
"Imah, bagaimana kalau kita menikah saja?" kata kata Wahyu membuat hati Imah bergemuruh. Betapa tidak, demi apa Wahyu yang nota bene pria kaya dengan wajah lumayan tampan, mengajaknya menikah tiba tiba. Dengan wanita Walaupun memang dia sudah dua kali menduda, tapi rasanya ini seperti mimpi di siang bolong.
Aku tidak salah dengar kan?
"Kenapa, kamu ragu? Aku sungguh sungguh mengajakmu menikah, ini demi kebaikan kita berdua dan juga anak anak. Ifah butuh sosok seorang ayah, begitu juga Rayyan, dia butuh sosok wanita sepertimu untuk menjadi ibunya."
"Kita akan bekerja sama berdua membesarkan anak anak ini, agar kelak mereka menjadi anak anak yang berguna."
"Aku sangat yakin kau wanita yang tepat menjadi ibu sambungnya Rayyan. Kamu bisa menjaga maruah diri, anak dan suamimu. Yaaa walaupun aku akui sejujurnya, aku bukanlah orang baik Imah. Aku sama brengseknya dengan mantan suami kamu, sama sama penghianat."
"Tapi aku sudah tobat, aku ingin kembali ke jalan yang benar. Aku tak pernah ingin tersesat lagi."
Imah hanya diam saja mendengar pernyataan panjang lebar Wahyu yang begitu tiba tiba. Tak tahu harus bicara apa. Bibirnya kelu, tenggorokannya tercekat.Bahkan menelan saliva pun rasanya susah.
Kemarin bahkan Wahyu menolak saat pak RT tempat rumah kontrakan beberapa bulan lalu mereka tempati menyarankannya untuk menikah, agar terhindar dari fitnah. Apa yang menyebabkan Wahyu berubah pikiran?
"Pak Wahyu, sa_saya...!"
"Kau pikirkan saja dulu pelan pelan, Imah. Aku gak akan maksa. Rasa cinta itu bisa datang belakangan, asal kita mau berusaha. Aku akan tunggu jawaban kamu. Kapanpun kamu siap."
"Kalau begitu saya mau ke kamar, pak Wahyu. Saya permisi. Selamat malam!" tanpa menunggu jawaban Wahyu, Imah segera berdiri dan pergi dari situ. Ia mengunci pintu kamar dari dalam, dan langsung merosot terduduk di depan pintu. Rasanya kakinya tak berpijak di lantai, lutut dan pahanya lemas.
Ya Alloh, mimpi apa aku semalam? Atau pak Wahyu lagi bileng ya? atau mabuk, tapi kayaknya dia ndak mabuk. Terus apa ya Alloh. Badan aku lemes nih! Imah.
****
Pagi harinya.
Seperti tak ada sesuatu yang terjadi semalam, Wahyu seperti biasa setelah shalat subuh menemui Rayyan. Karena biasanya Rayyan juga ikut bangun bersama Shila. Keduanya sedang asyik menonton tivi, sedang Imah di dapur. Terdengar bunyi sesuatu yang di goreng, entah apa Wahyu tak bisa menebak. Ia bukan ahli dalam hal cium mencium bau masakan. Apalagi dalam hal memasak.
Baginya yang terpenting masakan enak dan cocok di lidah. Selesai.
Ingin sekali Wahyu menengok Imah di dapur, memperhatikan apa yang di kerjakannya. Tapi kemudian ia tersenyum tipis. Ahaha... seperti anak muda yang lagi kasmaran saja, pikirnya.
__ADS_1
"Hayooh, paman! Kok senyam senyum sendiri? Lagi mikirin apa?" Rupanya Ifah memperhatikannya.
"Enggak..! Siapa yang lagi senyum sendiri? Paman lagi lihat itu loh, kan lucu itu kartunnya. Masa itu Tuk Dalang tertawa sampai gigi palsunya copot. Ahahaha!" Wahyu tertawa. Untung saja serial kartun di tivi pas sedang menayangkan adegan yang lucu.
"Ahahaha, iya Paman. Giginya juga jalan sendiri, Tuk Dalang kelihatannya malu sekali, ya Paman?" kini mereka membahas kartun yang berasal dari negeri Jiran. Suara tawa mereka membahana bahkan terdengar sampai ke dapur. Ingin sekali Imah mengintip apa yang mereka lakukan sampai mereka begitu senang, namun mengingat kejadian tadi malam, ia tak punya muka untuk sekedar bertemu dengan Wahyu. Rasanya malu sekali.
Bagaimana ini? Mana aku harus laporan padanya apa apa barang yang habis. Pempers habis, gula tinggal sedikit, beras juga tinggal buat dimasak hari ini dan besok.
