Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 88


__ADS_3

Mereka telah sampai di hotel mengendarai motor punya Yesi. Sampai di dalam kamar hotel, mereka segera membersihkan diri bergantian. Sebelumnya Yesi telah memesan baju pada petugas hotel, dan menyuruhnya mengantar ke kamar Andre.


Makanan yang di pesan Yesi pada pegawainya juga telah diantar ke kamar hotel tempat Andre menginap.


"Ndre, makan yuk! Ini adalah menu andalan rumah makan punya gue!" ucapnya dengan keras karena Andre sudah cukup lama di kamar mandi.


"Elu lagi ngapain sih, kok di kamar mandi lama banget? Ngalahin cewek tauk!" pekiknya lagi karena tak ada tanda tanda Andre keluar dari sana.


Yesi menata makanan berwadah stereofoam pada meja, meneliti satu persatu, sekiranya apa yang kurang.


"Wuuuah, baunya harum. Jadi laper!" komentar Andre yang baru keluar kamar mandi. Yesi menoleh, Andre hanya mengenakan jubah handuk. Dan tampil beda dengan yang tadi saat di pantai.


"Wuih, ganteng juga elu kalau gak berewokan kayak tadi. Yang tadi nyeremin tahu gak?"


"Nggak... be aja!"


"Haaah!"


"Biasa aja..!"


"Ganti baju sana dulu, baru makan!" pinta Yesi namun tak dihiraukan Andre. Ia tetap duduk di sofa yang didepannya terdapat beberapa jenis makanan yang menggugah selera.


"Dibilangin ganti baju sana dulu!" Yesi sewot Andre tak menggubrisnya.


"Keburu laper! Salah juga elu buka makanannya dulu!" Yesi memukul Andre dengan paper bag yang dibawanya. Andre hanya nyengir sambil mengambil satu wadah yang berisi nasi, dan mengambil lauknya satu persatu. Yesi melakukan hal yang sama.


"Ini menu di tempat makan elu?" Andre bertanya setelah menelan satu suapan di mulutnya. Mereka makan memakai tangan.


Yesi hanya mengangguk, karena mulutnya sedang mengunyah nasi.


"Menu andalan ini!" ucapnya kemudian sambil mencuil ayam panggang di tangannya.


"Hmmm, pantesan! Memang enak kok!"


"Apalagi makannya pake tangan, tambah nikmat!" oceh Andre dengan mulut penuh.


"Ya iyalah pake tangan, emang ada makan pake kaki?" gerutu Yesi di sampingnya.


"Maksud aku tuh pake tangan gak pake sendok Yes! Ya elah." sewot Andre gak mau kalah dan gak mau salah.


"Sekalian aja, lebih enak lagi kalau suap suapan ama pacar, gitu kan?"


"Jangan gitu lah Yes, kan elu juga tahu gue belum pernah yang namanya pacaran. Jones!" ucapan Andre membuat Yesi tertawa tertahan karena di mulutnya masih mengunyah nasi.


"Ya ya ya, dikau alias elu emang jones, jomlo ngenes. Kasian deh elu!"


"Kayak situnya enggak!" delik Andre tak terima.


Kini makanan diatas meja telah tandas beralih ke perut kedua orang yang tengah asyik saling meledek. Menyisakan sampah yang dikumpulkan oleh Yesi dan dibuangnya ke tempat sampah.


Saat Yesi membuang sampah, Andre beranjak menuju kopernya, mengeluarkan sepasang baju ganti, membawanya ke kamar mandi lalu memakainya di sana.

__ADS_1


Selesai membuang sampah Yesi mengayun langkah menuju balkon kamar itu, berdiri disana menghadap laut yang terasa anginnya cukup kencang di ketinggian.


Hatccih!!


Yesi bersin bersin, dan menggosok gosok hidungnya.


Huuh, pakai baju basah sebentar aja buat aku bersin. Apa masuk angin ya!


"Kenapa?"


Yesi menoleh pada Andre yang menjajarinya berdiri di tepi balkon.


"Nggak, cuman bersin. Tadi kelamaan pake baju basah kayaknya!"


Andre menyeringai sinis.


"Lagian juga, ngapain malem malem masuk ke air, niat bunuh diri ya elu?"


Yesi hanya melirik kesal pada Andre, lalu menghela napas berat.


"Aku kayaknya bawa obat anti angin. Bentar!" Andre masuk lagi, tak butuh waktu lama, ia datang lagi membawa obat anti angin beserta minumnya.


"Makasih, Ndre!"


"Hmmmm." hanya itu jawaban Andre.


Yesi lalu meminum obatnya.


"Gimana pertanyaan gue tadi, elu belum jawab. Elu ada niat mengakhiri hidup dengan menenggelamkan diri di laut?" tanya Andre lagi.


"Apa..?"


"Gak..!"


