
"Astaghfirullahal adzim, siapa juga iseng ngirimin foto seperti ini?" kesal Romi. Nomer si pengirim pun tak tersimpan di hape Yulia.
Ia lalu mencoba menelpon nomer itu,
Berulangkali ia mencoba menelpon, tersambung namun tak diangkat oleh orang yang telah mengirimkan foto itu. Dua buah foto diambil dari sisi kanan mereka dan tiga buah foto diambil dari belakang.
"Damn!!" umpat Romi, lalu membanting ponsel diatas kasur. Lalu ia duduk dengan bersandar head board ranjangnya.
Niat ngerjain gue nih orang kayaknya. Apa motifnya coba!
" Sayang, ini tak seperti yang kamu kira. Ini pasti kerjaan orang iseng, atau malah Dini sendiri yang ngirim ke kamu?" Romi berasumsi sendiri. Mendongak pada istrinya yang masih saja berwajah jutek menyentuh tangan itu namun ditepis oleh Yulia.
Ia mengingat ingat tadi saat di rumah sakit. Ia tak melihat atau bertemu dengan orang yang ia kenal kecuali....
Andre dan Dini. Yang mana ya kira kira?
"Sayang sayang! Huuh, udah ketahuan aja kamu cuman modus doang kan nunggu Dion dirumah sakit?" mulut Yulia maju, membuat Romi geli, ingin ia melu matnya andai dia tak sedang marah.
"Padahal pengen berduaan sama dia kan kamu, ayo ngaku!"
"Ya Alloh sayang, aku bersumpah, ini tak seperti yang kamu bayangkan. Kamu tahu kan keadaan Dion anaknya Dini itu gimana, Dini tadi benar benar terpukul. Mana mungkin cuma modus!"
"Lagian di rumah sakit banyak orang, gak cuman berdua saja, sayang! Kalau aku berdua di satu ruangan terus aku peluk dia, itu baru kamu bisa curiga." mengambil lagi ponsel yang tadi ia banting.
"Nah, ini lihat! Dia nyender di bahu aku, tapi aku nggak ngrespon. Liat tuh tangan aku, gak lagi peluk dia kan? Nggak kan?" Terlihat kedua tangan Romi bersedekap, sembari memegang ponsel ditangan kirinya.
"Yang realistis dong sayang! Ngapain aku modus sama dia, yang ada aku tambah dosa, dijutekin istri. Dan yang paling parah kalau gak dapat jatah malam"
"Punya istri udah sempurna gini, ngapain nyari yang lain." menarik tangan Yulia yang berkacak pinggang didepannya, hingga tubuh itu terjatuh diatasnya. Lalu mengendus wangi tubuh istrinya yang berbaur dengan bau wangi khas bayi. Minyak telon.
"Sekarang gini aja deh, kamu tahu kan kalau laki laki itu adalah makhluk yang lemah iman kalau berhadapan dengan lawan jenisnya. Ya nggak semuanya sih, tapi mungkin sebagian besar. Ibaratnya laki laki itu kucing, walaupun sama pemilik kucing itu dikasih makan dirumah, tapi dia itu kalau ada ikan asin diluar rumah, masih suka kepengen juga."
"Kalau orang yang kuat iman sih gak kegoda, mungkin cuman diliatin aja, udah. Tapi kalau memang pada dasarnya dia udah kayak kucing nakal, dia bakalan makan juga tuh ikan asin yang bukan buat dia."
__ADS_1
" Nah, sekarang adalah tugas istri gimana caranya biar suami betah di rumah, dikasih makannya cukup. Kepuasan batin terpenuhi. Biar dia gak suka lirik lirik ikan asin di luaran sana." Romi memeluk tubuh diatasnya, tanpa penolakan.
"Kata kataku bisa kau terima kan, sayang?"
"Tapi Dini pasti lain, dia kan sangat mirip sama ibunya Shila." kilah Yulia lagi. Romi mengelus rambut Yulia dan mencium aroma wanginya.
"Ya, aku akui Dini memang sangat mirip dengan almarhumah ibunya Shila. Tapi bukan berarti sama. Coba, sekarang aku tanya, gimana andainya dengan orang yang menikah dengan orang yang kembar identik? Punya wajah sama, senyum sama, warna kulit sama, hobi sama, gestur tubuh sama. Tapi apakah orang yang jadi pasangannya akan mencintai juga kembaran dari pasangannya karena punya wajah mirip. Kalau mikirnya waras tentunya enggak, kan?" Yulia mengangguk dalam pelukan Romi.
