
"Suara apaan tuh, Mas? " bisik Yulia dan Romi saling pandang. Menajamkan pendengaran, terdengar orang berbicara pelan, dari balik tembok dapur.
"Kamu jangan gitu dong, Din. Dewasa dikit lah. Kita ini numpang disini, gak enak hati lama lama aku. Iya, aku akui mereka memang baik, gak mempermasalahkan. Tapi aku sebagai suami kamu yang malu. " Romi dan Yulia mengendap endap pelan. Suara itu jelas terdengar oleh mereka dari belakang rumah mereka, bukan dari rumah tetangga. Suara laki laki dan perempuan.
"Kalau kamu mau pulang, pulanglah sana! Siapa suruh ngikutin aku. Sana pergi, biar kamu puas berduaan sama perempuan itu!" suara perempuan.
"Astaghfirullah. Sudah berapa kali aku bilang sama kamu, aku sama dia gak ada hubungan apa apa. Percaya sama aku, suamimu." sang pria berusaha meyakinkan.
"Apa? percaya sama kamu? Memang kamu bisa dipercaya?"
" Dan apa tadi, gak ada apa-apa kamu bilang? Dengan mata kepalaku sendiri aku liat kamu janjian ketemuan dikafe diam diam. Masih kamu bilang aku ngada ngada. Masih bilang gak ada apa apa? Masih mangkir? Dia juga bergelayut manja dan genit sama kamu, kamu bilang itu biasa. Perempuan mana yang rela suaminya digituin sama perempuan lain, Mas. Mikir dong!"
"Aku sedang hamil anak kamu, mas. kamu tahu gak sih perasaanku." suara perempuan terdengar bernada tinggi, namun sebentar kemudian terdengar isak tangisnya.
"Maafkan aku, sebagai suami aku memang kurang peka akan keadaan dan keinginanmu. Please Dini, jangan nangis."
" Kita lagi ada bisnis yang harus segera diselesaikan, Sayang. Percaya sama aku kali ini aja." bujuk sang pria melembut mendengar isakan perempuan.
"Bener kan mas aku bilang, mereka ada masalah." bisik Yulia dari balik tembok.
"Masalah WIL. Wanita Idaman Lain, alias pelakor! " ujar Romi juga berbisik. Yulia manggut manggut mengiyakan. Yulia memegang lengan suaminya, rasa hausnya tiba tiba hilang seketika.
Sekarang Dini merasakan, apa yang aku rasakan waktu pertama kali kita ketemu. Itu sebabnya, dari kemarin dia sibuk meminta maaf sama aku, mungkin dia merasa bersalah waktu itu dia meluk meluk mas Romi di depanku.
"Besok kita jadi pulang, ya. Aku gak akan tenang ninggalin kamu disini. Kamu istriku, tanggung jawabku. Nurut dikit sama suami, kata pak Ustadz, surga istri ada pada suaminya, bukan begitu?" bujukan sang pria bersuara lagi. Masih ngotot mengajak pulang.
" Jangan bawa bawa surga atau neraka. Memang Mas merasa udah pantas masuk surga. Emang peselingkuh masuk surga? Yang bener aja, bawa bawa ustadz lagi!" suara sang perempuan mencibir, dan jelas terdengar oleh orang dibalik pintu.
"Astaghfirullah!" terdengar nada putus asa.
"Pokoknya, aku gak mau pulang. Kamu ingin pulang, sana sendiri. Biarin aku sama Dion disini." suara perempuan masih tetap ngotot.
"Ehem, ehem! " tak tahan juga dengan perdebatan keduanya, Romi memunculkan diri dihadapan mereka.
"Mas Romi, mbak Yulia! "
"Tau gak, suara berisik kalian mengganggu istirahat bukan hanya aku dan istriku, tapi juga tetangga lainnya. Ini tengah malam, mikir gak sih kalian? " suara tegas Romi yang muncul dari balik pintu dapur membuat mereka terkejut, dan keduanya menunduk seperti dikomando.
"Maaf, mas! " mereka kompak meminta maaf.
"Ini ulah dia mas, mau aku ajak pulang, dianya gak mau. Masa iya, dia maunya numpang disini lama lama, gak lucu kan? " Arsen melirik istrinya. Ingin melakukan pembelaan yang langsung dibantah Dini.
"Lah, kok aku? Ini gara gara kamu punya wanita lain, makanya aku mau kabur dari kamu, tak tahu diri aja kamu ngikutin aku?" bantah Dini tak mau kalah.
"Cukup! Gak tahu malu ya, kalian"
__ADS_1
"Begini ya, aku tuh sebenarnya gak masalah kalian tinggal seminggu, sebulan bahkan setahun disini. Asal kalian jangan membuat keributan. Aku akan kasih apapun buat ketenangan, suasana kondusif, dan kenyamanan istri sama anak aku dirumah. Apalagi Yulia sedang hamil besar saat ini. Dia harus merasa nyaman. Dan pertengkaran kalian itu bukan hanya buat dia gak nyaman, juga penghuni rumah lainnya."
