
###
“Bun, bangun! Udah siang nih, gak subuh dulu kenapa?”
“Hmmm...!”
“Lagi haid kah?”
“Hmmm, nggak mas!”
“Ishh, tumben kamu malesan. Lagi gak enak badan apa?” Romi mendekati sang istri yang masih bergelung dibawah selimut. Meraba keningnya, namun tak panas.
“Subuh dulu gih, nanti habis subuh tidur lagi kalau masih capek.” Saran Romi setelah istrinya bergeming dari bawah selimut.
Tumben tumbenan nih Yulia.
“Jam berapa mas?” Tanya Yulia dengan suara serak, mata terlihat masih terpejam. Malas.
“Jam setengah enam!”
“Apa?” Yulia spontan membuka mata dan bangkit, lalu turun dari pembaringan langsung menuju kamar mandi untuk wudhu.
"Awww! Aduh!" tubuh Yulia oleng hampir saja ambruk kalau Romi tak sigap menahan tubuhnya dan menuntunnya duduk di tepi pembaringan.
"Kamu ini, jangan spontan gitu ah kalau baru bangun tidur, gak baik buat kesehatan. Gini ya! Bangun tidur tuh, diam dulu setengah menit sambil berbaring, lalu duduk setengah menit lagi. Baru, kamu bisa jalan ke kamar mandi."
"Sebab apa, sebab hal ini memberi kesempatan tubuh kita beradapsi lebih baik dengan lingkungan. Jika langsung berdiri kamu dapat mengalami rasa pusing di kepala. Bahkan bisa jatuh kayak tadi, karena peredaran darah belum lancar. Coba kalau gak ada aku tadi, bisa berabe, kan?"
“Kenapa gak dibangunin dari tadi sih, mas! Subuh udah hampir habis, ini!” Yulia malah mengomel, tanpa merespon kata kata panjang lebar Romi tadi. Romi geleng kepala dengan kelakuan istrinya.
“Lah, dari tadi aku udah bangunin, kamunya aja yang tidurnya keenakan. Kamu tuh ya, denger gak aku tadi bicara apa.” Jawab Romi dengan nada tak terima dan agak kesal. Yulia pun melirik tak suka dengan jawaban suaminya.
"Iya, aku denger kok. Gak boleh langsung berdiri kan, tunggu beberapa saat biar peredaran darah lancar." Yulia menirukan dengan singkat nasehat suaminya lagi.
"Lebih baik lagi meregangkan badan dulu!" Yulia menurut, ia meregangkan tangannya, meliukkan badan ke kanan dan ke kiri. Lalu berdiri untuk ke kamar mandi. Romi menghembuskan nafas kasar sembari melihat punggung istrinya.
“Unda... Huaaa!” dari luar pintu didorong dan terdengar suara tangis anak anak. Romi segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu.
“Eh, anak Ayah udah bangun. Bunda lagi sholat, Kia nunggu bunda sini sama Ayah!” Romi menggendong anaknya, Kia yang kini berusia 2 tahun. Dia tumbuh menjadi anak yang sehat, berpipi bulat seperti bakpao, dan menggemaskan. Sudah satu bulan Kia disapih dan tidur sekamar dengan sang kakak, Shila yang telah duduk dikelas 2 SD. Kia baru bangun dari tidurnya, dan langsung mencari sang Bunda. Sedang Shila sambil membawa handuk dipundaknya, ia memerhatikan adiknya dari pintu kamarnya.
"Aku tinggal mandi, Yah!" pamit Shila. Romi hanya mengangguk, Shila selama ini sudah mandiri.
“Unda...!”
“Iyaaa, tunggu sebentar. Bunda lagi sholat tuh!" Melihat bunda nya memakai mukena serba putih, Kia meronta sembari menunjuk ingin turun dari gendongan Romi. Ingin menghampiri sang bunda.
"Ok, Kia turun. Tapi jangan ganggu ya. Bunda lagi berdoa." pintanya pada Setelah menurunkannya lagi Kia gegas berlari kearah Bundanya.
"Assalamu'alaikum warahmatullah." Yulia mengakhiri salatnya dengan salam, menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mengusap wajah. Kia yang telah berlari kearahnya langsung menghempaskan bokong pada pangkuan sang Bunda.
"Anak bunda udah bangun. Hmmm, bau acem, tapi bunda suka!"
__ADS_1
Setelah puas menciumi anaknya yang terkekeh kegelian, Yulia meminta Kia berdiri. Dan dia pun ikut berdiri namun tiba tiba pandangannya kabur.
"Astaghfirullah!" Romi yang sedang duduk ditepi kasur sembari menatap layar benda pipihnya menoleh.
