
"Hmmm, sempurna!" Wahyu membulatkan kedua jarinya setelah menyeruput teh hangat yang dibuatkan Imah, istrinya.
"Hujan hujan, duduk santai bersama anak istri sambil ngeteh. Nikmat manakah yang Kau dustakan?" Wahyu tertawa sambil mengutip arti dari sepotong ayat dari surah Arrahman.
Mereka tengah duduk lesehan diruang keluarga, berempat. Kedua anak, Ifah dan Rayyan bercanda berdua, sambil bermain lego. Sedang Imah bermanja manja meletakkan kepala di bahu suaminya.
"Apa ya, kok kayak ada satu nih yang kurang?" celutuk Wahyu protes, Imah menegakkan kepalanya dengan alis bertaut memandang suaminya.
"Apa, mas?" merasa penasaran degan kata kata suaminya. Wahyu tertawa dengan ekspresi sang istri, menyandarkan punggungnya di sofa, lalu menyentil dagu Imah.
"Cemilannya mana?" Imah ikut tertawa, ia sudah begitu penasaran, mengira apa yang kurang, ternyata cemilan.
"Maaf, mas! tadi gak sempet beli. Bahan di lemari es juga habis, Tadi mau ke swalayan, keburu hujan tadi. Maaf, ya!"
"Iya, gak papa, Aku cuman becanda kok, seadanya aja." memencet hidung sang istri.
"Iiih, mas kebiasaan banget! Sakit tauk." menangkap tangan itu, lalu mengecupnya sayang dan menempelkan dipipinya.
"Duduk berdua denganmu dan anak anak sambil ngeteh seperti ini sudah lebih dari cukup bikin imun aku meningkat! Rasa lelah hilang seketika." candanya kemudian. Imah tersenyum. Hampir setahun mereka menikah, baginya Wahyu cukup romantis.
"Makasih."
"Oiya, mas! Rayyan sekarang udah bisa jalan. Iffah juga cukup bisa diandalkan ngemong adiknya kalau pulang sekolah. Rasanya, aku ingin hamil anaknya mas Wahyu! Boleh, kan mas?" sambil bicara Imah mengelus tangan Wahyu yang menempel dipipinya.
Wahyu mengambil cangkir dengan tangan kirinya, lalu saat meminum tehnya ia tersedak, demi mendengar kata kata istrinya.
Uhuukkk uhuuuk!
Wahyu langsung meletakkan kembali gelasnya keatas meja. Sedang tangan satunya yang dipegang Imah langsung terlepas.
"Ya Alloh, mas! Hati hati kalau minum." Imah buru buru mengambilkan tisu dan diberikannya pada Wahyu yang memerah mukanya.
Wahyu tersenyum.
"Udah, nggak papa kok!" mengucap bibirnya dengan tisu. Lalu berdehem sebelum bicara.
"Lili sayang! Lihatlah Rayyan masih terlalu kecil, kamu tentu capek ya, ngurusin mereka berdua? Terus kalau nanti tambah lagi, aku kasihan sama kamu!" Wahyu berusaha menjelaskan dengan pelan.
" Yang aku lihat kamu itu tiap hari gak ada jeda buat istirahat. Kalau sampai punya bayi lagi, apa tidak terlalu cepat?" Wahyu memperhatikan raut wajah manis istrinya sambil menanti jawaban.
__ADS_1
"Mmm, itu artinya mas belum siap ya kalau kita punya bayi sendiri? Maksud Imah, buah pernikahan aku dan mas Wahyu!" selidik Imah menatap Wahyu dengan memiringkan kepala.
Wahyu tersenyum melihat mimik polos istrinya, ia rangkum wajah itu dan mengecup kening cukup lama, lalu beralih ke pipi dan ke bibir sekilas. Rupanya sang istri ingin mereka benar benar memiliki keturunan.
Ya Alloh!
"Kalau itu memang maumu, terserah saja. Aku juga sebenarnya mau, sangat mau dan ingin punya banyak anak denganmu. Sebagai bukti kasih sayang dan memperkuat tali pernikahan kita."
Tapi entahlah, apa aku bisa.
"Sekali lagi, aku juga ingin. Tapi jangan itu jadi beban kamu, aku cuma gak ingin jika kita nanti punya baby lagi kamu jadi gak bisa punya waktu untuk dirimu sendiri."
"Tau sendiri, mereka berdua saja kalau Rayyan rewel kamu sudah kurang istirahat. Aku gak mau itu terjadi, kalau itu terjadi dalam jangka waktu lama, kamu bisa sakit. Itu yang aku gak mau. Jadi, jangan salah paham, ya! Keputusan ada di kamu. Kita nambah anak dalam waktu dekat ini atau satu atau dua tahun lagi."