"Gue cuman tadi itu kayak gak sadar. Yang gue pikirin tadi cuman pengen ngilangin bayangan Romi di pelupuk mata. Eh, tahu tahunya masuk ke air. Gak sadar loh gue tadi, ingat ingat elu udah nyeret gue ke pinggiran." cerocos Yesi.


"Itu mah, namanya sama aja! Elu punya niat bunuh diri. Ih amit amit!" Andre menyebik.


"Mangkanya, kalau surup atau menjelang Maghrib itu jangan kebanyakan ngelamun. Jadi gitu kan! Katanya waktu petang itu, para setan pada keluar gentayangan. Gue pikir elu kesurupan! Untung gue liat, kalau nggak, mungkin namamu sekarang tinggal almarhumah Yesi Wibisana! Ya, nggak...!"


"Enak aja..!"


"Ya emang! Enak kalau mati gak ada urusan apapun tentang dunia ini. Putus sudah. Beres kan? hahaha!"


"Sial elu!"


"Kenapa susah banget ya buat move on? Gue kadung cinta mati sama Romi." Raut Yesi berubah murung.


"Sama kalau gitu. Rasanya di dunia ini hanya wajah Yulia yang selalu hadir kala sendiri dan sepi menyerang." mereka kini berhadapan dan saling memandang.


"Apa rencana elu ke depan? Apa elu punya cara pisahkan mereka dengan cara kita?" dalam otak Andre terdapat rencana licik.

__ADS_1


"Gimana kalau kita bikin mereka pisah, terus elu bisa dapatkan


Romi, dan gue dapetin Yulia!" usul Andre.


"Gila ya elu! Elu pikir, dengan mudah terus gue bisa dapetin Romi kalau mereka pisah? Gue nggak yakin! Gue udah nyoba lima tahun men! Bukan waktu sebentar!" sewot Yesi.


"Kecuali kalau Yulia out dari muka bumi ini!"


"Elu waras? Kalau sampai terjadi apa apa sama Yulia, elu bakalan gue kejar sampe neraka. Gue juga bisa bikin elu out dari muka bumi, kalau itu sebab kelakuan elu! Ngerti gak elu!" bentak Andre tak terima.


"Sama, gue juga gak bakalan rela elu apa apain si Romi. Awas, ya! Gue cekokin kopi sianida elu, kalau elu berani macam macam sama Romi."


Mereka saling mengancam dengan mata saling menatap tajam. Merasa pesimis dengan cara apapun yang bakal di tempuh. Lagipula mereka juga tak ingin terjadi sesuatu pada orang yang mereka cinta. Bagaimanapun pahitnya dan sakit saat orang yang mereka sayang memilih orang lain, tak mampu membuat Andre dan Yesi menyakitinya.


Keduanya diam beberapa saat, saling pandang lalu tertawa berdua, terbahak bahak.


"Segitu sayang elu sama Romi?"


"Iya, segitu sayang juga elu sama si Yulia!" mereka terdiam kemudian. Menatap lagi kelap kelip lampu di kota pinggiran pantai.


"Gue tak ingin jadi orang jahat untuk mendapatkan apa yang gue mau. Itu egois banget."


"Hmmmm!"


"Btw, pernah denger sih, kalau patah hati itu, obatnya ya jatuh cinta?" ucap Andre setelah sekian lama mereka diam. Malam juga telah semakin larut.


"Iya sih, gue mau coba. Sama elu, kira kira gue bisa jatuh cinta gak ya..?" Yesi bersedekap, menatap Andre dari atas sampai bawah, lalu ke atas lagi.


Ia mengetuk ketukkan jari ke dagunya.


"Bodi oke, wajah lumayan juga elu. Kenapa ya, gue dulu gak merhatiin elu." Yesi tertawa cekikikan.


Andre balas menatap Yesi dengan mencondongkan wajahnya, hanya tinggal beberapa senti wajah mereka saling tatap. Hingga terasa hembusan nafas satu sama lain. Yesi yang jengah lalu memundurkan wajahnya.


"Ngapain elu liat gue kayak gitu?"


"Kamu deg degan nggak sih deket aku kayak gini?"


"Mmmm, nggak..!" sahut Yesi sambil menggeleng.


"Sama..!"


"Kalau begini..!"


Andre tiba tiba menyentuhkan bibir mereka secepat kilat.


"Apaan sih!" Yesi mendorong Andre, namun Andre bergeming. Ia lalu berpaling melihat ke arah pemandangan malam di pantai. Namun Andre memegang dagunya dan mengarahkan pandangan Yesi padanya.


"Jawab jujur, Yesi!"


"Gue bilang nggak!"

__ADS_1


Yesi beranjak mundur, tapi Andre menahan dengan tangannya, lalu memegang tengkuk leher Yesi. Hingga Yesi tak bisa memundurkan wajahnya. Mereka saling menatap intens dalam diam.


*******


__ADS_2