
#####
Romi baru beberapa menit lalu terbuai ke alam mimpi, namun seperti ditarik dari dimensi lain, saat ada seseorang yang menindih bagian tubuh kirinya. Ia membuka mata perlahan, seraut wajah tepat diatas wajahnya menatapnya sembari cemberut.
“Hhh, sayang. Ada apa?"
" Apa ada yang kamu butuhkan? Kamu pengen sesuatu atau mau aku memijitmu?” Mata yang telanjur seperti kena lem itu terpaksa membuka sempurna.
“Masih nanya lagi!” gumam Yulia memundurkan wajah, beringsut dan duduk menyandar di heard board ranjang. Bibirnya mengerucut saat melihat sang suami memejamkan mata lagi.
Karena bergerak dengan kasar, Romi memicingkan mata lagi, menatap istrinya, rasanya ia ingin sekali mengikat mulut yang terlihat maju beberapa senti dengan karet gelang.
"Jangan manyun gitu, ngomong dong!"
“Aku tuh ngantuk, capek. Jangan cuma manyun, jelek ah! Ngomong yang jelas, sayaaang! Biar aku tahu...” tanya Romi penuh tekanan. Tangannya terulur mengelus perut Yulia. Jika tak ingat sang istri sedang hamil, rasanya ia tak mau meladeninya dan ingin menutup mata kembali.
“Ya udah, gak jadi! Emang dasar kamu tuh jadi suami gak peka!” gerutu Yulia memelorotkan tubuh, lalu berbalik memunggungi Romi.
Aduh, ngambek. Berabe nih.
Sabar Romi, sabar.
Mendadak Romi mengingat sesuatu.
“Oiya, kamu tadi kan belum makan, cuman minum susu. Aku yakin kamu lapar. Biar aku ambilin makan ya, tadi di sisain kok sayur sama nasi buat kamu!” Romi beranjak bangun setelah berucap demikian, mengira sang istri lapar. Melirik jam dinding yang tergantung diatas meja rias, Sudah jam 11 malam kurang lima menit. Istrinya pasti terbangun karena lapar, tadi siang juga cuma makan sedikit, itupun di muntahkan sebagian karena katanya seperti basi.
Dan itu kenapa juga sebenarnya Romi memaksa Yulia pergi ke dokter tadi siang. Dan terkuaklah jika Yulia sedang berbadan dua.
Tak butuh waktu lama, Romi membawa piring berisi nasi beserta lauk ke kamar. Tak lupa air putih hangat satu gelas juga ia bawa.
“Sayang, makan dulu yuk!” menyentuh pundak Yulia, ia bergeming. Romi tahu Yulia sebenarnya belum tidur lagi.
“Please lah, aku tahu kamu belum tidur, jangan ngambek! Baby yang ada di dalam perut kamu butuh asupan. Aku gak mau kenapa napa sama anak kita dan juga ibunya.” Romi mengelus surai halus dan hitam legam sang istri.
“Sayang!” Romi melembutkan suaranya, agar sang istri mau menoleh. Namun nihil.
“Ayolah, makan yuk! Seharian ini kamu cuman makan sedikit, hadap sini aku suapin!” Romi menggelitik pinggang, hingga Yulia tak mampu menahan geli, dan akhirnya luluh juga. Ia kemudian duduk, berselonjoran.
“Ayo, aaa!” Romi yang sudah terbiasa mengurusi anak anaknya semenjak bayi, meminta Yulia membuka mulut.
“Nah, gitu dong!” beberapa suap nasi masuk ke mulut sang istri.
“Maaf ya sayang, aku memang gak peka. Lain kali ngomong terus terang kenapa, gak usah kode kodean. Lagian kita suami istri harusnya lebih sering terbuka tentang apa pun. Betul, nggak?” Yulia mendorong tangan Romi yang akan menyuapinya lagi.
“Loh, kenapa? ini juga belum habis separuh. Ayo, makan lagi” namun Yulia bersikeras menggeleng. Ia sudah tak berselera.