"Kita gak suka ya, ribut ribut. Apalagi Ibu mertuaku juga udah tua, dia butuh ketenangan. Kalau kalian gak bisa akur, mau cakaran cakaran, mending jangan dirumah aku. Kalian cari tempat lain aja. " Romi menatap kedua orang itu bergantian.
"Dini, Arsen, kita masuk yuk! Gak baik malam malam diluar rumah. Apalagi kamu, Dini." ajak Yulia menengahi, keduanya mengangguk setuju untuk masuk, dan kini duduk diruang tamu berhadap hadapan.
"Kita bicara baik baik disini, malam ini juga. Ingat kalian terutama Dini, jaga emosi. Dan kamu Arsen, hormon wanita hamil itu memang gak seimbang, emosinya labil, tetiba marah, tetiba sedih tanpa sebab itu sudah biasa. Jadi, kamu sebagai suaminya harap maklum ya, itu bawaan bayi."
"I-iya, mbak."
"Aku pernah tuh liat, ada Bos marah marah sama karyawannya gegara Dia ada masalah sama istri, marah sama istrinya, tapi lampiasinnya ke karyawan. Jadi kasian 'kan karyawannya." Romi melirik sang istri, merasa tersentil omongan istrinya. Tapi diam saja.
"Ya nggak, mas Romi?"
"Hmmm, nggak tuh. aku 'kan gak pernah jadi karyawan." belanya. Acuh. Bersedekap.
"Banyak hal positif yang bisa dilakukan saat emosi, berwudhu misalnya. Sebagai muslim kita disarankan berwudhu jika sedang marah. Karena marah berasal dari setan, setan terbuat dari api, dan api bisa padam dengan air. "
" Bisa juga membaca istiadzah atau taawudz, berdzikir atau membaca kitab suci Nya, istighfar juga bisa." jelas Yulia panjang lebar.
"Atau bisa juga dengan olahraga, dan harus dilakukan sama suami atau istrinya, dijamin deh, emosi tersalurkan." sahut Romi yang mendapat sorotan tajam istrinya.
"Mas...! " Bisa bisanya Romi bercanda dalam situasi tegang, mungkin karena telah mendapat jatahnya, jadi suasana hatinya lapang dan bahagia. Membuat Yulia memerah mukanya karena malu.
"Jadi gimana, kalian sudah menemukan solusinya atas masalah kalian?" pagi itu sehabis sarapan mereka duduk bersama.
"Saran aku sih, beri kesempatan suami kamu membuktikan keseriusannya Din, bahwa dia gak punya hubungan apapun dengan wanita lain, begitu 'kan inti persoalannya? Maaf, tadi malam kami sempat nguping." Yulia mengelus bahu Dini, berusaha menguatkan sebagai sesama wanita.
"Dulu, kami kenal dan dekat saat Dini ngotot pulang ke Jawa tanpa saya. Saya disana kesepian, tanpa anak, tanpa istri, tanpa orang tua dan orang terdekat lainnya. Hingga saya berusaha menghibur diri ke kelab, dan ketemu dia disana. Aku akui frustasi saat itu, begitu halnya dengan dia yang sedang proses dicerai dari suaminya. Akhirnya kami dekat karena mempunyai persamaan nasib."
"Dulu aku berpikir, hubungan aku dan Dini sudah tak bisa diperbaiki. Tapi kami sadar dan intropeksi diri, ada Dion diantara kami. Jika kami berpisah Dion yang jadi korbannya. Kami sepakat untuk berdamai dan rujuk."
"Soal itu tentu kami sudah tahu. " sela Romi.
"Saat tahu aku bersama lagi dengan Ibunya Dion, dia tak mempermasalahkannya. Bisnis tetap bisnis, terus berjalan. Dia juga tahu..."
"Kalau boleh tahu, bisnis kalian di bidang apa?" Romi menyela lagi.
"Aku dan Iren bisnis showroom motor kecil kecilan, ada dua cabang di dua kota. Mas kan tahu, pabrik tambang yang kukelola kolaps. Dan aset pabrik di akuisisi pihak lain. Jadi, aku banting setir di bisnis penjualan motor. Saham terbesar itu milik Iren."
"Aku berusaha menjaga jarak dengan Iren, istriku mau berubah, akupun harus berubah. Karena terus terang aku masih sangat mencintai istriku, meski dulu usahaku bangkrut juga gara gara dia, aku tahu dia saat ini telah berubah." melirik sang istri yang duduk ikut menyimak disampingnya. Lalu meraih tangan Dini untuk dikecupnya. Arsen ingin menunjukkan bahwa ia begitu menyayangi istri dan juga anak dalam kandungannya.
