Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 103


__ADS_3

Mereka berempat yang didalam swalayan yang sudah ditutup rapat kaget, mendengar suara suara yang ada didepan. Lalu Fani dan Yeni dengan hati hati menghidupkan layar komputer untuk melihat cctv, keadaan didepan swalayan.


Sedangkan Lasmi dan Risma sibuk mengumpulkan sampah dan kardus tempat mereka makan tadi. Setelah selesai keduanya tanpa suara juga mengikuti Yeni dan Fani melihat cctv dari komputer yang difokuskan pada kamera satu di tempat parkir.


Fani membekap mulutnya. Seseorang yang menggunakan Hoodie dengan wajah ditutup masker sedang mengutak atik lubang kunci sepedanya yang baru sebulan ia beli.


"Ya Tuhan, Sepeda motor gue!" Fani gugup dan hampir menangis, dipastikan yang didepan adalah maling motor.


"Gimana nih, bisa ngomel ngomel mas Sandy kalau sampe motornya ilang!" raut panik tergambar jelas di wajah Fani.


"Eh, Lasmi! Kamu ngubungin bos Romi, ya! Pinta dia cepat kesini atau ngasih solusi apa gitu. Mbak Fani, coba kau hubungin suamimu juga. Risma, ada tongkat kayu tuh, coba pukulin ke rolling itu biar ada suara berisik." Yeni yang berpikir cepat memberi solusi. Dan semuanya pun menurut, dengan jantung yang berdebar kencang mereka melakukan yang Yeni katakan.


Lasmi tak berhasil menghubungi Romi, karena ponsel si bis tak aktif. sedang Fani berbicara pelan dengan suaminya, suaranya terdengar gugup dan gemetar. Sedangkan Risma mengendap endap mendekati pintu rolling, lalu memukulkan kayu pada pintu itu hingga menimbulkan suara yang keras.


Brang brang brang...


Suara rolling dipukul cukup keras membuat kedua orang diluar terperanjat.


"Heii, kau mau maling ya! Gue udah telpon polisi nih, jangan macam macam sama sepeda gue! Maling ..maling...maling..." teriak Yeni memberatkan suaranya, menirukan suara lelaki. Membuat kedua lelaki yang berada di teras toko secepat kilat melajukan motornya ditengah rintik hujan. Bahkan lelaki yang tadi mengutak atik motor Fani hampir terjungkal karena ia belum mendaratkan bo kong dengan sempurna di jok belakang, namun pria yang didepan keburu menekan gas motornya.


"Haaah! Mereka tebirit birit, syukurlah. Sepedaku selamat!" ucap Fani yang masih terhubung dengan suaminya.


Mereka berempat menghembuskan nafas lega dan adu tos.


Yess! Berhasil.


"Ya Alloh, sepertinya gue harus nraktir kalian lagi besok!" ucap Fani saking gembiranya, menatap ketiga bawahannya.


"Ok! kita tunggu traktirannya mbak Fani!" sahut ketiga orang bebarengan.


*****


Malam Minggu.


*Entah dimana


Dirimu berada


Hampa terasa hidupku tanpa dirimu

__ADS_1


Apakah disana


Kau rindukan aku


Seperti diriku yang slalu merindukanmu, selalu merindukanmu


Lirik lagu hampa


Ari Lasso*


*****


Yesi mengetuk ngetuk meja ruang tamu rumahnya dengan bertopang dagu. Mulutnya manyun, ia lalu melirik jam yang menempel didinding ruangan itu.


Pukul 20.03.


Tak ada tanda tanda seseorang akan datang. Tadi Yesi dibawah sudah ditegur oleh Mamanya, karena sudah tiga kali kedapatan oleh Mama bolak balik ke teras. Seperti sedang menanti seseorang.


"Kamu lagi ngapain sih, Yesi. Nunggu Andre datang?" tegur mamanya sembari tersenyum penuh arti.


"Eh, nggak kok! Siapa yang nunggu dia, tadi tuh katanya temen aku ada yang mau mampir kesini, Ma! Tapi kok gak datang datang ya!" Bohong Yesi. Padahal mah, ia memang menanti ' si dia' yang disebut mamanya tadi. Tapi ia berkilah bahwa ia menanti orang lain.


"Temanmu yang mana, siapa namanya?" cecar sang Mama.