"Ayolah, kamu biar ada tenaga. Kasian loh baby yang ada disini!" menunjuk perut Yulia yang masih rata.
“Jangan dipaksa, mas. Ntar aku muntah lagi malahan!” protes Yulia yang kemudian membuat Romi meletakkan piring di meja.
“Baiklah. Aku gak maksa. Tapi kalau terasa paper, segera makan ya. Yaudah gih, tidur lagi. Aku juga ngantuk banget!” ucapnya lalu menguap, dengan perasaan kesal Yulia membaringkan diri lagi. Romi yang melihat gelagat istrinya yang tak seperti biasa hanya diam memperhatikan sampai sang istri tidur dengan memunggungi lagi.
Mungkin memang bawaan sang jabang bayi, pikirnya. Gampang ngambekan. Ia tak boleh ikut emosi jika sang istri berubah mood dengan tiba tiba.
Sudah sepuluh menit Romi membaringkan tubuh, telentang sambil memejamkan mata dengan satu tangan ia buat bantal. Namun kantuk sudah enggan menghampirinya. Berkali kali ia menengok pada sang istri, ingin melakukan sesuatu tapi ragu-ragu untuk memulai.
__ADS_1
Romi hanya menghela napas besar.
Ayo dong, tadi udah ngantuk setengah mati. Tapi kenapa tiba tiba ilang. batinnya dengan kesal.
Romi berkali kali menggerakkan badan, miring kekiri, lalu telentang. Tak lama miring lagi, tapi rasa kantuk malah enggan mampir, ia berdecak, hingga Yulia yang semula memunggunginya menolehkan muka.
“Kenapa sih, mas? Kayak gelisah gitu, napasnya gede gede, mulutnya juga kayak bunyi cicak, ckk... ckk...gitu terus bunyinya. Gerak gerak terus, aku jadi keganggu nih. Mas Romi gak bisa tidur?” Romi segera merapatkan badan, mumpung sang istri tak memunggunginya.
“Aku tuh sedih, sayang. Kalau kamu suguhin punggung kamu. Kayak lagi marahan, tau nggak. Hadap ke suami dong, biar aku bisa tidur.” Walaupun melengkungkan bibir kebawah, Yulia menurut. Ia bergeser lebih dekat lagi, hingga mereka berhadapan.
“Gak usah nyebik gitu, kugigit entar, biar tau rasa kamu. Ini aku lagi mode ngempet, nih!” Yulia menatap netra yang seperti sedang mengharap sesuatu itu. Lalu tersenyum geli.
“Ngempet? Ngempet apa mas? Ngempet BAB atau BAK?” Yulia terkikik dengan pertanyaannya.
"Bukan, tapi ngempet gak nyentuh kamu malam ini. Gak tega bangunin tidur pulas kamu." Tangan Romi mulai menyentuh, Yulia hanya diam saja saat tangan itu sudah merayap ke bagian yang dijadikan favorit untuk ia sentuh. Bahkan sudah masuk dan bergerilya di balik piyamanya.
"Sayang!" ucap Romi lirih, serak.
"Tadi aku nahan diri sebab kamu tidur pulas sekali, gak tega banguninnya. Sekarang karena kamu terjaga, terus sengaja godain aku, kamu harus tanggung jawab ya.” Tangan Romi sudah makin tak terkendali. Mere mas dada yang menurut feeling Romi lebih besar dan lebih padat dari biasanya, bergantian kiri dan kanan.Mungkin juga pengaruh kehamilan.
Perlahan wajahnya maju, lalu merenggut bibir berisi sang istri, pun saling bertaut, saling memagut membangkitkan percikan api gai rah asmara. Saat sedang panas panasnya, tiba tiba Yulia mendorong dada Romi hingga ciuman terlepas.
“Mas, Kia...tidur sama siapa? Udah tidur kan, dia?” terlontar tanya dari bibir Yulia, sambil menatap suaminya yang melepas apa yang melekat di badannya sendiri. Lalu bergantian melepas milik sang istri.