Tapi kemudian ia tersenyum dan menjentikkan jari. Ia tiriskan ikan bandeng yang ia goreng. Lalu mengambil kertas dan pulpen yang selalu ia simpan di laci meja dapur.
Imah menulis segala keperluan yang habis. Ada sederet daftar belanjaan yang harus di beli, ia susun rapi dalam sebuah tulisan tangan. Imah berpikir sambil menggigit ujung pulpennya, merasa seperti ada yang ketinggalan belum ia tulis. Saking asyiknya, hingga ia tak menyadari seseorang telah berdiri di belakangnya, memperhatikan apa yang ia lakukan.
"Lagi nulis apa, Imah?"
Aaaaaaaaa, Astaghfirullahal adzim.
Pulpen yang Imah pegang jatuh menggelinding di bawah meja. Seketika Imah memegangi dadanya yang terasa degup jantungnya bertalu beberapa kali lebih cepat dari keadaan normal. Imah berusaha mengatur napasnya.
"Ya Alloh, pak Wahyu ngagetin saya. Jantung saya mau copot, tahu! Kalau benar jantung saya copot, saya mati dong? Gak jadi dong saya menikah sama pak Wahyu!"
Imah langsung membekap mulutnya sendiri. Bicara apa dia barusan. Bahkan sekarang terlihat jelas pak Wahyu tersenyum.
Oh, Tuhan. Betapa malunya aku!!! Ingin sekali ku benamkan wajahku ke dasar bumi. Untuk menghilangkan rasa maluku. Imah.
"Ma_maaf pak Wahyu, mulut saya kalau kaget memang tak bisa di kondisikan. Sedikit latah saya. Saya...saya cuma reflek bicara. Jangan di anggap perkataan saya, Pak Wahyu. Anggap saya tak pernah bicara apapun." Kelihatan sekali Imah benar benar menyesal. Ia lalu menampar mulutnya yang ia rasa sangat lancang bicara asal asalan.
Namun telapak tangan tak pernah sampai menampar mulutnya, karena tangan Wahyu cekatan mencekal pergelangan tangan Imah. Imah melongo.
"Kenapa kamu mau tampar mulutmu sendiri? Apa karena mulutmu tadi itu bicara jujur begitu?"
Blussh!
Wajah manis Imah terlihat memerah. Tak bisa berkata apapun untuk menjawab Wahyu.
__ADS_1
"Katakan Imah, kalau tadi yang kamu katakan adalah kejujuran? Bahwa kamu juga menginginkan menikah denganku!" Imah tetap diam membisu. Menunduk. Tak tahu harus jawab apa.
Wahyu melepas cekalan tangannya, ia lalu duduk di samping Imah, mengambil kertas di atas meja yang tadi Imah menulis sesuatu.
"Ooh, daftar belanjaan ya, banyak juga kebutuhan yang habis!" komentar Wahyu masih memperhatikan kertas itu, lalu melipatnya."
"Ini sudah selesai kan? Atau masih ada yang masih mau di tulis?" membuka kembali kertas itu, membungkuk mengambil pulpen yang terjatuh tadi. Melipatnya lagi dan menggesernya di depan Imah.
"Tulis lagi apa yang perlu di belanja, aku mau siap siap buat ke kantor dulu. Nanti sebelum aku berangkat, serahkan padaku." Wahyu bangkit lalu menyentuh kepala Imah dan berjalan menuju kamarnya.
Sebelum pergi ia masih sempat melirik Imah yang menunduk.
Benar-benar perempuan yang unik. Sepertinya aku harus lebih banyak berinteraksi dengannya, memberi sedikit sentuhan padanya.
Setelah Wahyu pergi, Imah teringat belum mencatat susu buat Rayyan, biar di belikan sekalian.
Dibukanya kertas yang tadi, dan terkejut mendapati tulisan yang bukan tulisannya.
*Pak Wahyu, lama lama aku meleleh juga karena sikap mu. Tak berlebihan kah aku? Tak sedang bermimpikah aku? Melihat tulisan di kertas.
I love you Halimah*.
Mereka sarapan dengan canggung. Jika diizinkan ingin rasanya Imah sarapan sendirian di dapur, bukan di meja makan bersama lelaki yang menggetarkan hati dan juga tangannya saat ini.
"Mana kertas yang tadi, Imah! Biar aku bawa, nanti sepulang kerja aku belanjanya!"
Imah menyerahkan kertas yang tadi dibawanya.
"Ini, pak!"
"Besok besok, kita belanjanya sama sama. Kalau aku sedang libur kerja.
"menyimpan kertas pada saku kemejanya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
TBC