Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 44


__ADS_3

****


Waktu terus berputar dengan cepat. Dua bulan rasanya berlalu begitu saja. Seminggu lagi acara pernikahan Romi dan Yulia di langsungkan.


Malam itu Yulia tak bisa tidur, menyandarkan tubuh pada headboard tempat tidur, memangku banyak bertopang dagu. Jemu pada posisi itu, ia lalu merebahkan badan, berguling ke kanan dan ke kiri, berusaha memejamkan mata. Namun rasa kantuk tak jua datang menimpa. Pikirannya menerawang jauh, membayangkan seperti apa pernikahannya dengan Romi nanti. Memasak, mengurusi anak, mengurus suami, pergi ke toko. Mungkin itu rutinitas yang bakal ia jalani.


Ckkkk.


Ia teringat dengan pernikahannya dengan Wahyu yang berujung bercerai . Setengah tahun telah berlalu, apa kabarnya dengan sang mantan suami?


Pernikahannya dengan Wahyu begitu buruk, apalagi dengan tanpa adanya anak dalam kehidupan mereka, bahkan sering seharian Yulia merasa sunyi sepi sendirian di rumah. Mau ke rumah mertua, yang ada hanya sindiran pedas dan caci maki sebagai perempuan mandul.


Benarkah diriku mandul?


Ia mengira akan begitu sulit membuka hari lagi setelah kegagalannya. Tapi ternyata, hanya dalam waktu enam bulan, bahkan kini ia akan menikah.


Romi, seorang duda dengan seorang putri berusia lima tahun. Menurut cerita dari mbak Fani, dan juga Bu Alvi, Romi adalah orang yang setia dengan satu cinta. Ia begitu mencintai sang istri yang harus pergi lebih dulu, karena meninggal beberapa saat setelah melahirkan. Bertahun tahun tak ada yang mampu menggoyahkan hari Romi untuk menggantikan posisi Dina yang bertahta di hatinya.


Apakah ia nanti mampu menggeser posisi Dina dihati Romi? apakah ia nanti tak akan dibanding bandingkan dengan istri yang dahulu? seperti itulah kira kira pikiran yang berkecamuk di hati Yulia.


Sebenarnya Yulia merasa malu, malu pada dirinya sendiri. Bahkan Romi bisa bertahan sampai lima tahun lebih, sedangkan dirinya? Ia bahkan sudah menerima pinangan saat masa Iddahnya selesai.


Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi 'alaa DiinikĀ 


Wahai Yang Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hatiku senantiasa di atas agama- Mu.


Ya dzal malakuti wal jabaruti wal 'izzati wal kibriyai was sulthani wal qudrati ashlihli qalbi wa 'amalii wa niyyati wa sirri wa 'alaniyyati wa barikli fimaa razaqtani wa munna 'alayya bil 'afiyati min balaid dunya wal akhirati.


" Wahai Dzat Yang Memiliki kerajaan alam malakut dan jabarut, dan memiliki kemuliaan, kesombongan, keagungan, kerajaan dan kekuasaan, perbaikilah hatiku, amalku, keadaan rahasiaku dan keadaan terang-teranganku. Dan berkahilah padaku apa yang Engkau rezekikan padaku dan anugerahilah aku dengan keselamatan dari bahaya dunia dan akhirat."


********


Pagi itu rencananya Yulia, Romi dan Shila akan berkunjung sekalian mengantar undangan pernikahan pada seseorang yang cukup dekat dengan Romi.


Pukul 09.00


Yulia menunggu Romi sembari bermain dengan ponselnya di ruang tamu, membuka aplikasi pesannya. Beberapa pesan dari grup chat membuatnya senyum senyum sendiri. Pintu depan rumah sedikit terbuka, di saat itulah seseorang mengetuk pintu.


Tok tok tok!


Yulia menoleh dari ponselnya.

__ADS_1


Tumben ini orang ngetuk pintu. Biasanya sih salam langsung masuk rumah. Hmmm, sepertinya mereka mengerjai aku! Awas ya! Yulia.


Yulia mengendap endap ke arah pintu. Suara ketukan terdengar lagi. Dengan tersenyum, Yulia melangkah, dan membuka pintu selebar lebarnya.


"Ci..Luk..b....!" suara Yulia langsung tercekat, tak bisa berkata apa apa. Melihat siapa yang datang. Membawa seorang bayi di gendongannya.


Tadi ia berfikir yang datang adalah Romi dan Shila. Senyum di bibirnya pun langsung hilang saat melihat siapa yang datang.


"M_ mas Wahyu....!" gumamnya dengan bibir bergetar. Dadanya langsung bergemuruh.


Wahyu menatap Yulia sebentar, lalu menunduk, dan dengan bayi masih di gendongannya, ia berlutut di depan pintu. Di depan Yulia.


" M_ mmas!" Yulia kaget Wahyu berlutut didepannya.


"Maaf...!!"


"Maafkan aku, Yulia...Maaf atas perlakuanku selama ini padamu!" ucap Wahyu saat itu menambah keterkejutan Yulia.


"Mas Wahyu! Berdirilah!" Bayi di gendongan mulai bergerak gerak tak nyaman.


"Aku minta maaf, Yulia! ku mohon!" Wahyu menunduk, Yulia agak mundur dan menoleh ke sekitarnya. Tak ada orang.


Satu setengah tahun terakhir baru kali ini Wahyu menginjakkan kaki di rumah ini.


