Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 115


__ADS_3

Dini memeluk Dion yang seharusnya akan berangkat menuju bandara. Keduanya menangis sedih.


"Dion, jangan tinggalin Mama disini sendiri Yon! Mama gak sanggup pisah lama sama kamu!" ucap Dini disela tangisannya. Yulia gak sanggup melihat itu semua, dia juga berkaca kaca.


"Mama, Dion sayang Mama, Dion juga gak mau pisah sama Mama." anak itu begitu erat memeluk ibunya. Romi yang sudah memanasi mobilnya pun keluar lagi.


"Mama, ayo ikut Dion sama Papa. Kita tinggal di rumah Papa, daripada tinggal di kontrakan. Ayo Ma!" rengek Dion dalam pelukan Dini. Arsen yang mendengarnya pun maju.


"Dion sayang dengarkan Papa ya, Nak! Kita harus segera berangkat. Jangan sampai kita ketinggalan pesawatnya Dion!" bujuk Arsen agar anaknya tidak semakin tenggelam dalam kesedihan.


"Tapi Pah, Dion ingin Mama ikut kita Pah!"


"Boleh ya, Pah! Hikks..." Arsen melengos demi mendengar permintaan sang anak yang masih memeluk ibunya.


"Dion sayang, ayo kita berangkat! Kalau Mama kamu kangen, biar Mama nyusul lain hari, kita gak punya waktu banyak, kita bisa ketinggalan pesawat!" tangan Arsen menggapai Dion yang masih memeluk Dini, berusaha memisahkan mereka agar Dion bisa segera pergi bersamanya.


"Tolong Mas, jangan pisahin aku sama Dion. Aku gak sanggup mas! Tolong!" Dini memohon dengan berurai air mata, digenggam erat satu tangan Dion.


"Dini, udahlah! Hentikan tangisanmu, Kamu bisa mengunjungi Dion kalau kangen. Tapi sekarang, biarkan aku membawanya." Dini menggeleng kuat. Sebagai seorang ibu, ia tak sanggup berpisah dengan anak satu satunya.


"Enggak mas, Dion disini sama aku! Kalau kamu kangen dia, kamu yang jenguk dia kemari. Apalagi kalau kamu nanti punya istri lagi, aku tak ingin Dion tinggal sama ibu tirinya! Nggak boleh!" Dini semakin kacau dan tangisnya semakin keras. Suami yang telah menjatuhkan talak buat istrinya itu masih saja bersitegang merebut Dion.


"Ehemm!"


"Maaf, kalau saya ikut campur urusan kalian." kali ini Romi tak tahan juga melihat suami istri itu.


"Perdebatan dan pertengkaran apalagi sampai rebutan anak, saya kira kalian udah tahu kalau itu menimbulkan efek tak baik terhadap perkembangan psikologis Dion anak kalian. Kenapa kalian masih melakukannya juga? Tak kasihan kah kalian pada anak itu. Seperti orang tak berpendidikan aja!"


"Arsen! Lihatlah anakmu, ia tak mau berpisah dengan ibunya, dia pengen tinggal dengan ibunya. Bagaimanapun juga, Dini yang mengandung dan melahirkan dia, tak semudah itu bisa memisahkan ibu dan ansk, apalagi dia masih kecil."


"Dan juga kamu, Dini! Kalau kamu tak ingin kehilangan anakmu, Cukupkan sampai disini kelakuan burukmu, demi anak, kamu harus mau. Kalau kalian mencintai Dion, tekan ego kalian berdua, bukan dengan rebutan anak begitu!" kedua orang itu mengatupkan bibir dan menghentikan perdebatan mereka. Begitu juga Dion, mereka bertiga diam seribu bahasa.

__ADS_1


Sedang Yulia pergi menggendong baby Kia dan menuntun Shila menjauh. Agar keduanya tak mendengar keributan yang ditimbulkan oleh Dini dan Arsen.


"Maaf, jika aku mencampuri urusan kalian, tapi Dion tetaplah keponakan aku, sepupu Shila anakku. Aku juga turut prihatin jika kalian terus memperebutkannya. Atau jika memang kalian sudah tak bisa didamaikan lagi, ada baiknya jika ia ikut aku saja, dengan senang hati aku dan Yulia menampung Dion disini!"


****


Kini Arsen, Dini dan Dion sedang dalam perjalanan menuju bandara Juanda, untuk terbang bersama ke Samarinda. Terlihat jelas wajah sumringah Dion, melihat kedua orang tuanya akhirnya sepakat untuk rujuk lagi. Entahlah, apakah mereka berdua sungguh sungguh akan rujuk karena mendengar ancaman Romi, atau cuma akan jadi wacana saja.


Dion yang duduk di jok belakang bersama Mamahnya dan sepupunya Shila, tersenyum bahagia. Walau luka bekas kecelakaan masih terasa sakit.