"Kenapa lagi, Bund?" tanya Romi saat melihat istrinya memegangi kepala dan terhuyung.
"Kayaknya anemia ku kambuh!" Romi segera mendekati sang istri dan menuntunnya duduk ditepi ranjang.
"Ayo kita sini! Duduk dekat Bunda." Romi melambaikan tangan pada Kia yang terbengong melihat bundanya dituntun oleh sang ayah.
"Unda tatit?" melihat wajah menggemaskan anaknya, keduanya tersenyum. Romi meraih tubuh mungil Kia, menciuminya lalu mendudukkannya diantara ia dan Yulia.
"Bunda gak apa apa kok. Mungkin sedikit capek aja. Oiya, Yah. Hari ini kita sarapannya beli aja ya? Aku mau istirahat. Mata aku rasanya masih ada yang ngeganjel, sepet banget." Romi mengiyakan dan meminta Yulia tiduran lagi. Sedang ia sendiri mengangkat sang anak lalu membawanya ke kamar mandi.
"Kia gak apa apa kan dimandiin sekarang, Bun?" melongok dari pintu kamar mandi bertanya pada istrinya yang sudah membaringkan diri
.
"Iya, gak apa apa. Tapi pakai airnya anget, Yah!" jawab Yulia tanpa membuka mata.
Romi mengerjakan tugas pagi yang biasanya dilakukan oleh Yulia, mulai dari memandikan Kia, mengontrol Shila, menanak nasi pada magic com, membuatkan susu untuk Kia dan menggoreng telur untuk sarapan Shila.
"Biar Shila bikin sendiri susunya Yah!" tegur Shila saat Romi mau membuatkan dirinya susu.
"Oke, anak Ayah udah pinter dan mandiri. Biar ayah yang bikin telur dadar." Romi sudah akan memecah telur dengan memukulnya dengan garpu.
"Shila mau telor ceplok aja, Yah!"
"Bu, ibu mau sarapan bareng Shila. Biar Romi gorengkan telurnya?" Romi menghampiri sang ibu mertua, Bu Kanti yang sedang menyaksikan siaran televisi yang menayangkan kartun menoleh.
"Nanti saja sama kalian. Yulia mana? Kok kamu yang ngurus anak anak?" tanya Bu Kanti sembari memangku Kia yang meminum susu dari botol gelasnya.
"Gak enak badan dia kayaknya, Bu!"
"Ohh! Bu Kanti manggut manggut sembari menoleh pada pintu kamar Yulia yang saat itu dibuka dari dalam.
"Yah, aku udah delivery makanan buat sarapan. Udah beres 'kan Shila?" Yulia melongok dari pintu.
"Udah, tenang aja. Suamimu siaga kok. Aku udah buatin telur dadar, bentar lagi nasinya tanak. Kalau masih gak enak badan tiduran aja lagi." perintah Romi pada istrinya.
"Kamu kenapa, Yul?" tanya sang ibu yang memperhatikan anaknya yang berdiri bersandar pada kusen pintu. Dari atas ke bawah, lalu kembali lagi keatas, seakan menyelidik.
"Kepala aku rasanya kliyengan, Bu. Mau tersungkur rasanya. Yulia masuk lagi ya, Bu?" pamit Yulia lalu menutup pintu.
" Apa Yulia hamil lagi, Rom?" Bu Kanti bertanya pada Romi yang masih berdiri di dekatnya, ia pun menghampiri sang anak yang duduk di pangkuan neneknya.
"Belum tahu, Bu. Nanti kalau belum reda pusingnya, biar Romi bawa Yulia ke rumah sakit buat cek up."
****
Romi memperhatikan menu sarapan di meja, mengernyitkan alisnya. Heran dengan menu yang tak biasa. Ia mengaduk ceker ayam yang ada diatas piring, lalu menoleh pada sang istri.
__ADS_1
"Ini kok cuman ceker doang, Bun. Apanya yang mau dimakan?" heran Romi melihat menu pagi ini.
"Aku lagi pengen seblak ceker Yah, udah deh makan aja. Kalau belum nyoba jangan komen dulu!" sergah Yulia dengan nada tak suka dan cemberut. Romi memandang ibu mertuanya yang juga lagi menatapnya.
"Terus, buat ibu sama Kia mana? Masa, Kia suruh makan ginian?" protes Romi lagi. Yulia benar benar tak seperti biasanya.
" Kan ada capcay, mas. Gak usah lebay deh. Itu juga ada kerupuk di toples.” Romi menggelengkan kepala. Istrinya benar benar aneh. Ia lalu memandang ibu mertuanya.
