
"Yesi, keluar yuk! jalan jalan kemana gitu. Ini kan malam Minggu, banyak tempat tempat yang bagus dan rame di malam seperti ini!" ajak Andre setelah menyelesaikan makan malam mereka. Andre dan Yesi duduk lagi di ruang tamu, sedangkan Ayah dan Mamanya turun ke lantai satu untuk mengawasi pekerjaan karyawan dan mengecek laporan keuangan mingguan di rumah makan yang malam itu cukup ramai pengunjung.
"Biar ada bedanya lah, malam minggu sama malam lainnya!" kata Andre berdalih membujuk Yesi.
Yesi tak bereaksi apapun. Ia sibuk dengan ponsel ditangannya, tanpa menghiraukan ajakan Andre.
"Seperti muda mudi yang lainnya, jalan di malam minggu sama pasangannya. Walaupun kita belum resmi jadi pasangan, sih!"
"Issh! diajak ngomong juga... malah sibuk sendiri!" Andre kesal karena dikacangin Yesi, hingga ia merebut ponsel dari tangan Yesi.
"Apaan sih Ndre, lu nyebelin banget deh! Kembaliin ponsel gue! " lototnya sambil menengadahkan tangan meminta ponsel.
"Aku akan kasih nih hape, kalau kamu mau jalan sama aku!"
"Ogah gue!"
"Gak mau. Gue emang pengen keluar rumah tadi, tapi gak sama elu juga!" Tolak Yesi ketus.
"Balikin kata aku!" Yesi berusaha merebut ponselnya. Tapi Andre lebih sigap memindahkan ponsel ke tangan kirinya saat Yesi meraih tangan kanan Andre. Dan kembali lagi memindahkan dari tangan kanan ke tangan kiri.
"Issh, nyebelin banget!" Yesi yang kadung kesal memukul bahu Andre.
"Memang kenapa kamu gak mau jalan sama aku? Coba beri aku alasan!"
"Ya gak mau aja. Gak kenapa kenapa. Gak mau bukan berarti harus ada alasannya, kan?" Yesi masih juga ketus sama Andre. Ia kembali duduk saat tak berhasil mengambil ponselnya.
"Ngapain juga sih tadi kamu kesini lagi? Dasar gak tahu malu, numpang makan numpang minum. Jangan buat Mama sama Ayahku salah paham!" gerutu Yesi, karena sepertinya sang Mama dan ayahnya menangkap sesuatu hubungan antara anak mereka dan Andre.
"Salah paham? Salah paham gimana maksudnya? Mereka mengira kita pacaran gitu?"
"Seperti itulah kayaknya!"
" Ya, bagus dong kalau gitu. Siapa tahu lusa di suruh nikah. Aku sih, langsung aku oke in aja, kalau diminta kawin sama kamu, ehh nikahin kamu, ding!" meletakkan ponsel di pangkuan Yesi.
"Huuh, itu sih maunya kamu! Aku, ogah lah ya!"
"Masa..!"
"Kamu perlu tahu sesuatu Yesi...!"
"Apa?"
"Aku tuh dari kemarin itu selalu ingat kamu tahu, nggak? setelah pertemuan kita waktu yang lalu."
"Hmmm, sepertinya... aku mulai ada rasa deh sama kamu, Yesi! Please lah, ayo kita coba buka hati satu sama lain, membuka lembaran baru untuk kita. Mencoba move on dari mereka!"
"Helleh....,Udahlah! Gak usah ngegombal, rayuan kamu tuh gak mempan sama aku, Ndre!"
"Dan lagi, aku bukan tempat pelarian Ndre! cuman jadi tempat pelarian kamu dari Yulia! Gak akan!"
Enak aja!
"Kok kamu mikirnya gitu sih? Siapa yang jadikan kamu tempat pelarian?"
__ADS_1
"Kita tuh udah sama sama dewasa. Sama sama single. Apa salah kalau aku bicara seperti itu?"
"Kenapa? Apa karena kamu masih mengharap Romi?" cecar Andre. Yesi gelagapan demi mendengar pertanyaan itu.
