Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 128


__ADS_3

Keesokan harinya, Arsen, Dini, dan Dion pergi berziarah ke tempat peristirahatan Dina, Ayah dan Ibunya yang masih satu lokasi. Dengan mengendarai mobil milik Romi mereka bertiga berangkat terlebih dulu sebelum Romi berangkat bekerja.


"Gak apa apa ya, mas, mobilnya aku pake hari ini. Mas Romi jadi berangkat ke toko naik motor deh! " ujar Arsen dengan nada sungkan.


"Gak apa apa, sekali kali. asal gak keterusan aja! " Yulia menyikut lengan Romi. Ucapannya pasti menyinggung perasaan walau itu benar adanya.


"Mas, kamu ngerasa nggak kalau hubungan mereka itu gak baik baik saja?" tanyaan Yulia terkalahkan dengan suara sepeda yang sedang dipanasi mesinnya. Arsen sudah melajukan mobil dan tak terlihat lagi.


"Hah, apa?" Romi mematikan mesin motor.


"Kamu ngerasa nggak kalau hubungan Dini dan suaminya lagi gak beres?" ulang Yulia lebih dikeraskan lagi suaranya.


"Oh, itu. Iya sih, aku ngerasa. Tapi selagi mereka gak bilang sama kita, biarin aja. Kita gak perlu turut campur urusan rumahtangga mereka. Toh, mereka cuma nginap beberapa hari disini. " jawab Romi santai, men starter lagi dan memutar mutar gas motor.


"Iya, sih. Tapi kasian si Arsen kayak dicuekin sama Dini. Dia kayak orang klejingan, gitu loh! " adu Yulia.


"Segitu perhatian kamu sama si Arsen. Aku cemburu, Yul!" Romi menoleh dan menatap tajam istrinya dan berbicara dengan nada tinggi, Yulia terjengit kaget dan salah tingkah sendiri. Ia lupa Romi sangatlah pencemburu, tak peduli siapapun itu.


"Eh, kok jadi salah paham gini sih. Bukannya gitu, aku tuh cuma merasa kasian gitu aja. Bukannya perhatian yang gimana gimana, tapi ya gimana dong, mereka 'kan ada di hadapan kita. Masa kita harus cuekin, melengos, pura pura gak tahu, gitu?" balas Yulia menjawab tak kalah keras. Tak terima sang suami marah karena hal sepele seperti itu.


"Ah, sudahlah. Awas ya, pokoknya aku gak mau kamu terlalu perhatian sama Arsen. Sekali lagi kamu merhatiin dia, jangan salahkan aku kalau mengusir mereka dari rumah ini." ancam Romi terdengar tak main main.


"Astaghfirullah, mas. Sampe segitunya kamu cemburu. Iya sih, cemburu tanda cinta, tapi jangan segitunya juga kali. Itu cemburu buta namanya." Entah mengapa, Yulia, selalu ingin membantah. Menurutnya, Romi sudah keterlaluan. Untungnya suara tangis Kia mereka menyadarkan mereka dari perdebatan itu.


"Kia, udah bangun, Nak!" Yulia, terbiasa membangunkan Kia kalau subuh hari, mengajaknya shalat subuh berjamaah, setelahnya kadang Kia tidur lagi. Tapi terkadang langsung mengikuti Shila ke kamarnya. Dan bermain di kamar sang kakak, selama Shila mempersiapkan diri untuk ke sekolah. Tak jarang Shila berteriak marah karena merasa terganggu dengan adanya Kia.


"Bun_da!" anak yang dituntun Bu Kanti itu melepaskan diri dari Neneknya, dan berlari kearah Yulia lalu menubruk kakinya.


"Kia, Ayah berangkat kerja sayang. Salim dulu, dong!" Kia mendongak, mendengar suara Romi, lalu berlari kearahnya dan mengulur tangan untuk salim.


"Ha-ti ha-ti di-ja-lan, A-yah."


"Iya, sayang. Jangan nakal ya, nurut sama Bunda sama Nenek juga! Bun, Aku pergi dulu, jaga anak anak, assalamu'alaikum. " Romi mengecup puncak kepala anaknya, dan juga kedua pipinya, lalu mengusap perut dan kepala istrinya. Saat didepan anak anak, Romi memanggil Yulia Bunda, supaya ditiru oleh anak mereka.


