Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 76


__ADS_3

*****


"Yesi? Hei...kapan kamu pulang?" Romi tersenyum lebar menyambut wanita itu yang terus mendekat. Namun Romi menjaga jarak saat wanita itu ingin memeluknya dengan mengangkat tangan ke depan dada.


Wanita itu kehilangan senyumnya dan terkejut mengerutkan alis.


"Heiii...ada apa denganmu?" Dengan kecewa wanita yang bernama Yesi menurunkan tangan yang hampir memeluk Romi, dan langkahnya terhenti seketika.


"Gak apa apa! Ada hati yang harus aku jaga sekarang!"


"Haaah, apa maksud kamu Rom?" Alis gadis itu makin mengerut, makin tak mengerti.


"Tapi aku kangen berat sama kamu, Rom, tak bolehkah aku peluk kamu sebentar. Tiga tahun loh, bukan waktu yang sebentar." pinta wanita itu dan tanpa aba aba memeluk Romi. Di saat itu Yulia keluar dari kamar mandi.


Wajah Yulia yang tadi sumringah langsung memerah menahan tangis saat suaminya berpelukan dengan wanita di depan mata.


"Sudah Yes, udah aku bilang kita jangan peluk peluk sembarangan. Kita tak lagi seperti dulu." Romi berusaha lepas dari Yesi yang menyandarkan kepala dengan seenaknya di dada bidang Romi.


Yulia merasa nyeri hatinya melihat drama di depannya.


"Begitu ya kelakuan kamu mas, padahal aku ada di dekatmu. Tiap hari ada di sampingmu saja kau seperti ini? Tega kamu?" Yulia bersuara dengan mata berkaca kaca dari belakang Romi. Keduanya tadi tak menyadari Yulia ada di belakang mereka sudah keluar dari kamar mandi.


"Loh, dia siapa Romi?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Yesi yang melongo. Romi berhasil mengurai pelukan Yesi setelah tadi bagai lengket karena tadi Yesi melingkarkan tangan di pinggang Romi. Jelas saja Yulia langsung marah melihatnya.


"Ah, sayang. Ini tidak seperti yang kamu lihat, sayang!" Romi mendorong kasar bahu Yesi yang masih sangat dekat dengannya. Meraih pergelangan tangan Yulia yang berjalan cepat dan sambil memegang perutnya melewatinya dan Yesi untuk keluar ruangan.


"Lepas!! Puas puaskan kamu pelukan sama dia! Jijik aku sama kelakuan kamu, mas!" Yulia berusaha terlepas dari cekalan tangan Romi. Namun genggaman itu terlalu kuat.


"Lepas! kamu menyakiti tanganku mas!!"


Terlebih lagi hatiku.


Romi terpaksa melepas tangan istrinya.


"Kamu bahkan berani pelukan dengan perempuan lain saat aku ada. Menjijikkan sekali." pekik Yulia menunjuk dada Romi, membuat Romi terhenyak di depannya. Yulia juga sudah tak mampu lagi menahan air matanya. Baru saja mereka sayang sayangan, peluk pelukan. Bahkan walau sedang hamil besar, ia tak pernah menolak saat Romi menyentuhnya tiap malam. Ternyata sang suami belum tercukupkan hanya dengannya.


"Dengarkan dulu sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Romi menoleh pada Yesi yang menjadi penonton kemarahan Yulia. Dari situ Yesi baru ngeh kalau perempuan itu istri Romi. Tengah hamil besar pula.


"Jadi, kamu sudah menikah lagi Rom? Dia istri kamu?"


"Ya, dia istri aku. Tolong Yes, kasih tahu dia, kalau kita tak ada hubungan apa apa!" namun terlambat, Yulia sudah meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Yul, Yulia sayang!!" Yulia telah berjalan di bawah, diantara pembeli di swalayan yang cukup ramai di siang itu. Romi berjalan cepat untuk dapat menggapai istrinya, sedang Yesi berjalan di belakang. Mereka kini menjadi perhatian orang orang yang mereka lalui.


Sesampainya di parkiran, Yulia segera memasukkan kunci sepeda, memutarnya, lalu menstarter motor matic itu. Namun Romi berhasil mencegah dengan mematikan dan mencabut kunci dari motornya.


"Kembalikaaan!"


"Nggak! Kamu gak boleh sepedaan dalam keadaan marah." kunci motor Romi sembunyikan di saku celana jeans-nya.


"Ayo, turun sayang! Kita selesaikan baik baik. Yesi itu temen kuliah aku sama ibunya Shila. Mereka sahabatan. Percaya sama aku, please sekali ini aja!" Romi memohon dengan memelas. Tak mau kesalahpahaman berlarut larut. Yesi di belakang Romi masih setia dalam diamnya menonton keributan pasangan itu.


"Nggak! aku mau pulang. Kesini kan kuncinya!" Yulia makin histeris, entah mengapa perasaannya seperti diaduk aduk. Ingin meluapkan kemarahan pada suaminya. Dan juga wanita di belakangnya. Akal sehatnya sekarang sepertinya tidak berfungsi dengan baik.


