
"Mas Wahyu?!"
"Yulia!?" ucap mereka bersamaan.
Wahyu tersenyum pada Yulia yang bengong menatapnya lalu beralih pada kertas yang sempat dibaca kop suratnya. Tadi ia berjalan sambil melihat surat hasil pemeriksaan dokter andrologi.
Saat beralih menatap orang di samping Yulia, senyum Wahyu langsung memudar.
"Romi!" gumamnya berusaha tersenyum ramah pada suami dari mantan istrinya itu. Tapi kaku, karena Romi menatapnya seperti singa yang melihat mangsanya.
"Mas Wahyu ngapain disini? siapa yang sakit?" tanya Yulia tak menghiraukan tatapan menghunus sang suami.
"Ammm, aku ...aku... lagi capek aja. Terus cari obat." jawab Wahyu agak gugup lalu membuang pandangan.
"Kamu sendiri, bagaimana?"
"Alhamdulillah, mas!"
"Tadi baru jenguk ponakan yang baru kecelakaan."
"Ehemm..ehemmm!" Romi berdehem.
Yulia melirik pada suaminya.
"Ya udah mas, kami pulang dulu. Khawatirnya baby aku nangis, mas. Udah lama aku disini tadi." Wahyu mengangguk.
"Oh, ya. Silakan."
Mereka pun berpisah, karena arah jalan yang berbeda. Romi melingkarkan tangan di bahu istrinya dengan posesif.
"Mas!" Romi tak menyahut, terus saja berjalan, hanya melirik istrinya sekilas. Lalu berjalan lurus.
"Itu tadi mas Wahyu bawa surat keterangan poli andrologi. Dokter Andrologi itu menangani apa saja sih, mas?" Lagi lagi Yulia bertanya dengan nada polos.
"Kamu gak tahu, atau cuma ngetes aku?" nada bicaranya tak enak didengar Yulia. Namun Yulia tetap menggeleng. Mereka tiba di parkiran.
"Aku benar benar tak tahu, mas!" Berjalan dibawah teriknya sinar mentari, membuat mereka berdua berhenti ngobrol. Romi berjalan dengan menutupi muka dengan tangan ditempelkan diatas dahi.
Sedang Yulia berlindung dari sinar ultra violet menggunakan tasnya.
"Huh, lega! Hari ini panas banget ya mas?" Romi hanya mengangguk dan menyalakan AC mobil. Sebelum memulai menyetir terlebih dulu mereka meminum air mineral kemasan botol bergantian.
"Mas, pertanyaanku tadi?" menoleh pada suami yang fokus mengemudi.
"Pertanyaan yang mana?"
__ADS_1
"Soal dokter andrologi. Mas Wahyu tadi..."
"Kepo banget sih kamu dengan urusan dia. Ingat Yul, jangan kepo dengan lelaki lain walaupun itu mantan suami." ucapnya dengan ketus.
"Ya Alloh, mas! Kamu tuh ya? Aku itu benar benar gak tahu, wajar kan kalau aku nanya."
"Walaupun itu bukan mas Wahyu, aku pasti juga bakalan bereaksi sama. Bertanya daripada penasaran. Aku cuma penasaran doang. Malu bertanya sesat di jalan katanya."
"Sama aja tuh namanya kepo, kamu gak mikirin perasaan aku napa!"
" Terkadang orang jika ditanya juga jawabannya suka menyesatkan." elak Romi.
*Ya udahlah, si possesive itu kalau diladenin, bakalan panjang. Lebih baik diam.
"Andrologi, atau dokter Androlog*, itu menangani kasus pada reproduksi pria. Misalnya menangani pria yang belum punya keturunan. pria yang mengalami disfungsi sek sual, dan masalah pria lainnya." Akhirnya Romi malah bicara saat Yulia diam pasrah karena tak mendapat penjelasan.
Yulia menyimak dengan seksama.
"Misalkan laki laki yang lama menikah tapi belum punya keturunan. Maka yang harus dilakukan adalah mendatangi dokter andrologi untuk menganalisa sper ma. Ada atau tidaknya sper ma dalam air ma ni.
Atau masalah yang lain, disfungsi erek si atau ejakulasi dini misalkan!"
"Tapi mungkin kalau dia tadi, mau melakukan KB pria, semisal vasektomi, karena gak ingin punya anak lagi." sambung Romi sambil menyetir.
"Napa? Lagi mikirin mantan suami? Aku di samping kamu dianggap batu!" nada bicara Romi cukup tinggi, membuat Yulia tersentak dari bengongnya.
"Enggak, siapa yang mikirin mantan. Mas Romi ini curigaan mulu sama aku!" keluh Yulia manyun.
Raut wajah Romi benar benar tak bersahabat, bahkan saat mobil berhenti karena lampu merah Romi melengos kearah lain.