"Aku akan senang dan dukung apapun keputusan kamu." mengecup lagi pipi istrinya.
"Kamu tahu nggak,
kenapa wanita diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri laki-laki?" tanya Wahyu bermaksud menggoda istrinya.
"Mmmm!" Imah nampak berfikir.
"Kalau diciptakan dari tulang kaki, berarti diinjak-injak dong." jawab Wahyu kemudian, karena Imah tak bisa menjawabnya.
"Terus kenapa tidak diciptakan dari tulang kepala? karena agar perempuan tidak melunjak." sambung Wahyu lagi.
"Apakah aku termasuk yang ngelunjak ya, mas?" tetiba pertanyaan itu lolos dari mulut Imah.
"Enggak, demi Tuhan! Kamu adalah wanita shalihah dan baik hati yang diciptakan dari tulang rusukku. Aku beruntung bisa memilikimu, Lili!"
"Jawaban pertanyaan tadi, kenapa wanita tercipta dari tulang rusuk sebelah kiri laki laki, karena dekat dengan Jantung dan Hati." mendekatkan tangan Imah dalam genggamannya ke dada sebelah kiri.
"Kamu adalah pelindung jantung dan hatiku, melengkapi tulang rusukku yang hilang. Jadi, yang aku mau tulang rusukku selalu sehat dan terus sehat.-
"Ishh, mas Wahyu ngegombal terus!" Imah tersipu malu. Wahyu melengkungkan bibir melihat istrinya malu malu.
"Iya, mas. Makasih ya, kamu sudah menempatkan aku ditempat yang istimewa di hati kamu. Jadi makin tersanjung aku." imah menyembunyikan rona bahagianya dengan menelusup kan wajah di lengan kokoh Wahyu.
*Apakah aku perlu konsultasi ke dokter Androlog, buat memastikannya.
__ADS_1
Ah, jangan dulu! Masih terlalu dini. Belum juga setahun nikah.
Wahyu bermonolog dalam hati*.
Terdengar kedua anak di samping mereka terbahak, seakan menertawai ayahnya yang sedang menggombali ibundanya.
"Ish, kita ditertawai anak anak nih!"
Wahyu menoleh kearah Rayyan, dimana anak itu tertawa lebar, memperlihatkan ketiga gigi atasnya dan dua gigi bawah. Senyum Wahyu terkembang, ia lalu mengambil ponsel dan merekam aksi lucu kedua anak itu. Didepan keduanya yang berhadapan, terdapat seperti sebuah bangunan terbuat dari Lego yang disusun oleh Ifah.
"Wah, bagus sekali itu rumahnya, rumah siapa tuh?" tanya Wahyu masih tengah asyik merekam.
" Rumah Ifah, Yah! Nanti adik juga punya sendiri rumah yang gede dan bagus!" ucap polos Ifah. Imah hanya jadi pendengar dan penonton aksi mereka sambil tersenyum. Sebuah cermin keluarga sederhana yang bahagia. Walaupun tak ada yang tahu, bagaimana perasaan sang kepala keluarga, saat istri menginginkan memiliki bayi lagi tanpa tahu bahwa sang suami merasa ada kekhawatiran. Akankah ia bisa mengabulkan keinginan sang istri.
"Momen momen seperti ini gak akan keulang kedua kali. Kita harus mengabadikannya." ucap Wahyu menutupi perasaannya, menoleh pada sang istri yang juga tengah menatapnya.
******
Karena hujan cukup deras, walaupun swalayan sudah tutup tapi didalamnya keempat karyawan Romi sedang berkumpul, duduk lesehan di lantai beralas kardus bekas. Karena tak ada karpet yang bisa dipergunakan.
"Gagal deh, makan di warungnya pak Bakar. Gara gara hujan, nih!" Risma berbicara sambil melahap bakso yang telah diiris iris. Warna kuahnya yang merah karena saus dan sambal, membuat author merinding membayangkannya.
"Tapi kan tetep makan bakso!" sergah Yeni. Yeni tak menyukai saus, jadi ia hanya menambahkan kecap dan sambal pada baksonya.
"Tapi kan rasanya beda. Kenapa ya, kalau makan ditempat sama take away, rasa makanannya beda. Apapun itu!" Risma.
"Ah, itu cuman perasaan aja!" bantah Fani. " Bagi aku sih, sama aja makan di tempat atau take away."
Tak lama terdengar suara suara dari luar toko.
"Eh, suara apaan tuh?" Bisik Lasmi, mereka yang hampir selesai memakan bakso maupun mie ayam saling pandang.
"Ini kan lagi hujan, apa mungkin orang lagi berteduh?" Risma angkat bicara menyapu tatapan pada teman temannya.
"Lihat aja dari cctv!"
\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung
__ADS_1