Oeeek..! Oeeekkk! oeeekkk! Suara bayi Wahyu terdengar nyaring. Yulia mengalihkan perhatian pada bayi dalam gendongan mantan suaminya itu.


"I_ini anaknya mas Wahyu?" tanya Yulia dengan mata mengembun. Bayi yang kira kira berusia dua bulan terus menangis dalam dekapan Wahyu.


"Silakan duduk dulu mas, tapi maaf! Mas Wahyu duduk di kursi teras itu! Maaf aku tak bisa mengajak mas Wahyu masuk!" sesal Yulia. Ia harus menghargai bahwa mereka sekarang tak terikat hubungan apapun. Dan ia tak akan membiarkan Wahyu masuk, yang nanti akan menimbulkan permasalahan dan fitnah.


"Tak apa Yul. Aku juga sadar diri kok! Aku bukan siapa siapa kamu lagi!" Wahyu duduk di kursi lalu tangannya meraih sesuatu dalam tas yang dibawanya. Dot bayi yang isinya masih penuh.


Dan bayi itupun langsung diam saat mulut mungilnya di jejali dengan dot susu.


"Kenapa bayinya dibawa bawa mas, memangnya dimana istri mas Wahyu..!" Wahyu menunduk menatap anaknya. Yang dengan lahap meminum dari dot itu!


"Ibunya...m_ maksud aku! istriku telah meninggal saat melahirkannya." wajah Wahyu terlihat murung, bahkan saat mengatakannya Wahyu mengusap sudut matanya.


"Apa mas? jadi ibu bayi ini....!"


"Maaf! Aku...!"

__ADS_1


"Kok, tadi aku dengar suara bayi ya?" ucapan Wahyu terpotong dengan kehadiran Bu Kanti. Bu Kanti terlihat berjalan menggunakan tongkat dari dalam rumah sambil bergumam.


Dan terkejut saat mendapati Wahyu dan membawa bayi pula. Wahyu berdiri dan mendekati Bu Kanti.


"Assalamu'alaikum, Bu!" Wahyu mengulurkan tangan menyalami Bu Kanti, namun ditepis kasar oleh Bu Kanti.


"Kamuuu!" Bu Kanti terlihat marah pada mantan menantunya. Wahyu bersimpuh dihadapan bu Kanti disaksikan Yulia yang berdiri dari jarak tiga meter. Yulia lalu mendekati ibunya.


"Ngapain kamu kesini? belum puas kamu berbuat dzalim pada anakku Yulia! hehh!"


"Ampuni aku, ibu! Wahyu minta maaf atas kesalahan Wahyu selama ini, saya tahu saya banyak dosa dan salah pada Yulia dan juga ibu!" Wahyu terisak sambil masih bersimpuh.


"Gampang sekali kamu minta maaf, setelah menyakiti hati dan berbuat dzalim padanya? Pada anak saya?" Bu Kanti gemetar tangannya menahan marah. Bagaimanapun juga, ia tak ridha anaknya di sakiti. Walaupun oleh suaminya sendiri.


"Dan itu!" mengacungkan tongkatnya pada Wahyu.


"Anak siapa yang kamu gendong itu? Jangan katakan kalau itu anak kamu bersama wanita lain?" Wahyu mendongak terlihat matanya memerah. Bayinya pun terlihat tak nyaman dalam gendongannya.


"Mas Wahyu, bangunlah! lihat bayimu! Kasihan dia!" ucap Yulia, namun Wahyu menggelengkan kepala.


"Nggak, ibu! aku gak akan bangun sebelum mendapat maaf dari ibu dan juga Yulia!" Wahyu kukuh ingin meminta maaf, walau apapun cemooh dan hujatan yang akan terlontar dari Yulia dan ibunya. Ia sadar telah berbuat dzalim, bahkan saat menceraikan Yulia, ia sama sekali tak memberi bekal. Untung Yulia adalah orang yang hemat, ia selalu menyisihkan sedikit dari uang yang yang diberikan Wahyu untuk membeli keperluan dapur dulu. Hingga ia bisa pulang sampai di rumah dengan selamat.


"Katakan pada saya Wahyu, bayi siapa yang kau gendong itu?" tanya Bu Kanti lagi.


"Bu sudahlah, ayo kita masuk. Mas Wahyu hanya ingin minta maaf kesini tadi." Yulia khawatir melihat keadaan ibunya yang mulai membaik, tapi sepertinya kedatangan Wahyu membuat Bu Kanti meluap emosinya. Jangan sampai darah tingginya kumat. Ia segera menuntun ibunya untuk masuk ke dalam rumah, membiarkan Wahyu yang masih bersimpuh.


"Mas Wahyu, saya sudah memaafkan mas Wahyu, sekarang cepat pergilah! Kita disini tak ingin melihat mas Wahyu lagi. jangan sampai ibu drop karena emosi melihat mas Wahyu ada disini. Pergilah sekarang mas!"


"Tapi Yul! Aku belum selesai...!"


"Pergilah mas, sebelum aku berubah pikiran!" sentak Yulia sambil membawa ibunya masuk.


Disaat itu Romi dan Shila datang dengan bergandengan tangan. Romi mengernyitkan alisnya menatap pria yang bersimpuh di depan pintu itu.


Bukannya itu mantan suaminya Yulia ya? Kok bawa bayi? mau apa dia disini? Romi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


TBC


to be continued

__ADS_1


__ADS_2