Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 90


__ADS_3

Malam Minggu


Kamu tidak perlu sedih kalau malam Minggu ini masih jomblo ya…! Coba melihat bulan di langit, meskipun single dia tetap bersinar dengan sangat indah.


Eittts, telat. Ini kan udah Senin ya...


Dan pula, seharian kemarin mendung dan hujan, gak ada sinar bulan. Matahari aja seharian ini gak ngintip sama sekali.


*****


"Permisi..!"


Andre datang ke rumah Yesi setelah seminggu yang lalu mereka bertemu.


"Ya..!" terdengar sahutan dari dalam.


"Selamat malam, Yesi!" sapa Andre tersenyum manis pada Yesi yang membukakan pintu di lantai dua rumahnya.


Sudah seminggu lamanya Andre kembali bertugas di klinik kecilnya. Sedangkan Yesi juga beraktivitas seperti biasa. Di malam Minggu seperti ini Yesi selalu berkumpul dengan ayah dan Mamanya untuk sekedar makan malam.


"Kamu!!"


"Ngapain kamu kesini lagi?" Yesi menutup pintu dan berdiri di samping Andre.


"Kangen kamu!"


"Isshhh! Basi!" Yesi mengibaskan tangannya. Tiba tiba pintu kembali terbuka dan menampilkan seorang wanita setengah baya namun masih terlihat cantik gurat wajahnya.


"Eh, ada tamu, kok gak di ajak masuk, Yes!" tegur ibu itu.


"Ini seperti kenal ya, kamu Andre kan? Anaknya pak Santo. Kok kamu ada disini?" Andre tersenyum dan menjabat tangan wanita itu.


"Iya, Tante! Saya Andre, kemarin lusa gak sengaja ketemu Yesi di pantai, Tan! Terus saya sempet nganter Yesi kemari juga!" terangnya.


"Benarkah kalau begitu, yuk masuk dulu nak Andre!" ajak ibunya Yesi membuka pintu lebar.


"Gak usah, Mam! Andre ini sedang sibuk kok, cuman mampir sebentar katanya. Dia ada perlu lain, iya kan Ndre?" Yesi tersenyum penuh tekanan pada Andre, berharap ia tahu kode yang ia berikan. Yesi tak mau Andre datang ke rumah selagi ada orang tuanya.


"Oh, makasih Tante. Saya memang sengaja main kesini hari ini! Karena saya memang sedang libur seharian dan gak ada kegiatan. Boring di rumah sendirian!" ucapnya melirik Yesi yang memelototinya. Andre mengulum senyum, geli melihat ekspresi Yesi.


Mereka telah duduk di ruang tamu.


"Eh, nak Andre! Waduuh udah dewasa ya sekarang. Makin ganteng aja, padahal dulu waktu Tante sama Om pergi kamu kelihatan gimana gitu! Waktu itu kalian masih SMA, ya?"


"Iya lah Tan, saya udah 30 tahun. Tentu saja udah dewasa."


"Kalau ganteng sih, standar aja Tan. Buktinya sampai sekarang belum laku juga. Hehehe..!" Wanita itu tertawa bersama Andre, sedang Yesi dibuat kesal olehnya.


"Nggak kok, kamu ganteng sekarang. Dulu kan kamu culun, iya kan?" Andre tertawa lagi mendengar candaan ibunya Yesi walaupun itu memang kenyataan yang sebenarnya.


"Oiya, kamu udah menikah? Anaknya berapa? Istrinya orang mana?" Mama Yesi masih mencerca Andre dengan pertanyaan pertanyaannya.


"Mmm, belum tante, saya belum menikah. Gak ada yang mau sama saya, Tante!"

__ADS_1


"Mangkanya ini lagi pedekate, siapa tahu jodoh, Tan! Nganggur terlalu lama gak enak banget!" ucap Andre disertai cengiran karena saat melirik Yesi memelototinya.


"Ah, masa sih, ganteng gini gak ada yang mau? Gak percaya aku, jangan jangan kamu yang terlalu pilih pilih, ya?"


"Gak juga kok Tante, Sebab wanita yang saya pilih pun gak ngelirik sama sekali ke saya. Hehehe...." Mereka masih tertawa tawa mengabaikan Yesi yang ada diantara mereka berdua.


"Kok bisa sama si Yesi, di umur hampir kepala tiga belum nikah juga. Tahu tuh dia, seperti apa cowok yang dia mau!" keluh mama Yesi yang membuat Yesi tak jenak duduknya.


"Oiya, sampai lupa. Nak Andre mau minum apa, kopi atau teh? Biar Tante buatkan!"


"Udahlah, Ma! Andre gak usah di kasih minum. Dia katanya baru minum kok!" ucap Yesi.


Andre berdehem dan memegang lehernya.


"Wah, kebetulan nih Tante. Saya memang lagi haus, tenggorokan kering. Apa aja saya mau, boleh teh atau kopi. Air putih juga lebih sehat!" Yesi merasa dongkol sekali. Mulutnya mengerucut.