“Bu, Romi bikinin telur ceplok ya! Ibu jangan makan dulu sebentar.” Tawar Romi segera berlalu ke dapur. Tak sampai sepuluh menit Romi kembali dengan beberapa telur ceplok matasapi dipiring yang dibawanya.
“Ini, bu. Makan lauknya ini juga ya!” meletakkan piring yang dibawanya di depan ibu mertua.
“Padahal ibu tak apa apa loh, makan capcay sama kerupuk. Dulu mah, sebelum ibu ada disini ibu malah sering cuma makan nasi lauk kecap sama garam. Pernah juga makan krupuk sama kecap. Sudah enak banget loh. Iya kan, Yul?” Sang ibu rupanya merasa tak enak hati. Yulia hanya diam saja dan menunduk.
“Bu, ibu disini adalah tanggung jawab saya. Kita ada walaupun tiap hari makan telur, daging atau ikan. Selagi saya masih bisa ngasih ibu dan keluarga kita makanan yang lebih baik dan lebih sehat, akan Romi lakukan. Saya akan merasa sangat bersalah kalau ibu cuman makan seperti ini."
" Sudah, ibu gak boleh nolak. Biar sehat terus. Atau nanti kalau ibu pengen makan sesuatu bilang aja sama Romi nanti Romi belikan.”
“Makasih Nak Romi, ini udah cukup. Ya, ibu mau makan ini.”
Ibu mengambil satu telur ke piringnya. Disusul Romi mengambil juga di piringnya.
“Sayang, kamu juga jangan cuma makan ceker. Gak ada dagingnya juga. Aku ambilin telur ya? kamu juga harus makan yang ini.” Romi mengambilkan telur untuk Yulia. Tapi Yulia menggeser piringnya dan menggeleng. Hingga telur itu hampir saja jatuh di meja. Romi mengira Yulia ngambek karena ia memilih menggoreng telur.
“Iya, nanti aku bantu habisin ceker seblaknya. Tapi habis makan ini ya, sayang!” Romi berusaha merayu istrinya untuk makan lauk telur. Yulia diam saja memandang telur itu.
“Ish, jangan ngambek dong sayang. Aku kan udah bilang nanti aku bantu habisin cekernya.” Yulia menggeleng kuat.
Hingga sekali lagi Yulia menggeser piring saat Romi mau menaruh telur di piring Yulia.
Tiba tiba Yulia seperti menahan muntah dengan menutup mulutnya.
“Hoooekkk!” Yulia segera berlari ke dapur. Ke wastafel dan menumpahkan makanan yang sudah masuk dalam perutnya.
Nafas Yulia tersengal sengal, ia mengusap sudut mata yang berair.
“ Lagi gak enak badan ya! Udah, mending habis sarapan kita ke dokter aja. Aku gak mau kamu berlarut larut sakitnya.” Ucap Romi tegas sembari memijit pelan tengkuk Yulia.
“Gak mau. Aku Cuma masuk angin aja. Mungkin karena kemarin malam tidur terlalu larut karena Kia tidur sedari sore.” Kilah Yulia, hingga menjelang Yulia mau merebahkan diri di malam harinya, kia malah terbangun dan mengajak bermain.
Romi tidak tahu karena Yulia tak mengatakan padanya, Seminggu sekali Romi yang ikut perkumpulan karang taruna di lingkungan rumahnya ikut ronda di malam hari sampai menjelang pagi.
“Aku lupa ngasih tahu mas, kemarin malam Kia tidurnya udah malam banget. Jadi, aku yakin cuman masuk angin.”
“Aku mau minum obat antiangin cair aja. Habis itu mau tidur lagi. Boleh kan?”
“Ya udah deh. Tapi kalau buat istirahat masih mual muntah juga, hubungi aku. Kamu harus pergi ke dokter. Gak ada bantahan, oke?” Yulia mengangguk, ia berdehem menetralisir tenggorokannya yang sakit. Apalagi makanan yang ia makan tadi sangat pedas menurut ukuran orang normal.
“Kamu sakit ya, Yul!” tanya sangt ibu saat Yulia melintas di depannya. Yulia mengangguk dan berhenti sebentar. Terlihat wajahnya agak pucat.
“Yulia mau istirahat aja deh bu. Habis minum obat. Tolong jagain Kia ya, bu! Bentar lagi mak Minah juga datang.” Yulia segera masuk ke kamarnya. Kia yang sedang asyik dengan dotnya memanggil manggil Bundanya. Tapi ia sudah tak tahan untuk segera merebahkan diri di ranjang. Terdengar lamat lamat Bu Kanti membujuk Kia agar tak menyusulnya ke kamar.
__ADS_1
.