
*****
Pagi harinya, setelah mandi besar dan melaksanakan subuh, Wahyu menarik istrinya untuk tidur lagi. Dan baru bangun saat matahari telah tinggi. Saat membuka mata, Wahyu melihat jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit. Dan tak mendapati Imah di sampingnya. Namun dari kamar yang pintunya sedikit terbuka, ia mencium aroma masakan yang menggugah selera.
Dengan masih menguap dan mengucek mata, keluar menuju ke dapur pengen lihat apa yang di masak istrinya. Dari pintu dapur ia melihat punggung istrinya, tangan Imah sedang bergerak gerak, namun Wahyu tak bisa melihat dari tempatnya berdiri, apa yang dia lakukan. Hingga ia mendekat dan oh, ternyata istrinya sedang memeras santan. Di wajan juga sudah ada bumbu yang sudah di haluskan dan di gongso ( bumbu yang sudah diulek terus digoreng dengan minyak sedikit). Mungkin itu tadi yang membuat aroma harum menyeruak.
Wahyu terus memandangi punggung sang istri dan apa yang di lakukannya tanpa ia menyadari kehadiran orang lain di dapur itu. Rambut yang legam dan lurus diikat di bawah.
"Masak apa sih!" Wahyu mengusap rambut Imah. Imah terlihat kaget menoleh.
"Mmmmas Wahyu, bikin kaget!" Wahyu tertawa mengecup pucuk kepala istrinya.
"Kamu saja yang terlalu asyik, sampai gak sadar aku disini udah beberapa menit lalu." melingkarkan tangan di pinggang Imah, membuat Imah tak bisa bergerak leluasa.
"Mas, gak lapar apa?" Imah membuka keran air dan membilas tangannya yang belepotan ampas.
"Ya, lapar lah. Memang kenapa?" balik bertanya
"Kalau lapar lepas dulu, nanti gak mateng mateng nih, masakannya." Wahyu terkekeh.
"Oooh, kirain apa? Ada yang bisa mas bantu, Lili sayang?" Imah berdecak, memutar bola matanya walaupun hatinya berbunga.
"Gak usah lebay deh, mas! Geli tahu! Mas manggil sayang."
"Ya elah, di panggil sayang dibilang lebay! Masaknya nanti aja ya! Yuk kita penjelajahan lagi, naik turun gunung membelah hutan dan masuk sembunyi di dalam gua!" Wahyu terkekeh mendengar kalimatnya sendiri.
"Kayak lagi kemping aja, hehehe!"
"Mas, katanya lapar? Aku mau masak mas, dah siang. Lagian, kapan jemput anak anaknya kalau begini terus?" Imah protes.
"Tadi aku dah bilang sama Mas Kevin, mereka masih di ajak main. Mungkin nanti sore mereka yang bakal kesini nganter anak anak!" Imah mengerutkan alis!
"Kalau laparnya sih bisa di tahan beberapa jam ke depan. Yang penting ini keris maunya di asah lagi. Biarpun tumpul asal gak karatan." Hari ini Imah mendapat banyak istilah istilah baru yang nyeleneh dari suaminya.
Apaan sih Gerutu Ima dalam hatinya.
"Kok kita ngerepotin mereka mas? Mereka 'kan juga punya dua anak kecil. Gak kewalahan mereka nanti?" Imah heran pada Wahyu, begitu santainya suaminya itu. Dia saja yang bukan ibu kandung Rayyan gelisah dari semalam, takutnya anak itu rewel dan sepupunya itu kewalahan, mengasuh empat anak sekaligus. Untuk Ifah, ia tak perlu risau, anak itu cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.
"Gak ngerepotin. Yakin seratus persen. Sudah ku bilang mereka senang, karena mereka pengen punya anak laki laki. Lagian setelah ini kita bakal jarang punya waktu berdua seperti ini. Kan ada anak anak!" Wahyu menarik tangan istrinya yang sudah akan menyentuh spatula.
__ADS_1
Dalam hati Imah membenarkan perkataan Wahyu. Waktu akan terkuras untuk batita itu. Apalagi kini Rayyan sedang aktif, merangkak kesana kemari. Anak itu sudah berusaha mengangkat tubuhnya, berusaha berpegangan dengan apapun yang diraihnya untuk belajar berdiri. Hingga kadang ia jatuh terjerembab di lantai.
"Mas, gak nengok ibu?" mengalihkan perhatian Wahyu. Biar pikirannya gak ngeres kesitu saja. Kini mereka berdiri berhadapan.
"Iya, nanti sore aku nengok ibu. Aku saja yang kesana, karena kemungkinan mas Kevin datang nganter anak anak."
"Ayolah! kita main di sofa sana?" menunjuk ruang keluarga yang terdapat sofa dan tivi. Disana juga dipasang karpet warna biru untuk yang suka rebahan sambil menonton tivi.