"Waalaikum salam. " jawab Kia dan Bundanya bareng.


"Hati hati mas, semoga rezekinya melimpah hari ini dan seterusnya."


" Aamin aamiin. Jangan lupa, gausah perhatian sama Arsen. Aku gak main main, sama apa yang aku katakan tadi." mengulang ancaman serupa. Yulia hanya menatap suaminya sambil memghela nafas.


"Serah deh, Mas." menatap kepergian suaminya sampai motor yang dikendarai nya tak terlihat.


Hampir empat jam berlalu, akhirnya Dini bersama suami dan anaknya kembali, menenteng beberapa plastik ditangannya.


"Habis belanja belanja ya, Din?"


Wanita berkulit putih itu tersenyum, menunjukkan isi salah satu kresek.


"Aku beli buah, mbak! "


"Ya ampun, kamu beli buah banyak banget!" berbagai macam buah terlihat menggoda lidah di siang yang terik seperti hari ini. Yulia menelan ludah.


Ada jambu air merah, mangga, nanas, bengkoang, dan belimbing.


"Eh, kamu kan hamil muda, gak boleh makan nanas!" Yulia mengambil nanas yang kulitnya masih semburat hijau dan kuning, lalu menjauhkan dari jangkauan Dini yang melongo.


"Loh, emang kenapa mbak? "


"Udah, nurut aja kalau gak mau nyesel. Kamu bisa keguguran Din. Naudzubillah, jangan sampai deh! "


"Ah, masa sih! Apa itu hanya mitos saja, mbak!"


"Cuman mitos atau bukan, yang jelas kamu lebih baik hindari makan yang ini. Daripada terjadi hal yang gak kita inginkan. Mbak Dila, mbak iparku kemarin keguguran sehabis kepengen banget makan nanas. Nurut ya? Aku gak mau ada apapun terjadi sama kamu dan bayimu. Jangan marah sama mbak, karena Mbak ngelarang kamu."

__ADS_1


"Mana mungkin aku marah sama mbak. Tahu nggak, mbak mirip sama mbak Dina sifatnya kalau gini, dulu mbak Dina suka nasehatin aku, tapi akunya yang bebal mbak, dan aku nyesel sekarang..." air muka Dini terlihat berubah.


"Eh, bumil gak boleh sedih sedih. Katanya mau rujak, jangan dirusak moodnya. Jom jom jom, kita rujakan! "padahal mood Yulia sendiri yang rusak jika membicarakan tentang mantan sangat suami. Walau yang bersangkutan sudah meninggal.


"Mbak, buatin sambel ya, kita rujakan. Aku ngupas buahnya, mbak Yulia bikin sambelnya."


"Oke! Rujakan. Ih, baby-ku juga kepengen, Din!" Yulia mengacungkan jempol, mereka tertawa senang menuju belakang dapur. Rasa sedih Dini teralihkan dengan angan angan membuat rujak yang menggiurkan.


Dibantu mak Minah, mereka rujakan di belakang rumah. Mengabaikan Arsen di ruang tamu yang terlihat memijat pelipis.


"Dulu, waktu hamil Kia, aku sering juga makan rujak, mangganya langsung dipetik dari pohon depan rumah, makannya juga dibawah pohon. Tapi sayang, pohonnya sekarang udah ditebang. Kemarin pohonnya tiba tiba daunnya mengering dan rontok deh. Mungkin terkena virus." Yulia nyerocos tentang ngidamnya.


"Wah, enak dong. Kalau aku tuh dulu pernah ke tempat wisata, makan buah apel dibawah pohonnya, rasanya nikmat, beda banget." tak mau kalah, Dini malah ikutan pamer tentang pengalamannya.


" Wah, kepingin dong satu hari nanti, makan apel yang metik sendiri." Menyapu dengan satu jari sambal buatannya dan mengacungkan jempol.