"Iren menyalahartikan kedekatan kami, hingga saat ia berterus terang menginginkan aku jadi pendampingnya, aku jelas menolak. Tapi ia telah buta hatinya, ia terus berusaha merebut perhatianku, atau dia akan membuktikan ancamannya, dia akan mengadu yang tidak tidak pada Dini."
"Entah gimana caranya, dia bisa mengadu domba kami. Malam itu, dia mengajakku ketemuan, dan berjanji tidak akan mengganggu keluarga kecil kami, ternyata itu hanya jebakannya."
__ADS_1
"Dia bahkan merekam aksinya yang seolah olah kami sedang bermesraan, dan mengirimkannya ke nomer Dini. Sebelum itu, kami baru baru tahu kalau Dini dinyatakan berbadan dua.
Aku yakin, Dion dan calon adiknya akan menjadikan hubungan kami akan lebih rekat lagi, lebih kuat lagi. Aku sangat bahagia, namun tiba tiba seminggu yang lalu Dini berubah 180 derajat."
"Sehari hari ia hanya mendiamkan aku, ia bahkan lebih sering dikamar Dion, daripada menemani aku dikamar sendiri. Aku bingung, apa sebabnya. Aku tanya dia diam, lalu aku berusaha mawas diri. Dan puncaknya kemarin ia berusaha kabur dengan meninggalkan sepucuk surat. Dari situlah aku tahu apa penyebabnya. Untunglah ada sesuatu yang tertinggal dirumah kemarin, hingga aku berhasil menyusul ke Bandara. Ternyata semua karena Dini memergoki aku sedang berbincang dengan Iren di kafe, membahas hubungan kami."
"Berbincang apa? Dia bahkan meluk meluk kamu, yang begitu kamu bilang cuma berbincang sambil minum?" sela Dini dengan mata memerah.
"Kalian juga ketawa ketiwi. Aku gak suka." Dini menarik tangannya.
"Dengerin sampai aku selesai, Din! " protes Arsen, karena mendapat tatapan kedua orang yang mereka segani, tak melanjutkan perdebatan.
"Aku sudah bicara dengan dia untuk tidak menggangguku dan menjauhi aku, seperti janjinya. Ia setuju, tapi dengan syarat kita tidak musuhan, hingga dia minta berfoto selfi sebagai kenang kenangan terakhir kata dia. Ternyata dia juga merekamnya, lalu mengirim pada Dini."
"Sumpah demi apapun, itu yang terjadi. Secuilpun tak ada niat aku berkhianat, atau apapun itu namanya. Aku harus bagaimana lagi buat ngeyakinin kamu, Din?"
****
Yulia menatap layar ponselnya yang berdering. Sebuah nomor kontak tanpa nama, tanpa foto profil memanggil. Bukannya apa, Yulia hanya tak mau dikerjai orang tak dikenalnya.
Beberapa hari yang lalu, salah satu teman posyandu nya bercerita, bahwa ia mendapat telpon dari nomor tak dikenal. Awalnya, pemanggil berbasa basi dan mengaku kenal baik dengannya, tapi lama tak bersua karena tinggal dipulau lain untuk mengais rejeki. Namun pembicaraan terputus dan berlanjut keesokan harinya. Dan si penelpon dengan modus yang dijalankannya, mengajak berbisnis pulsa. Karena temannya itu memiliki konter, bisnis jual beli hape dan segala aksesorisnya.
Temannya, itu baru sadar saat si pemanggil meminta mengiriminya pulsa yang cukup banyak untuk beberapa nomer. Tanpa basa basi lagi teman Yulia memblokir nomer itu.
Sekali lagi ponsel Yulia berdering, dari nomer yang sama. Yulia tetap pada egonya tak mengangkat panggilan itu. Hingga pada panggilan ketiga, ia memberanikan diri menerimanya. Meminta Dini jangan jauh jauh darinya.
"Hallo, assalamu'alaikum." sapa Yulia, terdengar jawaban dari seorang wanita.
"Waalaikum salam, apa benar ini nomer orang tuanya Arshila Devi?"
"Iya, Benar Bu."
"Maaf, Bu. Saya wali kelasnya Shila. Mohon maaf sebelumnya, secepatnya Ibu saya harap datang ke sekolah. Karena Shila bermasalah dengan salah satu temannya, hingga mereka berkelahi."
"Apa?"
\=\=\=\=\=\=
+Thor, lama banget upnya? Sampai lupa alurnya aku.
- Thor hanya bisa mohon maaf yang sebesar besarnya.
+Maaf mulu, Thor. Bosen aku Lo minta maaf mulu. Yang rajin gitu dong kalo udah minta maaf.
- Sekali lagi Thor minta maaf. Gak bisa penuhi permintaan kaliaaaan, 🙏🙏🙏😭😭😭
__ADS_1