"Iya, sebentar ya Tante ambilkan dulu." Berdiri dan beralih menatap anaknya "


Kamu itu kenapa sih Yesi, tamu ditawarin minum mau kok malah kamunya sewot." tegur Sang ibu.


"Saya buatin minum dulu nak Andre, terusin ngobrolnya sama Yesi. Tante ke belakang dulu, ya!"


"Iya, Makasih banyak Tante!"


"Sama sama!"


***


Andre seakan tak mendengar, ia asyik senyum senyum sambil menatap Yesi yang terlihat geram.


Andre menatap ruangan itu, terdapat banyak foto Yesi terpajang di dinding. Ada yang sendiri, ada pula yang bersama ayah dan Mamanya.


"Eeeh, ada tamu ya rupanya!" Laki laki paruh baya muncul dari dalam dan mengembangkan senyum pada Andre.


"Malam, Om!" sapa Andre sopan sambil berdiri, setelah itu menjabat tangan. Kini mereka duduk berhadapan.


"Om Wibisana masih ingat sama saya?" tanya Andre membuat Ayah Yesi menautkan alisnya. Dia menatap Andre yang tersenyum dan seperti mengingat ingat sesuatu.


"Saya anaknya pak Santo, Om! Andreas!" lelaki itu kemudian tertawa dengan keras.


"Ya Tuhan! Benarkah ini Andre yang dulu pake kacamata tebal itu. Waah! tampilan kamu berubah total, lebih keren sekarang. Makin ganteng hahaha!" Ayah Yesi tertawa tawa.


"Makasih, Om!"


"Beneran loh, kamu ganteng sekarang. Oiya, kok bisa ketemu sama anak Om!"


Andre lalu menceritakan pertemuannya pertama kali dengan Yesi di pantai.


"Yesi kalau lagi galau atau banyak pikiran memang suka menepi di pantai!" Om Wibisana mengomentari cerita Andre sambil melirik anaknya. Makin mengerucutlah bibir Yesi. Namun itu membuat Andre tambah geli.


Mereka berbincang bincang berdua begitu serunya. Dan Yesi, hanya menjadi obat nyamuk disitu. Menjadi pendengar perbincangan keduanya.


Tak lama mamanya Yesi keluar membawa dua gelas teh hangat. Satu gelas untuk suaminya dan satu gelas untuk Andre.

__ADS_1


"Loh, Ma! Kok cuma Ayah sama Andre yang dikasih minum! Minuman buat Yesi mana?" tanya Yesi heran.


"Iya, kamu kalau haus kan kamu bisa ambil sendiri di belakang!" ucap Mama Yesi tanpa rasa bersalah.


"Waah, makasih banyak loh, Tan!"


"Yesi, mau minum segelas berdua?" Andre mencoba menggoda Yesi didepan Ayah dan Mamanya sambil tersenyum lebar.


"Ogah lah, ya!"


"Ya udah kalau gak mau!"


Andre mengambil teh didepannya. Lalu meneguknya sampai habis setengah gelas. Ibunya Yesi terlihat puas.


"Oiya, nak Andre, kamu pasti belum makan. Tante tadi lagi nyiapin makan malam, mau ya makan bareng kita?"


"Waah, tau aja Tante kalau saya juga belum makan malam. Maunya sih ngajak Yesi keluar Tante, tapi makan disini juga gak apa apa deh!"


Dasar tak tahu malu! Yesi memberengut.


Ayah dan Mama Yesi tertawa.


Gue dikacangin sama semuanya. Yesi.


"Yesi, kamu itu kenapa to? Mbok ya sama tamu itu yang ramah, jangan merengut gitu!" tegur sang ibu, namun tak diindahkan Yesi. Namun Yesi malah membuang muka ke sembarang arah.


"Sebentar ya! Tante siapkan makanannya! Kamu pasti suka!"


"Om tinggal ke belakang dulu, nak Andre. Sebentar biar Mamanya Yesi menyiapkan makan malam buat kita!"


Ayah dan Mama Yesi kompak meninggalkan mereka berdua ke belakang, kini tinggallah Yesi dan Andre di ruang tamu. Dan mereka saling diam membisu, tak tahu mau bicara tentang apa.


Hingga terdengar ajakan Mama Yesi untuk makan.


"Makanannya udah siap tuh! Yuk kita makan malam! Ayo, nak Andre!"


Mereka makan malam diselingi obrolan ringan diantara Andre dan Ayah ibu Yesi.


*****


Haai. aku datang lagi...


Kasih bunga dong...


Atau kopi...


Biar othor remahan ini bisa lebih semangat lagi up-nya.


Ngarep banget hehehe...


Salam love sekebon pisang punya tetangga.


Karena othor kismin. Gak punya kebon. Punyanya cuman sawah sakedok. upps...

__ADS_1


__ADS_2