“Gak usah kuatir, dia tadi bilang ingin tidur sama Ricky. Biarin aja, mereka tidur dikamar Mima, kok. Sama Shila juga.”
"Lah, mereka tidur berlima? sama Christian juga?"
"Ya gimana lagi, maunya anak anak gitu." meraup lagi dengan gemas bibir sang istri, lalu meneruskan kegiatan mereka yang terhenti karena bercakap cakap.
“Issh, sayang. Kenapa ya kamu tuh makin lama makin cantik dan makin menggai-rah kan aku rasa. Buat aku selalu makin cinta dari hari ke hari, tak pernah bisa berpaling dari kamu. Apa karena kamu sedang mengandung benihku, ya!” terselip rayuan gombal Romi disela aktivitas panas mereka.
Aktivitas yang membuat mereka seakan terbang melintasi awan nan penuh keindahan.
"Ngegombal terus sih, kalau ada maunya, mas!"
Namun tiba tiba, angan angan yang melayang tinggi di angkasa, harus terhempas jatuh ke tanah saat terdengar suara ketukan pintu cukup keras dipintu kamar mereka.
“Siapa sih, ganggu kesenangan orang aja.” Gumam Romi masih meneruskan apa yang telah dimulainya, sembari menggigit bibir bawah, merasakan kenik matan yang sungguh luar biasa Beberapa menit berlalu, terdengar lagi ketukan pintu disertai panggilan karena yang didalam kamar sama sekali tak menyahut, diiringi suara tangisan anak kecil.
“Mas Romi, mbak Yulia, Kia bangun nih nyari kalian!”
“Unda... Ayahhh! Hikks hikks” suara tangis sang anak menyadarkan Yulia
“Mas.. Kia...mas!”
“Ckkk, si al!” Romi mengumpat kesenangannya terganggu.
“Mas...!” sentak Yulia tak terima, meninju dada Romi yang ada diatas tubuhnya.
“Udah dulu..! Kasian Kia, mas!” ucap Yulia terbata, bukannya berhenti, Romi malah mempercepat ritmenya.
“Iya, sayang...sebentar aja. Nanggung nih!” bisik Romi dekat telinga, ingin rasanya Yulia menjerit keras, karena Romi berlaku agak kasar dan terburu buru dari biasanya.
“Mas Romi! Duh ini orang tidur apa mati sih! Anaknya nyari nih...” terdengar umpatan kesal di luar pintu kamar, saat Romi menyelesaikan tugas yang menyenangkannya.
__ADS_1
“Mima, kenapa sih malem malem gedor pintu kamar kakakmu. Kasian Yulia loh, dia bisa kaget. Emang gak bisa kamu bikin diam Kia, bikinin susu gitu, kayaknya dia haus!”
“Tapi Kia katanya pengen sama Bundanya, Bu!“ terdengar suara lain dan berdebat di luar, sepertinya suara Bu Alvi.
“ Kamu kan bisa bujuk dia. Ayo Kia, sama nenek ya, nenek bikinin susu!”
“Ndak mahu, mau cama Unda... Ayahhh... buka pintu...hikks,”
“Tuh kan, aku bilang apa, Bu!" suara keduanya terdengar jelas oleh Romi dan Yulia di dalam.
Sementara yang didalam kamar terburu buru menyelesaikan pekerjaannya, peluh membanjiri tubuh Romi yang masih mengatur nafas. Yulia lalu memunguti pakaiannya dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Romi juga segera memakai celana kolor dan kaosnya lalu berjalan membukakan pintu.
“Tidur apa mati sih, lama amat bukain pintunya.” omel Mima nyelonong masuk ke kamar sambil menggendong Kia yang terisak.
“Eeeh, ngapain masuk. Mana Kianya, kasihkan ke aku dan cepet keluar kamu!” hardik Romi pada sang adik. Tapi Mima tak peduli. Tak ia lihat Bu Alvi, ibunya. Mungkin telah pergi ke dapur membuatkan susu untuk Kia.