Hmmm, kenapa sih aku nungguin dia? ish.. untung aja aku bisa berkilah didepan Mama. Malu kalau ketahuan nunggu dia. Batin Yesi.


"Aku ke atas dulu ya, Ma! Kayaknya temen aku gak jadi dateng!" pamit Yesi pada Mamanya yang mengawasi pekerjaan pegawai rumah makan mereka.


"Mungkin dia lagi banyak pasien, Yes! Atau capek malas bepergian jauh. Kalau kangen tinggal telpon aja, atau kamu besok yang kesana nyamperin dia! Gak usah menuruti gengsi kalau emang suka. Kalian 'kan udah dewasa!" goda sang Mama, Yesi yang sudah berdiri dari duduknya mengerutkan alis.


"Ih, Mama! Udah dibilangin aku gak nunggu dia kok!" cemberut Yesi menghentakkan kaki berjalan menuju tangga.


"Makan, tuh gengsi!" gumam sang Mama yang masih bisa didengar Yesi. Namun ia tak menanggapinya.


Di ruang tamu rumahnya, Yesi memutar mutar ponsel ditangannya, menimang nimang, apa perlu ia menanyakannya kenapa gak datang malam ini, atau sekedar memberi kabar.


"Issh, memang dia siapanya gue, pacar bukan, suami apalagi. Mana penting ngirim kabar." Yesi bermonolog.


Ternyata hampa rasanya tanpa dia.

__ADS_1


Ia lalu membuka kontak WhatsApp di ponselnya, membuka profil Andre.


Hmmm, terakhir terlihat dua jam yang lalu.


Begini rasanya dicuekin....


\=\=\=


Pagi menyapa, langit cerah berwarna biru setelah semalaman turun hujan. Setelah jam tiga tadi baby Kia bangun dan membuat kedua orang tuanya ikut melek menjaganya, kini dia tidur anteng dalam boks bayinya.


Terlihat Yulia baru selesai mandi, ia melilitkan handuk sampai dada. Mengambil baju dalam lemari yang tadi ia lupa membawanya ke kamar mandi.


Harum bau sabun yang menguar membuat mata Romi yang tadi tertutup rapat, kini terbuka. Ia masih mengenakan sarung setelah tadi sehabis subuh ia tidur lagi.


Melihat istrinya yang hanya mengenakan handuk, ia langsung bangkit dari ranjang. Mendekatinya lalu berdiri dibelakang Yulia yang sedang membungkuk didepan lemari.


"Eh, mas sudah bangun!" sapa sang istri kala melihat sang suami tiba tiba ada dibelakangnya.


Dengan seringai liciknya, Romi secepat kilat menarik simpul handuk Yulia membuat benda itu jatuh teronggok di lantai. Memperlihatkan polos istrinya yang masih tanpa mengenakan apapun.


" Mas Romi iseng banget sih!" sungut sang istri meraih handuk itu, lalu melilitkan lagi ke tubuhnya.


"Ish, ngapain di tutup. Aku pengen lihat video live streaming film blue gratis." menarik lagi handuk itu dan membuangnya asal, jauh dari jangkauan istrinya.


"Mas! Iseng banget!" handuk itu jatuh di pagar boks bayi.


"Lihat tuh, iseng kamu. Hampir aja anakmu kena timpuk handuk, belum lagi kalau tiba tiba Shila masuk.


Romi menahan tangan istrinya yang memegang benda penyangga dua buah benda kembar yang menjadi sumber nutrisi si baby. Benda itu terlihat lebih besar dan dari dulu sebelum istrinya hamil baby Kia.


"Main isep isepan yuk, mumpung baby Kia lagi anteng tidur. Ini juga hari Minggu, nggak buru buru ngurusin anak pergi sekolah!" ajak Romi sambil menaik naikkan alisnya.


Karena tadi malam ketiduran sampai baby bangun jam tiga, melewatkan kesempatan main isep isepan dengan sang istri membuat Romi tak mau melewatkan kesempatan lagi, menagih di pagi harinya. Menggiring sang istri menuju ranjang.


Haddeeeeh....


\=\=\=\=\=


Jangan lupa pencet like di setiap Bab ya, hargai sedikit perjuangan author untuk nulis cerita receh ini dengan like dan komen juga Vote seikhlasnya.

__ADS_1


Mudah sekali kan?


Makasih.


__ADS_2