"Duuh, suamiku ini kalau lagi kesel apa cemburu mukanya keliatan tambah ganteng gini sih!" rayu Yulia sembari tersenyum. Ia menyentuh pipi Romi dan menekannya agar sang suami menoleh padanya.
"Ishh, cute nya suamiku! Jadi gemes!" mendekatkan wajah lalu mengecup pipi, dan terakhir dibibir merah Romi.
Romi tak menyia nyiakan kesempatan. Saat Yulia ingin menarik wajahnya, Romi malah menahan leher bagian belakang istrinya, hingga kecupan di bibir berubah menjadi lu matan yang dalam, saling memagut, bertukar saliva.
Yulia pasrah saja dengan kelakuan sang suami, mungkin dengan hal itu kekesalannya karena bertemu Wahyu mereda. Untung kaca mobil gelap, tak terlihat aktifitas mesum sepasang manusia didalamnya.
Ciu man baru berhenti karena tersentak mendengar rentetan klakson mobil di belakang mobil mereka. Rupanya lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau dan mereka tak tahu.
Mobil melaju pelan. Yulia menoleh pada pengemudi disampingnya, Raut wajah Romi lebih enak dipandang, dan terlihat menyunggingkan senyum tipis. Ia lalu mengelap bibir suaminya yang ternoda oleh lipstik dan sisa saliva dengan pelan.
"Bibirmu sendiri belepotan, tuh!" Romi memberitahu istrinya sambil tersenyum lebar. Segera Yulia mengambil kaca kecil di dalam tas, dan memperbaiki riasannya.
Nah, kan. Menaklukkan suami yang cemburu bagi Yulia mudah dan menyenangkan.
__ADS_1
*****
"Yah, Ibu!! Setelah ibu pulang nanti, aku mau kembali ke tempat praktekku di sana ya! Ibu jaga hati dan pikiran, biar cepat pulih dan sehat kembali." Andre menggenggam tangan ibunya yang duduk di ranjang pasien. Dan ia berdiri disampingnya.
"Kenapa buru buru sih, Ndre. Ibu masih kangen. Apa ada yang kamu rindukan di sana? Kenalin sama kita, dong."
" Kalau dia sama dengan keyakinan kita, Ibu sama Ayah janji bakal ngerestuin kamu." sambung Ayahnya.
"Iya, kan Bu?" Bu Santo mengangguk.
Andre tersenyum penuh arti menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Ayah dan ibu doain aja, aku bisa meluluhkan hati dia. Dia itu keras kepala banget. Lucunya itu dia ketus banget sama Andre, tapi kata Ayahnya, dia suka uring uringan gak jelas setelah aku pergi gak ngasih kabar ke dia."
"Indikasi ada kemajuan pedekate aku."
"Apa perempuan yang kemarin itu, Ndre? Keliatannya cantik!" tanya Bu Santo dengan lirih. Di lehernya masih terpasang neck collar.
"Ibu sama ayah kenal kok dengan dia!" pak Santo mengernyit.
"Oya! Siapa?!"
"Anaknya Om Wibisana, yang dulu pindah hampir sepuluhan tahun ke Bali. Terus anak gadisnya waktu itu kan gak ikut, dia masih nerusin sekolah sama kuliah disini."
"Dia nyusul ke sananya habis wisuda. Kita ketemu gak sengaja di pantai beberapa bulan lalu, Bu, Yah! Dan aku lagi merjuangin cintaku ke dia."
"Aku yakin dia juga suka sama aku, cuman masih gengsi aja sepertinya." Ayah manggut manggut.
"Ya ya. Aku masih ingat, Om Wibisana yang usahanya bangkrut gara gara dicurangi rekan bisnisnya. Rupanya terus pindah ke Bali ternyata dia!? Aku malah baru tahu darimu, Ndre!"
"Iya, yah! Mamanya Yesi kan pinter masak, mereka di sana buka usaha rumah makan. Rumah makannya lumayan ramai. Malah sekarang di sana buka cabang di dua kota. Dan ketiga tiganya ramai pelanggan."
"Iya ya, namanya Yesi. ayah baru ingat. Tapi bukannya dulu kamu pernah ngadu, dia sama teman temannya suka bully kamu. Mereka baik sama kamu kalau dia butuh contekan pelajaran IPA?"
"Benar yang itu, kan?"
"Ya itu kan dulu, yah! Gak usah diingat ingat. Aku juga gak dendam sama dia. Sekarang dia cantik banget. Ayah dan Mamanya juga baik sama aku, dan aku ber positive thinking kalau mereka ngasih lampu ijo sama aku deketin anaknya."
"Mereka juga ngeluh, seumur segitu Yesi belum juga dapat jodoh, karena ia selalu judes sama cowok yang berusaha ngedeketin dia."
Andre menatap kedua orang tuanya.
\=\=\=\=\=\=
Jangan buat aku berasumsi kalau kamu sedang cemburu sana mereka
__ADS_1