“Unda...!”
"Bunda di kamar mandi, sayang. Ayo, sama Ayah dulu." menyambut uluran tangan Kia, lalu mencium pipi bakpao itu dan duduk di tepi ranjang.
“Ohh, pantesan lama bukain pintunya. Lagi gituan rupanya!” celutuk Mima dan tertawa, setelah menelisik isi kamar kakaknya. Sedang Yulia belum juga keluar dari kamar mandi.
“Gak usah mikir enggak enggak kamu, jangan mesum. Yulia lagi kebelet pipis, aku juga baru bangun karena gedoran kamu!” sentak Romi. Disentilnya kening sang adik yang berdiri dihadapannya menatap ranjang.
“Halah, la kok pura pura. Aku bukan anak kemarin sore yang bisa kamu bo'ongin mas. Muka kamu tuh bukannya muka bangun tidur, tapi muka kesel karena keganggu, atau mas Romi malah buru buru nyelesaiin biar cepet ya tadi atau malah diputus?” Mima cekikikan melihat abangnya melotot padanya.
"Terus, kalau memang iya, kenapa? Sirik aja Lo!"
“ Kagak sirik gue. Lagian ya, orang liat sambil lalu pun tahu, kalau mas habis gituan. Noh, kolor kamu kebalik tuh, terus itu be ha punya mbak Yulia kececer dibawah tuh. Tempat tidur juga berantakan banget. Dasar predator, Hahaha...!” tunjuk Mima pada sebuah benda bertali teronggok dibawah kasur, lalu menunjuk penutup badan bagian bawah kakaknya, meneruskan analoginya sendiri, lalu berlari keluar sebelum sang Abang marah dan menjewernya seperti biasa.
"Sia lan kamu!” hampir saja Romi menimpuk Mima dengan bantal, namun ia urungkan karena di pintu muncul Bu Alvi membawa susu dalam dot untuk Kia.
Romi menyampar dengan kakinya alat penyangga su su milik istrinya kebawah kolong ranjang. Lalu melihat kolornya yang memang kebalik, jahitan yang seharusnya di dalam malah diluar.
Jangan sampai sang ibu tahu, pikirnya.
Walaupun itu hal lumrah bagi suami istri, tapi tetap saja ia merasa malu kalau kepergok seperti ini.
“Unda...!” suara Kia di pangkuan Romi yang lemah setengah mengantuk membuyarkan angan angan ayahnya.
"Ada apa sayang, tuh nenek bawain susu buat Kia." Romi menerima botol dan langsung dipegang erat oleh Kia dan meminumnya.
“Kia mau tidur sama Bunda ya, bunda masih di kamar mandi, sebentar lagi keluar. Makasih sama nenek, udah buatin susu buat Kia!" sambil menunjuk sang ibu dihadapannya, namun Kia menggeleng.
“Kia, ayo tidur sama nenek saja! Masih kangen nih nenek sama si embul ini." Kia menggeleng sembari memejamkan mata. Kepalanya ia rebahkan didada sang Ayah, dan mengeratkan pelukannya. Bu Alvi menggelitiki telapak kaki Kia yang diangkat, Anak itu menggeliat dan tertawa sampai dotnya terjatuh.
"Ayo, tidur sama Nenek!" merayu lagi Kia agar cucunya itu mau tidur dengannya. Sekali lagi Kia menggeleng.
"Sudah, ibu tidur saja. Jangan tidur terlalu malam. Jangan sampai darah tingginya kambuh lagi."
"Baiklah, ibu mau istirahat di kamar ibu." Romi mengangguk, dan Bu Alvipun pergi. Saat Bu Alvi menutup pintu kamar, pintu kamar mandi terbuka, dan Yulia keluar dari sana.
Kia langsung bangun mengangkat kedua tangannya minta di gendong sang Bunda.
****
__ADS_1