
*****
Pagi ini Imah membawa serta Ifah dan Rayyan belanja. Imah meminta Ifah menjaga Rayyan selagi ia membeli sayur pada Mamang tukang sayur yang lewat depan rumah. Bersama ibu ibu tetangga mereka.
Terlihat ada beberapa ibu yang berkumpul dan kasak kusuk saat Imah datang, ia tak ambil pusing dengan mereka. Sebulan tinggal di tempat ini membuatnya cukup hapal kebiasaan mereka di pagi hari, walau hanya melihatnya dari jauh. Tak pernah ikut ikutan kongkow dengan mereka.
"Pagi Bu ibu semuanya! Mau pada beli sayur?" tanya Imah basa basi pada tiga orang ibu yang bergerombol agak jauh.
"Iya mbak Imah, mbak Imah sendiri?" tanya seorang ibu yang mempunyai tahi lalat di samping hidungnya. Selama sebulan di sini, ia wanita yang terkesan paling judes diantara ibu yang lain. Iya sih, orangnya cantik, tubuhnya juga lumayan bagus. Katanya juga suaminya ketua RT lingkungan situ.
"Iya, saya mau beli sayur juga. Buat makan siang, kalau buat sarapan sih, udah siap Bu! Bapak sukanya sarapan nasi goreng!" jawab Imah tersenyum, tak lagi memperhatikan ketiga orang tersebut. Tapi ia sempat melirik, telinganya terasa panas, ia yakin ibu ibu itu lagi membicarakan dirinya. Terlihat sekali dari gestur tubuh mereka.
"Bu, tukang sayurnya di sini! Kok ngumpul di situ? Apa minta tukang sayurnya nyamperin ke situ?" tanya seorang ibu yang sedang memilih sawi. Wanita berhijab biru itu berdiri cukup dekat dengan Imah. Ia juga terlihat jarang berkumpul dengan ketiga orang itu saat beli sayur, orangnya juga ramah. Imah tersenyum sambil mengangguk sopan pada wanita itu.
Ibu ibu itupun melenggang mendekati tukang sayur.
"Ayo Bu! dipilih dipilih sayurnya segaar semua!" ucap tukang sayur saat ketiganya mendekat. Namun, bukannya memilih sayuran, mereka malah mengintrogasi Imah.
"Mbak Imah, apa benar kata ibu ibu di sini, kalau mbak Imah itu kerja sama pak Wahyu, dan bukan suami istri?" Imah mengernyit, sebagai istri pak RT bukannya wanita itu sudah tahu kalau ia bukan istri pak Wahyu.
"Maaf, iya benar! Saya sama pak Wahyu memang bukan suami istri, saya cuma pekerja, Bu! Saya bekerja mengasuh anaknya, karena istri pak Wahyu telah meninggal!" jawab polos Imah.
Duh, ini kenapa jadi bahas dirinya dan pak Wahyu. Ckk, memang sih, orang seperti kita pasti bakalan kena gosip, apalagi di lingkungan rumah yang seperti ini. Tapi kami kan tak pernah berbuat apa apa?
"Nah kan! Apa saya bilang, mereka bukan suami istri." sambar Bu RT itu ketus.
__ADS_1
"Apalagi kata suami saya status mbak Imah itu janda, dan pak Wahyu juga duda! Tinggal serumah lagi, ya kalau siang sih anak anak pada melek, Pak Wahyu juga kerja. Ngakunya momong anak. Tapi, kalau malam, anak anak udah tidur, kita kan gak tahu apa yang mereka lakukan?" kedua orang teman Bu RT mengangguk angguk, sementara ibu yang berjilbab dan tukang sayur hanya menyimak. Menggelengkan kepala.
"Loh, ibu ibu, debatnya nanti aja ya, ini pada beli sayur apa nggak? Kalau enggak saya mau keliling nih, Bu!" Mamang tukang sayur menengahi.
"Iya, kita gak akan tahu apa yang mereka lakukan di malam hari, apalagi sekarang ini musimnya dingin banget kalau malam." temannya Bu RT menyahut. Membuat telinga Imah yang sudah panas bertambah panas.
"Loh, memang apa salahnya? Di rumah kita tidak sendiri, ada anak saya yang bisa ditanyai juga. Silakan kalau mau bertanya, anak saya pasti bakal jawab apa adanya! Kita hak pernah ngapa ngapain."