"Gak! Bu_bukannya begitu. Aku hanya gak ingin membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Walaupun aku udah berumur, bukan berarti aku akan sembarangan memilih pasangan. Apalagi memilih orang yang masih mempunyai perasaan dengan wanita lain." terang Yesi panjang.
" Perasaan itu akan hilang dengan sendirinya kalau ada yang di dekat kita sebagai pasangan bahagia, saling support, saling menyayangi dengan niat yang kuat dan sungguh sungguh, Yes! Aku yakin itu. Kita pasti bisa!" Andre masih terus berusaha merayu dan meyakinkan Yesi.
"Aku mau belajar mencintai kamu dan melupakan Yulia. Begitu juga kamu, belajarlah mencintai aku dan melupakan Romi perlahan lahan. Please, pikirkan tawaranku!"
"Semua tergantung dengan niat masing masing orang, Yes!"
"Issh, kepedean banget sih elu""
"Biarin...!"
Yesi menatap Andre dalam dalam. Tak ada sorot main main di mata itu.
"Aku sungguh sungguh dengan niatku, Yesi. Aku bersumpah!" mengacungkan dua jarinya ke udara.
"Aku gak akan percaya begitu saja walau kamu bersumpah, Ndre." kata Yesi kemudian. Rasa sedih masih terlihat jelas di raut cantiknya.
"Eh, kok kalian masih disini? Kirain lagi malmingan. Jalan jalan kemana gitu!" tiba tiba Mama Yesi nongol dari balik pintu, mengagetkan sepasang Yesi sama Andre.
"Iya Tan! Maunya sih keluar! Tapi udah malam. Besok aja saya kalau kesini agak siangan, biar bisa jalan dan gak kemalaman."
Dan setelahnya Andre berpamitan untuk pulang. Sebelum pergi Andre masih mengulang pernyataannya lirih di telinga Yesi.
*****
"Haii Zaskia Zhifa Salsabila! Bidadarinya Ayah! Yang cantik kayak Kak Arshila Devi, pastinya!" Romi menggendong dan menimang bayinya, saat Yulia pamit untuk mandi pagi ini. Kini baby Zaskia sudah berusia satu bulan. Romi menciumi baby Kia yang wangi minyak telon dan bedak bayi karena telah mandi pagi ini.
" Iih, jadi gak sabar adek Kia besar, Yah! Biar bisa main boneka sama Shila!" sahut Shila.
"Sabar ya, Kakak!"
Akhir akhir ini Shila sering ngambek karena merasa diabaikan. Kemarin dua menjadi satu satunya, dan sekarang Romi dan Yulia harus berbagi perhatian dengan sang adik.
"Kak Shila udah cantik. Udah siap berangkat sekolah, ya!" Yulia yang baru keluar dari kamar mandi menyahut. Ia menyampirkan handuk bekas pakainya di pundak, lalu menghampiri Shila yang sudah rapi. Jika ia tak segera didekati, bisa dipastikan ia akan gede ambek seharian.
Yulia merapikan dasi, lalu membenahi bedak Shila yang sedikit belepotan.
"Ini tadi kakak di bedakin siapa sih?"
"Sendiri, Bund!"
"Pinternya anak bunda, udah bisa bedakan sendiri. Tapi ini agak ketebalan, sayang. Biar Bunda benerin, ya!" perhatian kecil yang sebenarnya sangat berarti bagi Shila.
"Kakak sudah mulai belajar mandiri, ya! Hebat kakak!" Yulia mengacungkan dua jempol tangannya sambil tersenyum. Ia lalu meraih parfum anak anak beraroma jeruk. Dan menyemprotkannya pada baju Shila.
"Hmmm, wanginya anak Bunda."
"Kak Shila pengen adek cepat besar kan? Makanya, kak Shila belajar makan sendiri, menyiapkan peralatan sekolah sendiri. Nanti kalau kak Shila belum bisa, baru deh Kakak minta tolong Ayah atau Bunda! Mengerti kan, sayang?" Yulia berusaha meyakinkan Shila. Shila cemberut mendengar penuturan Yulia. Ia tahu, Shila sedang cemburu pada adiknya.