"Jadi, tolong jangan pernah kamu berpikir aku ada affair sama Dini, aku cuman berempati pada keponakanku Dion, tidak ada niat lain."
"Terus kira kira siapa yang kirim foto itu, mas?" Yulia mendongak, menatap kesungguhan di mata Romi.
"Apa kamu gak inget itu nomer siapa, barangkali aja pernah chat kamu, terus kamu lupa gak nyimpen nomernya?" Yulia berpikir sejenak, lalu menggeleng.
"Itu nomer baru, gak ada chat sebelumnya."
"Besok gimana kalau kita samperin Dini dirumah sakit? Aku tuh gak yakin kalau Dini, lagian anaknya lagi kayak gitu masa dia bisa berpikir hal aneh semacam itu. Gak mungkin kan?"
"Andre, dokter Andre maksud mas Romi?" Romi mengangguk mantap.
"Kita jangan suudzon dulu, sebelum ada bukti." pungkas Yulia kemudian.
"Nah, itu tahu. Kamu juga jangan suudzon sama aku ya! Aku ini suami lurus dan kuat kok, kecuali kalau udah kamu lemesin!" Yulia mencerna omongan Romi sejenak, lalu mencubitnya gemas.
"Awww, sakit bunda sayang," Romi meringis kemudian terkekeh.
"Ih, engap Bund!"
Romi lalu membalikkan tubuhnya hingga ia sekarang berada diatas Yulia.
"Issh, aku aja tiap hari mas Romi di atasku aku gak engap!" protes sang istri.
"Ya enggak engaplah. Kan beda. Bedanya kamu tadi diatasku gaya batu. Kalau aku yang di atas kamu, gaya maju mundur cantik!"
__ADS_1
Sebuah cubitan melayang lagi ke perut Romi.
*****
Pagi harinya, Yulia sedang didapur mempersiapkan menu sarapan nasi goreng dan telur ceplok, tak lupa irisan mentimun untuk mempercantik piring dan mempersegar rasa nasi goreng.
"Bunda lagi masak apa?" Shila yang baru bangun tidur langsung melaksanakan subuh melihat bundanya sibuk di dapur.
"Bunda mau masak nasi goreng, sayang. Shila mau kan, sarapan nasi goreng?" mata Shila membulat, ia memang paling suka menu nasi goreng buatan bundanya. Dan apapun yang dimasak bunda pasti enak sambil mengacungkan jempol, begitu biasanya Shila memuji masakannya
"Sippp bunda! Nanti Shila bekal ya, Bund!"
"Boleh, kalau Shila mau!"
"Shila mau bantu bunda ngupas timunnya ya, Bund!"
"Emang bisa? Tapi awas hati hati loh, pisaunya tajam!" Yulia menyerahkan pisau kecil pada Shila. Sedang dia sendiri menggoreng bumbu nasi goreng.
"Hmmm, wanginya! Bunda masak apa sih?" Romi muncul dengan baby Kia di gendongannya. Gadis kecil itu terus mengayun ngayunkan kakinya melihat punggung sang bunda sambil tertawa memperlihatkan gusi nya.
"Bunda masak nasi goreng buat kak Shila!" kali ini Shila yang menjawab.
"Yeee, buat ayah juga dong, buat nenek juga! Kalau adek sih, belum bisa. Adek cuman mimik cucu nya Bunda!" Romi menggoyang goyangkan bayinya hingga bayi itu tertawa menggemaskan. Menciuminya lalu mendekatkan pada Yulia yang sedang memasukkan nasi ke dalam wajan.
"Ih, Ayah! Ini aku lagi masak kok malah anaknya dideketin!"
"Adek pingin liat bunda masak, biar nanti kalau gede pinter masakin bunda sama Ayah!" Yulia menoleh sekilas dan tersenyum. Yulia hanya marah sebentar, namun kemudian segera gencatan senjata.
Semalam tak ada yang namanya tidur diluar berteman nyamuk. Mereka malah bertambah mesra. Yulia sadar suaminya ganteng dan juga punya banyak uang. Ia harus menjaganya dengan cinta jika memang tak ingin suaminya laksana kucing yang mencari ikan asin di luar sana karena tak mendapat jatah makan yang cukup dirumah.
\=\=\=\=\=
...Bersambung...
__ADS_1