
Mobil telah berhenti di area parkir rumah sakit. Lalu Romi menoleh pada istrinya dan mengerling kan sebelah mata. Nackal 'kan Romi?
Mereka berdua lalu keluar dari mobil. Dan berjalan bergandengan tangan menuju lobi.
Hingga tiba tiba sebuah suara dari belakang memanggil Yulia.
"Yulia...!"
Romi dan Yulia menoleh bersamaan, dan saling pandang sesudahnya.
"Mas Wahyu! Ayah! Ibu...!" Wahyu mendorong kursi roda Bu Adnan.
"Bu..! Apa kabarnya?" setelah menoleh pada Romi dan dengan isyarat Romi mengangguk, Yulia mendekati mantan ibu mertuanya dan menyalami. Bu Adnan menatap Yulia yang perutnya membesar.
"Se_per_ti i _ni. Ka_mu ha_mil?" Yulia mengangguk.
"Iya, Bu! Saya mau periksa hari ini. Dan mas Romi, itu suami saya." Menunjuk Romi yang berada agak jauh dari mereka. Mendengar namanya disebut, Romi tersenyum dan mendekat. Lalu menyalami tangan Bu Adnan yang lemas diatas pahanya. Terlihat dari sudut bibir Bu Adnan menetes air liur. Wahyu yang menyadari nya langsung cekatan mengambil tisu dan mengelapnya.
"Ibu diperbolehkan pulang hari ini, kami sudah mau pulang, dan lihat kalian tadi." terang Wahyu karena tatapan Romi sama sekali tak bersahabat dengannya.
"Kau mau periksa kandungan?"
"Iya, mas!" Yulia melirik Romi yang acuh tak acuh ia berinteraksi dengan Wahyu. Ia tahu suaminya tidak suka.
"Usia kandunganku sudah sembilan bulan lebih. Jadi harus sering periksa, minimal dua minggu sekali."
__ADS_1
"Kalau begitu silakan. Kita juga mau pulang. Kasian ibu kalau terlalu lama duduk di kursi roda!" Yulia memandang mantan ibu mertuanya.
" Oh, gitu ya! Semoga cepat sembuh ibu! Kalau begitu kami permisi. Mungkin kami sudah telat, ke dokter kandungannya." Yulia lalu menyalami Bu Adnan, pak Adnan dan Wahyu, Diikuti oleh Romi setelahnya.
"Yu_lia!". panggil Bu Adnan saat Yulia menyalami tangan kanannya yang belum bisa diangkat.
"Iya, Bu!"
"Sa_ya min_ta ma_af!" Wahyu dan Ayahnya saling pandang. Begitu juga Romi dan Yulia. Tak percaya dengan apa yang diucapkan Bu Adnan.
"Ah, saya sudah memaafkan ibu dari dulu. Ibu tidak salah kok!" Yulia mengelus punggung tangan Bu Adnan. Dan selama ini baru kali ini ia melakukan itu.
"Sudah ya Bu! Mudah mudahan kapan kapan kita ketemu lagi. Dan keadaan ibu sudah lebih baik. Maaf, karena kami buru buru." Yulia melepas tangannya lalu mengangguk dan segera berlalu dari sana. Sepanjang jalan menuju tempat poli kandungan, tangan Romi tak lepas dari menggenggam tangan istrinya.
Mereka kini sudah tak terjangkau oleh pandangan mata Wahyu.
"Ayah jaga ibu dan barang barang kita disini aja. Biar Wahyu yang ambil mobilnya Yah!" Ayah menggumam sambil mengangguk. Setelah Wahyu pergi ke tempat parkir yang agak jauh, pak Adnan duduk di tembok setinggi setengah meter dihadapan istrinya. Ia lalu menggenggam tangan sang istri.
"Bu, percaya sama suamimu ini. Aku minta ibu meminta maaf pada orang orang yang ibu sakiti. Dan berdamai dengan keadaan, ayah yakin ibu akan lebih tenang hidupnya. Proses kesembuhan ibu juga lebih mudah. Mau ya Bu?" rayu pak Adnan.
"Ta_pi ba_gai_ma_na yah, i_bu gak bi_sa ja_lan?" ucap Bu Adnan terbata bata.
"Memang ibu benar benar mau?" tatapan mata pak Adnan bersinar cerah. Wajah keriputnya terlihat penuh harapan. Lalu Bu Adnan mengangguk, hingga setetes air liur membasahi bajunya.
"Kalau ibu ada niat, ibu tenang saja. Ibu sebut namanya pada siapa yang ingin ibu meminta maaf, biar ayah yang ngundang orang itu ke rumah kita. Jadi mereka yang akan datang sama ibu." ucap pak Adnan memberi jalan keluar.
__ADS_1
"I_ya, a_yah! I_bu ma_u!" ucap Bu Adnan.
Sementara Yulia dan Romi telah tiba gilirannya untuk periksa. Sejak awal dokter menyarankan untuk mengikuti kelas latihan prenatal selama di usia kehamilan trimester 3.
Itu mungkin salah satu sebab mengapa Yulia tetap bugar meski usia kehamilannya terus bertambah. Mereka yang mengikuti kelas ini juga mendapat motivasi dari mentor dan itu semua berpengaruh positif pada mental ibu muda yang baru pertama mengalami kehamilan dan mengurangi kecemasan yang umumnya terjadi pada para ibu hamil.
Di dalam kelas latihan prenatal ini diajarkan gerakan senam ibu hamil untuk melenturkan daerah uterus, memperkuat otot-otot dasar panggul (pelvic), diskusi seputar kehamilan dan persalinan, simulasi proses kelahiran, dan membantu kontraksi rahim agar lebih efektif serta membantu proses melahirkan agar persalinan lancar.
Mereka telah keluar dari ruangan dokter obgyn.
Romi tersenyum karena teringat selorohan dokter Naya, dokter kandungan paruh baya yang terlihat masih muda. Rupanya dulu Naya setelah menyelesaikan kuliah di jurusan psikologi, ia banting setir dan memulai kuliah lagi di jurusan kedokteran, seperti mamanya.
"Wah, pak Romi hebat, benar benar menjadi suami siaga." puji dokter wanita dihadapan mereka. Sampai saat ini Romi belum pernah absen mengantar sang istri untuk periksa kandungan.
"Harus dong dokter! Saya itu pria penyayang, sayang anak sayang istri itu yang paling utama." ucapnya narsis menanggapi selorohan Bu dokter. Dan dokter itupun hanya tertawa tanpa suara, sambil menyerahkan resep vitamin untuk mereka tebus.
"Ini resepnya ya, Pak ditebus dulu! Bu Yulia cuman tinggal nunggu waktu, entah siang sore atau malam. Kepala bayi sudah menuju jalan lahir. Pantas saja Yulia sudah mengalami nyeri perut, sering buang air kecil, perut pun sudah agak turun.
Keluarga Romi dan keluarga dokter Naya cukup dekat selama ini. Karena dulu mereka adalah tetangga, Bu Alvi dan Pak Riza serta Bu Amanda sebelum mereka pindah ke rumah dinas khusus dokter.
"Aduuh.... kok perutku sakit ya...! Ssshhh" keluh Yulia meringis, memegangi perutnya.
"A_apa? Aduh, apa kamu mau melahirkan Yul?" Romi terlihat panik. Mereka masih beberapa meter keluar dari ruangan poli kandungan.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
TBC ya.....