__ADS_1
"Bunda sama Ayah tetap sayang kok sama Kakak. Cuma karena adek masih bayi, belum bisa apa apa jadi adik baby butuh perhatian lebih. Kak Shila ngerti, kan?" Shila mengangguk walau masih cemberut.
"Pinter anak bunda sama Ayah. Toast dulu dong!" anak dan ibu itu saling mengadu telapak tangan. Ayah Romi yang sedang menggendong baby Kia pun tersenyum, istrinya berhasil membujuk sang anak. Kini Shila bisa tersenyum lagi.
"Muuuaach! Unyu unyu anaknya bunda! Ya udah sekarang kakak berangkat sekolah dulu sama Ayah, Salim sama Bunda!" Yulia mengulurkan tangan kanannya.
"Tapi Shila pengen diantar Bunda!" Rengek Shila. Romi dan Yulia saling pandang, lalu Yulia melihat kearah jam dinding. Tak banyak waktu yang tersisa, tapi jika ditolak dengan alasan apapun Shila pasti ngambek lagi.
"Tapi sayang, nanti Shila keburu telat!" Shila memberengut dan menyedekapkan tangan.
"Ya udah, bunda ganti baju dulu, ya! Tapi Shila harus janji nanti kalau pulangnya di jemput Ayah, atau Tante Fani, Shila gak boleh merajuk ya!" bujuk Yulia lagi.
"Ok Bunda! Shila janji. Yeeeay, Shila mau diantar sekolah sama Bunda!" Shila mengacungkan kedua tangannya yang terkepal sambil berjingkrak senang.
"Bahagia banget anak ayah!" Yulia tersenyum sambil memilih baju yang akan dipakainya. Begitu sederhana keinginan Shila, namun ia pun sedih, keinginan sekecil itupun sekarang ia jarang bisa mengabulkannya.
"Adik Kia, Kak Shila berangkat sekolah dulu, ya! Nanti kalau adek udah besar, sekolah kayak kak Shila biar pinter dan jadi anak solehah!" pamit Shila mencium adik bayinya.
"Dahh..adekkk! dadahh Ayaaah, dadaaaah Nenek..." teriak Shila di boncengan Bundanya.
"Dadahh juga, kakak!" Romi dan Bu Kanti membalas lambaian tangan Shila.
"Biar bayinya ibu pangku, Nak Romi! Biar ibu ada kerjaan." pinta Bu Kanti pada menantunya.
"Benar gak apa apa nih, Bu?"
"Iya, gak apa apa! Biar ibu jaga cucunya ibu!"
Romi memberikan baby Kia di pangkuan Bu Kanti, lalu masuk ke dalam rumah mengambil Car Seat Strolling untuk bayi yang berusia sebelum 6 bulan.
"Nanti kalau ibu capek mangku Kia taruh sini ya, Bu!" Bu Kanti tersenyum ngliling cucunya.
"Iya, nak Romi bisa mengerjakan pekerjaan yang lain!"
ngliling \= mengajak bicara bayi.
****
Sore harinya.
Baby Kia telah dimandikan dan wangi. Begitu juga Yulia dan Shila juga telah mandi. Sedangkan Romi baru saja pulang dari swalayan dan akan melakukan ritual sorenya. Mandi lalu melaksanakan ashar.
Mereka berempat sedang duduk duduk di teras saat sebuah mobil memasuki halaman rumah Romi.
Tak lama turunlah dari mobil beberapa orang. Sepasang suami istri dengan menggandeng anak perempuan berusia dua tahun, dan seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang sepertinya kakak beradik. Mereka berjalan menghampiri Yulia yang memegang stroller bayinya, Shila, dan Bu Kanti.
"Cayamekum!" ucap gadis kecil mengucap salam!
*****
Siapakah mereka? yang bertamu ke rumah Yulia dan Romi?
Hayo coba tebak....
__ADS_1