"Hmmm, endossss! "


"Nahh, ini udah jadi rujaknya. Panggil suamimu, Din!" Yulia mengaduk irisan buah dalam cobek, biar merata dengan bumbunya, aroma wangi buah bercampur sambal begitu menggugah rasa, Dini meneguk air liurnya.


"Dia mana suka rujakan ginian mbak. Biarin ajalah yang penting disisain aja. Aku ambilin aja di piring!" semakin kuat dugaan Yulia, bahwa Dini dan Arsen sedang dalam hubungan yang tak baik baik saja.


"Mak Minah, panggilin Arsen sama Dion didepan, ya!" lirih Yulia menyuruh asistennya mengabaikan ucapan Dini, saat wanita yang rambutnya dicat coklat mengambil piring. Saat itulah, Arsen bersama Dion datang, berubahlah air mukanya saat mematap suaminya, senyumnya langsung lenyap.


Walaupun begitu, mereka makan dengan lahap rujak buah itu, sambil sesekali bercanda.


"Mbak Yulia, hapenya bunyi tuh! " Mak Minah menyodorkan ponsel ditangannya. Fani calling....


"Halo, Assalamu...!"


"Waalaikum salam, hei Yulia! Ada apa sih suami kamu? Sedari datang tadi uring uringan aja? " serobot suara diseberang sana langsung nerocos. Yulia menghentikan makannya dan menjauh dari orang orang yang ada disitu.


"Hah, apa maksudnya, Fan. Kenapa dengan mas Romi? "


"Aku curiga deh, ini esmosih tingkat dewa bawaan dari rumah. Kena darting kali, dia?"


"Emang kenapa dia, perasaan tadi dirumah baik baik aja, tuh?"


Resah gelisah menanti sore tiba. Bahkan suara celoteh Kia, dan Shila yang tertawa tawa digoda Dion tak sampai pada indra pendengarannya. Netranya terlihat menatap layar televisi, namun pikirannya entah dimana.


Dini dan Arsen juga sama sama sibuk dengan benda pipih di tangan. Mereka terlihat jarang sekali berinteraksi.


"Kamu kenapa, Yul? Kok ngelamun gitu." bu Kanti yang melihat hal janggal pada putrinya bersuara.


"Ah, gak papa, Bu. Mas Romi sebentar lagi pulang." jawabnya gak nyambung dengan pertanyaan sang Ibu.


"Anakmu dah kangen Bapaknya, ya?" bu Kantu mengelus perut buncit Yulia.


"Ehehe, sepertinya begitu." Terdengar suara klakson motor, membuyarkan keasyikan ketiga anak itu, yang langsung menyongsongnya.


"Ayaaah!" Kia berlari menubruk kaki Ayahnya. Romi mengangkat anak itu dan memutar mutarnya diudara, suara Kia yang tertawa menggema dari tempat Yulia duduk.


"Adek tuh, jangan suka lari lari. Kalau jatuh nangisnya kenceng banget gak berenti lama." komentar Shila yang berdiri disamping Ayahnya. Kia menyembunyikan wajah ke dada Romi dari kakak yang memarahinya.


"Ahhh, anak Ayah udah pada wangi. Tinggal Ayah doang yang belum mandi nih!" cetusnya ketika mencium pipi kedua anak itu, dan mengacak rambut Dion.


"Mas, jangan mandi dulu, aku masih pengen nyium aroma kamu!" ucap Yulia saat mereka telah berdua di kamar dan Romi mengalungkan handuk di leher.


"Baiklah, sini." peluk dan cium sayang Romi pada istrinya. Lalu ia merebahkan diri telentang dan menarik Yulia pelan hingga terjatuh diatasnya.


"Ish, Mas, kamu nakal ya! Gak kasian apa sama baby?" keduanya tergelak karena Yulia menggelitiki pinggang Romi.


"Maaf, maaf. Habisnya kamu tambah bikin gemes. Pengen makan kamu aja." Yulia menyebik.

__ADS_1


"Gimana, rewel gak Baby?"


" Alhamdulillah, enggak. Tadi kita bahkan rujakan sama bumil muda."


"Oiya! Enak dong."