"Lihatlah anakmu Arsen, dia terlihat bahagia melihat kalian akur!" Romi yang menyetir melirik melalui kaca spion, Dion sering tertawa dan tersenyum, bermain tebak tebakan dengan Shila.


"Iya, mas. Aku juga turut senang, Dion terlihat bersemangat lagi. Wajahnya tampak bersinar." Arsen tersenyum tipis.


"Selain diperlukan kesabaran dalam membimbing istrimu, kamu juga harus lebih giat berdoa, supaya ia benar benar berubah perangai buruknya. Tapi itu semua tentu butuh proses, gak bisa langsung berubah 180 derajat. Bimbing sedikit demi sedikit. Aku harap kalian benar benar akur sampai tua nanti."


"Aamiin mas, makasih doanya."


****


"Kia lapar? mau nen?" bayi itu masih terus menggeliat kan badannya, wajahnya sampai memerah karena terus menangis.


"Ya Alloh Kia, kamu kenapa Nak! Gak mau nen, digendong juga masih nangis, ada apa sayang! Kangen sama Ayah sama Kakak ya? Ya ampun, belum juga 3 jam gak ketemu kakak sama Ayah!" Yulia dibuat bingung dengan polah bayinya.


"Kenapa Yul, dari tadi kok nangis terus?" Bu Kanti muncul dari balik pintu melihat cucunya yang menangis di gendongan ibunya.


"Gak tahu nih, Bu! dari tadi gak mau diam. Padahal udah kenyang ASI, digendong juga tetep aja nggak mau diam." bingung Yulia. Rambut panjangnya sampai terburai tak beraturan dan talinya entah kemana.


"Coba ajak main di luar Yul, mungkin merasa suntuk di kamar terus!" Yulia mengikuti arahan ibunya, ia mengajak keluar Yulia, namun karena sore itu sedang gerimis, Yulia hanya mengajaknya di teras rumah sembari memperlihatkan bunga mawar berwarna pink dan putih yang merekah indah.


Tangan mungil itu memukul mukul bahu ibunya, namun berhenti menangis. Yulia memperhatikan arah pandang baby Kia.

__ADS_1


" Waah, rupanya adek


Kia suka bunga ya, suka berkebun ya nanti kalau udah gede. Kayak Bunda aja." Yulia tersenyum merasa lega.


"Tuh kan, Kia maunya diluar, suntuk dikamar terus. Mau pangku Nenek?" Bu Kanti merentangkan tangannya pada sang cucu.


Saat Yulia mau menyerahkan baby Kia pada ibunya, terdengar klakson mobil. Keduanya langsung menoleh dan terlihat Yulia berwajah lega.


"Alhamdulillah, tuh Ayah sama Kak Shila pulang!"


Romi dan Shila langsung menghampiri ketiganya di teras. Saat keluar dari mobil, dengan wajah ceria Shila memperlihatkan goodie bag pada sang adik.


"Hai Kia, coba tebak, isinya apa hayooo!" Shila menggelitiki ujung kaki adiknya yang terbungkus kaos kaki. Sang adik tertawa karena geli.


"Waah, Adik ternyata kangen Kak Sila, dari tadi rewel terus."


"Kak Shila ngasih hadiah apa ya, yuk dibuk!" Shila mengeluarkan sebuah boneka barbie dari goodie bag yang ia bawa sedang Romi berdiri di belakang sang istri, menyisir dengan tangan rambut Yulia yang berantakan lalu mencium pipinya.


"Aduh, anak Ayah rewel ya! Sampai Bundanya ini gak sempat dandan!" Romi lalu masuk mengambil sisir dikamar, kembali lagi dengan telaten ia menyisir rambut hitam panjang Yulia, dan mengikatnya.


"Makasih, Yah!" ucap Yulia menatap sang suami yang juga menatapnya sembari tersenyum. Tatapan penuh cinta yang selama ini belum pudar.


"Gimana mereka tadi, Yah! Dini jadi ikut pulang ke Kalimantan?" Romi mengangguk mantap.


"Alhamdulillah, Bun! Satu masalah teratasi. Kita doakan mereka langgeng disana, dan gak ada Dini Dini lainnya yang masuk ke keluarga kita." hampir saja Romi menyentuhkan bibirnya ke bibir Yulia, dan akhirnya langsung sama sama memundurkan wajah kala Bu Kanti berdehem.


"Masih sore, masih sore. Di depan rumah lagi, ada anak anak juga." protes Bu Kanti, yang telah mengambil alih Baby Kia dan Shila disampingnya.


Yulia menunduk dan tersenyum malu.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Hehehe, maaaapkan baru up. Yang merasa lupa lupa ingat ceritanya, mulai baca aja dari awal lagi. wkwkwk. 😁😁🤩🤩


__ADS_2