"Jangan ngeghibah yang gak bener, Bu! Jatuhnya fitnah loh, kalau yang ibu ucapkan itu gak benar. Anda kan Bu RT, harusnya bisa jaga sikapnya pada warganya. Silakan bertanya sama anak saya itu, Saya bersumpah, antara saya dan pak Wahyu tak ada hubungan apapun, cuma antara pengasuh sama majikannya!" Imah tersudut, tak tahu lagi harus berbuat apa. Maksud hati ingin berbasa basi dengan mereka, malah kejadiannya mereka menyerang dan menyudutkan dengan menyakitkan seperti ini.
" Alaah, pinter ngomong ternyata dia. Mana ada, Janda sama Duda satu rumah, dan gak ngapa ngapain. Bo'ong aja itu! Ngotorin lingkungan kita, betul nggak?" masih saja Bu RT mengompori teman teman ghibahnya.
Imah segera mengambil sayur yang di perlukan, lalu setelah Mamang tukang sayur menghitung belanjanya, segera ia memberikan uangnya. Ia menghadap lagi pada ibu ibu sebelum pergi.
"Di saat semua orang mengusir saya dan tak mau memberikan pekerjaan karena saya dekil dan membawa anak pula, pak Wahyu berbaik hati menawari saya mengasuh anaknya. Sampai sekarang, dan hubungan ini tak lebih dari itu. Kalau memang ibu ibu merasa saya mengotori lingkungan sini, baiklah! Saya akan terima dan mau pergi dari rumah pak Wahyu, tapi dengan satu syarat. Berikan pekerjaan yang layak buat saya, dengan gaji yang sama pula! Maka saya akan dengan senang hati pergi dari rumah pak Wahyu!"
"Kalau sudah ada pekerjaannya silakan hubungi saya, dan saya akan angkat kaki dari sini!" urai Imah berusaha setenang mungkin.
Imah pun segera berlalu, mengajak Ifah dan mendorong kereta roda Rayyan masuk ke dalam rumah. Dan semua itu tadi tak luput dari pendengaran Wahyu yang kebetulan ada di ruang tamu, mendengar semuanya.
Setelah keluar dari rumah pun masih juga bermasalah.
Masalah memang akan terus terjadi, disaat kita selesai dengan masalah yang satu, maka akan datang masalah yang lain. Terkadang masalah satu belum selesai, timbul lagi masalah yang lainnya.
*****
__ADS_1
Dua bulan kemudian.
Setelah beberapa waktu Wahyu bimbang, ia akhirnya mempergunakan uang dalam kartu yang di berikan Wida untuk membeli rumah. Ini untuk keperluan Rayyan juga, dia harus tinggal di rumah yang nyaman, walau tidak mewah.
Beberapa waktu setelah kejadian itu, pak RT mendatangi Wahyu dan mendesaknya untuk tidak tinggal serumah dengan Imah. Atau mereka menikah saja. Tapi Wahyu menolak, jika mereka menikah atas desakan mereka, itu sama artinya Wahyu membenarkan perkataan para tetangga tentang kelakuan tak benar mereka. Namun Wahyu juga tak mau melepas Imah, mereka masih saling membutuhkan, Imah membutuhkan biaya untuk dirinya dan anaknya. Sedang Wahyu butuh Imah untuk mengasuh Rayyan.
Kini mereka tinggal di sebuah perumahan menengah satu lantai, ada tiga kamar di rumah itu, garasi mobil, ruang makan, dapur dan lainnya cukup lengkap. Terutama di rumah ini lebih terjaga privasinya.
Imah tak perlu was was ada tetangga yang sok kepo tentang kehidupan mereka. Toh mereka juga tak ada hubungan istimewa.
Tapi semenjak itu, Wahyu berusaha mengenal Imah lebih dekat.
****
Pada hari libur ini, Wahyu menghabiskan waktu dengan Rayyan di rumah. Setelah meminum susu dari dotnya, Baby Rayyan pun tertidur.
Kini tinggal Wahyu dan Ifah bermain ular tangga.
"Ayo Paman! kita main lagi, Paman udah kalah dua kali! ahahaha!" terdengar tawa bahagia Ifah dari tempat Imah mencuci pakaian.
"Udah,ah! Paman pasti terus kalah. Habisnya Ifah pinter sih!" rayu Wahyu pada Ifah. Ada sesuatu yang ingin Wahyu tanyakan pada Ifah tentang kehidupan mereka sebelumnya.
\=\=\=\=\=\=\=
TBC
__ADS_1