"He eh, Mas Romi mau. Tadi aku sisihin kok, ada di kulkas, nanti habis mandi aku ambilin. "


"Hmm, boleh. "


"Udah, ya. Capek. Aku boleh mandi dulu nggak? Gerah inih!"


"Bentar, mas. Aku masih betah dengan aroma kamu." makin memeluk erat Romi.


"Hmmm!" karena rasa capek yang mendera membuat Romi liyer liyer merem melek.


"Jangan tidur, ini mau maghrib!" Yulia mengguncang tubuh Romi, lalu bangkit duduk.


"Iya iya, makanya buruan. Mau tanya apa, terus aku mau mandi. Lengket banget nih badan" tak mau ketiduran, Romi bangkit dan duduk disisi pembaringan. Memutar kepala, meregangkan tubuh mengusir pegal.


"Kamu tadi marah marah di toko, Fanny sampai bingung loh. Kenapa, ada masalah? Tadi kayaknya dari rumah baik baik aja deh?"


Romi tak langsung menjawab. Tapi malah memeluk erat sangat istri, kepalanya ndusel ndusel didada diantara perut yang membesar itu. Kebiasaan Romi saat risau.


"Fani ngadu? " Romi malah membalik pertanyaan.


"Gak ngadu, cuman tanya kenapa kamu marah, apa ada masalah dirumah. Aku bilang enggak, ya memang nggak 'kan? "


" Sami mawon alias sama aja itu namanya ngadu. "


"Ih, ya beda dong mas. Duh, kamu ini udah kayak Kia aja deh, ndusel ndusel. Udah dong, geli ih!" berusaha menjauhkan kepala Romi yang terus menciumi perut.


"Aku 'kan lagi ngobrol sama anak aku. iya kan Beb! " Yulia hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Romi diatas perutnya sampai puas. Terkadang bayi merespon dengan menggerakkan tubuhnya, hingga permukaan perut buncit itu bergerak gerak.


"Gimana? Kamu belum jawab pertanyaan aku mas, kenapa kamu marah marah tadi?" pertanyaan yang mengalihkan atensi Romi dari gerakan janin yang terlihat njendul, terlihat lucu dimata Romi.


"Gak apa, kok. Tadi cuman gak tahu kenapa, pengen marah aja. Kayaknya udah lama banget aku gak marah, butuh pelampiasan." Yulia mencebik.


"Yaudah, aku mandi dulu, gerah." Romi menghindar dari pertanyaan lanjutan istrinya.


"Dasar jago ngeles. Awas ya, jangan suka marah lagi sama anak anak, kalau mereka salah tegur baik baik. Jangan seperti tadi, nanti kalau mereka ngambek terus demo gak mau kerja di toko lagi gimana. Bisa berabe, 'kan? Mas juga yang susah nyari gantinya."


"Duh, bumil tambah banyak bicara. Kusumpal mulutmu sama kiss nanti, mau!"


"Ih, ngomongnya njurus kesana mulu. Sana mandi, kecut tau." mendorong pelan Romi yang masih nempel dengannya.


"Tadi aja ditahan tahan, sekarang diusir usir. Dasar bumil, gak konsisten. Untung aku cinta! "


"Kita lanjut nanti malam, kalau anak anak dah tidur, ya" lanjutnya lagi sambil berbisik, lalu mengecup bibir sang istri, lalu pipi dan terakhir keningnya.


###


"Ehmm ehmm!" tenggorokan Yulia terasa kering, saat membuka netra ia melihat jam menunjukkan pukul 1 dinihari.


"Haus! " ia menoleh kesamping, Romi tidur dengan pulasnya setelah mendapat jatah, olahraga malam yang dilakukan dengan pelan, takut menyakiti baby. Katanya untuk melancarkan jalan lahir, agar baby tak tersesat saat mau keluar nanti, serta berbagai alasan yang dibuat buat lainnya.


"Mau kemana?" suara serak itu menghentikan langkah Yulia.


"Mau ambil air mas, haus." tanpa diminta Romi bangkit, menemani sang istri mengambil air putih.


"Suara apa tuh, Mas? " bisik Yulia saat mereka didapur.


Lanjoooot

__ADS_1


__ADS_2