"Please lah Yes, jelaskan sama istriku kalau antara kita tuh gak ada apa apa!" Romi meluapkan kekesalannya pada Yesi.


"Mbak, mbaknya turun dulu dong. Kita mau jelasin kalau kita itu memang ada apa-apa!" mata Romi melotot nyalang pada Yesi. Yesi malah mengompori keadaan ini.


"Yesi!! gila kamu ya! Kapan kita ada apa apa! Istriku sedang hamil, jangan menambah kekesalan istriku!" Sementara Romi berdebat dengan Yesi, Yulia turun dari motor dan berjalan cepat menyusuri jalanan.


Romi yang melihatnya langsung mengambil kunci motor yang tadi ia sembunyikan, menyalakan mesinnya dan segera menyusul Yulia meninggalkan Yesi yang diam saja di tempatnya.


Tak butuh waktu lama, Romi berhasil menghadang istrinya yang berjalan di trotoar.


"Duh, Yulia. Please percaya sama aku, aku sama Yesi gak ada hubungan apa-apa! aku..."


"Yul!!!" Romi meninju udara berkali kali meluapkan kekesalannya, istrinya sudah menjauh menggunakan sepeda itu. Ia memandang kepergian sang istri sampai tak terlihat lagi di tikungan.


Semoga dia pulang ke rumah dan gak kemana mana.


Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah menghawatirkan istrinya dan setengah berlari ia kembali ke swalayan.


"Fan, pinjem motornya dong! Cepat gak pake lama...!" tangan Romi mengetuk ngetuk meja kasir dengan tak sabar.


"Sabar napa bang! Ada apa sih? Bertengkar?" Fani meraih kunci motor yang ia letakkan dalam tas. Romi sudah tak menghiraukan Yesi, ia akan membuat perhitungan pada perempuan itu lain kali.


"Gara gara dia nih, main peluk peluk sembarangan. Dia jadi salah paham!" menunjuk muka Yesi dan menoyor kepalanya. Tak perduli banyak pelanggan yang antri di meja kasir.


Yesi hanya cengar cengir, sama sekali merasa tak bersalah.


Dengan modal sepeda Fani, Romi ngebut pulang ke rumahnya dan telah tiba 10 menit kemudian. Ia lega saat melihat sepeda motor di halaman rumah mereka.


Namun saat masuk ia cuma mendapati ibu mertuanya sedang duduk di sofa.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Bu, Yulia dimana Bu?" ucapnya tak sabar.


"Waalaikum salam. Tadi dia masuk ke kamar kalian, nak Romi. Kenapa, lagi marahan?" tanya ibu mertuanya yang duduk di sofa, sambil menonton tivi.


"Hanya salah paham Bu."


Romi bergegas menuju kamarnya, dan mendapati kamar di kunci dari dalam.


Tok tok tok!


"Yul! bukain pintu dong! Jangan ngambek gitu ah!" Romi masih terus berusaha meluruskan kesalahpahaman mereka. Berkali kali ia memutar handle pintu.


Tak ada jawaban dari dalam.


Awas ya perempuan luknut itu. Kalau sampai Yulia gak mau maafin aku, bakal aku seret dia jelasin sama Yulia. Geram Romi.


Dateng dateng main peluk. gerutunya lagi.


Agak lama Romi menunggu di depan pintu, namun tak juga dibukakan. Dan Bu Kanti yang sedari tadi mendengar Romi memanggil manggil sambil mengetuk pintu, bersuara.


"Biarkan saja dulu, nak Romi. Mungkin Yulia butuh sendiri buat merenung. Nanti ibu coba bujuk dia." Romi menoleh pada mertuanya yang berjalan ke arah mereka.


Romi mengangguk, dan berterima kasih pada Bu Kanti.


"Sebaiknya nak Romi selesaikan pekerjaannya dulu. Yulia memang begitu kalau lagi kesel. Apalagi dia sedang hamil. Ia pasti mudah tersinggung sekarang."


"Nanti, kalau ngambeknya sudah reda, ia juga baik sendiri!"


"Baiklah, Bu! Tolong kalau ada apa apa hubungi saya ya, Bu! Saya mau kembali ke toko dulu."


"Terima kasih sebelumnya." Romi tersenyum lemah di depan ibu mertuanya. Lalu pergi lagi menuju swalayan menggunakan motor Fani. Sebelum pergi ia menoleh kearah jendela kamarnya, menghela nafas, lalu memutar pelan gas motor itu.


Semoga marahmu gak lama Yul! Yesi, akan ku buat perhitungan dengan kamu. Geram Romi.


\=\=\=\=\=\=


Belum sempat edit gaesss, langsung up. Terimakasih yang udah setia membaca sampai saat ini.


ahaha,,, konfliknya dipaksain banget, cuman konflik kecil dan kesalah pahaman....


Love you

__ADS_1


Binti Ulfa


__ADS_2