Hhhh, apa akal sehatnya udah hilang ya? Main di ruang terbuka. Kalau tiba tiba ada yang masuk gimana?
"Mas, gak mau ah. Nanti kalau lagi iya iya, terus tiba tiba ada yang datang gimana? bikin malu. Di kamar aja!" Wahyu pun tak mau ngeyel, menuruti kata kata istrinya. Dari pada hilang kesempatan dapat jatah.
"Ya sudahlah, ayo!"
*****
"I love you, Lili sayang." mengecup kening Imah yang menaikkan selimut sampai ke leher. Rasanya tubuh ini lemas tak bertulang. Masih berusaha menormalkan nafas yang terengah. Pun lapar campur letih berolah raga siang dan malam. Wahyu benar benar memaksimalkan kesempatan yang ada.
There is no second chance. Kata Wahyu tadi.
"Makasih, udah mau menemani aku, mau menjadi istri lelaki brengsek seperti aku. Sebelum ada kamu, beban hidupku aku rasakan sangat berat."
"Sama sama, mas. Kita ditakdirkan menjadi suami istri untuk saling melengkapi. Aku ibarat baju untukmu begitupun mas Wahyu ibarat baju untuk Imah."
"Bisa jadi sebuah pakaian kadang bisa pas atau kurang pas di badan kita, namun ia mampu menjaga, melindungi dan menutupi ketidaksempurnaan kita."
*****
Yulia membaca buku tentang parenting, banyak hal hal baru yang harus ia pelajari tentang pola asuh anak, jika anaknya lahir nanti. Sesuatu yang membuat senyumnya merekah, satu tangan memegang buku yang di bacanya, satu tangan lagi mengelus perutnya yang besar. Sang jabang bayi pun memberi reaksi dengan menyikut perut ibunya.
Yulia tertawa saat membuka bagian perutnya dan terasa perut bagian kanannya bergerak gerak. Ini adalah momen indah yang akan senantiasa kekal dalam memori ingatannya.
"Sedang apa sayang di dalam perut bunda? Apa lagi main bola ya, tendang sana tendang sini? Atau main boneka kayak kakak Shila?".
Shila pengen adik cewek, biar ada teman bermain boneka. Kalau benar ia pasti senang kalau adiknya cewek.
Tapi, sudah dua kali melakukan USG hasilnya sama, sang bayi menyembunyikan alat vi talnya.
Romi yang asyik di depan laptop, menoleh. Ia sedang sibuk merevisi harga harga barang karena akhir akhir ini harga kebutuhan pokok yang melambung, membuatnya berkali kali berkutat dengan angka angka merubah tag harga.
__ADS_1
"Kenapa, Yul! Dia bikin ulah di dalam?"
tak tahan akhirnya menutup laptop dan menghampiri sang istri.
"Hehehe, lihatlah mas! Sepertinya dia sedang main sepak bola. Nendang nendang terus!" ucapnya tersenyum dan tak mengalihkan pandangan dari perutnya.
"Waah iya! Subhanallah!" takjub Romi ikut tersenyum. Bayi mereka terlihat bergerak gerak. Romi menempelkan telapak tangannya pada bagian perut yang melancip.
"Ini kira kira sikut apa dengkul ya?" diusap usapnya permukaan kulit perut, hingga tak ada pergerakan lagi.
"Sudah tidur lagi rupanya anakku!" kata Romi lagi, menempelkan telinganya. Lalu dikecupnya, kemudian ia teringat ceramah ustadz jika istri sedang hamil sering seringlah mengajak bayi berbicara, mendengarkan shalawat ataupun musik yang menenangkannya.
Lalu ia bacakan shalawat dengan posisi mulut di depan pusar istrinya. Gerakan dari bayinya tak terasa lagi.
" Sepertinya bayi merasa benar benar nyaman di bacakan shalawat oleh ayahnya." di tutupnya bagian perut Yulia, lalu menegakkan badan. Mengambil air mineral kemasan dan langsung meneguknya sampai habis.
"Ayahmu kehausan sayang!"
"Hai, anak ayah? Kamu cewek apa cowok sih!"
"Dia mengekspresikan rasa malunya, sayang. Sampai sekarang belum mau menunjukkan apa dia cewek atau cowok!"
"Ih, kok masih bahas itu lagi. Sabar, mas! Nanti kalau lahir juga kita tahu."
Yulia lalu berdiri.
"Mau kemana, sayang?" Yulia menunjuk kamar mandi dengan jarinya.
"Mau pipis!"
Baru saja Yulia masuk kamar mandi, seseorang tiba tiba menerobos masuk ke ruangan itu.
"Hai Romi? Apa kabar, lama gak ketemu kamu!"
"Yesi?"
\=\=\=\=\=\=\=\=
TBC
__ADS_1