak alasan kamu! Momong gitu aja gak becus. Pokoknya aku gak mau tahu ya, aku lapar, dan buatin aku makan siang! " perintah Bu Adnan dengan angkuhnya.


"Baik Bu!"


"Oiya, Bu. Minta tolong gendong baby Rayyan dulu nggih, Bu! Saya tak masak dulu!" Imah mendekat, bermaksud menyerahkan baby Rayyan. Tapi reaksi Bu Adnan sungguh di luar dugaannya.


"Enak saja, kamu suruh suruh saya, kamu itu di bayar sama Wahyu, ngapain ini kan udah tugas kamu!"


Ya Alloh, Iki menungso opo setan Yo! gerutu Imah dalam hati.


Ia lalu berjalan ke dapur, meletakkan baby Rayyan pada stroller nya, lalu memulai memasak untuk Bu Adnan.


Seminggu sudah ia bekerja di sini, dan sepertinya Bu Adnan memang sengaja membuatnya kewalahan dan mencari cari kesalahan dirinya, biar dia gak betah menjadi pengasuh Rayyan.


Sabar Imah, sabaaar! Orang sabar di sayang Alloh!


Imah menyemangati dirinya sendiri. Menurutnya Wahyu dan juga pak Adnan sangat baik, jadi ia tak mau mengecewakan mereka, meski tiap hari dapat omelan dan teriakan caci maki Bu Adnan.


Ngimpi opo ketemu uwong koyo Bu Adnan. batinnya sambil menggelengkan kepala.


"Sudah belum masaknya, lelet amat sih kamu!" Imah meremas udara berusaha melebur kekesalannya. Bu Adnan membawa baby Rayyan ke depan. Tak lama kemudian masakan pun telah matang dan Imah menyajikannya di meja makan.


"Bu, saya sudah selesai masaknya. Silakan! sudah saya siapkan di meja makan!" beritahu Imah.


"Ya sudah, sekarang kamu beresin ini ya! kulit kacang berceceran, aku gak mau rumah aku kotor. Nanti selesai makan, aku tahunya ini sudah bersih semua." perintah Bu Adnan lagi.

__ADS_1


Ya Alloh, kuatkan Hamba Mu! Kok Ono menungso sing koyok ngono Kuwi. Lek gak mergo butuh duwit aku gak bakal gelem kerjo neng kene. Untunge pak Wahyu Karo pak Adnan apek karo aku.


( Ya Alloh, kuatkan hambaMu. Kok ada manusia yang kayak gitu! Kalau gak benar benar butuh uang, aku gak bakalan mau kerja disini. Untungnya pak Wahyu sama pak Adnan baik sekali) batin Imah.


__ADS_2